
-Reynold kali ini mengemudikan mobil Reyvan, karena dia tahu Reyvan sedang tidak baik baik saja. Fikiran nya kacau, selama ini Karina membohonginya dan keluarganya.
Sebenarnya yang menjadi masalah Reyvan bukan kebohongan Karina saja, perasaan kasih sayang orang tuanya yang sudah sangat menyayangi Fridha.
"Jangan terlalu di pikirkan, keluarga kita mungkin akan kecewa pada awalnya, namun kau dan Mahira masih muda dan dapat mulainya dari sekarang." Ujar Reynold.
Reyvan tampak teralihkan, dia menghela nafas pelan. Rasanya seluruh beban telah di tempatkan di pundaknya.
"Aku hanya sedang memikirkan bagaimana reaksi ibuku setela mengetahui ini".jawab Reyvan.
"Kita hanya bisa pasrah dan menghibur mereka" jawab Reynold ala kadarnya.
(Dagueze mansion)
Reynold menghentikan mobilnya, dia menatap rumah bak istana yang menjadi saksi bisu atas kegagalan cinta mudanya bersama gadis itu, satu persatu kenangan pahit itu mulai bermunculan dalam ingatannya seperti layar komedi di otak Reynold.
"Kak... " panggil Reyvan.
Reynold mengerjap polos, lamunannya tersadarkan karena panggilan Reyvan.
"Sepertinya aku tidak ingin masuk" Ucap Reynold berat.
"Kenapa?" Tanya Reyvan.
Dari ekspresi Reynold jelas sekali, dia belum siap bertemu keluarga terutama nenek Dagueze, yang memiliki peran besar atas hancurnya pernikahan Reynold dan Anggika.
Reynold menarik nafas dalam dalam, dengan perasaan yakin dia keluar dari mobil dan mengikuti Reyvan. Bahkan pembantu yang sudah lama bekerja untuk keluarga Daguezze menyambut Reynold.
"Tuan muda Reynold selamat datang kembali..."
Reynold mengangguk dengan senyum khasnya, sebagai balasan atas sambutan mereka.
Setelah Reynold dan Reyvan melewati pelayan yang menyambutnya, para pelayan mulai berbisik membicarakan Tuan Muda yang meninggalkan rumah karena wanita yang di cintainya di hina.
Dari arah atas Mahira yang baru saja menuruni tangga berhenti sejenak memperhatikan Reynold yang berjalan bersamaan dengan Reyvan.
"Reynold... " Ibu Reyvan yang menyadari pertama kali memanggil nama Reynold. Semua orang yang berada di ruang keluarga menoleh.
"Reynold.. " ibu Reynold segera berdiri memeluk putranya yang sudah lama tidak pulang.
"Reynold, akhirnya kamu pulang nak. Ibu sangat merindukanmu... Hiks,,, hiks.."
Reynold balas memeluk ibunya. Sedih bercampur haru menjadi satu, setiap hari dan setiap waktu ibu Reynold merindukan putra sulungnya, dan berharap akan pulang. Akhirnya Reynold kembali setelah sekian lama.
Nenek Daguezze tersenyum sumringah, beliau berjalan ke arah Reynold dan ingin bergabung memeluk cucunya. Sayangnya, Reynold dengan tegas menolak.
"Tidak Nyonya Daguezze!!! " Ucap Reynold.
"Nak," ibu Reyvan kaget.
Semua orang juga kaget dan mengarahkan tatapan mereka kepada Reynold lalu berganti ke nenek Daguezze yang seketika mematung.
Reynold menatap Nene Daguezze dengan tatapan penuh kebencian, wajah tua Nyonya Daguezze tidak membuat Reynold kasihan dan bersimpati, semakin Reynold melihat wajah nenek Daguezze, semakin dia ingat bagaimana istrinya dulu meninggalkan nya dan bahkan rela menggugurkan anak mereka hanya untuk bisa berpisah dengannya.
__ADS_1
"Sejak saat kau menghina istriku, menyebutnya pelacur dan mengusirnya. Aku Reynold Greesha bersumpah tidak mengakuimu sebagai neneku lagi."
Ibu Reynold sangat terkejut, beliau menatap putranya yang mulai berani membantah dan bicara tinggi di depan sesepuh.
"Reynold, apa yang kamu katakan nak..?" Ibu Reynold sangat syok dengan apa yang di ucapkan putra sulungnya.
Reyvan perlahan mundur dan menghampiri Mahira, Meskipun dirinya kaget atas perubahan sikap Reynold, namun dia mengerti dengan perasaan kakak sepupunya dan wajar saja Reynold bersikap seperti itu karena pada saat itu nenek Daguezze sudah sangat keterlaluan.
"Aku serius mengatakannya. Bukankah selama ini nenek selalu mengatakan seorang laki laki harus menepati ucapannya, dan sekarang aku melakukannya."
"Reynold, Apakah kamu masih berhububgan dengan wanita itu?" Tanya nenek intens.
Reynold hanya menatap Nenek Daguezze mencemooh.
"haahhh.. Anda masih sama seperti dulu Nyonya Daguezze. Sombong dan semena mena"
"Reynold... " Nenek Daguezze kehilangan kendali dia hampir saja menampar Reynold, namun pada akhirnya tangannya hanya berhenti diudara tidak sedikit pun mengenai kulit wajah Reynold .
"Sayang" Tiba tiba Reyvan memegang tangan Mahira yang sedang menonton pertengkaran.
"Ayo ikut denganku, ada yang ingin akukatakan. "
"Tapi mereka..." Mahira menatap ibu mertuanya lalu beralih ke ibu Vanilla.
"Biarkan saja," Jawab Reyvan.
Mahira yang enggan meninggalkan tempatnya saat ini merasa sulit melangkah mengikuti Reyvan.
"Reyvan sepertinya nenek akan memukul kak Reynold." Mahira mengerutkan keningnya.
Meskipun enggan tetapi Mahira akhirnya mengikuti Reyvan, mereka berjalan bersama menuju kamar mereka.
(Kamar Reyvan dan Mahira.)
"Duduklah..." Reyvan menuntun Mahira duduk di atas tempat tidur.
Mahira bingung, sepertinya Reyvan ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Ada apa?" Tanya Mahira Karena penasaran.
Untuk beberapa saat Reyvan terdiam, dia sedang memilih kata agar Mahira lebih memahami ucapannya nanti.
"Ada apa? Kamu membuatku takut."
Reyvan masih saja diam, keraguan di wajahnya terlihat jelas dan semakin membuat Mahira was was.
"Reyvan..."
"Mahira, Aku ingin mengatakan sesuatu tentang Fridha, dan yang aku katakan adalah kebenaran."
"Memangnya apa yang terjadi dengan anak itu?"
Reyvan menatap mata Mahira dalam dalam dan Reyvan memegang tangan Mahira. "Fridha bukan anakku."
__ADS_1
Mahira melepaskan tangannya dari genggaman Reyvan. "Reyvan omong kosong apa yang kamu katakan."
"Aku tidak mengatakan omong kosong, Fridha memang bukan anakku." Tegas Reyvan.
"Cukup Reyvan! Ayah macam apa kau ini, sudah jelas Fridha adalah anakmu."
"Mahira Ap--"
"Jika kamu menyebutkan Fridha bukan anaknya Karina aku percaya, tapi kau tidak mengakui Fridha sebagai anakmu. Kau... Aarrgghhh..." Mahira sangat kesal sehingga dia tidak tahu lagi harus berkata apa.
"Mahira. Fridha memang bukan ankku, karena aku tidak pernah meniduri Karina." Reyvan bersi kesar mengatakan ketidak bersalahannya agar Mahira percaya.
"Lalu." Tiba tiba Mahira menatap Reyvan.
"Mungkin kamu tidak pernah tidur dengan Karina. Bagaimana dengan wanita lain, bisa saja Fridha adalah anak yang di kandung kekasihmu yang lain lalu di rawat Karina."
Reyvan memegang kedua bahu Mahira sembari menatap langsung ke mata gadis itu dengan penuh keyakinan.
"Aku tidak ingin lari dari tanggung jawabku merawat Fridha, aku akan tetap merawatnya meskipun dia bukan anakku. Aku hanya ingin namaku bersih dan kamu percaya, aku tidak pernah menghamili wanita manapun kecuali kamu yang akan menjadi ibu dari anakku."
"Lalu bagaimana jika Fridha adalah anakmu?"
Sekali lagi Mahira menodong Reyvan dengan sebuah pertanyaan.
Reyvan langsung diam, dia bingung menjelaskan masalah ini tanpa bukti.
"Kamu diam, dan kamu tidak bisa menjawabnya." Mahira lebih memilih meninggalkan kamar meninggalkan Reyvan yang masih berusaha untuk membuat Mahira percaya padanya.
"Mahira... Mahira dengarkan aku."
Mahira pergi tanpa menggubris panggilan Reyvan. Melihat pengabaian Mahira membuat Reyvan semakin marah dan membenci Karina.
Reyvan terus mengutuk Karina karena sudah membuat drama ayah anak yang tidak jelas, sehingga membuatnya selalu bertengkar dengan Mahira. Sedangkan Mahira pergi ke taman belakang untuk menenangkan diri sejenak, kabar yang di berikan Reyvan setidaknya membuat hatinya lebih tenang dan damai, sebagian hatinya senang mendengar Fridha bukan anak Reyvan tetapi melihat dari fisik Fridha yang cenderung sangat mirim dengan suaminya kemungkinan mereka bukan ayah dan anak sangat kecil.
"Alur novel ini sangat berubah banyak semenjak aku datang ke sini. Ssshhs...aku benar benar ingin pulangn." Ucap Mahira pada dirinya.
Mahira duduk di ayunan dan menggerakanya menggunakan kakinya, dia duduk dengan ekspresi sedih dan bingung seperti kehilangan arah dan entah apa yang harus dirinya lakukan.
Mahira memejamkan matanya sembari menikmati semilir angin yang dinginnya menerpa kulit putihnya, meskipun tubuhnya ini bukan miliknya yang asli, Mahira tetap menyukai tubuh cantik ini.
Andai saja wajah ini dan tubuh ini miliknya di dunia asli, betapa bahagianya dia.
Khayalan Mahira buyar langsung ketika ponselnya berdering karena sebuah pesan. Nama Daren tertera jelas, dan dia mengirimkan banyak foto.
(Bukti kebohongan Karina, Aku mendapatkannya dari orang orang kepercayaanku, anggap saja ini adalah tanda terimakasih ku karena kamu bersedia membantuku.)
Mahira senang bukan main, dia langsung berdiri dan berteriak kesenangan.
"Ya Tuhan terimakasih...."
Mahira membuka satu persatu foto itu dan bukti yang di berikan Daren membuat Mahira percaya apa yang di katakan Reyvan.
"Fridha memang bukan anak Reyvan, tetapi anak Kak Reynold..." Mahira merasa drama ini benar benar plot twist.
__ADS_1
"Karina. Aku tidak akan membiarkanmu terus berkeliaran di rumah ini dengan semua kebohonganmu."