Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Jatuh.


__ADS_3

Berlari menembus hutan tanpa peduli ke arah mana kakinya menginjak, Mahira bertekad menjauh sesegera mungkin tidak ingin di tangkap lagi oleh Kendra.


Ponsel yang di bawa Mahira tidak lagi menyala karena rusak, kini harapannya menghilang.


Rasa sakit yang Mahira rasakan bukan saja dari luka dari tubuhnya, tetapi dari luka hati karena Reyvan.


Mahira tidak bisa melihat jalan dengan benar apalagi hutan sangat gelap tanpa ada cahaya bulan.


Grussuuukkkk.....


"Akkkhhhhhh......"


Mahira jatuh berguling guling menembus rumput liar yang tumbuh di jurang.


...----------------...


Daren tidak bisa tenang setelah mendengar suara Mahira yang ketakutan bahkan tanpa peduli jalan berbatu beberapa kali hampir membuatnya kecelakaan, yang ada dalam fikiran Daren saat ini hanya Mahira.


"Tunggu aku Mahira." gumam Daren.


Lean yang mengemudi di belakang mobil Daren meminpin jalan untuk anak buahnya sambil menelpon Sakian memberi tahu pria itu arah yang tepat.


Sedangkan Sakian yang kebetulan bersama Vanilla senang mendengar Mahira di temukan, Vanilla yang antusias menghubungi ponsel Reyvan tetapi tidak dapat jawapan.


Vanilla mengerutkan keningnya.


"Kemana kak Reyvan? Kenapa dia tidak mengangkat telfon ku."


"Mungkin Boss meninggalkan ponsel di suatu tempat," Jawab Sakian.


Vanilla mengutuk Reyvan yang teledor saat genting seperti ini.


"Aku akan ke rumahnya, kamu bisa menyusul kelompok Daren untuk menyelamatkan Mahira." Ujar Vanilla.


Sakian menatap Vanilla. "Hati hati..."


Pipi Vanilla langsung meumerah mendapat perhatian tiba tiba dari Sakian, tetapi segera Vanilla menggelengkan kepalanya agar berhenti terlena, karena bukan saatnya.


"Oke, aku pergi sekarang...."


Sakian menatap mobil Vanilla yang perlahan menjauh ke arah berlawanan, lalu dia pergi dan menghubungi tim tacky untuk mengikutinya.


...----------------...


Kendran ketakutan saat tidak menemukan Mahira di dalam hutan, dia mondar mandir panik berfikir Mahira berhasil keluar dari hutan dan menemukan seseorang menyelamatkannya.


Kendra berbalik pergi dia kembali ke Villa dan membereskan barangnya, dia yakin seseorang akan segera tiba dan menangkapnya jika dirinya tetap di sini.


Dengan tangan gemetar Kendra mengepak semua barangnya, setelah dirasanya selesai semua dia segera keluar dan menutup pintu.


"Jangan harap kau bisa pergi." Tiba tiba pistol di todongkan tepat di kepala Kendra.


Kendra mematung, tasnya jatuh dan kedua tangannya reflek di angkat. Perlahan Kendra berbalik dan melihat Daren dengan ekspresi dingin memelototinya.


Lean dan yang lainnya ikut mengepung dengan pistol di masing masing tangan.


Daren melirik Lean. "Tangkap dia, aku akan masuk mencari Mahira."


"Hahahahahah......" Tiba tiba Kendra tertawa keras dan menatap Daren penuh ejekan.


Lean menekan pistol tanpa ampun hingga Kendra terjepit di antara pistol dan tembok.


"Dimana Mahira?" Daren tidak ingin membuang waktu.


Kendra tidak ingin mengatakannya, namun Lean memukulnya dan kembali menodongkan pistolnya.


Lean memiliki tampilan lembut tetapi dia paling sadis dan tanpa ampun, orang orang tidak akan menyangka Lean seorang gangster jika hanya melihat wajahnya yang tampan dan memiliki kesan imut.

__ADS_1


"Bicara Si*lan!!!!"


Kendra kembali di pukuli hingga cetakan ungu kembali muncul di kulit wajahnya.


"Sshhh... Dia berlari ke hutan." Jawab Kendra sambil menahan perih.


Daren mengepalkan tangannya. "Ikat dia dan jangan biarkan dia lolos, siksa dia sampai penggemarnya tidak mengenali siapa dirinya. Posting sesuatu yang bisa menjatuhkan dan merusak nama baiknya. Jika perlu, bayar seseorang untuk memberatkan nya di pengadilan."


"Baik Boss..."


Mobil Sakian tiba bersama anggota Tacky tetapi tanpa Reyvan.


Daren yang melihat itu mengerutkan keningnya.


"Dimana Bossmu?"


Sakian tidak enak untuk mengatakan Bossnya tidak bisa di hubungi, dengan terpaksa dia berbohong.


"Akan Segera datang Tuan Daren."


Daren memutar matanya kesal, dia tahu Sakian berbohong tetapi Daren tidak ingin mengekspos nya.


"Ikut aku. Kita mencari dia ke hutan."


Daren pergi bersama Sakian dan beberapa anggota tacky.


...----------------...


Begitu Mobil Vanilla berhasil mengerem tepat di depan rumah Reyvan, dia segera memasuki rumah tanpa memperdulikan sambutan hangat dari pelayang dan penjaga.


Vanilla berlari sambil memanggil nama Reyvan.


"Kak Reyvan!!!!"


"Kak Reyvan!!"


Reyvan tiba tiba muncul sambil memapah Karina dari lantai atas ke bawah. Vanilla sangat marah, dia buru buru menghampiri Reyvan.


"Vanilla jaga bicaramu." tegur nenek Reyvan.


Vanilla menatap neneknya dengan penuh kebencian.


"Apa nenek begitu senang dengan kejdian yang menimpa Mahira? Nenek sangat buru buru untuk menjodohkan Kak Reyvan dan Karina, bahkan Mahira belum seminggu hilang, dan kalian sudah berpesta."


Vanilla sangat marah bahkan dia tidak peduli hal apa saja yang di katakan nya, tanpa peduli sopan santunnya.


"Dan Kau Kak Reyvan, aku sangat meragukan perasaan cintamu. Kau bukan orang pertama yang menemukan Mahira, padahal kau suaminya, aku lebih percaya Daren yang mencintai Mahira daripada kau."


Reyvan segera melepaskan Karina. "Dimana Mahira?"


Ekspresi nya menujukan kemarahan untuk Vanilla.


Vanilla mencibir. "Kau terlambat menjadi pahlawannya, Daren, Lean dan Sakian sudah lebih dulu pergi menyelamatkan Mahira."


Reyvan segera menarik Vanilla membawanya pergi.


"Akhhh.... Apa yang kau lakukan. Lepaskan!!!! "


Vanilla tanpa ampun di masukan ke kursi penumpang lalu di ikuti Reyvan yang duduk di belakang kemudi.


Vanilla mendengus, sebenarnya dia tak ingin membantu Reyvan, tetapi sahabatnya sangat membutuhkan bantuan mereka.


"Ini terakhir kalinya aku membantumu, lain kali aku tidak akan membantumu. " ucap Vanilla.


...----------------...


"Mahira!!!!"

__ADS_1


"Mahira!!"


Daren dengan teliti mengikuti jejak yang masih tersisa di rumput yang di injak.


"Tunggu...."


Daren menghentikan yang lain untuk berjalan lebih jauh, Daren melihat jurang dan ponsel tergeletak, dia yakin Mahira jatuh ke sana.


"Mahira jatuh." ucap Daren.


Semuanya kaget.


"Aku akan turun..." lanjut Daren.


"Boss!!!" Lean berseru tak setuju.


"Aku tidak butuh persetujuan mu..."


Meskipun rasa pusing di kepalanya semakin parah, Daren tetap ingin memaksakan diri untuk turun.


"Aku akan turun Boss," Ucap Lean.


"Tidak. Aku adalah kakaknya,"


Daren tetap menolak Lean yang menawarkan diri untuk turun.


"Saya akan turun untuk membawa Nyonya muda."


Sakian sudah menyingsingkan lengan bajunya bersiap menuruni jurang tetapi tiba tiba tangannya di pegang.


"Aku yang akan turun, Mahira adalah istriku."


"Boss." Sakian bergumam dengan tatapan bahagia.


Daren menatap Reyvan yang terlambat datang.


"Bagus kau tahu diri," sindir Daren.


Reyvan tidak ingin memperdulikan ejekan Daren, dia menuruni jurang secara perlahan.


untung saja akhir akhir ini belum hujan, setidaknya Reyvan lebih mudah untuk turun.


"Mahira..." Panggil Reyvan.


Mahira sedikit membuka matanya saat namanya di panggil, namun penglihatannya tidak cukup jelas untuk mengetahui siapa yang mendekat padanya, Mahira hanya sedikit mengangkat tangannya lalu jatuh pingsan lagi.


Reyvan segera merengkuh Mahira dalam pelukannya, dan memanggil manggil namanya.


"Mahira, bangun..." suara Reyvan serak.


Sakian tidak bisa diam saja melihat Bossnya yang berusaha membawa Mahira ke atas sendirian, dengan inisiatifnya sendiri Sakian juga ikut turun.


"Turunkan tali untuk pegangan boss." Ujar Sakian padan Anggota Tacky.


Tanpa berlama lama Anggota Tacky mempersiapkan pertolongan dan bantuan.


"Aku sudah memanggil ambulan ,." Tiba tiba Vanilla berlari dengan nafas terengah engah.


Lean melirik Vanilla dan menatapnya sebentar.


"Terkadang otakmu berjalan dengan baik." komentar Daren dingin.


Vanilla ingin marah dan memaki Daren tetapi di hentikan oleh Lean.


Vanilla menatap tangan Lean yang memegangnya dan mencibir.


"Kau sama mentenalkannya dengan bossmu."

__ADS_1


Lean melepaskan tangan Vanilla. "Terimakasih." Singkat, padat dan jelas.


Vanilla memutar matanya kesal.


__ADS_2