Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Dilema.


__ADS_3

...----------------...


Dengan susah payah Reyvan membawa Mahira pulang, meskipun Mahira terus meraung marah dan mengutuk orang yang membawanya secara paksa.


Dalam keadaan mabuk Mahira mengatakan hal hal yang seharusnya tidak pernah dia katakan.


"Tuan, ayo kita tidur bersama,..." Ucap Mahira dengan suara genit.


"Mari kita lakukan one night stand, aku ingin mencobanya selain bersama suamiku..." lanjutanya.


Reyvan yang mendengarnya mencengkram setir dengan kuat, ekspresi nya semakin gelap dari yang tergelap.


Mahira mengendus ngendus seperti seekor kucing, dia mengendus-endus semakin dekat pada Reyvan.


"Tuan, bau perfume mu sama persis dengan suamiku... hehehe, selera kalian benar benar sama. Aku suka itu..." ucap Mahira.


Tidak perlu di tanya lagi seperti apa ekpresi Reyvan dari waktu ke waktu. Semakin Mahira merancau tak jelas, semakin Marah Reyvan.


...----------------...


Reyvan menghentikan mobilnya di sebuah hotel, dia terpaksa melakukan itu karena Mahira terus bertingkah nakal dan membuatnya harus berhenti di hotel.


Reyvan menggendong Mahira yang merancau tak jelas, dia memesan kamar sweet presiden untuk mereka.


"Kamu-hukkk" Mahira cegukan, dia mencubit pipi Reyvan dan memujinya.


"Kamu sangat tampan, kamu tidak kalah tampan seperti suamiku yang menyebalkan."


Petugas hotel berjalan di depan Reyvan memimpinnya menuju kamar yang di pesan. Reyvan mendengar Mahira bernyanyi dengan suara pelan, tidak bagus namun menyenangkan di telinga, memangnya apa yang di harapkan dari seorang yang mabuk, nyanyiannya tidak akan sebagus saat sadar.


"Silahkan Tuan," petugas hotel mempersilahkan Reyvan masuk lalu memberi kartu digital untuk pintu kamar.


"Terimakasih." ucap Reyvan lalu pintu di tutup dengan suara bam cukup keras.


Petugas hotel berdiri terpaku beberapa saat setelah itu pergi.


...----------------...


Reyvan menidurkan Mahira tetapi gadis itu begitu lengket dan memeluknya erat, senyum konyol tersungging di bibirnya, matanya sedikit terbuka lalu tiba tiba mencium bibir Reyvan.


Reyvan ingin mendorong Mahira tetapi Mahira memeluknya erat.


"Mahira, kamu tidak sadar sebaiknya tidur sekarang." ucap Reyvan sambil mengeratkan giginya.


"Aku sadar, Jika aku tidak sadar aku tidak akan menghianati suamiku...Ayo lakukan sekarang."


Reyvan memejamkan matanya sebentar, dia mencoba melepaskan tangan Mahira yang melilit di lehernya seperti gurita.


"Umhh...Ayo kita lakukan one night stand, aku ingin membalas suamiku yang menghianati ku... Jadi-"


"Aku tidak menghianati mu Mahira." Tegas Reyvan.


Mahira menggelengkan kepalanya. "Kamu memang tidak menghianati ku, tapi suamiku menghianati ku."


"Mahira lihat aku baik baik." Reyvan menjepit dagu Mahira dan mendongakannya.


Mahira meringis, dia tidak begitu jelas melihat siapa orang yang berada di depannya. Mahira tidak peduli siapa yang di depannya, dia mendorong Reyvan lalu mengambil kendali atas segalanya di bawah pengaruh minuman.


Menciumnya dan bahkan Mahira melepaskan semua pakaian yang ada pada tubuh mereka.


Reyvan kaget dengan tindakan Mahira yang mendominasi, untuk pertama kalinya Mahira meminpin karena biasanya Reyvan yang memimpin, gadis di atasnya pemalu untuk urusan tempat tidur.


Tidak tahan dengan Mahira yang nakal, Reyvan membalik keadaan menjadi di atas dan mengimbangi permainan istrinya yang ceroboh.


...----------------...


Keesokan paginya Reyvan bangun lebih dulu, dia melihat Mahira yang meringkuk dalam pelukannya dengan tubuh yang sama sama telanjang, banyak sekali kissmark dari leher hingga bahu di tubuh miliknya maupun tubuh Mahira, tentunya karya itu mereka buat semalam yang menunjukkan betapa dahsyatnya perbuatan mereka.

__ADS_1


Reyvan tertawa pelan lalu melepaskan Mahira, dia pergi ke kamar mandi dan menelpon Sakian untuk membeli baju untuknya dan istrinya.


Reyvan mencuci wajahnya lalu menatap pantulan dirinya di cermin, banyak hal yang di pikirkan, sebelum menelpon Sakian, Reyvan melihat banyak panggilan masuk dari nomor Karina dan pesan teks.


(Reyvan, kamu di mana? Fridha terus bertanya tentangmu.)


Reyvan hanya membacanya tanpa ada niatan membalasnya, lagian pesan itu di kirim beberapa jam yang lalu.


Reyvan menghela nafas pelan, dia merasa beban pikiran nya semakin bertambah semenjak Karina mengatakan Fridha adalah putri mereka.


Reyvan mengingat kembali ketika mereka mabuk bersama dan tanpa sengaja melakukan hubungan intim pada tahun itu.


Brakkk....


Lamunan Reyvan terganggu saat suara barang jatuh terdengar dari dari luar kamar mandi.


Reyvan buru buru keluar dan melihat Mahira yang sudah bangun sedang memunguti pakaian berserakan.


Ekspresi wajahnya terlihat ketakutan dan gemetar.


"Mahira.." Reyvan menyentuh bahunya dan Mahira segera menoleh, dia terlihat lega setelah melihat Reyvan.


"Aku pikir aku tidur dengn pria lain saat mabuk." ucap Mahira tanpa sadar.


Reyvan tersenyum lembut. "Aku menjemputmu dari club,"


Mahira menunduk, tidak ada satu momen apapun yang Mahira ingat saat kejadian semalam, dia sempat berpikir dirinya tidur dengan pria lain.


"Sakian sedang membeli baju, sebaiknya kamu mandi lebih dulu gunakan handuk dari hotel saja, itu handuk baru." ujar Reyvan.


Mahira meringis merasakan seluruh tubuhnya terasa remuk dan sakit.


Reyvan ingin membopongnya tetapi di Yolah Mahira tanpa mengatakan apa pun.


Mahira hanya mengangguk sambil berjalan ke kamar mandi dengan menyeret selimut yang melilit tubuhnya.


Reyvan yang masih berdiri terpaku hanya bisa menatap pintu dan mendengarkan suara gemercik air dari dalam.


...----------------...


Kantor Daren.


Lean yang duduk di depan Daren yang sedang memutar mutar pulpen sembari memikirkan apa yang terjadi di keluarga Daguezze, terutama penghianatan yang di lakukan Reyvan pada Mahira membuatnya sulit tidur.


"Boss, kamu harus tidur, sejak semalam kamu hanya duduk di sini."


Daren melirik Lean.


Lean ketakutan, dia segera menutup mulut bawelnya dan menunduk.


"Siapkan mobil, aku akan pergi menemui Mahira." perintah Reyvan.


"Tapi Boss-"


Seketika Lean diam saat mendapatkan pelototan dari Daren.


"Oke," Tanpa bisa membantah akhirnya Lean pergi dan menyiapkan mobil.


Daren mengambil catatan medisnya dan membawanya. Dia akan meminta bantuan Mahira untuk operasinya kali ini, dia sekarang tidak bisa menyerah meninggalkan Mahira sendirian, setidaknya dia harus menjaga gadis itu.


Apalagi gadis itu sendirian di tempat yang tidak di kenalnya ini, selain itu ibunya juga sudah tua dia tidak mungkin bisa melindungi Mahira jika keluarga Daguezze menggertak gadis itu.


Lean yang sudah siap membukakan pintu mobil untuk Daren.


"Ke rumah pernikahan Reyvan." ucap Daren yang di angguki Lean.


Tidak ada percakapan menarik dari dua pria yang duduk di barisan berbeda, mereka sibuk dengan pikiran masing masing dan hanya diam dengan pemahaman masing masing.

__ADS_1


Lean cukup senang akhirnya boss mengambil keputusan untuk melakukan operasi meskipun sedikit meragukannya.


"Apa yang ingin kau katakan, katakan saja." ucap Daren yang membuat Lean tersentak.


Lean tersenyum. "Boss, sekarang kamu telah mengambil keputusan untuk melakukan operasi pengangkatan tumor, tapi kenapa harus pergi bersama nona Mahira?"


Daren menatap setengah bahu Lean, dia tertawa pelan. "Kau tidak akan percaya dengan apa yang akan aku katakan."


Lean tidak puas dengan jawaban Daren, dan ingin kembali bertanya.


"Lean, apa kau percaya keajaiban?" tanya Daren tiba tiba


Lean mengerutkan keningnya, dia ingin menjawab ya namun hatinya berkata tidak, akhirnya Lean diam tidak menjawabnya.


Daren tahu apa yang di pikirkan Lean, jadi lebih baik tidak mengatakan apapun tentang Mahira pada Lean.


"Karena kau tidak percaya adanya keajaiban, sebaiknya aku tidak memberitahu mu."


Boss, kenapa kamu begitu kejam. Batin Lean.


...----------------...


Sakian mengemudikan mobil Reyvan dengan perasaan canggung, melihat boss dan istrinya yang bertengkar duduk saling menjauh satu sama lain.


Reyvan tidak menjauh tetapi Mahira duduk di paling sisi seolah Reyvan adalah sesuatu yang menjijikan.


"Pergi ke restauran." ucap Reyvan.


Mahira tanpa sadar menyentuh perutnya yang berbunyi.


Sakian berbelok di sebuah restauran China yang terkenal.


Mahira enggan untuk keluar dari mobil tetapi rasa laparnya mengalahkan egonya yang tinggi, Mahira pun mengikuti Reyvan dan Sakian.


Drrrttttt.....Drrrtttt....Drrrtttt...


Reyvan menghentikan langkahnya, di layar ponselnya tertera nama Karina yang memanggilnya.


Mahira sempat melihatnya, tetapi dia tidak menghentikan Reyvan untuk menjawab panggilan Karina.


Mahira berjalan meninggalkan Reyvan memasuki restauran, sedangkan Reyvan memberi isyarat pada Sakian untuk mengikuti Mahira.


Sakian mengangguk memahami.


Reyvan: "Hallo..."


Karina; (Reyvan, Fridha jatuh dari ayunan, banyak darah yang keluar, bisakah kamu datang? Dia terus memanggilmu.)


Reyvan: Bawa terlebih dulu ke rumah sakit, aku akan menyusul.


Karina; (Fridha tidak ingin di obati sebelum melihatmu...Cepat kembali. Hiks.... hiks... hiks...)


Reyvan mengepalkan tangannya, dilema antara anak dan istrinya mana yang harus dia pilih.


Setelah berpikir panjang akhirnya Reyvan memilih untuk pulang dan menemui Fridha.


"Oke..."


Di dalam restauran, Mahira dengan santai memilih makanan meskipun dia tahu Reyvan akan pergi, Mahira dengan sengaja memesan banyak makanan.


"Nyonya, makanan yang Anda pesan terlalu banyak. Boss akan pulang, saya takut anda tidak akan bisa menyelesaikan semuanya."


Mahira tersenyum. "Akan ada orang lain yang menemaniku, jangan khawatir."


Sakian terdiam, dia bingung siapa yang di maksud nyonya mudanya.


"Duduk dan ikut makan bersamaku, sambil menunggu orang lain." ujar Magira.

__ADS_1


__ADS_2