
Mahira yang masih di sekap Kendra duduk termenung sambil menatap ke luar jendela, dia berusaha mengingat detail plot novel yang dia baca, apakah ada detail lain yang dirinya lupakan.
Setelah beberapa saat
Mahira membuka matanya saat mengingat dalam plotnya, Mahira di culik tetapi si penculik tidak di sebutkan, Mahira takut apa yang ada dalam plot novel akan terjadi padanya.
Kendra juga beberapa kali di sebutkan dalam novel, karena dia akan menjadi Brand ambassador dari produk terbaru yang di keluarkan prusahaan Reyvan.
Mahira terus mengingat apa saja yang di sebutkan tentang Kendra dalam novel selain seorang aktor ternama.
"Ya...Aku ingat." Ucap Mahira pada dirinya.
Dalam Novel di ceritakan Mahira di culik selama seminggu dan tiba tiba di temukan di di sebuah hotel bersama seorang pria dalam keadaan telanjang, hal itu membuat Keluarga Daguezze meradang dan marah besar tadinya mereka mengira Mahira di culik dan ternyata malah berselingkuh dengan pria lain. Vanilla yang selaku sahabat Mahira dan sepupu Reyvan tentu merasa di khianati, dia membenci Mahira. Namun itu semua jebakan Karina untuk membuat Mahira terlihat buruk.
Kendra mentalnya sedikit terganggu, dia akan sangat baik dan mau melakukan apa saja pada seseorang yang baik padanya, kebetulan Nela memperlakukan Kendra sangat baik saat di panti asuhan, mungkin Kendra ingin balas dendam pada Mahira atas apa yang terjadi pada Nela.
Untungnya Mahira pernah belajar sedikit tentang psikologis, setidaknya itu berguna saat ini.
Krettekk...
Mahira menoleh ke arah pintu, suara barusan berasal dari luar kamar tempatnya di sekap, Mahira berjalan ke sana dan menempelkan telinganya.
"Apa maksudmu Kak Nela tidak bisa di bebaskan?" Kendra berbicara di telfon.
(.........)
"Aku sudah membayarmu mahal mahal. Aku ingin hasilnya segera!!!!" Kendra mulai emosi.
(........)
"Itu urusanmu, Aku ingin kau membebaskan Kak Nela."
(...........)
Kendra membanting ponselnya ke lantai hingga kacanya pecah.
"Sial!!! Pengacara tidak berguna."
Mahira tahu Reyvan tidak akan dengan mudah membebaskan Nela, apalagi ini kasus percobaan pembunuhan.
Mahira tersenyum, dia menyentuh dadanya dengan maksud ingin memegang kalung yang di berikan Reyvan, tetapi Mahira menyadari tidak ada kalung di lehernya.
"Dimana kalungku." Gumam Mahira sambil mencari di sekitar tempat tidur.
Mahira membolak balik selimut berharap kalungnya di temukan, namun sayangnya Mahira harus menelan kecewa karena kalungnya tidak ada.
"Kalungnya hilang, aku tidak tahu jatuhnya dimana..." Mahira terus mencari berjalan ke setiap tempat yang kemungkinan dia lewati di kamar.
Clekkk....
Pintu di buka, Kendra masuk dengan membawa nampan berisi makan siang untuk Mahira.
Mahira tertegun, menurutnya Kendra adalah penculik yang baik hati, dia dengan tepat waktu memberinya makan.
Perut Mahira bersuara tanpa malu malu begitu mencium aroma makanan yang lezat.
Krukkkk......
Mahira terdiam begitu juga dengan Kendra, Wajah Mahira berubah merah karena malu.
..."Perut sialan...." Batin Mahira....
"Kamu kelaparan, kebetulan aku membawanya untukmu." Ucap Kendra dengan ekspresi datar.
Mahira mengulurkan tangannya menerima nampan.
"Terimakasih..." Ucap Mahira.
__ADS_1
Kendra berbalik, tiba tiba Mahira memanggilnya.
"Tunggu...."
Kendra menoleh. "Apa lagi?"
Mahira menunduk sejenak lalu menatap Kendra. "Aku tidak terbiasa makan sendirian. Bisakah emmhh... kamu menemaniku?"
Kendra mengerutkan keningnya menatap Mahira.
Mahira menunduk malu di tatap begitu intens .
"Aku sibuk.." Kendra mengalihkan perhatiannya.
Mahira tidak ingin menyerah, dia buru buru maju selangkan dan memohon.
"Aku Mohon."
Kendra perang batin antara menuruti permohonan Mahira atau menolaknya, tetapi melihat wajah memelas Mahira, Kendra menjadi tidak tega untuk menolaknya.
Kendra bukanlah orang jahat, dia hanya menculik Mahira untuk menuruti keinginan Nela, tapi dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
"Oke..." Setelah lama berpikir Kendra akhirnya setuju.
Mahira tersenyum bahagia. "Terimakasih."
Kendra mengikuti Mahira dan duduk di hadapan gadis itu. Mahira menghirup aroma makanan yang membuat perutnya semakin menggeram.
"Huuhhh sepertinya sangat lezat..." Mahira memujinya.
Kendra tidak mengatakan apapun selain memperhatikan Mahira dengan ekspresi tak terbaca.
Mahira mulai makan dan terkejut dengan rasanya. "Umhhh... ini benar benar lezat, Kendra apakah kamu membuatnya sendiri. Ini benar benar lezat..." Mahira memuji Kendra dan berbicara santai seolah mereka adalah teman.
Wajah Kendra perlahan meumerah walaupun tidak banyak, terapi ekspresi malu pria itu dapat di lihat Mahira.
Kendra menatap Mahira. "Di acara TV yang mana?" Tiba Tiba Kendra bertanya.
Mahira mencoba mengingatnya. "Itu saat kau mempromosikan film barumu bersama aktris Natali, acara TV bintang film."
Kendra mengangguk. "Nanti malam aku akan membuatnya untukmu..." ucap Kendra.
Mahira menatap Kendra bahagia. "Sungguh. Kau tidak berbohong kan?"
Kendra mengangguk. "Umh..."
"Aku memang tidak salah mengidolakan mu." Ucap Mahira seolah dirinya fans girl yang tergila gila dengan idolanya.
Kendra tiba tiba berdiri lalu keluar dari kamar sekap Mahira dan menguncinya kembali. Begitu pintu di tutup rapat, Mahira tersenyum penuh kemenangan. Rencananya berjalan dengan lancar.
Mahira melipat tangannya di depan dada, ekspresi penuh kebahagiaan berubah menjadi serius.
..."Kau tidak akan lolos Nela." Batin Mahira....
Di sisi lain Kendra berdiri di depan jendela menatap keluar pada pohon pohon yang mengelilingi villa ini.
Villa miliknya ini berada di pinggir kota agak terpencil dari yang lainnya, orang orang jarang datang kemari tanpa ada panggilan dari Kendra.
Dug... Dug.... Dug... Dug...
Jantung Kendra berdetak kencang tak seperti biasanya, senyum bahagia Mahira terus terbayang dalam benaknya dan membuatnya sulit untuk menolak setiap permintaan gadis itu.
"Arrrggghhh... Lupakan lupakan. Ingat apa yang harus kau lakukan." Kendra berteriak frustrasi.
...----------------...
Reyvan memijat pelipisnya karena rasa pusing, semalaman dia mencari Mahira tanpa tidur tetapi hasilnya tetap nol. Penculik Mahira sangat cerdas dan tidak meninggalkan jejak sedikitpun.
__ADS_1
"Kak Reyvan... Minum tehnya," Vanilla duduk di samping Reyvan setelah menaruh teh di depan Reyvan.
Reyvan melihat Vanilla dengan mata lelahnya.
"Aku tidak tahu keadaannya sekarang," Ucap Reyvan.
Vanilla mengerti perasaan Reyvan saat ini, dia juga sangat mencemaskan sahabatnya ini, tapi dia juga bingung harus mencari kemana, karena Reyvan saja sulit menemukan Mahira.
Nyonya Nera juga mencemaskan Mahira, semalaman dia menunggu Daren di rumah sakit sambil terus menghubungi Nyonya Daguezze bertanya apakah Mahira sudah di temukan, tetapi sampai sore ini Mahira masih belum di temukan.
"Kak Reyvan aku akan menghubungi teman teman kami, semoga mereka bisa membantu."
Reyvan mengangguk, saat ini dia hanya bisa berharap ada petunjuk si penculik membawa Mahira kemana.
Karina dan Nenek Daguezze memperhatikan Reyvan dan Vanilla dari jarak pandang yang cukup jauh.
"Aku berharap Mahira tidak bisa di temukan," Ujar Karina dengan emosi membara.
Nenek Daguezze mengangguk setuju.
"Jika Mahira tidak kembali, aku akan memaksa Reyvan menikah denganmu bagaimanapun caranya." Ucap Nenek.
Karina memeluk nenek Daguezze. "Terimakasih nenek."
Nenek Daguezze mengangguk.
...----------------...
Daren melihat ibunya yang kelelahan tertidur di sofa, dia baru saja bangun dari sejak kecelakaan semalam, pikirannya langsung tertuju pada Mahira.
Daren mencari ponselnya tetapi ponsel itu tidak ada.
"Boss, apa yang kamu cari?"
Entah datang dari mana, Lean tiba tiba berada di hadapan Daren.
"Ponselku di mana?"
"Ponselmu rusak." Jawab Lean.
Daren terdiam sejenak. "Lalu bagaimana, apa Mahira sudah di temukan?"
"Belum."
"Apa! Apa yang di lakukan Reyvan, ini sudah sore dan dia masih belum menemukan istrinya."
Lean menghela nafas. "Penculik nya sangat cerdik."
"Dan kalian bodoh, begitu?"
Lean Tahu Daren sedang marah, kata katanya tidak bisa di ayak dengan benar.
Daren tidak bisa hanya diam tanpa melakukan apapun, dia mencopot jarum infusnya lalu turun dari tempat tidur.
"Boss..." Lean kaget Daren melepas infusnya.
Nyonya Nera terbangun saat mendengar Daren dan Lean berbicara.
"Daren, apa yang kamu lakukan?"
Daren menoleh pada ibunya. "Aku akan mencari Mahira."
"Tapi Nak, kamu masih sakit."
Daren menghela nafas, dia menatap ibunya lalu pada asisten nya. "Aku tidak bisa santai sebelum Mahira di temukan."
Daren langsung pergi lalu di ikuti Lean.
__ADS_1
Nyonya Nera menghela nafas pelan.