Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Reyvan kecil versi perempuan.


__ADS_3

Tok... tok...tok...


"Mahira, ini aku Vanilla."


Mahira yang sedang duduk termenung berdiri membuka pintu, Vanilla melihat mata Samira yang berkaca kaca, dia buru buru masuk dan mengunci pintu kembali.


"Aku akan menemanimu, mungkin aku tidak bisa menghiburmu karena aku tidak bisa menjadi bijak dengan masalah ini, aku sendiri tidak akan bisa toleransi dengan perbuatan pasanganku. Aku hanya bisa menemanimu dan berbagi duka." Ujar Vanilla.


Mahira memeluk Vanilla dan menangis, dia beruntung di tempat ini memiliki shabat yang pengertian seperti Vanilla, seumur hidupnya Mahira akan berterimakasih pada gadis ini.


Keduanya mengunci diri di dalam kamar dan memutuskan tidur bersama. Memang tidak banyak percakapan yang di lakukan, Vanilla memberi waktu untuk Mahira menata hatinya tanpa banyak bertanya.


Reyvan di panggil ke ruang kerja kakeknya dan mereka membicarakan hal yang sama, yaitu anak Karina yang katanya hasil buah cinta Reyvan di masa lalu. Kakek yang menjadi paling tua di antara mereka harus mengambil keputusan sebijak mungkin memberi keadilan pada setiap pihak.


"Apa rencanamu saat ini?" Tanya Kakek Daguezze.


Reyvan diam sebentar lalu menatap kakeknya. "Jika memang dia anakku, aku akan mengambil tanggung jawabku sebagai seorang ayah dan akan membesarkannya."


"Apa kau sudah bertanya bagaimana keinginan Mahira?"


Reyvan diam sejenak. Tentu saja Reyvan sudah berbicara dengan Mahira, tetapi melihat bagaimana gadis itu bersikap padanya saat ini, Reyvan merasakan pahit di hatinya.


"Apa rencanamu seandainya Mahira tidak bisa menerima anak itu dan masa lalumu, apakah kau akan setuju melepaskan Mahira?"


"Tidak." Reyvan langsung menjawab tegas pertanyaan kakeknya.


"Aku tidak akan pernah melepaskan Mahira sampai kapanpun,"


Kakek Daguezze terdiam, beliau meminum seteguk tehnya lalu menatap cucunya yang tampak putus asa tanpa harapan.


"Dulu kakek berpikir kamu hanya bermain main menikah dengan nya, tapi setelah melihatmu seperti ini kakek yakin kamu benar benar menyukainya. "


Reyvan tidak mengatakan apapun, tentang perasaannya dirinya tidak pernah ingin menjelaskan secara gamblang, tetapi orang orang bisa melihat cara dia memperlakukan wanita yang di cintainya.


"Besok aku akan berbicara dengan Mahira dan menjelaskan,--"


"Itu tidak perlu kakek, aku akan menyelesaikan masalahku sendiri."


Kakek Daguezze menghela nafas pelan.


"Baiklah, aku hanya bisa menonton apa yang bisa kamu lakukan, jika butuh bantuan jangan sungkan untuk berbicara, bagaimana pun kami adalah keluarga. Jangan menanggungnya sendiri." Kakek berdiri dan menepuk bahu Reyvan tiga kali.


Mahira yang tidur di kamar yang sama dengan Vanilla tidak bisa tidur pulas, beberapa kali dia bangun dan akhirnya tidak bisa tidur lagi. Mahira merasakan kepalanya berdenyut sakit, dia memijat nya perlahan namun rasa sakit itu semakin menyiksanya.


Mahira keluar dari kamar dan pergi ke balkon, menghirup udara malam setidaknya membuat dirinya merasa sedikit lega dari rasa sesak.


Mahira menatap langit gelap tanpa ada bulan dan bintang, pikirannya tidak tenang memikirkan besok adalah hari kedatangan anak Reyvan dan Karina.

__ADS_1


Sejujurnya Mahira tidak siap dengan ini, mungkin setiap kali dia melihat anak Reyvan, Mahira akan membayangkan bagaimana suaminya bergelut panas bersama wanita lain.


Tiba tiba tubuh Mahira menjadi hangat, lengan kejar memeluknya dari belakang dan bahunya di tekan dengan sesuatu yang tumpul.


Mahira bisa menebak tanpa menoleh, yang memeluknya adalah Reyvan.


"Mengapa berada di luar rumah di waktu seperti ini? kamu akan masuk angin jiga terus di sini dengan pakaian tipusmu."


Mahira tidak menanggapi pertanyaan Reyvan. Reyvan bisa merasakan sedikit penolakan Mahira karena pelukannya, tetapi dia tidak peduli, Reyvan ingin memeluk Mahira terus.


"Lepaskan. Aku mengantuk." ujar Mahira masih dengan tatapan kosong ke langit.


Reyvan mencium bahu Mahira dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Reyvan."


"Umh..."


Mahira terdiam sejenak. "Aku tidak siap dengan semua ini, aku tidak ingin ini..."


Reyvan menatap wajah Mahira dari samping, ekspresi gadis itu jelas menunjukan kesedihan.


"Maaf," hanya kata itu yang bisa di ucapkan Reyvan.


Keduanya diam cukup lama hingga akhirnya Mahira memilih melepaskan pelukan Reyvan dan kembali ke kamar yang dimana Vanilla masih terlelap tidur.


Reyvan menghela nafas pelan, dia masuk dan mengunci balkon, dia tidur di sofa di depn kamarnya yang di gunakan Mahira dan Vanilla.


...----------------...


Mahira bangun lebih pagi dan membangunkan Vanilla mengajaknya joging mengelilingi komplek.


Untungnya tempat tinggal kelurga Daguezze adalah komplek mewah tanpa ada keributan dan hanya penghuni yang bisa masuk.


Vanilla yang tidak terbiasa bangun pagi memaksakan diri pergi ke kamar mandi, mencuci muka dan berganti baju dengan milik Mahira yang masih baru yang di siapkan langsung oleh Reyvan di Mansion.


"Kak Reyvan begitu baik memperlakukanmu." komentar Vanilla yang hanya di balas dengan anggukan pelan oleh Mahira.


"Ayo pergi.." Mahira menarik pergelangan tangan Vanilla dan keluar dari kamar.


Begitu mereka membuka pintu, Reyvan yang sedang tidur di sofa menjadi pemandangan pertama mereka.


Mahira dan Vanilla terdiam, dan merasa bersalah.


"Kenapa kak Reyvan memilih tidur di sini daripada di kamar tamu?" Tanya Vanilla.


Ekpresi Mahira sangat rumit anatara sedih kecewa dan patah hati.

__ADS_1


"Ayo biarkan saja, kakakku seorang laki laki, dia harus mampu menanggung itu." ucap Vanilla sambil menarik Mahira.


Begitu Mahira dan Vanilla pergi Reyvan membuka matanya, matanya terus menatap pada sosok belakang Mahira yang perlahan menjauh.


Reyvan memijat ruang di antara alisnya lalu pergi ke kamarnya.


...----------------...


Para pelayan sangat sibuk sedang memasak karena nenek Daguezze telah mengundang orangtua karina datang dengan membawa cucu yang baru saja di ketahui.


Melihat dari ekspresi nenek Daguezze yang cerah dan penuh energi, orang orang bisa menebak dengan jelas, bahkan ibu Vanilla yang tidak bersemangat harus berpura pura bahagia dan membantu segalanya.


Ibu Reyvan juga hanya bisa membantu tanpa berkomentar,.


"Cepat segera selesaikan pekerjaan kalian, tamu akan segera datang..." Nenek Daguezze menegur ibu Vanilla.


"Bu, bisakah kita tidak mengundangnya ke rumah. Kasihan Mahira," ujar ibu Reyvan.


Nenek Daguezze mengerutkan keningnya. "Yang akan datang ke rumah ini adalah cucumu, anak dari Reyvan. Mengapa kamu masih memikirkan wanita itu."


Ibu Reyvan terdiam, kali ini dirinya tidak bisa membantu Mahira dan Reyvan.


Ibu Vanilla melirik ibu Reyvan dan berbagi komunikasi dengan mata mereka.


"Mahira masih belum kembali?" tanya Ibu Reyvan.


"Belum, untungnya Vanilla bersamanya, aku sudah menugaska gadis nakal itu untuk tetap menemani Mahira. Aku takut karena rapuh Mahira menjadi impulsif." Ibu Vanilla sangat efisien dalam bertindak.


"itu bagus."


...----------------...


Mahira dan Vanilla berjalan jalan setelah joging, bahkan mereka sarapan di cafe setelah itu mereka pergi ke perpustakaan umum membaca di sana.


Vanilla hanya melirik Mahira yang duduk serius membaca buku tentang medis, dia bingung mengapa Mahira membaca buku semacam itu yang menurutnya membosankan bahkan ada banyak istilah yang sulit di pahami, tetapi Mahira membaca itu seolah itu sangat menarik.


Ponsel Mahira bergetar dan nama Reyvan tertera di layar. Mahira mengabaikannya dan kembali fokus pada bukunya.


Vanilla menyangga dagunya dengan kedua tangan sambil memperhatikan Mahira yang begitu mempesona, bahkan Mahasiswa yang sedang membaca tidak henti hentinya melirik Mahira dan saling berbisik.


"pantas saja Kak Reyvan begitu menyukai Mahira, dia sangat cantik dan mempesona." batin Vanilla.


...----------------...


Di sisi lain Reyvan mengumpat kesal saat Mahira tidak menjawab telfonnya, para tamu sudah datang dan gadis kecil dua belas tahun yang di sebut putri Reyvan dan Karina sedang duduk dan di kelilingi oleh para tetua, gadis itu memang mirip dengan Reyvan kecil versi perempuan, mereka yakin bahwa Karina tidak berbohong, dan memutuskan tidak perlu tes DNA.


Harapan Reyvan hancur dan hubungannya dan Mahira akan semakin memburuk.

__ADS_1


"Reyvan, kenapa kau di sana? lihat putrimu." Teriak Nenek Daguezze.


Reyvan menyimpan ponselnya laku pergi menghampiri mereka.


__ADS_2