
Ibu Reyvan membantu Mahira mengepak barang barangnya, hari ini Mahira bisa keluar dari rumah sakit karena keadaannya sudah membaik.
"Mom, kenapa Mama Nera belum datang hari ini?"
ibu Reyvan menatap menantunya dengan senyum lembut di wajahnya. "Daren sakit, dia harus merawatnya."
Mahira mengerutkan keningnya. "Daren belum di berhentikan dari rumah sakit?"
Ibu Reyvan mengangguk. "Sepertinya Daren sakit parah, tetapi Nera tidak mengatakan apapun."
Mahira mengerutkan keningnya.
"Mom, bisakah aku menemui Daren? Bagaimanapun Daren sudah menyelamatkan aku juga, jika saat itu Daren tidak menjawab panggilan ku, mungkin aku sudah mati di jurang itu."
Ibu Reyvan mengangguk setuju. "Mom akan mengantarmu ke sana."
Mahira mengangguk. "Terimakasih Mom,"
...----------------...
Tokkk... tokk... tokkk....
Mendengar pintu di ketuk, Nyonya Nera segera membukanya dan melihat Mahira bersama besannya berdiri di depan pintu.
"Mahira, ayo masuk nak."
Nyonya Nera memeluk ibu Reyvan setelah memeluk Mahira. Daren kaget Mahira datang ke ruang rawatnya.
"Hai, bagaimana keadaan mu sekarang?" Mahira melambaikan tangannya.
Daren tersenyum tipis. "Seperti yang terlihat, hanya lemah saja tapi ibu memperlakukan aku seperti orang lumpuh." jawab Daren menyindir.
Mahira menghela nafas. "Mama peduli padamu, kenapa kamu bersikap seolah yang di lakukannya salah."
Daren menatap Mahira. "Yah..."
Sebenarnya sikap acuh Daren membuatnya kesal, tapi saat ini Mahira juga tidak ingin berdebat dengan pria ini.
"Sakit apa?" tanya Mahira memecah kesunyian setelah Nyonya Nera bersama ibu mertuanya pergi.
Daren bersikap seolah dirinya baik baik saja. Mahira menarik dokumen yang sedang di baca Daren dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
Daren menatap Mahira. "Kembalikan."
"Tidak."
Daren menghela nafas, dia melipat tangannya di depan dada. "Mengapa kamu menyebalkan?" tanya Daren.
"Mengapa kamu begitu acuh dan mengisolasi dari orang lain."
Daren menghindari tatapan Mahira. "Bukankah ini yang kamu inginkan?"
Mahira tidak mengerti, dia mengerutkan keningnya. "Aku-" sambil menunjuk dirinya.
Mahira tidak melanjutkan kata katanya setelah mengingat kemungkinan yang mengatakan itu Mahira asli.
"Bagaimana lukamu sekarang?" Tanya Daren.
Mahira mengangkat bahunya "Yahh,,, lebih baik, eh... Kak Daren sakit apa?" sekolah lagi Mahira bertanya.
Daren mendongak menatap Mahira yang baru saja memanggilnya kakak setelah sekian lama Mahira tidak pernah memanggilnya kakak.
"Kenapa? Apa aku juga tidak boleh memanggilmu kakak?"
Daren menghindari tatapan Mahira. "Sudah lama tidak mendengarnya." Jawab Daren.
Mahira duduk dan menopang dagunya dengan satu tangan, dia menatap Daren cukup lama dan membuat Daren tidak nyaman.
"Kenapa menatapku?"
Mahira menggelengkan kepalanya. "Tidak apa apa, hanya saja aku merasa kau lebih kurus dari terakhir kali aku melihatmu."
Daren melirik Mahira acuh. "Sungguh kaget kau mengingat berat badanku terakhir kali."
Mahira mengerucutkan bibirnya, entah apa yang di sukai Mahira asli dari pria ini pria yang senang bertengkar dengan kata kata kejamnya.
"Ngomong ngomong, terimakasih sudah menyelamatkan aku..."
"Aku pikir kau lupa untuk berterimakasih," Meskipun yang di katakan Daren terdengar dingin dan acuh tapi tatapan Daren begitu lembut menatap Mahira.
"Hari ini aku di pulangkan dari rumah sakit." Ujar Mahira,.
__ADS_1
Daren mengangguk. "Itu bagus,"
Keheningan kemabli membuat keduanya canggung, beberapa kali Mahira meremas tangannya tapi dia tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Kak Daren."
"Humhh..."
"Seandainya aku mengatakan, aku bukan Mahira yang asli apa kau akan percaya?"
Daren mengerutkan keningnya, dia menatap Mahira dari atas ke bawah lalu kembali menatap wajahnya.
"Melihat dari fisikmu aku tidak percaya kau Mahira palsu, namun dari sifatmu mungkin aku akan percaya."
Yah... memang benar, dirinya bukan Mahira asli dan hanya jiwa yang terjebak dalam tubuh orang lain,.
"Sebenarnya... Aku-" Mahira diam sebentar, sambil menatap Daren serius. "Aku bukan Mahira asli."
Daren terkejut tetapi ekspresinya tampak tenang seolah kabar itu bukan apa apa.
"Aku adalah jiwa yang tersesat dan memasuki tubuh Mahira, Aku.... Aku juga bingung harus mengatakan ini kepada siapa, orang lain pasti tida akan percaya."
"Lalu kenapa kau mengatakannya padaku, apa kau tidak takut aku tidak percaya dan menuduhmu idiot."
Mahira juga tidak tahu kenapa dia ingin berkata jujur pada Daren karena itu murni dororngan hatinya.
"Namaku juga Mahira Rawles, di duniaku, aku seorang Dokter bedah terbaik tetapi karena kesalahan ku sendiri aku berada di sini"
Keajaiban memang ada, dan Daren tidak menyangkal itu, dia menepuk kepala Mahira dan tersenyum.
"Lalu apa rencanamu sekarang?"
Mahira kaget dengan jawaban Daren, dia sudah memikirkan kemungkinan reaksi terburuk yang akan di berikan Daren padanya.
Mahira membayangkan Daren akan mengatakan dirinya halu, terlalu banyak menonton TV, atau mungkin dirinya sudah gila.
Daren turun dari tempat tidur berdiri di depan jendela menatap langit yang cerah dengan sedikit awan.
"Terimakasih karena setidaknya Mahira masih hidup dengan kamu berada di tubuhnya."
mulut Mahira terbuka, bibirnya membentuk hurup O sambil menatap punggung Daren.
Daren berbalik. "Setidaknya ibuku tidak akan sedih dengan adanya kamu." Daren tersenyum.
Mahira mengepalkan tangannya, dia ingin mengatakan Mahira juga sangat mencintainya.
"Kak Daren,"
Daren tidak menyahuti panggilan Mahira, tetapi menatapnya sungguh sungguh.
"Mahira yang asli juga sangat mencintaimu,."
Daren Terdiam.
Mahira menggelengkan kepalanya.
"Ah...sepertinya Reyvan sudah datang menjemputku, sekali lagi terimakasih sudah menyelamatkan aku....bye..."
Mahira buru buru pergi meninggalkan Daren sendirian.
Mahira berjalan menunduk dan tanpa sengaja menabra seseorang, Mahira membungkuk dan buru buru meminta maaf.
"Maaf..."
"Sayang,"
Mahira terdiam, seseorang yang baru saja memanggilnya sayang mirip dengan suara Reyvan, Mahira mendongak dan benar saja yang dia tabrak adalah Reyvan.
"baru saja aku akan menjemput mu." Ujar Reyvan.
Mahira tersenyum kaku, dia menoleh sebentar lalu mengikuti Reyvan.
Reyvan yang merasa cemburu diam diam mengepal kan tangannya sambil melirik Mahira yang tampak santai berjalan bersamanya.
Reyvan membukakan pintu mobil untuk Mahira, dan di dalam sana ibu Reyvan sudah duduk menunggu keduanya.
"Mom ternyata sudah di sini." ujar Mahira.
Ibu Reyvan tersenyum dan bergeser memberi ruang lebih luas untuk Mahira.
Reyvan melindungi kepala Mahira agar tidak menabrak atap mobil saat dia masuk, perlakuan lembut semacam ini tidak luput dari pandangan ibunya, diam diam ibunya senang dengan hal itu.
__ADS_1
setelah menutup pintu mobil, Reyvan masuk dan duduk di kursi pengemudi, ketiganya pergi meninggalkan rumah sakit
Daren yang berdiri di depan jendela dan memperhatikan mobil Reyvan perlahan menghilang.
"Kenapa berdiri di sana, kamu harus istirahat nak," ucap Nyonya Nera saat melihat putranya melamun.
Daren tidak menggubris ucapan nyonya Nera, dia tetap berdiri di sana dengan perasaan kacau.
"Bu, apakah kamu percaya perpindahan jiwa dari dunia lain?" Tiba tiba Daren bertanya.
Nyonya Nera mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan pertanyaan putranya.
"Apa maksudmu, tidak ada hal yang seperti itu di dunia ini." jawab Nyonya Nera.
Daren menunduk dengan wajah masam, dia berfikir apa yang di katakan Mahira benar tidak ada orang yang akan percaya dengan hal semacam ini, mereka kan berfikir itu takhayul atau menganggap kita gila.
"Bu, aku tidak ingin tinggal di rumah sakit lagi, aku sudah baik baik saja."
"Tapi Dokter-"
"Bu, aku tidak suka tempat ini."
Nyonya Nera menghela nafas tidak berdaya dengan keinginan putranya.
"Ibu akan mengurus kepergianmu dari rumah sakit."
Daren menatap ibunya. "Biarkan Lean yang melakukannya, dia memegang uangku."
Nyonya Nera membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tetapi pada akhirnya hanya bergerak tanpa ada kata yang keluar dari bibirnya.
Nyonya Nera menghela nafas. "Ibu akan mengepak barang barangmu."
Daren tidak menolak, dia pergi ke lemari dan mengambil baju lalu masuk ke kamar mandi.
...----------------...
Rumah Reyvan.
Begitu ketiganya sampai di rumah, Vanilla bersama ibunya menyambut hangat mereka dan sudah mempersiapkan masakan lezat kesukaan Mahira.
"Mahira...." Vanilla langsung memeluk Mahira dan membuat mereka hampir terjengkal karena pelukan Vanilla yang tiba tiba dan Mahira belum siap menerimanya.
"Hati hati," Reyvan menahan punggung Mahira.
Ibu Vanilla memelototi putrinya yang ceroboh.
"Mommy, berhenti melotot seperti itu, atau suatu hari matamu akan keluar dan meninggalkan tempatnya."
Ibu Vanilla ingin sekali memukulnya yang begitu kurang ajar mengolok ngolok di depan semua orang.
"Sudah sudah, kalian ibu dan anak selalu saja seperti ini." lerai ibu Reyvan.
"Terkadang aku berpikir mungkinkan saat aku melahirkan di rumah sakit bayiku tertukar." ujar Ibu Vanilla mengoceh.
"Mommy!!! Aku tidak tertukar, sudah jelas aku mirip denganmu bagaimana mungkin aku bisa tertukar." Vanilla berteriak tidak Terima.
ibu Vanilla mengangkat bahunya acuh.
"Selamat siang semuanya....."
Sakian menyapa, dia baru saja tiba karena Reyvan memintanya datang.
Vanilla terdiam tubuhnya kaku, dia segera menunduk tidak berani menatap Sakian.
Sakian melirik Vanilla yang kebetulan perlahan bersembunyi di belakang ibunya.
Sakian tersenyum sopan.
"Sakian ayo ikut makan bersama kami." Perintah Reyvan.
"Tapi Boss--"
"Aku tidak ingin di bantah,"
"Baik."
Sakian tidak memiliki ruang untuk membantah perintah Reyvan.
Jantung Vanilla berdetak kencang, sudah dua hari Vanilla menghindari Sakian, setelah kejadian mabuk bersama dan menghabiskan malam bersama, Vanilla benar benar tidak memiliki keberanian untuk menunjukan wajahnya di depan Sakian. Tapi Ternyata Tuhan memiliki cara lain untuk mempertemukan mereka dan membuat Vanilla tidak bisa berkutik.
"Ya Tuhan.... Mengapa harus sekarang."
__ADS_1