
Mahira dan Reyvan berdiri di bawah shower, Reyvan mengurung Mahira dalam pelukannya tanpa peduli tubuh mereka basah.
Mahira mendorong Reyvan.
"Sudah cukup." Mahira terlalu malu untuk menatap langsung pada Reyvan.
Reyvan tidak tersinggung, dia tahu Mahira sudah memaafkannya, dia tetap menegang Mahira dalam pelukannya.
"Reyvan aku kedinginnya," Ucap Mahira pelan.
Reyvan melepaskan Mahira, dia mematikan shower dan mengambil handuk.
Reyvan menggosok handuk di tubuhnya hingga kering lalu melilitkan nya di pinggangnya. Mahira yang masih berada di tempat yang sama dengan pakaian basah di hampiri Reyvan.
Reyvan mengulurkan tangannya dan ingin melepas pakaian Mahira satu persatu, tetapi Mahira menghentikan nya, dia mendorong Reyvan perlahan.
"Aku akan melakukannya nya sendiri." ucap Mahira tanpa menatap Reyvan.
"Aku akan membantumu."
Mahira terdiam. Reyvan adalah Tuan pemaksa yang menyebalkan namun romantis, dia tidak akan menyerah hanya dengan Mahira mengatakan tidak.
...----------------...
Vanilla yang baru saja mendengar kabar adanya percobaan pembunuhan di rumah Reyvan, dia buru buru pergi dari rumahnya menuju rumah Reyvan.
Sesampainya di sana Vanilla bertemu dengan ibu Reyvan. "Tante, bagaimana sekarang?"
Ibu Reyvan menarik Vanilla membawanya duduk di sofa.
"Semuanya sudah baik baik saja, untungnya Mahira sangat pintar dia dengan tajamnya menemukan kebohongan pelayan itu." ujar Nyonya Daguezze antusias menceritakan kronologi dari awal hingga akhir.
Vanilla cemberut, memikirkan Pelakor berada di sekitar kakak sepupunya, mengincar dan hampir membuat rumah tangga sahabatnya berantakan.
"Untung saja Mahira cerdas, dia berhasil mendepak wanita itu." gumam Vanilla.
Reyvan yang sedang menuruni tangga bisa dengan jelas mendengar Vanilla yang mengomel, dia menghela nafas pelan.
Jika Vanilla tahu pertengkaran hebat dirinya dan Mahira, Reyvan yakin Vanilla akan dengan semangat mengompori istrinya dan membuat hubungannya dan Mahira semakin tegang.
"Kak Reyvan..." Vanilla segera menghampiri Reyvan dan berdiri di hadapannya.
"Apa itu?" Reyvan cukup malas menghadapi adik sepupunya.
Vanilla melipat tangannya di depan dada memandang Reyvan dengan tatapan sinis.
"Kak Reyvan, aku mendengar kau memperlakukan pelayan dengan istimewa dan hampir menggeser posisi sahabatku sebagai saudara ipar?"
Reyvan memijat ruang di antara alisnya, dia jengkel dengan pertanyaan Vanilla yang seolah menuduhnya jatuh cinta dengan wanita lain selain Mahira.
Reyvan menarik nafasnya lalu menatap adik sepupunya. "Tidak ada hal semacam itu, aku tidak memperlakukan pelayan itu secara berbeda."
Vanilla mengejek Reyvan. "Aku tidak percaya."
Reyvan melanjutkan langkahnya melewati Vanilla begitu saja. "Terserah..."
Vanilla yang mendapatkan bahu dingin dari Reyvan bergumam tak jelas memarahi Reyvan.
...----------------...
Gedung pusat Daguezze Group sedang dalam mode sibuk, apalagi hari ini rapat untuk proyek baru akan di lakukan dan Boss mereka tidak lagi menerima kesalahan setelah minggu lalu mereka di beri kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
__ADS_1
Sakian seperti biasa datang lebih awal dan memeriksa kembali pekerjaan nya, dia tampan dan di siplin, selain bekerja cepat dan cerdas Sakian juga orang yang jujur, Reyvan sangat menyukai kepribadian Sakian.
"Boss, anda sudah datang." Sakian menyambut.
Reyvan mengangguk lalu dia memasuki ruangannya dan di ikuti oleh Sakian.
...----------------...
Daguezze Mansion.
Kakek Daguezze baru saja tiba dari persembunyian sementaranya, beliau kembali setelah mendengar insiden yang terjadi di rumah cucunya.
Asisten kakek Daguezze yaitu Tuan Ruth yang memberitahu apa yang terjadi di rumah Reyvan berdiri di belakang kakek Daguezze dan menunggu Nenek Daguezze mengomel, namun hal yang di tunggu Tuan Ruth tidak terjadi.
Nenek Daguezze terlihat tenang dan menyambut suaminya dengan senyum lebar.
"Kamu sudah kembali,"
Kakek Daguezze yang sudah mempersiapkan diri mendapat omelan tidak bisa menyembunyikan ekspresi kaget di wajahnya.
"Kakek, akhirnya anda kembali. Nenek sangat merindukanmu." Karina dengan senyuman tulusnya menyapa kakek Daguezze.
Kakek Daguezze menatap keduanya. "Aku akan ke rumah Reyvan dulu," ucap kakek.
Nenek Daguezze yang mendengar kakek akan pergi ke rumah Reyvan, beliau tersenyum lebar. "Aku akan ikut bersamamu, lagian Selia ada di rumah Reyvan. Selia adalah ibu Reyvan.
Kakek dan Tuan Ruth menatap Nenek Daguezze dengan tatapan aneh dan curiga.
Nenek Daguezze yang mendapat tatapan semacam itu memahami satu hal.
" Aku tidak akan membuat masalah,"
Kakek Daguezze tidak percaya, dia tahu watak istrinya, Kakek Daguezze tidak ingin memperkeruh keadaan dan membuat Reyvan semakin menjauh dari mereka.
Nenek Daguezze ingin mengatakan sesuatu dengan kemarahan tetapi tangannya di tahan oleh Karina.
"Kakek, bagaimanapun nenek adalah penatua, dan itu hak beliau untuk berkunjung ke rumah cucunya." Ucap Karina dengan suara yang lembut.
Kakek Daguezze tampak dilema antara mengijinkan istrinya ikut atau tidak.
Tuan Ruth berbisik di telinga kakek Daguezze.
Nenek Daguezze menatap suaminya lalu beralih ke Tuan Ruth.
setelah selesai Kakek Daguezze menatap istrinya. "Kamu boleh ikut, tapi dengan satu syarat. Jangan membuat masalah."
Nenek Daguezze senang. "Iya."
Lalu Kakek Daguezze menoleh menatap Karina, beliau ingin mengatakan Karina tidak bisa ikut tetapi nenek Daguezze langsung berkata. "Karina akan ikut, kasihan dia sendirian di rumah."
Yah kakek Daguezze mengetahui itu, tetapi dirinya sadar betul Karina menyukai Reyvan yang telah menikah dengan Mahira.
Kakek Daguezze tidak langsung menyetujuinya, beliau diam sejenak.
Tuan Ruth yang diam diam mendapatkan permintaan pendapat mengangguk saja.
"Oke, tapi jangan membuat masalah di sana." ucap Kakek enggan.
...----------------...
Pukul dua siang Mahira bangun secara alami dan mendengar suara ribut ribut di ruang tamu, Mahira mengelus perutnya yang sakit dan perlahan turun dari tempat tidur.
__ADS_1
Begitu pintu kamarnya di buka, Mahira mendengar suara Vanilla seperti sedang bertengkar dengan seseorang, dan Mahira mendengar nama Karina di sebut sebut.
Mahira memutuskan keluar dari kamarnya dan pergi ke ruang tamu.
Ayah Reyvan dan kakek Reyvan sedang bermain catur tanpa memperdulikan suara kencang Vanilla yang terkadang membuyarkan konsentrasi mereka.
"Karina, kenapa kau datang ke sini?" Tanya Vanilla
Karina yang sejak tadi mendapatkan serangan verbal dari Vanilla sebisa mungkin menahan emosinya agar tidak meledak.
"Kau datang kesini tidak membawa niat buruk yang bisa membawa nasib sial kan?" lanjut Vanilla.
Cecilia yang tak lain adalah ibu Vanilla mencubit gadis itu untuk lebih berhati hati dalam berbicara.
"Mommy, sakit..." Vanilla melotot dan di pelototi balik oleh ibunya.
Vanilla menunduk sambil memanyunkan bibirnya.
"Ibu kandung serasa ibu tiri."
"Diam kau.. Anak nakal."
Mahira berdiri dan melihat semua orang tak jauh dari tempat nya.
Ibu Reyvan yang menyadari kehadiran Mahira beranjak dari sofa dan menghampiri Mahira.
"Nak, kamu sudah bangun... Ayo kita duduk,"
Nenek Reyvan tidak menatap Mahira dari awal kedatangannya, jelas sikapnya masih sama tida menyukai Mahira.
"Mahira..." Karina menyapa.
Mahira mengangguk sebagai balasan.
Mahira masih syok tiba tiba di rumahnya ada banyak orang, dia tidak siap dengan ini.
"Apa kamu lapar nak?" Nyonya Nera yang melihat Mahira melamun segera menepuk gadis itu dan bertanya.
Mahira memegang perutnya dan mengangguk pelan.
"Mama akan menyiapkan makan malam, kepala koki sedang menunggu putrinya,"
Menyebutkan kepala koki, Mahira jadi ingat kejadian tadi.
"Apakah Rena sudah sadar?"
"Sudah..." Jawab Ibu Reyvan.
"Tapi gadis itu masih lemah," lanjut Nyonya Nera.
Mahira mengangguk, tentu saja dia tahu Rena akan lemas karena luka gadis itu mengeluarkan banyak darah.
"Kakek, Maaf aku terlambat menemuimu..." ucap Mahira malu.
Kakek Reyvan mengangguk. "Tidak apa apa, aku sudah mendengar dari Selia kamu sedang sakit, jangan terlalu lelah dan harus banyak istirahat." pesan Kakek.
Mahira tersenyum, dia senang setidaknya kakek Reyvan tidak membencinya, tetapi saat Mahira ingin menyapa nenek Reyvan, dia melihat nenek Reyvan sepertinya enggan melihatnya, jadi Mahira hanya menunduk dan memanggil nenek Reyvan.
"Nenek,"
Nenek Reyvan mengabaikan Mahira dengan mengajak Karina berbicara.
__ADS_1
Mahira menghela nafas, dia tidak ingin ambil pusing dan kembali duduk bersama ibu Reyvan dan Vanilla.