
...----------------...
Makan siang bersama kali ini hanya di dominasi oleh ibu Reyvan dan ibu Vanilla yang mengobrol dan sesekali di sahuti Reyvan, Mahira dan Vanilla.
Sakian hanya tersenyum dan dan mengangguk setuju, Vanilla yang duduk agak jauh dari Sakian masih merasa tidak nyaman, apalagi keduanya tanpa sengaja beberapa kali bertemu pndang.
Tiba tiba Vanilla berdiri. "Aku ingin ke toilet sebentar," pamit Vanilla.
Sakian mengerutkan keningnya, dia menaruh sumpit nya perlahan lalu pamit juga ke toilet.
"Saya permisi ke toilet." Ujar Sakian.
Reyvan mengerutkan keningnya sedikit curiga dengan Vanilla dan Sakian, tidak biasanya Sakian bersikap seperti itu dan Vanilla juga lebih banyak diam.
Mahira mengulurkan tangannya ingin mengambil nugget ayam, tetapi dengan cekatan Reyvan mengambilkan untuknya.
Mahira tersenyum. "Terimakasih..."
"Makan yang banyak." Reyvan menepuk kepala Mahira seperti dia adalah gadis kecil.
...----------------...
Di dalam toilet Vanilla berusaha menenangkan diri, jantungnya berdebar debar kencang dan bayangan malam panas bersama Sakian kembali berputar di benaknya.
"Ya ampun!!!! Berhenti memikirkan itu." Vanilla berteriak frustasi.
Vanilla ingin menangis antara malu dan sedih. Sekali lagi Vanilla menarik nafas dan mengelurkannya perlahan, Vanilla juga merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah di rasa penampilannya baik baik saja Vanilla membuka pintu.
Tetapi Sakian ternyata sudah berdiri di depan pintu.
"Kamu...."
Di depan pintu toilet Sakian berdiri dengan tangan di lipat di depan dada, keduanya saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat, lalu tiba tiba Sakian mendorong Vanilla kembali dan menutup pintu.
Vanilla melotot tak terkendali.
"Apa yang di lakukan pria ini." Batin Vanilla.
Sakian menjebak Vanilla antara tembok dan tubuhnya, tatapannya menembus langsung membuat Vanilla tanpa sadar menundukkan kepalanya menghindari Sakian.
"Mengapa kamu meninggalkan hotel tanpa menungguku bangun?" Tanya Sakian.
Vanilla menggigit bibir bawahnya karena gugup, dia masih belum berani menjawab.
"Jawab aku...." Sakian menjepit dagu Vanilla dan membuat gadis itu menatapnya.
"Aku-"
Vanilla ragu ragu menjawabnya, dia bingung juga kenapa saat itu malah buru buru pergi dari hotel bukannya menunggu pria itu bangun meminta pertanggung jawaban Sakian.
"Anggap saja kita tidak pernah melakukannya, apa artinya itu... lagian hal biasa. Kita tidak perlu memikirkan nya saja." ujar Vanilla.
Sakian menatap Vanilla dan tanpa sadar tekanan di dagu gadis itu mengencang seiring dengan rasa marahnya.
"Apa katamu?"
Vanilla tersenyum mengejek. "Mengapa Tuan Sakian menganggap hal seperti itu serius, anggap saja kita hanya melakukan one night stand."
__ADS_1
"Apa kau pikir keperawanan tidak penting?" Tanya Sakian menekan kata keperawanan.
Vanilla mendorong tubuh Sakian hingga membuat jarak.
"Yah, apa pentingnya itu... hanya selaput darah."
"Vanilla!!!!" Sakian ingin memarahi gadis ceroboh ini tapi tampaknya itu bukan hal baik.
Sakian menarik nafasnya menenangkan dirinya, lalu dia menatap Vanilla serius.
"Aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan, kita kekasih sekarang."
"Ah itu... Tidak perlu repot repot, seperti yang aku katakan. Anggap saja kita hanya melakukan one night stand, kamu hanya perlu membayar ku untuk keperawanan ku, karena uang jajan ku menipis. Dan Ya, kita tidak pernah memiliki hubungan apapun selain one night stand itu. "
Sakian sangat marah, entah kenapa mendengar Vanilla mengatakan mereka hanya melakukan one night stand seperti seorang pel**ur dan meminta bayaran, hatinya memberontak dan tidak suka.
Sakian mengambil dompetnya dan menyerahkan kartu hitam unlimited miliknya.
"Karena keperawanan nona Greesha sangat mahal, aku akan membayarnya dengan ini, kata sandinya adalah xxxxxx."
Lalu Sakian pergi tanpa menoleh lagi. Jelas pria itu marah.
Setelah Sakian pergi membanting pintu meninggalkan Vanilla yang masih terpaku menatap kartu hitam di tangannya.
Vanilla menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dia mulai menangis tidak peduli air matanya telah membasahi kartu hitam milik Sakian.
(Flashback)
Vanilla terbangun, seluruh tubuhnya terasa sakit terutama di bagian tertentu, Vanilla menarik selimut menutupi tubuhnya. Sakian masih terlelap dengan keadaan naked sama seperti Vanilla.
Vanilla ingat dengan benar mereka mabuk dan saling mengungkapkan perasaan suka mereka satu sama lain hingga berakhir di tempat tidur yang sama.
Grrtttt....
Vanilla sudah mengulurkan tangannya dan hanya beberapa inci dari wajah Sakian, namun entah ponsel siapa yang bergetar di bawah tubuhnya. Vanilla mengambil dan ternyata ponsel Sakian.
Layarnya masih menyala dan terlihat jelas pesan watsap yang belum di baca di layar yang masih terkunci.
(Sakian kapan kamu kembali, hari pertunangan kita sudah dekat, tidak kah kamu akan kembali?)
Seketika jantung Vanilla seperti tidak berfungsi untuk beberapa saat dan membuat sesak dadanya, dan tanpa sadar air mata jatuh di pipinya.
Vanilla menyimpan kembali ponsel Sakian dan dia buru buru mengambil bajunya yang berserakan lalu mengenakan nya tanpa tahu benar dan salah, sedikit merapikan rambutnya Vanilla buru buru keluar dari hotel.
(Flasback end)
Vanilla menggenggam erat kartu hitam milik Sakian, lalu dia menyimpan nya di saku.
Vanilla kembali ke meja makan tetapi tidak ada Sakian di sana, akhirnya dirinya bisa menghela nafas lega.
"Kenapa begitu lama?" tanya ibu Vanilla.
"Perutku sakit Mom."
Mahira menatap Vanilla dan merasa heran dengan sikapnya hari ini yang lebih banyak diam.
"Apakah kamu makan sesuatu yang salah tadi pagi?" Tanya Mahira.
__ADS_1
Vanilla menggeleng. "Sekarang perutku baik baik saja, aku hanya ingin istirahat, kepalaku sangat pusing."
Reyvan menatap Vanilla, dia menebak bahwa antara Reyvan dan Vanilla ada sesuatu tetapi Reyvan tidak terus menyelidiki, dia yakin keduanya sudah dewasa dan mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri.
"Ya sudah kamu istirahat di kamar biasa. Jika perut mu tidak membaik, kita akan memanggil Dokter." ujar Mahira.
"Umh..." Vanilla mengangguk lalu pergi ke kamar yang biasa dia tempati ketika menginap di rumah Reyvan.
Reyvan dan Mahira saling menatap memahami satu sama lain dengan apa yang mereka pikirkan.
Reyvan tersenyum dan tiba tiba mencubit pipi Mahira. "Jika kamu menatapku seperti itu aku akan lebih suka tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bersamamu."
Mahira mendorong Reyvan, lalu melirik ibu mertua beserta tante Cecilia yang berpura pura tidak melihat mereka yang bermain nakal.
Reyvan menghela nafas. "Aku harus berangkat ke kantor, hari ini ada rapat antara pemegang saham." Ujar Reyvan menjelaskan kegiatannya.
Mahira mengangguk. "Pergilah, cari uang yang banyak agar aku bisa belanja."
Reyvan tidak marah, dia justru senang dan mencium kening Mahira. "Sebuah kesenangan bisa menafkahi istriku.."
Mahira benar benar malu dengan rayuan Reyvan, dia sekali lagi mendorong pria itu dan melanjutkan makan yang sempat tertunda.
"Mom, aku titip Mahira selama aku bekerja." Reyvan pamit.
"Ya ya ya... pergilah bekerja,"
Mahira tidak berani mengangkat kepalanya dan melihat ibu mertua beserta tantenya, dia hanya fokus pada makanan di piring seolah olah itu lebih menarik dari apapun.
"Tidak perlu merasa malu, kami pernah muda tentu saja kami paham dengan apa yang kalian rasakan." ujar Ibu Vanilla.
Mahira mau tidak mau mengangkat wajahnya dan menatap ibu mertua beserta tantenya yang menatap Mahira Main main.
"Mom, aku sudah selesai. Aku akan ke kamarku." Mahira buru buru pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Ibu Reyvan dan ibu Vanilla tertawa terbahak bahak.
...----------------...
Begitu Mahira sampai di kamarnya dia segera menutup pintu dan menguncinya, menghela nafas pelan lalu Mahira memeriksa setiap sudut kamar apakah ada yang berubah atau tidak dari terakhir kali dirinya pergi.
Cukup lama Mahira berkeliling di kamar akhirnya menemukan sesuatu.
Benar saja sesuatu berada di bawah tempat tidur tetapi bukan miliknya ataupun Reyvan.
Mahira mengambilnya menggunakan kakinya.
"ieoouuuhhh... " Mahira melemparkan benda itu jauh darinya.
Mahira tahu siapa pelaku yang sudah menaruh barang menjijikkan itu di kamarnya bersama Reyvan.
"Berani sekali Karina ingin bermain trik denganku." gumam Mahira kesal.
"Kau ingin menabur perselisihan antara aku dan Reyvan, sayang sekali aku tidak akan mudah percaya begitu saja. Mari kita lihat siapa yang akan menjadi pemenang di antara kita."
Mahira menginjak injak cd merah yang menggoda itu, siapapun yang memakainya akan terlihat seksi dan menggoda.
"Ihhh... Awas saja aku akan berurusan denganmu secepatnya." Mahira terus menginjak injak cd itu lalu menendangnya ketempat sampah.
__ADS_1
"Don't touch my mine!!!!!" Geram Mahira.