Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Hukuman.


__ADS_3

...----------------...


Reyvan kembali ke rumahnya setelah Fridha tidur nyenyak, jelas meskipun dirinya ada bersama orang lain tetapi pikirannya terus berputar tentang Mahira.


"Tuan muda, anda sudah kembali." Kepala pelayan membungkuk menyambut Reyvan.


Reyvan melihat sekeliling yang tampak sepi.


"Dimana Nyonya?" Tanya Reyvan.


Kepala pelayan tampak tertekan. "Tuan Nyonya belum kembali dari semalam?"


"Apa!"


Kepala pelayan menggigil mendengar raungan Tuan mudanya, dia sendiri bingung kenapa nyonya belum kembali bukanlah Tuan Muda semalam menjemput nyonya.


Reyvan menghubungi nomor Sakian dan tidak butuh waktu lama panggilan itu di jawab.


Reyvan; "Dimana Mahira?"


Sakian: (Boss, Nyonya pergi bersama Tuan Muda Daren.)


Reyvan: "Dan kau malah membiarkannya!"


Di ujung sana Sakian mengigil ketakutan, tebaknnya benar. Boss mengamuk.


Sakian: (Boss, Nyonya bersikeras.)


Reyvan: "Aku sudah mengatakan padamu untuk mengantarkan Mahira ke rumah, bukan membiarkannya pergi bersama sembarang orang."


Sakian:(.......)


Reyvan: "Sebaiknya kau kembali ke kantor, tunggu hukumanku."


"Sial!" Kutuk Reyvan.


Panggilan terputus. Setelah itu Reyvan pergi untuk menyusul Mahira.


...----------------...


Nyonya Nera Home.


Nyonya Nera sangat bahagia saat Mahira dan Daren datang mengunjunginya, beliau segera berbelanja di supermarket terdekat dan memasak makanan kesukaan Daren dan Mahira.


"Ma, biarkan aku membantu ya." ujar Mahira yang duduk dengan bosan.


"Sebenarnya Mama ingin menyiapkan nya sendiri, namun sepertinya putriku ini sangat bosan dan ingin membantu. Jadi datang kemari dan bantu mama." Nyonya Nera tersenyum.


Mahira buru buru berlari ke dapur dan mulai membantu ibunya. Daren yang awalnya sedang menonton TV tergerak ingin membantu dia datang dan menambah orang yang berada di dapur.


"Cuci sayurnya, setelah itu potong potong." ujar nyonya Nera.


Daren mengambil sayur lebih cepat dari Mahira, dan Mahira melotot karena di kalahkan oleh Daren.


"Aku mencuci, kamu memotong." ujar Daren menghentikan Mahira dari merebut pekerjaannya.


Mahira membiarkan Daren melakukannya, dia menunggu dengan sabar dan tak lama setelah itu gilirannya yang memotong sayur.


"Hati hati pisaunya tajam." pesan Daren yang di angguki Mahira.


DING dong.......


Ding dong......


Daren dan Mahira menghentikan aktivitasnya sejenak, mereka saling melirik menunggu siapa yang mengalah dan membuka pintu. Keduanya pun tidak ada yang ingin bergerak.


Nyonya Nera menghela nafas pelan, dan akhirnya nyonya Nera turun tangan dan pegi ke pintu depan.


"Kenapa kamu tidak pergi?" tanya Mahira.


"Lalu kenapa tidak kamu yang membuka pintu?" Tanya balik Daren.

__ADS_1


"Ya... Aku sedang sibuk, kamu buta ya."


Daren menyipitkan matanya saat di sebut buta oleh Mahira, dia mencubit pipi Mahira hingga gadis itu meraung karena nya.


Keduanya sibuk bekerja sambil bercanda hingga tidak menyadari sepasang mata menakutkan menatap mereka penuh ancaman.


"Mahira. Reyvan datang," Ujar Nyonya Nera menghentika kejenakaan kakak beradik.


Mahira yang sedang di cubit dan bertengkar dengan Daren menghentikan aksi mereka, dan secara bersamaan menoleh pada sosok Reyvan yang berdiri tak jauh memangdangi mereka.


"Sebaiknya kalian duduk tunggu hidangannya siap." Ujar Nyonya Nera setelah melihat kekacawan di dapur yang baru saja di tinggal sebentar.


"Mama aku ingin membantu." ujar Mahira.


"Tidak perlu, sebentar lagi selesai. Sebaiknya kalian duduk bersama Reyvan." Nyonya Nera langsung menolak Mahira.


Mahira dan Daren keluar dari dapur. Seperti seorang anak yang melakukan kesalahan, Mahira tidak berani menatap langsung mata Reyvan dan sebisa mungkin menghindarinya.


Daren tidak peduli dengan kehadiran Reyvan, dia melewatinya tanpa niat menyapa.


"Aku pulang ke rumah, kamu tidak ada. Kenapa tidak bilang kamu pergi ke rumah mama?" Reyvan memegang lengan Mahira.


Mahira mendongak dan berusaha melepaskan cengkraman Reyvan tetapi tidak bisa. "Apa aku juga harus pergi sesuai ijin mu untuk bertemu ibuku?"


Mahira Jengkel tetapi tidak bisa berbuat apa apa.


"Setidaknya jika aku tahu, aku bisa mengantarmu. Kita pergi bersama."


Mahira ingin tertawa tetapi hanya bisa melototi Reyvan.


"Aku sedang tidak mood untuk bertengkar." Mahira ingin pergi mengikuti Daren, dan hal itu tidak luput dari pandangan Reyvan.


Cemburu. Reyvan menarik Mahira ke sudut dan menghimpit nya ke tembok.


Mahira kaget, belum mencerna segalanya tiba tiba bibirnya di bungkam dengan bibir Reyvan menciumnya tanpa ampun.


setiap ******* mengandung gigitan ringan yang membuat Mahira merasa kebas namun aneh.


Tangan Reyvan mulai tak terkendali, berkeliaran di balik kemeja yang di pakai Mahira. Mahira berusaha mendorong pria itu. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukannya, tetapi Reyvan sudah di selubungi nafsunya.


"Rey_van...hahhhh" Tanpa sadar Mahira mendesah.


Reyvan melihat penolakan Mahira, dia melirik kamar mandi yang tak jauh dari mereka. Reyvan membawa Mahira ke sana lalu mengunci pintu.


"Reyvan kamu gila." desis Mahira saat Reyvan melepas resleting celana nya.


"Tidak ada waktu untuk berkomentar."


"Rey-v...... "


...----------------...


Setelah semuanya berakhir, Meja makan sudah di penuhi dengan berbagai macam hidangan. Daren dan nyonya Nera sudah duduk dan menunggu sepasang suami istri yang terlambat.


Mahira sangat malu, dia tidak bisa menahan pipinya yang kemerahan dan semakin merah. Mahira ingin sekali menendang serigala buas yang sudah menahannya dan memaksanya melakukan hal tidak senonoh di kamar mandi.


Kakinya bahkan masih gemetar tetapi yang membuatnya malah duduk santai bergabung dengan yang lainnya tanpa malu malu.


"Untung kalian cepat datang." ujar Nyonya Nera sambil menyediakan piring untuk Mahira dan Reyvan.


"Maaf kami terlambat." Reyvan dengan Sopan meminta maaf.


"Tidak apa apa, ayo kalian harus makan. Jarang sekali bagi kita berkumpul bersama seperti ini." ucap Nyonya Nera senang.


Reyvan: "Terimakasih mama."


Nyonya Nera senang dengan Reyvan yang bergabung tanpa memperdulikan Mahira yang melotot tajam pada Reyvan.


Daren yang bersikap dingin seolah tidat tahu apa yang terjadi, terus menikmati makanannya tanpa berniat menyelidiki.


Di sini hanya Mahira korbannya dan Reyvan adalah pemenangnya.

__ADS_1


Bias, Menyebalkan, mendominasi. Mahira tudak tahu lagi apa yang harus dia katakan.


Mahira merasa seperti kelinci yang berada di kandang serigala apalagi Reyvan terus memegang tangan kirinya tanpa berniat melepasnya.


"Lepaskan." bisik Mahira sambil menekan setiap hurup yang di ucapkan nya.


"Aku tidak akan." Jawab Reyvan santai.


Ya Tuhan... Berikan aku kekuatan untuk menghadapi suami serigala ini. Batin Mahira.


Reyvan tersenyum bahagia melihat Mahira yang menyerah berjuang melepaskan diri, dia dengan lahap menyentap setiap sendok makanan yang tersaji di piringnnya.


"Bu, Minggu depan aku akan pergi ke Singapura." Daren Berkata.


Nyonya Nera mengerucutkan bibirnya.


"Minggu depan adalah hari ulang tahun ku, apa kamu tidak akan menemaniku? tanya Nyonya Nera.


Daren melirik Mahira. "Aku harus menjalani pengobatan di Singapura, Bu aku memutuskan melakukan operasi."


Nyonya Nera menatap Daren. "Apa ibu boleh ikut?"


Daren diam untuk beberapa saat, setelah itu dia mengangguk. "Lean akan menyiapkan segalanya."


Nyonya Nera senang mendengarnya, setidaknya hubungannya dengan Daren agak lebih baik dari sebelumnya.


Mahira tidak mengatakan apapun tentang dirinya yang akan pergi, padahal Daren berharap Mahira mengatakannya di depan Reyvan dan memiliki ijin suaminya.


Melihat dari sikap Mahira saat ini, sepertinya dia tidak akan mengatakannya.


Daren pun tidak memaksanya, dia akan menunggu keputusan Mahira pergi dengn ijin atau tanpa ijin.


...----------------...


Setelah selesai makan, Mahira mencuci piring lalu bergabung bersama Nyonya Nera dan Reyvan yang sedang mengobrol. Mahira berdiri meninggalkan nyonya Nera dan Reyvan dan mencari keberadaan Daren, ternyata orang itu sedang mengunci diri di kamarnya, Mahira ingin mengetuk pintu kamar Daren tetapi dia mengurungkan niatnya.


"Mungkin Kak Daren ingin waktu sendiri." gumam Mahira.


Mahira berbalik dan kaget saat tiba tiba Reyvan sudah berdiri di belakangnya.


"Kamu mengagetkan." Tegur Mahira.


Reyvan yang memiliki ekspresi gelap tidak menjawab Mahira, dia hanya berdiri menatap Mahira intens.


Menjadi objek intens dari tatapan Reyvan, Mahira malu. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan berusaha tersenyum setulus mungkin.


"Kamu akan pulang? Aku akan mengntatmu sampai depan." ucap Mahira.


Reyvan tetap berdiri teguh tanpa mengatakan apapun.


"Reyvan."


"Aku akan pulang denganmu." ujar Reyvan tiba tiba.


Mahira terdiam sejenak, lalu dia tersenyum ceroboh. "Oh Ya,,, aku lupa bilang. Aku akan menginap di rumah ibuku."


Reyvan masih belum menunjukan ekspresi berbeda, dia tetap teguh bersikap dingin bahkan semakin suram.


Mahira mulai ketakutan, tubuhnya tanpa sadar menggigil.


"Aku juga akan menginap." ucap Reyvan.


Mahira yang hampir terkena serangan jantung hanya bisa tersenyum kaku. Tuhan tahu betapa Mahira ingin menghindari pria di depannya ini, namun seolah tahu apa yang akan di lakukan Mahira, Reyvan terus menempel padanya dan memblokir setiap jalan untuknya bersembunyi.


"Jangan harap kamu bisa bersembunyi dariku." Nadanya penuh dengan ancaman.


Mahira mengerutkan keningnya. "Reyvan, Aku ingin sendiri dulu. biarkan aku tenang untuk sesaat."


"Kita bisa bicarakan masalah kita baik baik..." Jawab Reyvan.


"Aku sedang tidak ingin membicarakannya, jika kau ingin pulang, maka pulang saja. Aku sedang tidak mood untuk berdebat denganmu."

__ADS_1


Mahira memasuki kamarnya yang tepat berada di sisi kamar Daren. Reyvan akhirnya mengikuti Mahira setelah berdiri di luar kamar cukup lama.


__ADS_2