
...----------------...
Mahira dan Vanilla duduk dengan berbagai camilan yang di sediakan oleh pelayan, mereka mencicipi nya satu persatu sambil berkomentar lebih enak yang mana, ibu Vanilla dan ibu Reyvan rukun bersama sama membantu koki memasak sambil mendengarkan obrolan ringan dari Vanilla dan Mahira.
Ibu Vanilla adalah anak kandung keluarga Daguezze dan ibu Reyvan adalah kakak iparnya, mereka berteman baik saat di Universitas jadi bukan hal yang aneh jika mereka rukun bersama sama.
"Dimana Reyvan, tumben sekali Mahira di biarkan berkeliaran sendirian." tanya Ibu Vanilla.
Vanilla mendongak dengan mulut penuh makanan. "Dia sedang sibuk menyambut mantan kekasihnya."
"Omong kosong darimana itu." tiba tiba Reyvan datang dan duduk di samping Mahira tanpa malu malu, dia melahap camilan yang ingin di lahap Mahira.
"Sayang, kenapa kamu meninggalkan aku sendirian humm..."
Mahira tidak ingin menjawab pertanyaan Reyvan, dia mengabaikannya dan memakan camilan lainnya.
Greebbb.....
Tiba tiba Reyvan memeluknya dan menaruh dagunya di bahu Mahira, seketika tubuh Mahira menjadi kaku.
"Aku tidak suka kamu meninggalkanku." Reyvan bersikap manja pada Mahira dan membuat ibu Reyvan syok.
"Kamu bau wanita lain." Komentar Mahira sambil mendorong Reyvan.
Reyvan mengendus endus dirinya dan ternyata yang di katakan Mahira memang benar, parfum Karina menempel di bajunya.
"Aku akan mandi, kamu jangan kemana mana oke." Reyvan mengecup kening Mahira lalu pergi.
"Terserah." desis Mahira.
Vanilla dan ibunya saling menatap satu sama lain, mereka memahami sesuatu.
"Mahira marah pada Reyvan?" tiba tiba ibu Reyvan bertanya.
Mahira menghela nafas. "Tidak, kami baik baik saja. Hanya saja dia memiliki bau wanita lain, aku tidak menyukainya." jawab Mahira.
Ibu Reyvan tersenyum penuh arti. "Setiap istri pasti cemburu kalau suaminya dekat dengan perempuan lain, jika Reyvan main main dengan wanita lain, usir saja dari kamar dan jangan biarkan dia masuk. Ibu melakukan hal yang sama pada ayah Reyvan."
Mahira tersenyum kaku. Ibu Reyvan sepertinya strong woman, pantas saja ayah Reyvan begitu penurut.
Sayangnya Mahira takut pada Reyvan, dia mana bisa mengusir pria itu dari kamar, dia punya seribu cara untuk kembali.
...----------------...
Reyvan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya, tubuhnya yang segar setelah mandi hanya di balut dengan handuk.
Greebbb....
Tiba tiba sepasang tangan putih memeluknya dari belakang, Reyvan mencoba melepaskan kedua tangan itu tetapi tangan itu melilitnya seperti seekor gurita.
"Karina lepaskan!"
Karina tersenyum. "Bagaimana kamu tahu ini aku?" Karina sangat bahagia.
"Karena tangan Mahira tidak besar dan sangat lembut." Jawab Reyvan tepat mengenai harga diri Karina, secara tidak langsung Reyvan menyebut tangan Karina besar dan kasar seperti seorang kuli.
__ADS_1
Karina melepaskan Reyvan dan menatap Reyvan terluka.
"Reyvan, apakah Mahira sangat penting bagimu?"
Reyvan mengerutkan keningnya. "Tentu saja, dia istriku dan aku sangat mencintainya." Jawab Reyvan jujur.
Karina aangat kesal. "Lalu, kenapa selama ini kamu masih begitu baik padaku?"
"Karena aku merasa berhutang budi karena kau telah menyelamatkan aku saat itu."
"Karena itu?" Karin tak percaya.
"umh.." Reyvan mengangguk.
Karina langsung memeluk Reyvan. "Reyvan aku masih sangat mencintaimu, berikan aku kesempatan kita mulai lagi dari awal dan aku berjanji kita akan bahagia." Karina tanpa malu malu mengungkapkan isi hatinya.
"Lepaskan!" Teriak Reyvan.
Mahira dan Vanilla yang dalam perjalanan ke kamar Reyvan kaget mendengar teriakan Reyvan dari kamarnya, mereka buru buru ke sana dan kaget melihat Karina dan Reyvan bersama sama dalam kamar.
"Kalian...." Vanilla menunjuk Karina dan Reyvan.
Mahira berdiri kaku dengan ekspresi tak terbaca, cukup lama Mahira berdiri di luar pintu dan memandangi Reyvan dan Karina seolah mereka adalah pasangan selingkuh.
"Sayang, Mahira." Reyvan ingin menghampiri Mahira terapi tiba tiba Mahira melangkah maju dan berjalan tanpa memandang Reyvan, dia melewatinya begitu saja.
Plakkkk.....
plakkk.....
Woahh.... Mahira benar benar berani, dia menampar si J**ang. Batin Vanilla bersorak.
Wajah Karina yang putih halus memiliki bekas tamparan merah tepat di pipinya, Mahira melirik Reyvan.
"Sepertinya kamu benar benar suka memamerkan tubuhmu ke setiap gadis, sekalian saja tidak usah mengenakan pakaian. Pergi ke pusat kota dan menari di sana." Ujar Mahira yang di maksudkan untuk Reyvan.
Reyvan buru buru pergi memasuki walk in closet.
Vanilla mengacungkan dua ibu jarinya memuji Mahira bahakan dia bersikap seolah Mahira seorang Dewi yang menyelamatkan dunia.
"Anda tahu bukan Noana Karina Wilson, Reyvan sudah menikah dan aku istrinya. Tapi kenapa kamu bersikap seperti wanita murahan menggoda pria beristri."
"Aku cinta pertama Reyvan, kami sudah saling kenal sejak lama. Kamu tidak berhak melarangku untuk bersamanya." Tanpa malu malu Karina menunjukan hubungan lama bersama Reyvan.
"Oh Ya..." Mahira menutup mulutnya seolah kaget.
Mahira menghampiri Reyvan yang baru saja berpakaian.
"Sayang, apa kamu masih mencintai mantan kekasihmu?" Mahira bersikap manja, mengalungkan kedua tangannya di leher Reyvan, ekspresinya juga sangat lucu, dia mengerucutkan bibirnya dengan mata genit.
"Itu di masa lalu, sekarang dan selamanya aku sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu." ucap Reyvan serius.
Mahira tersenyum lembut, dia mencium kedua pipi Reyvan. "Sayang Terima kasih sudah memperjelasnya."
Mahira melepaskan Reyvan lalu kembali menghampiri Karina.
__ADS_1
"Kamu bisa mendengarnya bukan, kamu tidak tuli. Jadi berhenti bermimpi dan jauhi suamiku."
"Kau!!!" Karina menunjuk Mahira ingin mencaci maki tetapi tidak satupun kata kata keluar dari mulutnya.
"Lihat, di sana pintu keluar Vanilla bisa mengantarmu jika kamu tidak bisa melihatnya."
Vanilla benar benar tidak bisa lagi mengatakan apa apa, dia mengagumi Mahira yang begitu kuat dan melempar musuh dalam dua tamparan.
Vanilla tersenyum. "Mari Nona Karina, aku akan mengantarmu."
"Reyvan..." Karina memanggil Reyvan, suaranya yang melankolis membuat siapapun akan iba, tetapi Reyvan bersikap acuh seolah dia tidak ada hubungannya.
...----------------...
Di lantai bawah Nenek Reyvan dan kakek Reyvan sedang berbincang bincang dengan orangtua Karina. Tiba tiba Karina datang dan langsung memeluk ibunya.
"Mom..hiks.. hiks.." Karina terisak dalam pelukan ibunya.
Nyonya Wilson kaget mendapati putrinya tiba tiba datang dan menangis di pelukannya. Vanilla mengupas permen dan melahap nya dengan satu kali lemparan, dia bersiap untuk melihat drama selanjutnya dari aktris Karina.
"Ada apa ini? Vanilla kenapa Karina menangis?" tanya Nenek.
Vanilla bergelatyut manja di lengan neneknya. "Nenek, apa yang bisa aku lakukan, seorang istri menampar nya karena Nona Karina Wilson berusaha menggoda pria beristri."
Kakek dan Nenek Reyvan mengerti apa yang terjadi tanpa Vanilla menjelaskan segalanya. Ibu Reyvan dan ibu Vanilla datang, mereka bingung melihat Karina menangis.
Ibu Vanilla berpikir Karina menangis karena putrinya yang absurd itu.
"Sutt... Kemari." Ibu Vanilla memelototi putrinya menyuruhnya untuk datang padanya.
"Mom..." Vanilla kesal.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya ibu Vanilla berbisik.
Vanilla kaget, dia berakting sedih menatap ibunya. "Mom, apa di matamu aku seorang pembuli. Aku tidak bersalah, dia di tampar kakak ipar Mahira karena Karina berani datang ke kamar kak Reyvan saat Kak Reyvan sedang mandi, bahkan Karina juga memaksakan diri pada kak Reyvan saat kak Reyvan tidak berpakaian. Coba Mom pikirkan, Mahira pantas menampar nya, bahkan tamparan dua kali belum cukup. Seharusnya Mahira melemparnya dari lantai dua."
Ibu Reyvan dan ibu Vanilla kaget, mereka hampir bersamaan menatap Karina yang menangis dalam pelukan ibunya.
"Itu keterlaluan, seharusnya Mahira gadis miskin itu tidak melakukannya!" Nenek berdiri dan ingin mendatangi Mahira, tetapi Mahira datang sambil menggandeng mesra tangan Reyvan.
"Lalu menurut nenek aku harus bersikap seperti apa menghadapi seorang pelakor yang terang terangan menggoda suamiku. Tolong ajari aku nenek,." Mahira tersenyum lembut tetapi tatapannya tidak menunjukan kelembutan sama sekali.
"Kamu terlalu berlebihan. Karina adalah tamu di rumah ini." ujar Nenek.
"Ouhh.. tamu, kalau begitu dia harus belajar bagaimana cara bertamu di rumah orang lain." balas Mahira.
Tuan dan Nyonya Wilson menghela nafas, mereka berdiri dan membungkuk. "Kami selaku orangtua Karina memohon maaf atas kelakuan putri kami yang tidak bermoral, Karina dulu adalah kekasih Reyvan mungkin dia merasa Reyvan masih lajang makanya dia melakukannya. Maafkan kecerobohan yang di lakukan nya Nyonya muda Daguezze."
Mahira dan Reyvan saling menatap. "Bagaimana menurutmu sayang?" Mahira bertanya.
"Apapun keputusanmu sayangku." Reyvan mengusap kepala Mahira dengan lembut.
"Oke, tidak ada yang kedua ketiga dan seterusnya. Jika Nona Wilson melakukan hal yang tidak bermoral lagi pada suamiku, makan dua tamparan tidak cukup untuk menghukumnya."
Nenek Reyvan tidak bisa berbuat apa apa, dia hanya bisa menahan amarah dalam hatinya dan mengutuk Mahira.
__ADS_1
"Oke, lupakan apa yang telah terjadi, lebih baik kita lanjutkan perbincangan kita." ujar kakek mencoba mendorong masalah ke belakang.