Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Daren tidak baik baik saja.


__ADS_3

Mahira sudah bersiap ingin ikut bersama keluarga Daguezze mengantarkan nenek ke rumah sakit, tetapi ponselnya berdering karena panggilaan Masuk dari Lean yang menahanya.


"Hallo Lean."


(Nona Mahira, ada keadaan darurat tiba tiba saja Boss pingsan dan hidungnya mengeluarkan banyak darah)


"Apa!"


(Nona, sepertinya kita harus segera berangkat ke Singapore.)


"Oke, aku akan ke sana sekarang."


Mahira menutup panggilannya dan berbalik untuk mengambil barang barang pentingnya yang tertinggal di kamar.


" Mahira." Reyvan mencekal pergelangan Mahira menghentikan langkahnya.


Reyvan jelas mendengarnya tetapi dia tidak suka Mahira pergi menemui Daren.


"Reyvan, aku dan Kak Daren harus pergi ke Singapore sekarang juga. Kak Daren pingsan."


Melihat bagaimana Mahira begitu peduli dengan Daren, rasa cemburu mulai menguasi Reyvan. "Kau tidak boleh pergi." ucap Reyvan.


"Nenek juga sakit, bisakah kamu bersamaku?" lanjutnya.


Mahira mengerutkan keningnya. "Reyvan Daren membutuhkanku aku harus pergi."


"Daren, ha...biarkan Dokter yang mengurusnya, aku akan memanggil Dokter terbaik untuk menyembuhkannya, tetapi kamu harus tetap di sampingku." Reyvan begitu posesif dan tetap tidak ingin membiarkan Mahira pergi.


"Reyvan, kita sudah membicarakan ini. Aku akan tetap pergi ikut bersama Kak Daren." ujar Mahira meyakinkan Reyvan.


Reyvan semakin kesal melihat betapa kekeuhnya Mahira ingin ikut Daren, fikiran rasionalnya entah menghilang kemana dan kemarahan menguasainya.


"Apa kamu menyukai Daren dan ingin kembali bersamanya, mengingat sekarang dia sudah menjadi orang kaya." tuduh Reyvan.


Mahira tidak mengerti mengapa Reyvan menjadi seperti ini., dia menatap pria itu dan berbisik. "Jika aku bilang aku menyukainya, apa kamu akan membiarkan aku pergi?"


Reyvan diam untuk beberapa saat mencerna setiap kata yang di ucapkan Mahira.


"Oke." ucap Reyvan pelan, dia melepaskan tangan Mahira.


"Pergi ikuti kemanapun Daren pergi, aku tidak akan lagi melarangmu sekarang."


"Baik, terimakasih." jawab Mahira.


Reyvan merasa hatinya sangat hancur, Mahira benar benar memilih Daren daripada bersamanya.


(Flashback)


Reyvan menyeret Karina keluar dari Mansion Daguezze, tidak sedikit pun merasa kasihan dengan teriakan dan permohonan pilu Karina.


"Reyvan hiks..hiks..hiks.. Aku sangat mencintaimu, aku melakukan ini agar kau bisa bersamaku."


"Tutup mulutmu yang busuk itu Karina, menurutmu kata cinta pantas di ucapkan olehmu. Bagiku cinta yang keluar dari mulutmu adalah racun." Reyvan mendorong Karina.


"Reyvan..." Karina memeluk kaki Reyvan seperti koala sembari menangis.


Reyvan yang merasa sangat jijik dengan Karina berusaha melepaskan Karina di kakinya.


"Sebaiknya kau sadar Karina, aku sudah menikah dan tidak mungkin menjadi milikmu, sampai mati pun aku tidak akan menjadi milikmu."


Karina menatap mata Reyvan, dia tidak peduli lagi dengan citranya, Karina hanya ingin meyakinkan Reyvan dengan cara apapun.

__ADS_1


"Reyvan apa kau pikir Mahira mencintaimu?" tiba tiba suara Karina berubah sombong.


"Bukan urusanmu. "


"Hahahaha...." Karina tertawa.


"Reyvan, pria yang Mahira cintai adalah Daren. Mahira sebentar lagi akan meninggalkanmu dan memilih Daren, lihat saja nanti. Jika waktunya tiba Mahira meninggalkan mu, Aku. Karina akan selalu menerimamu."


"Keluar!!!!!"


Brakkk......


"Reyvan!!!!!!"


(Flashback end)


"Mahira, Aku akan mengurus perceraian kita." Tiba Tiba Reyvan mengatakan hal yang tidak ingin Mahira dengar.


Mahira menghentikan langkahnya, dia menoleh dan menatap Reyvan kecewa. "Oke."


Tanpa berfikir panjang lagi Mahira mempercepat langkahnya dan segera mengemasi barang yang menurutnya penting.


Sekuat hati Mahira menahan diri agar tidak menangis, tetapi pada akhirnya airmatanya jatuh saat barang terakhir dia masukan ke dalam tas.


"Pria jahat, Aku membencimu."


Meskipun air mata terus membasahi pipinya, Mahira tetap berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.


Di sisi lain. Reyvan berdiri mematung tanpa ada niat bergerak sedikitpun, matanya terus menatap ke arah yang sama dimana Mahira pergi. Reyvan kira Mahira akan mengurungkan niatnya untuk mengikuti Daren jika dirinya mengeluarkan kata perceraian, tetapi wanita itu tetap pergi dan membuat Reyvan semakin berfikir yang di katakan Karina itu benar.


Mahira mencintai Daren, baik Mahira asli atau palsu mereka sama sama menyukai pria yang sama.


Reyvan menghela nafas, keyakinan terakhirnya menjadi hangus karena Mahira tetap pergi.


...****************...


(Singapore Hospital)


Daren sudah membuka matanya setelah lebih dari dua belas jam tak sadarkan diri, Nyonya Nera terlihat lebih tua dari pada usianya saat ini, matanya sembab dan hidungnya merah wajahnya juga telihat pucat tak bersemangat.


mendengar pergerakan dari tempat tidur pasien, nyonya Nera segera bangun menghampiri Daren.


"Daren, apa kamu sudah bangun?" suara nyonya Nera terdengar sangau dan pelan.


"Bu, Mahira..." Orang pertama yang Daren ingat adalah gadis itu.


Nyonya Nera menangis. "Dia sedang berbicara dengan dokter, hikss...hikss.. ibu tidak tahu gadis kecil itu begitu pintar dan ahli dalam bidang kedokteran, selama ini dia tidak pernah mengatakan apapun."


Daren menatap ibunya yang sepertinya sangat menyesali sesuatu.


"Bu, ini pertama kalinya Mahira akan terjun langsung untuk operasi besar, Jika aku tidak selamat, jangan membenci Mahira dia sangat ahli hanya saja tidak memiliki lisensi, dia jenius, dan aku ingin dia mengoperasiku. Jangan salahkan dia jika aku tidak selamat, semua sudah takdir."


Nyonya Nera menangis semakin sedih.


"Aku ingin orang orang mengakuinya, aku tidak ingin orang orang memandangnya sebelah mata, aku ingin Mahira sejajar dengan keluarga Daguezze, aku siap menjadi kelinci percobaannya untuk mendorongnya ke tempat yang lebih terang."


"Nak," Nyonya Nera menatap Daren.


"Ini bentuk cintaku padanya, hadiah terakhirku untuknya, setelah itu aku akan menganggapnya sebagai adikku dan benar benar adikku."


Daren dan Nyonya Nera tidak tahu Mahira berdiri kaku di depan pintu menguping pembicaraan keduanya.

__ADS_1


"Kamu benar benar beruntung Mahira. Di cintai begitu besarnya oleh pria sehebat Daren." ucap Mahira.


Tiba tiba Jantung Mahira berdegup kencang dan hatinya terasa sakit, Mahira memegang dadanya hingga membuat kakinya lemas dan dia duduk di lantai yang dingin.


"Nona, apa kau baik baik saja?" Lean membantu Mahira.


"Dadaku hanya sedikit sakit, mungkin aku kelelahan." Jawab Mahira asal.


"Aku akan memanggil Dokter--"


"Tidak perlu, aku hanya perlu duduk dan sedikit tenang." Jawab Mahira.


Lean sejujurny tidak percaya dengan jawaban Mahira, tetapi untuk menghormatinya, dia hanya mengangguk saja.


"Aku sepertinya butuh udara segar. Jika Kak Daren dan Mama bertanya tentang aku, aku berada di taman."


"Baik Nona."


Mahira pelan pelan berdiri dan meninggalkan lorong rumah sakit.


Malam ini bintang berkela kelip menghiasi langit Singapore, Mahira terus mendongak menatap ke tas, baginya dengan menatap ke atas langit yang penuh bintang setidaknya meringankan rasa rindunya pada dunia aslinya.


Mahira Menyenandungkan lagu yang ia sukai, suaranya halus dan enak di dengar, para suster yang lewat sesekali melirik ke arah Mahira dan memuji gadis cantik yang menatap langit. Tak sedikit orang yang mengira Mahira adalah selebriti yang sedang di rawat di rumah sakit, tetapi ingatan mereka tak satupun yang menunjukan selebriti mana yang sama visualnya dengan Mahira.


"Eh bukankah itu Dokter baru yang di rahasiakan, aku dengar dia akan ikut melakukan operasi seorang pengusaha muda yang kaya yang terkenal misterius." Ujar salah satu suster yang baru saja keluar dari ruang salah satu pasien.


"Aku mendengarnya, sebenarnya ketua rumah sakit tidak ingin Dokter muda ini ikut serta, karena takut operasinya gagal dan menghancurkan nama baik rumah sakit, tetapi pasien nya meminta langsung dan tidak ingin di operasi jiga gadis muda itu tidak ikut." jawab Suster kedua.


Suster pertama berdecak kagum. "Aku yakin gadis itu begitu di cintai pria itu sehingga mati saja ingin berada di tangan gadisnya. Uhhh.... Sungguh romantis."


Perlahan obrolan keduanya menghilang seiring langkah mereka yang menjauh dari Mahira.


Bibir Mahira menyungging, melukiskan sebuah senyuman yang cantik apalagi wajahnya di terpa langsung cahaya rembulan.


"Kamu sangat beruntung di cintai pria seperti Daren." gumam Mahira.


Dari lantai dua Daren di bantu Lean dan Nyonya Nera berdiri di depan jendela menatap Mahira yang sedang menikmati langit berbintang. Dia berpuas puas hati menatap wajah Mahira yang mungkin dia tidak akan melihatnya lagi.


Daren selamat atau tidak hasilnya akan tetap sama.


Jika dirinya tidak selamat, maka dia tidak akan lagi bisa melihat wajah Mahira, dan sebaliknya jika operasi ini berhasil dan selamat, Daren pun tidak akan bisa melihat Mahira dengan cara yang sama.


Mahira akan menjadi adik seutuhnya baginya.


Daren melirik Lean.


"Apa Reyvan dan Mahira bertengkar?" tiba tiba Daren bertanya.


Lean sedikit bingung harus bercerita atau tidak, tetapi melihat dari tatapan Daren, Lean yakin pasti dia ingin tahu cerita aslinya.


"Katakan." Ujar Daren tegas.


"Tuan Reyvan ingin menceraikan Nona."


"Apa!" Nyonya Nera kaget mendengarnya.


Daren yang sudah menduka akan hal seperti ini hanya diam dan menunggu Lean selesai bercerita.


"Karina sepertinya mempengaruhi pikiran Reyvan dan menanam benih kecemburuan, hingga Reyvan benar benar mengira Nona memiliki perasaan juga untuk anda."


Daren tidak tahu harus tertawa atau menangis, dulu dia mengira Reyvan adalah pria yang cerdas, namun nyatanya dia sama bodohnya seperti pria lainnya.

__ADS_1


__ADS_2