Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
demam.


__ADS_3

"Kak Nela,"


Nela kaget, dia buru buru menjauhkan gelas kopi dari bibirnya dan menyimpannya di tempat cuci, Nela berbalik dan melihat Rena yang sedang berdiri di ambang pintu dengan bahan masakan.


"Darimana itu?" Nela bertanya.


Rena membawa tas bahan lalu menaruhnya di atas pantry.


"Huhh~ Beratnya..." keluh Rena.


"Kamu dapat darimana?" Sekali lagi Nela bertanya.


"Tunggu kak, biarkan aku bernafas sejenak lalu aku akan menjawabnya,"


Rena akhirnya bernafas lega.


"Ini Nyonya muda yang belanja," jawab Rena.


Nela terdiam, fikiran nya berkelana memikirkan Reyvan, kesempatan nya untuk mendekati pria itu hari ini hilang setelah kabar Mahira dan Nyonya besar kembali.


"Kak Nel. Kenapa melamun?"


Nela mengerjap, bibirnya tersenyum kaku.


"Aku baik baik saja," Jawab nya.


Rena tidak mengambil pusing sikap Nela yang aneh, dia kembali pada pekerjaannya memasukan sayur, daging, dan ikan ke dalam kulkas.


"Ren. Kepalaku agak pusing, aku ingin istirahat sebentar di kamarku."


Rena mengangguk sambil merapikan sayuran tanpa menoleh pada Nela.


Nela pergi setelah mendapat persetujuan dari Rena.


Dalam perjalanan nya menuju kamarnya, Nela bertemu Mahira.


"Hei Tunggu." Ujar Mahira menghentikan langkah Nela.


"Ya nyonya,"


"Maaf tolong buatkan tiga jus jambu,"


Kedua tangan Nela terkepal erat saat printah Mahira di ucapkan, keengganan dan penolakan jelas terlihat dari tatapan gadis itu.


Dengan Segera Nela menarik nafasnya. "Baik Nyonya. Mohon di tunggu..."


Mahira mengangguk, dia pergi meninggalkan Nela yang masih terpaku, Nela menatap punggung Mahira tajam seolah ada api yang melesat siap membakar Mahira.


Dari jarak yang cukup jauh Mahira dapat melihat ibunya dan ibu mertuanya akur, hal yang jarang terlihat dari setiap besan, biasanya besan akan lebih menjaga jarak satu sama lain dan terlihat acuh.


"Mom, Mama. Aku ke atas dulu, aku ingin melihat Reyvan, sepertinya dia kembali lebih awal." Mahira meminta ijin.


"Pergilah," ucap Ibu Reyvan.


...----------------...


Begitu Mahira masuk kamar, pria itu Reyvan sedang berbaring sambil memijat pelipis nya.


"Kamu sakit?" Mahira menempelkan punggung tangannya di kening Reyvan.


"Ya Tuhan. Kenapa begitu panas, kamu benar benar demam."


Reyvan memegang tangan Mahira lalu menarik gadis itu hingga jatuh di atas tubuhnya. Mahira kaget, dia ingin bergerak dari atas tubuh Reyvan karena merasa tubuhnya kotor akibat berada di luar rumah, Mahira merasa keringat dan debu bersatu menjadi bakteri jahat di tubuhnya..


"Reyvan lepaskan tubuhku bau, aku belum mandi." ucap Mahira tidak nyaman.

__ADS_1


Reyvan mencium bau tubuh Mahira sebanyak mungkin.


"Aku menyukainya."


Mahira tersipu, dia mencubit pelan lengan reyvan yang berotot.


"Lepaskan. Aku akan membuat sup untukmu," Ucap Mahira masih berusaha melepaskan diri.


"Aku tidak ingin sup. Aku ingin memakanmu,"


Reyvan tiba tiba mencium leher Mahira hingga meninggalkan bekas yang mencolok. Mahira melotot.


"Nakal.."


Reyvan tertawa lalu dengan enggan dia melepaskan Mahira.


"Tunggu aku kembali dengan sup dan obat." ucap Mahira sambil menggosok lehernya.


"Dengan senang hati sayangku." Reyvan mengirim ciuman terbang pada Mahira.


Meskipun pria itu sedang sakit, dia masih semangat merayu Mahira setiap saat.


Reyvan masih tersenyum meskipun Mahira telah lama pergi.


Nela yang diam diam mengintip kemesraan Reyvan dan Mahira terbakar karena cemburu, dia meremas lap di tangannya seperti lap itu sesuatu yang menjijikan yang perlu di singkirkan.


Nela membenci Mahira dan ingin melenyapkan nya segera mungkin, kesabarannya habis dan obsesi delusi Nela sudah merambat menutupi kewarasannya.


"Sayangku. Kita akan segera bersama, tunggu oke." Nela mengusap udara seolah dia menyentuh wajah Reyvan.


...----------------...


"Nyonya. Apa yang anda lakukan, biarkan saya yang melakukannya." Kepala koki ingin merebut sayuran dari tangan Mahira, tetapi dengan cepat Mahira menghindar.


"Tidak apa apa. Aku ingin membuat sup untuk suamiku," ucap Mahira lembut.


Mahira mengerutkan keningnya saat melihat jambu merah utuh masih di atas pantry.


Bukankah aku menyuruh pelayan itu membuat jus. Batin Mahira.


"Oh... Apa ini jambu sisa?"


Kepala pelayanan melihat jambu yang di maksud Mahira.


"Tidak Nyonya. Nela tadi sepertinya ingin membuat jus, namun gadis itu malah pergi begitu saja."


Mahira melihat jam di tangannya.


Aku tadi menyuruh pelayan itu membuat jus, dan dia tidak melakukannya. Batin Mahira.


"Apa nyonya ingin sesuatu?" kepala koki bertanya saat melihat ekspresi bingung Mahira.


"Tolong, bisakah buatkan tiga gelas jus jambu?"


Kepala koki tersenyum. "Dengan senang hati nyonya."


Mahira memotong motong sayuran sambil memikirkan pelayan muda yang di perintahkannya tadi, tingkah anehnya membuat Mahira sedikit curiga.


"Sshh...akhhh..."


Tanpa sengaja jari Mahira terluka, darah keluar cukup banyak karena pisau tajam itu menembus jarinya cukup dalam.


"Nyonya anda terluka,"


"Tidak apa apa, ini hanya luka kecil." ucap Mahira.

__ADS_1


Kepala koki itu tetap khawatir dia memanggil Rena pelayan berwajah bulat untuk membantu Mahira mensterilkan lukanya lalu mengobatinya.


"Nyonya biarkan saya yang membuat sup dengan resep anda." ujar kepala koki.


Mahira berpikir sejenak dan akhirnya setuju.


...----------------...


"Ya Tuhan Nak, kenapa jarimu terluka?" Ibu Daguezze khawatir.


ibu Nera juga sama.


"Nak, biar ibu obati." Ibu Nera segera mengambil alih kotak p3k yang di bawa Rena.


"Kamu bisa kembali membatu kepala koki." ucap Ibu Reyvan.


Rena mengangguk lalu pergi setelah membungkuk.


Ibu Nera perlahan membersihkan darah yang tak berhenti, dengan penuh kasih sayang dia membalut lukanya.


"Kenapa kamu tidak berhati hati? Lihat, jarimu terluka." Ibu Nera memarahi.


"Benar, kenapa tidak menyuruh kepala koki?" Timpal ibu Reyvan.


Mahira meringis mendapatkan cecaran dari dua ibu.


"Maaf, Mom, Mama. Reyvan demam, aku ingin membuat sup tapi malah melukai jariku."


Ibu Nera menoyor kening Mahira. "Ya, karena kamu ceroboh."


"Benar." timpal Ibu Reyvan.


Mahira tiba tiba sakit kepala menjadi sasaran empuk ibu dan ibu mertuanya.


...----------------...


Reyvan sangat lelah hingga dia menutup matanya tapi tidak tidur. Tiba tiba ketukan di pintu mengganggunya.


Tokk...tokk...tokkk...


Reyvan membuka matanya.


"Siapa?"


(Clekk.... )


pintu di buka, sosok Nela berdiri di depannya dengan senyum merekah yang manis.


"Ada apa?"


Nela tersenyum. "Tuan, saya ingin membersihkan kamar ini."


Reyvan melihat sekeliling.


"Tidak perlu melakukannya, di sini bersih." Tolak Reyvan.


Nela diam sejenak. "Tapi Tuan, kamar ini tidak pernah di bersihkan." Nela tidak menyerah.


"Istriku Mahira sering melakukannya, dia tidak suka orang asing memasuki kamar pribadi kami, jadi tidak perlu memikirkan kamar ini."


Mahira Mahira Mahira... Semuanya Mahira, sial!. Batin Nela.


Reyvan kesal Karena Nela masih berdiri menghalangi pintu.


"Tutup pintu dari luar." ucap Reyvan dingin.

__ADS_1


Nela mengerjap. "Maaf Tuan,"


Nela buru buru menutup pintu dan pergi dengan perasaan dongkol.


__ADS_2