Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Kopi.


__ADS_3

Mall yang menjadi tujuan Mahira dan Ibu Daguezee adalah salah satu mall yang berada di bawah nama Daguezee Group. Ibu Daguezee sengaja membawa Mahira ke sini agar gadis itu tahu suaminya memiliki Otoritas tertinggi di mall ini dan apabila suatu saat nanti seseorang menggertaknya saat di mall, Mahira bisa membalas tanpa rasa takut.


"Selamat datang Nyonya Daguezee." Seorang penjaga menyambut.


Ibu Daguezee mengangguk.


"Jangan lupa gadis di sampingku adalah menantuku, dan di sebelahnya adalah besanku. Jangan sampai mereka mendapat perlakuan buruk di tempat ini." Pringat ibu Daguezee.


"Baik."


Mahira dan Nyonya Nera mengikuti ibu Daguezee sambil melihat lihat apakah ada sesuatu yang menarik untuk mereka.


Nyonya Nera tidak pernah datang ke tempat mewah seperti yang di lakukan Ibu Daguezee, dia sedikit gugup takut orang orang mengejek Ibu Daguezee dan Mahira karena penampilannya yang terbilang biasa saja.


"Mahira, Mama benar benar gugup." bisik nyonya Nera.


Mahira tersenyum.


"Tidak apa apa Ma, aku bersama mama, beli apapun yang mama inginkan, aku akan membayarnya."


Bukan itu yang di inginkan Nyonya Nera, dia hanya ingin melihat Mahira, tapi sekarang Mahira ingin membelikan apapun yang di inginkannya.


"Ma," Mahira memegang tangan nyonya Nera.


"Nak, Mama takut mereka akan berfikir mama memanfaatkan Mahira untuk menikah dengan orang kaya."


Mahira tidak suka ibunya berfikir seperti itu.


"Ma, tanpa aku menikah dengan keluarga Daguezze, kak Daren juga orang mampu."


Nyonya Nera kaget Mahira menyebut nama Daren.


"Apa kamu sudah memafkan Daren?"


Mahira mengangguk dengan senyum tipis.


Rasa syukur di rasakan Nyonya Nera, beban di hatinya sedikit berkurang. "Terimakasih sayang." ucapnya.


Sejujurnya Mahira tidak berhak memaafkan atau menerima permintaan maaf dari Daren, karena dia bukan Mahira yang sama yang mengalami kejadian memalukan pada saat itu.


Tapi Mahira juga tahu, Mahira asli sudah memaafkan Daren karena mereka saling mencintai.


Saat ini Mahira hanya perlu fokus membahagiakan Reyvan memberinya cinta sebanyak mungkin dan membuat keluarga Daguezze menerima Mahira sebagai menantu mereka, setelah itu Mahira bisa kembali ke dunia asalnya.


"Mahira."


Dunia seakan menjadi sekecil daun kelor, orang yang tidak ingin Mahira temui, takdir dengan sengaja mempertemukan mereka.


Vanilla begitu gembira tanpa sengaja bertemu Mahira yang sedang berbelanja bersama dengan ibu mertuanya.


"Akhirnya aku bisa bernafas dengan benar." Bisik Vanilla.


Ekspresi Mahira cukup datar saat melihat Karina yang begitu perhatian memeluk lengan Nenek Daguezze.


"Hai Mahira," Karina tersenyum menyapanya.

__ADS_1


"Hai juga Karina," Balas Mahira.


Keduanya tersenyum ramah namun di balik senyum itu ada permusuhan yang luar biasa.


"Kami sedang jalan jalan bersama nenek, katanya nenek bosan." suara Karina sangat lembut saat menyebut kata nenek, terdengar sangat intim.


Mahira tersenyum dia dengan lembut memeluk lengan Ibu Daguezze. "Mom ingin membeli sesuatu, aku tentu menemaninya karena sebagai anak perempuan aku harus menemani ibunya."


Nenek Daguezze menatap Mahira jijik. "Dia ibu mertuamu, bukan ibumu." nenek mendengus.


Mahira tidak marah dengan ucapan sinis nenek Daguezze, dia dengan bangga merangkul kedua ibunya.


"Mama bilang ibu mertua adalah ibu kita juga, sebagai seorang yang sudah menikah kita juga harus menyayangi orangtua dari pasangan kita karena itu adalah kunci keharmonisan antara keluarga."


Nenek Reyvan merasa kalah debat dengan Mahira, bibirnya buka tutup seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada yng keluar.


"Bu, aku akan tinggal di rumah Reyvan sedikit lebih lama." Ujar ibu Daguezze.


"Terserah kau saja. Aku tidak peduli. Ayo Karina, Vanilla." Nenek Daguezze pergi bersama Karina, sedangkan Vanilla sangat enggan ikut kedua nya dan ingin tetap bersama Mahira.


Mahira melambaikan tangannya menyuruh Vanilla pergi kembali pada tugasnya menjadi mata mata.


Vanilla memasang wajah memelas ingin ikut Mahira dan tantenya. Mahira mengepalkan kedua tangannya menyemangati.


"Semangat..." bisiknya sambil tersenyum.


Vanilla berbalik pergi meninggalkan tiga orang yang masih berdiri di tempat yang sama.


"Kenapa Vanilla ikut bersama nenek?" Ibu Daguezze kebingungan karena Vanilla adalah sahabat baik Mahira seharusnya Vanilla ikut bersama mereka buka.


Mahira tersenyum mencondongkan tibuhnya lebih dekat dengan ibu mertuanya.


Ibu mertua beserta ibu tiri mahira tertawa setelah mendengar Vanilla menjadi mata mata. Setelah itu mereka kembali bersenang senang mengunjungi semua toko.


...----------------...


Rumah Reyvan Mahira.


"Tuan muda. Anda kembali lebih cepat," Pelayang menyambut.


Mata Reyvan berkeliaran mencari sosok Mahira yang kemungkinan sedang bersama ibunya tetapi tidak ada sedikit pun bayangan salah satu dari mereka.


"Kemanya Nyonya dan ibuku?"


Pelayan menunduk sambil menjawab. "Tuan, Nyonya muda dan Nyonya Daguezee sedang pergi ke mall."


"Mall." ulang Reyvan.


"Benar Tuan,"


Reyvan duduk di sofa. "Jam berapa mereka pergi?"


"Sekitar jam setengah sepuluh."


Reyvan mengangguk paham, dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman.

__ADS_1


"Buatkan kopi." Seru Reyvan.


Pelayan yang mendapatkan perintah segera pergi ke dapur dan membuatnya, dia tidak ingin melambatkan sedikitpun gerakannya, karena takut Tuan Reyvan akan marah.


"Tuan pulang lebih awal?" Tanya Rena pelayan berwajah bulat dan agak gemuk.


"Iya, sepertinya Tuan sakit, wajahnya pucat."


"Kak Nela apa sebaiknya kita menelpon Nyonya muda Tuan Muda kembali lebih awal."


Nela yang sedang mengaduk kopi menatap rekannya. "Tidak perlu. Sepertinya Nyonya dan Nyonya besar akan kembali sebentar lagi."


Rena mengangguk anggukan kepalanya mengerti.


"Kembali bekerja, jika Tuan Muda tahu kamu bermalas malasan dia akan memecatmu." Ujar Nela sambil menaruh kopi di atas nampan.


"Baik Kak Nela."


Nela segera pergi ke ruang tamu dan menyimpan kopi di meja.


Reyvan yang sedang memejamkan matanya sedikit membuka matanya. "pelayan yang mengurus bunga bunga Nyonya apa sudah di dapatkan?" Tanya Reyvan


Rena menggeleng. "Belum Tuan."


Reyvan mengubah posisi duduk nya lalu mengambil kopi yang baru di sajikan itu, mencium aroma nya, meniupnya lalu mencicipi nya.


sruuuuppp.....


"Kopi buatanmu selalu enak. Apa rahasianya?"


Nela tersipu mendengar pujian Tuan Reyvan, sebenarnya kopi itu kopi racikan yang di buat olehnya sendiri, karena dia suka minum kopi dia bosan dengan rasa clasik yang di buat oleh pabrik, jadi dia meracik nya sendiri hingga menemukan resep kopi ini.


"Jika boleh. Aku ingin membeli hak paten kopi ini agar hanya aku saja yang bisa menikmatinya." Ujar Reyvan mengungkapkan tawaran yang menggiurkan.


Sayangnya Nela tidak berniat memberi tahu Reyvan resep kopinya.


"Maaf Tuan Muda, saya tidak bisa menjual resep ini, namun selama saya bekerja di sini, dengan senang hati saya akan membuatkannya untuk anda."


Reyvan agak kecewa, dia kembali menyesap kopinya.


"Kalau begitu bekerja untukku dan buatkan aku kopi pagi dan malam saat aku lembur kerja di ruang kerjaku,"


Nela tersenyum tipis. "Baik Tuan."


Reyvan memijat pelipisnya yang semakin berdenyut sakit, dia melihat jam sebentar lalu berdiri.


"Tuan apa kepala anda sakit? Jika ya, biarkan saya memijat. Saya dulu bekerja di panti pijat dan sedikit mempelajari titik titik tertentu." Nela mengajukan diri berniat membantu Reyvan.


"Tidak perlu, ini tugas istriku." Reyvan segera pergi setelah menolak tawaran Nela.


Nela yang di tinggalkan sendirian hanya bisa menatap punggung Reyvan yang perlahan menjauh..


Nela mengambil gelas bekas Reyvan dan melihat ada sedikit yang tersisa, bibir Nela tersenyumtersenyum, matanya menunjukan kebahagiaan, dia buru buru ke dapur dan mengangkat gelas kopi dengan hati hati. Nela memperlakukan gelas itu seperti sebuah harta karun.


Nela melihat cetakan bibir di ujung gelas, dia mengangkat gelas dan menempelkan cetakan bibir Reyvan di bibirnya. Nela membayangkan Reyvan lah yang mencium bibirnya.

__ADS_1


Delusi nya sangat parah, Nela membayangkan Reyvan sedang menciumnya sedalam mungkin.


"Kak Nela."


__ADS_2