
Setelah sup dengan resep miliknya selesai di buat, Mahira membawanya ke kamar.
Reyvan membuka matanya saat mendengar pintu di buka.
Reyvan mengubah posisi berbaring menjadi duduk bersandar di headboard, dia menatap Mahira.
"Sup nya sudah siap."
Reyvan tersenyum, dia menunggu istrinya yang cantik untuk menyuapi.
Mahira duduk di samping Reyvan dan mengaduk sup yang mengepul.
"Baunya harum." puji Reyvan.
Mahira tersenyum, dia mengambil satu sendok sup dan meniupnya sebentar.
"Aaa..."
dengan sekali hap, sup di sendok telah berpindah tempat ke mulut Reyvan.
"Istriku sangat pandai memasak." Reyvan mengangkat tangan Mahira dan ingin menciumnya, tetapi tatapannya jatuh pada luka di jari Mahira yang telah di balut.
Mahira segera mengambil kembali tangannya, dia sembunyikan di belakang punggungnya.
Reyvan mengerutkan keningnya tak suka.
"Mahira. Perlihatkan tanganmu biar aku melihatnya,".
" I-ini...hanya luka kecil, aku baik baik saja." Mahira tetap menolak memperlihatkannya pada Reyvan
"Satu... dua...ti-"
Mahira menyodorkan tangannya. "ini,"
Reyvan menarik tangan Mahira dengan lembut, melihat dari balutannya lukanya tidak terlalu serius, tetapi tetap saja hatinya sakit untuk itu.
Reyvan menciumnya. "Jangan memasak lagi, biarkan koki yang melakukannya."
Mahira merasakan kehangatan di hatinya mengalir menyelimuti setiap sudut di dalam, dia tersenyum lalu mengangguk setuju. Reyvan puas dengan kepatuhan istrinya.
"Ayo suapi aku lagi." Pinta Reyvan dengan suara manja.
Mahira mengangguk, dia menyuapi Reyvan dan sesekali mengusap ujung bibirnya. Reyvan tidak pemilih soal makanan, dia akan memakan apapun yang di berikan istrinya.
Setelah menghabiskan sup nya, Mahira memberi Reyvan obat lalu menyuruh pria itu istirahat.
"Sayang, temani aku tidur." Ucap Reyvan.
Mahira mengangguk. "Tapi aku harus menyimpan mangkuk bekas setelah itu aku akan kembali." Jawab Mahira.
"Umh..."
Mahira keluar dari kamar dan menyimpan mangkuk bekas di tempat cuci.
Mahira pergi ke ruang keluarga dan melihat kedua ibunya sedang menonton acara bakat menyanyi di televisi, kehangatan keluarga membuat Mahira bahagia, dia menutup pintu ruang keluarga dan kembali ke kamar Reyvan menemani pria itu istirahat.
...----------------...
Markas Black Dark.
"Lean ambilkan dokumen penting di laci nomor lima." Daren memerintah tanpa mengangkat kepalanya, dia begitu sibuk membaca.
Lean tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan apa yang di inginkan pria itu, dia dengan lembut menaruh dokumen yang di maksud di atas meja.
Daren baru mengangkat kepalanya setelah Lean berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Apa Trach sudah menemukan keberadaan ibuku?"
Lean mengangguk. "Trach mengatakan nyonya pergi ke rumah nona Mahira,"
Daren mengangguk, dia tidak lagi mengatakan apapun.
"Boss, aku kembali bekerja."
"Umhhh... "
Lean meninggalkan Daren, suasana kembali sepi dan hanya suara kertas yang di balik balik. Tidak lama setelah Lean pergi, Daren menutup dokumen, dia mendongak sambil memejamkan matanya.
Seketika wajah Mahira terbayang dalam benaknya, Daren merasa ada banyak perbedaan dari Mahira yang dulu dan yang sekarang, tetapi kecurigaan itu di patahnya dengan hasil tes DNA yang di lakukannya diam diam.
Daren membuka matanya dan mencari sesuatu di laci meja kerjanya, Daren akhirnya menemukan jepit rambut yang di buatnya untuk Mahira. Saat itu ada beberapa helai rambut Mahira yang tertinggal, Daren melakukan tes DNA dan hasilnya cocok dengan ayah Mahira, di sana menyebutkan mereka adalah ayah dan anak.
Tapi mengapa perasaannya selalu mengatakan dia bukan Mahira nya.
"Arrggggghhh...." Daren mengusap wajahnya kasar karena frustrasi.
...----------------...
Di Mansion Daguezze Vanilla terkulai lemas di sofa, dia sudah muak dengan sandiwara pura pura akur dengan Karina wanita ular berbisa itu, melihat wajahnya saja Vanilla sudah ingin mencakar cakar membabi buta.
Pelayan mengantar jus jeruk dingin untuk Mahira dan Karina, satu poci teh untuk nenek Reyvan.
"Tuan besar sudah kembali atau belum?" Nenek bertanya.
"Belum Nyonya," Ucap kepala pelayan sopan.
Nenek menjadi kesal dan terus menyerukan ketidakpuasan kepada setiap anggota keluarga yang meninggalkan rumah.
"Vanilla, untuk malam ini kamu menginap di rumah ini."
"Ukhukkk...ukhukkk...." Vanilla hampir memuntahkan jus jeruk di mulutnya.
Dia sudah muak melihat wajah Karina dan kepura-puraan nya, tapi dia harus terjebak lagi dan lagi.
"Nenek. Kakek pasti akan pulang," Ujar Vanilla sebagai penghiburan.
Nenek Reyvan mendengus. "Kakekmu tidak akan kembali, dia pasti berada di vila lain."
Vanilla tentu saja mengetahui betul sifat kakeknya yang tidak suka dengan kekacauan, apalagi neneknya sering sekali membuat keributan di setiap waktunya.
"Mungkin kakek ingin tenang." Komentar Vanilla.
Nenek Reyvan naik pitam. "Ingin tenang dari apa, selama ini aku selalu bersikap baik dan tidak membuat keributan, tetapi kakekmu selalu saja bersikap seolah aku berteriak teriak di setiap menitnya.
Nenek. Kamu memang seperti itu, aku tidak melihat di sisi manapun ketenangan yang kamu sebutkan. Batin Vanilla.
Vanilla tidak ingin berkomentar apapun, dia meninggalkan ruang keluarga dan pergi ke kamar yang biasa dia tempati jika menginap di rumah ini.
Sesampainya di kamar. Vanilla menjatuhkan tubuhnya yang lelah..
"Akhhh... kenapa aku malah terjebak di tempat ini...."
Vanilla berguling guling gelisah, dia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Mahira.
Vanilla: (Mahira, apa kamu di sana?")
Mahira:(Ya. Ada apa?)
Vanilla: (Huhuhuhu.... Aku terjebak di Mansion Daguezze. Kakekku sepertinya pergi menenangkan diri di vila pegunungan)
Mahira: (Nenek bertengkar dengan kakek?)
__ADS_1
**Vanilla: (Sepertinya itu yang terjadi. Nenek menyuruhku menginap, dia mengeluh betapa teganya semua orang meninggalkan dirinya sendirian.)
Mahira: ( Semangat mengemban tugas baruππππ**)
Vanilla tidak percaya Mahira sahabatnya bahkan tidak bersimpati atas penderitaan nya, dia dengan santainya mengatakan semangat. Vanilla sangat emosi, kerja kerasnya serasa tak di hargai.
...----------------...
Sore hari...
Reyvan bangun secara alami, dia melihat Mahira yang masih terlelap di sampingnya, bibirnya tersenyum, Reyvan menyingkirkan poni yang menghalangi sebagian wajahnya, dia menciun ruang di antara alisnya.
Mahira mengerutkan keningnya, perlahan matanya terbuka. Hal pertama yang di lihat Mahira adalah wajah tampan Reyvan dengan bibir melengkung tersenyum.
"Kamu sudah bangun?" Suara Mahira serak.
Reyvan kembali menciun kening Mahira.
"Apa aku mengganggumu? Jika masih mengantuk, lanjutkan tidur." ucap Reyvan.
Mahira menggelengkan kepalanya.
"Ini sudah sore, aku harus mandi."
Reyvan tersenyum nakal. "Ayo kita mandi."
Mahira melepaskan tangan Reyvan. "Aku mandi sendiri."
Reyvan mengerucutkan bibirnya bertingkah seperti anak kecil. "Kita suami istri, apa salahnya kita mandi bersama."
Mahira mendorong suami holigannya. "Tidak. Kamu sedang sakit,"
Reyvan menolak melepaskan Mahira.
"Sayang, bantu aku mandi."
"Tida."
"Sayang... gosok punggungku, tanganku tidak sampai."
"Tidak."
Reyvan terus membujuk dan Mahira terus menolak, mereka berhenti setelah Reyvan dengan mudahnya membawa Mahira dari tempat tidur ke kamar mandi.
...----------------...
Saat Makan Malam Mahira menolak berbicara dengan Reyvan, kemarahannya dari tadi sore masih membara dan pria yang membuat kesalahan itu tanpa malu bersikap seolah tidak terjadi apa apa.
"Mahira, Kenapa wajahmu begitu pucat, bibirmu juga bengkak apakah kamu sariawan?" Tanya Ibu Reyvan.
Mahira menutup bibirnya, matanya melotot tajam pada holigan pembuat onar yang sibuk menikmati makan malam.
Nyonya Nera menarik tangan Ibu Reyvan lalu berbisik.
"Ini urusan anak muda."
Ibu Reyvan meumerah, dia melupakan satu hal....
"Hehe... aku tidak ingat."
Ibu Nera menggeleng geli.
Di sudut yang tak terlihat Nela memperhatikan empat orang yang sedang asyik menikmati makan malam, ekspresi gadis itu penuh kebencian, dia menatap Mahira seolah bisa membakarnya dengan menatap tajam seperti itu.
Mahira yang merasa seseorang mengawasinya menoleh tetapi tidak ada siapapun.
__ADS_1
Seharusnya aku yang ada di posisi itu sekarang, duduk dengan bahagia dan menikmati makan malam bersama Reyvan. Batin Nela.