
Dagueze Group.
Sambutan hormat datang bertubi tubi saat kaki panjang Reyvan keluar dari mobil dan menginjakan kakinya di lantai marmer yang selalu terlihat bersih.
Seperti kata. "Selamat siang Pak"
"Selamat datang Pak"
Karyawan yang berpapasan langsung dengan Reyvan bersikap hormat dengan senyum semanis mungkin, hal itu sudah menjadi pemandangan biasa untuk Reyvan. Namun pupil mata Reyvan yang tajam sekilas melihat sosok tinggi yang sedang merokok di pojokan.
Reyvan sangat mengenal sosok itu, sosok yang berdiri dengan wajah santai seolah tidak ada beban dalam benaknya.
Reyvan berjalan langkah demi langkah menghampiri sosok itu.
"Kak." Panggil Reyvan.
"Reyvan."
Reyvan berdiri di depan sosok yang di panggilnya kakak, menatapnya dari atas ke bawah lalu ke atas lagi.
"Ada apa? Belum melihat pria tampan selain aku?" Tanya nya seraya tersenyum nakal.
"Sialan." komentar Reyvan kesal.
"Bwahahaha....." Pria itu tertawa keras hingga menggelegar di setiap sudut lobi.
"Ayo ke ruanganku." ucap Reyvan agak kesal.
Reynold masih tertawa apalagi melihat ekspresi kesal di wajah Reyvan. Menurut Reynold, Reyvan terlihat lucu saat marah.
"Pergi atau tidak?" Interupsi Reyvan saat melihat Reynold masih berdiri di tempat yang sama.
Reynold mematikan rokoknya lalu berjalan mengikuti adik sepupunya itu.
...----------------...
sesampainya di ruangan Reyvan, keduanya duduk berhadap hadapan.
Reynold melihat penampilan Reyvan yang banyak berubah dari sejak terakhir bertemu.
"Kak, kau kembali tanpa mengabari orang di rumah. Apakah semuanya baik baik saja?"
Reynold tersenyum seperti biasanya.
"Yahhh... Seperti yang kau lihat, Aku kembali hanya untuk meminta uang." jawab Reynold santai.
Reyvan memutar matanya jengkel dengan jawaban Reynold.
"Berhenti menunjukkan seolah olah dirimu buruk kak." Ucap Reyvan.
Reynold terdiam dia melamun ketika ingatannya kembali mengingatkan masa lalu yang membuatnya harus pergi berkeliaran meninggalkan negara kelahirannya.
"Belum menemukannya." Ucap Reynold dengan nada sedih.
Reyvan tahu apa yang di maksud kakak sepupunya, dia adalah saksi mata kejadian yang membuat Reynold seperti ini.
__ADS_1
"Oh Ya... Aku dengar kau menikah, selamat ya. Maaf aku tidak datang pada hari pernikahanmu." Reynold mengalihkan pembicaraan dan bersikap seolah yang baru saja murung dan sedih bukanlah dirinya.
"Yah.. Aku sudah menikah, tapi hubungan kami sedang dalam pase buruk. Aku tidak tahu apakah bisa melewatinya atau tidak."
Reynold berdiri mengambil air mineral untuk dirinya, bibirnya yang kecoklatan akibat sering merokok tersenyum tipis.
"Aku sarankan kau tidak mempercayai apa kata Karina, Karena wanita itu begitu manipulatif."
Reyvan enggan menceritakan apa permasalahannya tetapi sepertinya Reynold sudah dapat menebak apa yang terjadi.
"Aku memiliki seorang anak dari Karina, karena kejadian waktu itu dia hamil."
"Ukhukk...." Reynold terbantuk karena saat mendengar Reyvan menyebutkan anak dia sedang minum.
"Dan kau percaya apa yang di katakannya?"
Reyvan terdiam mendengar pertanyaan Reynold, dengan diamnya Reyvan itu sudah menjadi jawaban yang jelas.
"Terserah saja, jika kau ingin percaya makan percaya saja, jika tidak maka jangan percaya."
Kedua saudara itu diam dengan gilirannya masing masing yang sedang berkecamuk dengan berbagai hal.
...----------------...
Di lantai bawah Sakian sedang kerepotan mencoba menghentikan Karina bersama dengan Fridha yang ingin masuk dan pergi menemui Reyvan.
"Nona Karina, di mohon untuk menjaga sikap. Boss tidak mengijinkan anda masuk, tolong hormati keputusannya." Ucap Sakian sesabar mungkin.
Karina beberapa kali mengeluarkan kata kutukan dan mendorong tubuhnya untuk mencoba masuk tetapi dengan sigap Sakian menahannya.
"Sakian. Minggir! Biarkan aku dan putriku masuk."
Fridha merasa tidak enak menjadi tontonan karyawan Dagueze Group, meskipun dirinya terbilang kecil. Namun Fridha memiliki daya peka yang tinggi, tubuh menyusut bersembunyi di balik tubuh Karina.
Melihat hal itu Karina menatap Sakian sengit.
"Lihat. Kau membuatnya takut, dia hmaya gadis kecil yang ingin bertemu ayahnya." ujar Karina.
Sakian sekuat tenaga menahan emosinya dan berusaha profesional untuk menghalangi Karina masuk.
"Nona Karina. Boss sedang sibuk, dia tidak bisa di temui sembarangan."
Karina dan Fridha tidak bisa menerobos masuk karena Sakian yang begitu kuat menahannya bahkan dua penjaga datang membantunya.
"Aku akan menelfon Reyvan." Dengan bangganya Karina menelfon Reyvan tetapi beberapa kali deringan tidak satupun di angkat.
Sakian tersenyum penuh kemenangan, dia sangat tahu jelas bossnya tidak akan mengangkat telfon Karina.
"Mom," Fridha memegang ujung kain baju yang di kenakan Karina sehingga membuat bajunya kusut.
Karina menepis tangan Fridha.
"Nak, jangan seperti ini. Papa pasti akan segera memanggil kita."
Sakian hanya bisa menatap mereka dengan tatapan cemooh.
__ADS_1
"Hentikan kepura puraan mu ini Nona Karina." Sakian berbisik menekan nama Karina dengan gigi terkatup.
Karina yang merasa dirinya di ancam menatap Sakian dengan sengit.
"Kau hanya pelayan Reyvan, aku bisa melakukan apa saja padamu. Jadi jangan membuatku tersinggung."
Sakian tertawa terbahak bahak, di ancam oleh wanita seperti Karina, hatinya seperti di gelitik.
"Wanita yang setengah bodoh sepertimu jangan berharap bisa memiliki Boss Reyvan, Karena seleranya bukan kamu."
Sakian berbalik dan memanggil sekuriti untuk mengusir Karina dan Fridha. Tanpa adanya belas kasih dan rasa iba, Sakian membuat Karina dan Fridha di usir tepat di depan seluruh karyawan Dagueze Group.
Seiring dengan langkah Sakian yang menjauh, suara teriakan Karina dan putrinya menghilang. Ekspresi Sakian berubah lembut ketika Vanilla tiba tiba muncul.
"Sayang." panggil Sakian.
Vanilla langsung pergi tanpa menggubris panggilan Sakian, saat ini bukan Sakian tujuan Vanilla tetapi Reynold yang sedang mengobrol dengan Reyvan.
Vanilla sangat merindukan kakaknya itu, lama sekali Reynold tidak kembali dan sekarang pria itu kembali.
"Vanilla, Reyvan sedang memiliki tamu." Ujar Sakian mencoba meraih tangan Vanilla.
"Memangnya kenapa? Pria yang sedang bersama Kak Reyvan adalah kakakku. Jadi, aku berhak menemuinya." Jawab Vanilla ketus.
"Dan, aku tidak seperti seseorang yang menipu." lanjut Vanilla.
Kening Sakian berkerut, jelas sekali Vanilla salah paham, gadis bar bar seperti Vanilla selalu mengambil pemikiran setelah hanya satu kali pandangan.
"Boss Reyvan sedang membicarakan masalah penting, dia sudah berpesan untuk tidak di ganggu."
Vanilla tetap keukeuh ingin masuk ke ruangan Reyvan membuat Sakian terpaksa mengendongnya seolah Vanilla adalah karung beras, Vanilla kaget dan menjerit tak Terima, dia memukul mukul punggung Reyvan sambil mengumpat mengeluarkan kata kasar.
Sakian tidak peduli dengan omelan Vanilla, dia mengurung gadis itu di dalam ruangannya.
"Sakian buka pintunya!!!!"
Duhhh... Dughhh.. Dughh...
Dengan sekuat tenaga Vanilla terus memukul mukul pintu dan berteriak pada Sakian, tapi usaha Vanilla yang sangat keras itu tidak membuahkan hasil. Sakian dengan entengnya menutup telinganya menggunakan earpod memainkan lagu The influencer dari penyanyi asal Amerika, Crish Brown.
"Sakian... Sakian Buka pintunya!!!"
"Sakian Aku bersumpah tidak akan membiarkan mu hidup tenang!!!" Teriak Vanilla lagi.
Sakian tertawa bahagia, dan tawa Sakian semakin membuat Vanilla menggila suara gedoran semakin kencang, berbeda sekali dengan ruangan Reyvan yang lebih tenang dan sunyi.
(Ruangan Reyvan.)
Reyvan terdiam, kulit wajahnya semakim pucat setelah mendengar apa yang di katakan Reynold tentang insiden malam perpisahan.
"Tidak mungkin kau tidur dengan Karina, karena saat itu kau begitu mabuk bahkan tidak mungkin sadar untuk melakukan one night stan." Jelas Reynold sangat meyakinkan.
"Aku saksi kunci yang saat itu masih dalam keadaan sadar, Aku sangat yakin tida ada yang terjadi antara kau dan Karina." Keukeuh Reynold.
Reyvan mulai memahami apa yang di katakan Reynold. "Lalu siapa Fridha. Mengapa wajahnya sangat mirip denganku?" Reyvan bertanya tanya
__ADS_1
Reynold mengangkat satu alisnya, dia merasa tertarik dengan teka teki kali ini. Reynold pun ingin tahu siapa asal usul gadis kecil yang adik sepupunya bicarakan, yang di gadang gadang sebagai anak dari adik nya.
"Entahlah... Mari kita cari tahu siapa gadis kecil yang Karina bawa. Aku sangat ingin tahu bagaimana reaksi nenek tentang wanita piilihannya." Reynold menyalakan pemantik api dan membakar ujung rokoknya, asap mulai mengepul keluar dari mulut dan hidungnya seperti cerobobg asap.