Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Kesepakatan operasi.


__ADS_3

...----------------...


Sakian duduk di depan Mahira di suguhi berbagai hidangan lezat ala China, masih belum berani menyentuhnya karena Mahira masih menunggu seseorang yang lainnya.


Sakian berpikir orang yang di tunggu Mahira adalah Vanilla, dia duduk santai dan tidak banyak berkomentar.


"Maaf, aku terlambat." ucap Seorang pria lalu duduk bergabung bersama mereka.


"Aku sudah sangat lapar Kak Daren." keluh Mahira.


Daren menepuk kepala Mahira. "Maaf,"


Otak Sakian masih dalam proseses mencerna segala sesuatu yang terjadi di depan matanya.


"Hai, kita bertemu lagi." ucap Lean.


Lean tersenyum mengulurkan tangannya pada Sakian.


"Kenapa kalian-"


"Aku yang mengundang mereka," potong Mahira.


Sial!!! Boss akan marah jika dia tahu nyonya mengundang Tuan Daren.


Sakian mulai berkeringat dingin, membayangkan kemarahan Boss nya, dan Sakian mulai sakit kepala.


"Nyonya, Tuan Boss akan marah jika mengetahui ini." bisik Sakian.


Mahira mengerutkan darinya. "Aku hanya mengundang kakakku makan, apa yang salah dengan itu?"


Sakian terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Mahira karena memang apa yang di katakan Mahira benar.


Daren dan Mahira mengobrol sambil makan. Setelah Mahira mengatakan siapa jati dirinya, keduanya lebih santai dan bersikap selayaknya seorang kakak pada adiknya.


Berbeda dengan Sakian yang mulai memikirkan cara untuk mengakhiri reuni, karena dia takut Reyvan akan mengamuk mengetahui ini.


"Dalam cuaca sepanas ini kau salah menggunakan baju." Daren berkomentar.


Mahira melihat pakaian tertutup yang di kenakannya, meskipun sedikit gerah Mahira tidak bisa menggantinya dengan yang lebih tipis atau orang orang akan bisa melihat kissmark yang di buat Reyvan di tubuhnya.


"Hahaha... Saat ini aku sedang nyaman menggunakan baju seperti ini." jawab Mahira beralasan.


Daren tidak mengungkap kebohongan Mahira, dia hanya tersenyum dan melanjutkan makan.


...----------------...


Kediaman Daguezze.


Karina tersenyum bahagia saat melihat Reyvan yang baru saja datang.


"Reyvan," Karina menghampirinya.


"Reyvan, Fridha tidak ingin di obati, dia terus menangis ingin melihatmu."


Reyvan melepas jasnya dan juga dasinya, sambil berjalan Reyvan menggulung kedua lengan kemejanya melepas dasinya, dua kancing kemeja bagian atasnya di lepas dan memperlihatkan banyak kissmark dari pergulatan semalam.

__ADS_1


Karina terdiam saat melihat bekas ****** di leher Reyvan, rasa cemburu membakar hatinya.


"Reyvan. Semalam aku menelponmu, kamu tidak menjawabnya. Aku dan Fridha sangat khawatir."


Reyvan tidak ingin menjawab nya dia hanya berlalu dan meninggalkan Karina yang masih berdiri di tempat yang sama.


Reyvan masuk ke kamar Fridha dan di sana Fridha sedang di bujuk oleh Dokter keluarga yaitu dokter Guntara, dan Ibu Reyvan juga tidak luput membujuk Fridha dengan berbagai bujukan manis.


"Sayang, sekarang papa sudah datang, kamu minum obatnya dan biarkan paman Dokter merawat lukamu oke." bujuk Nyonya Daguezze.


Fridha sangat bahagia melihat Reyvan, bibir pucat nya tersenyum dan memanggil papa.


"Papa.."


Reyvan mengusap kepala Fridha. "Biarkan Dokter merawat lukamu oke."


Fridha mengangguk. "Papa duduk dan temani aku." pinta Frinda dengan suara manis.


Reyvan mengangguk setuju.


Nyonya Daguezze menatap putranya yang tampak lesu. Nyonya Daguezze ingin sekali bertanya tentang Mahira, tetapi Reyvan sepertinya tidak ingin membahasnya saat ini, alhasil nyonya Daguezze kembali menahan keinginannya dan fokus memperhatikan dokter yang sedang membungkus dahi Fridha dengan perban.


"Seharusnya kalian sebagai orangtua harus lebih berhati hati, terkadang anak anak memang melakukan sesutu yang cukup berbahaya, dan kita sebagai orangtua harus lebih peka." ucap Dokter menyindir Reyvan dan Karina.


"Maaf Dokter." ujar Karina menyesal.


Dokter menghela nafas pelan. "Kalian harus meminta maaf pada anak kalian, bukan padaku. Aku senang memiliki pasien karena dengan begitu statusku sebagai Dokter tidak akan sia-sia, namun kasus seperti ini sering terjadi dan aku tidak suka melihatnya."


Semua orang diam saat di ceramahi oleh Dokter, tidak ada yang berani mengeluarkan suara satupun.


"Aku harap kalian mengerti dengan apa yang aku katakan.....Kalau begitu aku harus pamit dan kembali ke rumah sakit, nak cepat sembuh jangan ceroboh lagi oke." Dokter Guntara tersenyum dan memberi Fridha coklat.


"Umh..." Fridha mengangguk.


Fridha sangat bahagia, dia memeluk coklatnya dan menatap kedua orangtuanya dengan senyum ceria.


"Nak, sekarang kamu istirahat." ucap Reyvan.


Fridha memegang tangan Reyvan dan menatapnya. "Papa, temani aku tidur." pinta Fridha.


Reyvan menghela nafas, dia melepas sepatunya dan naik ke tempat tidur berbaring di samping Fridha.


"Cha.... Sekarang tidur..." ucap Reyvan.


"Mama. Tidur di sini." Fridha memanggil Karina sambil menepuk sisi lain dari tempat tidur.


Karina sangat bahagia, dia tersenyum dan ikut berbaring.


"Aku senang memiliki keluarga lengkap." ucap gadis kecil itu.


Nyonya Daguezze menghela nafas berat, dia keluar dari kamar Fridha karena dirinya tidak lagi di butuhkan.


Nyonya Daguezze bertemu dengan Vanilla di depan pintu kamar Fridha, ia segera menarik gadis itu ke tempat yang lebih sepi.


"Vanilla. Bagaimana keadaan Mahira sekarang?"

__ADS_1


"Tante, Mahira semalam sangat frustrasi, dia pergi ke club dan di bawa pulang oleh kak Reyvan. Setelah itu aku tidak tahu."


"Reyvan sekarang sedang bersama Karina dan Fridha, lalu dimana Mahira?"


Vanilla juga bingung setelah mendengar Reyvan ada di kediaman Daguezze, dia bingung kenapa Mahira tidak bersama kakaknya, bukankah mereka suami dan istri.


"Vanilla." Panggil Ibu Reyvan.


Vanilla mengerjap. "Mungkin Mahira berada di rumah kak Reyvan, bagaimana pun Kak Reyvan tiba tiba memiliki seorang anak akan membuatnya hancur. "


"Benar." Ibu Reyvan mengangguk.


...----------------...


"Sakian. Aku akan ikut bersama kak Daren, kamu bisa kembali ke kantor." ujar Mahira sambil berjalan menuju mobil Daren.


"Tidak nyonya. Tuan Boss sudah mengatakan, aku harus mengantar anda kembali ke rumah." jawab Sakian menolak keinginan Mahira.


"Aku akan pergi bersama kakaku bukan dengan seorang selingkuhan."


Tapi Boss menganggap Tuan Daren adalah saingan cinta. Batin Sakian.


"Aku janji akan kembali sebelum jam satu siang, aku akan menemui Mama. Aku sangat merindukannya." Mahira tetap bersikeras.


Sakian ingin sekali menarik nyonya dan membawanya pergi, tetapi Daren dengan mudahnya membimbing Mahira masuk ke dalam mobilnya.


"Sakian. Jangan khawatir, aku akan segera kembali." janji Mahira.


Mobil Daren perlahan menjauh meninggalkan Sakian yang kebingungan karena nyonya malah pergi.


"Arrgghhh.... Sial!!!! Boss pasti akan sangat marah."


"Arggghhh... kenapa aku tidak bersikeras mencegah nyonya."


...----------------...


Di dalam mobil Daren.


Mahira langsung di beri laporan medis Daren, dia memeriksanya sebelum mengambil keputusan apa yang harus di lakukan saat operasi nanti.


"Tidak seburuk yang aku kira, Kak Daren operasi ini akan lebih mudah dan memiliki harapan tinggi jika kita melakukannya di Singapore,"


"Berapa persen keberhasilannya?" Tanya Daren sambil menatap Mahira yang tampak cantik dan elegant.


"Tujuh puluh persen, itu pun jika ahli lainnya bekerja sama dengan baik, Saraf yang di maksud Dokter tidak seburuk yang di katakan, hanya saja hal ini memerlukan waktu dan kesabaran serta fokus yang tinggi saat operasi di lakukan."


"Bagus kalau begitu..."


"Tapi, aku tidak memiliki lisensi Dokter di sini, orang akan berpikir aku melakukan mala praktek dan mempermainkan nyawa manusia." ujar Mahira.


"Itu akan menjadi urusanku, yang aku inginkan adalah kamu menyelamatkan aku, dengan kemampuanmu."


"Oke..." Mahira sangat percaya diri, karena memang kasus seperti yang di alami Daren sering Mahira temui di kehidupan aslinya.


"Aku percayakan kehidupanku padamu, tapi jika aku meninggal di meja operasi. Tolong sampaikan permintaan maafku pada ibu."

__ADS_1


Mahira mengerutkan keningnya tidak suka. "Aku yakin kamu akan sembuh, percayalah..." Mahira tersenyum.


Daren mengangguk. "Umhhh...."


__ADS_2