Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Kebusukan Karina


__ADS_3

Mahira memasukan ponselnya ke saku, dia berjalan pergi meninggalkan taman, ekspresinya lebih sumringah dan tampak berseri seri. Mahira tidak sabar ingin memberitahu kabar gembira ini pada Reyvan dan Mahira sangat tidak sabar ingin mengatakan. Reyvan aku percaya padamu.


Mahira berjalan setengah berlari, dia begitu buru buru hingga tidak menyadari di depannya ada Karina dan Fridha sedang berjalan berlawanan arah. Karina yang memiliki rencana licik dengan sengaja menabrakan dirinya dan Fridha lalu berpura pura jatuh tepat di depan Mahira.


Rencana Karina berjalan sesuai dengan apa yang di inginkannya, tanpa ada yang melihat, Karina mencubit pinggang Fridha sangat kencang dan spontan Fridha menjerit menangis hingga menarik perhatian orang orang yang berada di ruang keluarga.


"Fridha sayang.." Karina meninggikan suaranya yang panik.


"Sayang, kamu tidak apa apa kan?"


Fridha menatap Karina yang memberinya kode untuk mulai berakting. Fridha yang sedari awal tidak ingin melakukan penipuan ini, diam sejenak tetapi cubitan di pinggang gadis kecil itu bertambah kuat.


"Menangis.." Bisik Karina yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua.


"Akhhh... Mama, sakit.. hikss..hiks..."


Rintihan demi rintihan kesakitan menarik perhatian nenek Daguezze, beliau berjalan dengan kaki yang sedikit lemas menghampiri keributan di luar.


Mood Nenek Daguezze sedang dalam msalah, melihat bagaimana cicit kesayngan nya yang berada tepat di bawah kaki Mahira menambah perasaan marah dan bencinya.


"Mahira!!!" Teriak nenek Daguezze kencang.


Mahira yang tampak polos dan tidak bersalah tentu hanya berdiri menunduk menyaksikan akting Karina yang patut mendapatkan Juara Oscar.


"Mahira. Apa yang kau lakukan pada Karina dan cicitku Fridha?" Suara keras nenek Daguezze yang menggelegar membuat Reynold dan ibunya ikut datang, lalu di susul oleh ibu Reyvan.


Karina yang merasa ini adalah kesempatan bagus dia mencubit Fridha lagi hingga Fridha kesakita.


"Hiks...hiks... hikss..." isak Fridha.


Tatapan tajam nenek daguezzelangsung tertuju pada Mahira.


Mahira balas menatap nenek Daguezze lalu berkata. " Aku tidak bersalah, kami hanya saling menabrak dan Fridha jatuh."


Nenek Daguezze yang tidak pernah berhenti membenci Mahira, merasa amarahnya semakin di tantang, beliau menunjuk tepat di depan wajah Mahira sembari berteriak. "Wanita seperti mu akan melakukan apapun untuk melukai orang lain."


"Kau sengaja menabrak Fridha kan? Aku tahu Mahira kau tidak menyukai Fridha karena dia adalah anak aku dan Reyvan. Tapi Mahira, aku mohon jangan limpahkan kemarahanmu pada putri kami, dia tidak bersalah." Karina mulai menangis pilu membangkitkan rasa iba yang luar biasa di hati nenek Daguezze.


Reynold memijat ruang di antara alisnya, sandiwara Karina cukup bagus, seandainya dirinya tidak tahu kebenarannya mungkin akan sama terjebak seperti neneknya yang amat polos.


"Reyvan!!!"


"Reyvan!!!"


"Reyvan!!!" Nenek Daguezze berteriak.


"Bu, jangan berteriak, tenggorokan ibu bisa sakit." ujar Ibu Reynold menenangkan Nenek Daguezze.


Reynold menahan tangan ibunya agar berhenti membujuk Nenek Daguezze yang sedang marah.


Reyvan segera keluar dari kamarnya menghampiri keributan yang melibatkan istrinya. Reyvan berdiri di samping Mahira sembari merangkulnya.


"Ada apa sayang?" Tanya Reyvan lembut yang di tunjukan untuk Mahira.


Tontonan manis yang di tunjukan Reyvan hampir membakar seluruh hati Karina, selama ini Reyvan tidak pernah memperlakukan nya selembut itu, Reyvan selalu dingin dan jauh.


"Papa..." Fridha memanggil ReyvanReyvan sembari menahan rasa sakit di tempat yang menjadi sasaran Karina mencubit.

__ADS_1


"Reyvan. Mahira ingin membuat anak kita terluka, dia tidak menyukai anak kita hiks...hiks..hiks.."


Reynold tidak tahan dengan drama Karina, dia berdecak kesal. "Tch.... Karina kau tidak pernah berubah, si pembuat drama." cemooh Reynold.


Karina tidak ingin menanggapi omongan pedas Reynold, dia lebih ingin mencari perhatian Reyvan.


Mahira melepaskan diri dari pelukan Reyvan, ia berjongkok di depan Fridha. "Maaf ya, tante tidak sengaja menabrak Fridha. Apakah Fridha terluka biar tante obati."


Fridha tanpa sadar menggelengkan kepalanya dan menjawab. "Aku baik baik saja tante."


Mahira tersenyum dan membantu Fridha berdiri. "Sekali lagi tante minta maaf yah sayang." ucap Mahira.


Fridha mengangguk dengan polosnya.


wajah Karina seperti nya berubah dari waktu ke waktu, Dia seperti ingin menerkam Fridha dan mencabik cabiknya karena sudah membongkar sandiwaranya.


(Sialan!! Anak ini membuat semuanya berantakan.) Batin Karina.


Mahira membantu Fridha duduk. "Fridha istirahat di sini, biarkan pelayan menemani Fridha di sini. Tante masih perlu menyelesaikan urusan dengan Mama Karina dan yang lainnya." Fridha yang sebenarnya masih anak yang polos, mendapatkan perlakuan manis seketika menjadi luluh.


"Coba tante ingin melihat Fridha terluka dimana?" Tanya Mahira dengan suara manis membujuk gadis itu.


"Aku tidak terluka tante." Jawab Fridha.


Mahira mengerutkan keningnya, seolah bingung dengan jawaban Fridha.


"Benarkah? Bukannya Fridha tadi kesakitan." Tany Mahira bingung.


"Sekarang sudah baik baik saja tante." Jawab Fridha.


Mahira tersenyum lembut. "Oke, kalau begitu..."


"Mahira, jangan berpura pura baik pada putriku. Aku tahu, kau memiliki niat buruk untuknya kan?" Ujar Karina.


Mahira sejujurnya tidak ingin meladeni Karina, tetapi dia juga sangat jengkel dengan wanita yang satu ini.


"Aku tidak berpura pura baik, aku hanya memperlakukannya sesuai dengan apa yang seharusnya. Bagaimanapun dia itu anak Reyvan, aku harus bersikap baik sama seperti ibunya." Mahira tersenyum.


Karina tidak bisa lagi berkata apa apa, dia hanya bisa berdiri dan mengepalkan kedua tangannya menahan diri agar tidak hilang kendali.


( Mari kita bermain Karina.) Batin Mahira.


"Ohh ya, semuanya... Kebetulan sekali, untuk mencairkan suasana yang sangat tegang ini, Aku punya film bagus, aku harap kita semua bisa menonton bersama sama." ujar Mahira.


Nenek Daguezze yang sedari awal tidak menyukai Mahira, tentu saja ide nya itu di tentang dan di anggap melakukan hal bodoh.


"Menonton hal yang tidak berguna. Apa kau pikir semua orang mempunyai waktu yang santai sepertimu, yang hanya tahu meminta uang pada cucuku." ucap nenek Daguezze sengit.


Mahira tersenyum lembut. " Tidak apa apa jika nenek tidak ingin menonton, aku hanya ingin mengajak orang yang ingin menonton saja." Mahira menatap satu persatu waja yang berada di ruangan ini ingin melihat apakah mereka akan setuju, tetapi sayangnya semuanya diam termasuk Reyvan.


"Karena tidak ada yang ingin menonton, sepertinya aku akan melakukannya sendiri."


Mahira berjalan melewati setiap orang yang menatapnya bingung. Mahira pergi ke ruang keluarga menyalakan televisi dan menyambungkannya ke ponsel.


Ibu Reyvan yang merasa Mahira berlaku tidak seperti dirinya menghampiri putranya dan berbisik. "Reyvan, apa yang terjadi dengan Mahira."


Reyvan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Layar televisi mulai menyala. Seorang wanita berjalan angkuh di lorong rumah sakit, sosoknya yang tinggi dan ramping membuat semua orang terpesona padanya. Wanita itu menghampiri dua orang yang sedang duduk dan menikmati pagi di taman rumah sakit.


Sosok dalam video itu ada Karina, Fridha dan Anggun.


Reyvan segera duduk di samping Mahira lalu di ikuti Reynold dan yang lainnya. Tubuh Karinya kaku dalam sekejap saat melihat dirinya dalam Video, dia ingat betul apa kelanjutan adegan itu.


"Hai anggun."


"Ibu..." lirih Fridha menatap sedih pada sosok cantik yang sedang duduk di kursi roda dalam video itu.


"Lama tidak bertemu Anggun." ucap Karina.


"Kamu..." Anggun menatap Karina takut.


Karina mengusap kepala Fridha. "Gadis kecil yang manis, bagaimana yah jika Reynold tahu mantan istrinya melahirkan seorang anak diam diam."


"Jauhkan tanganmu dari putriku Karina!!!"


"Woww.... Ganasnya" Karina tertawa Renyah. Dia suka melihat ini.


"Pergi dari sini Karina!!!" Teriak anggun.


"Well... sudah sekaratpun kamu masih tetap sombong anggun. Haha..."


Anggun memeluk Fridha seolah melindungi gadis itu dari Karina.


"Tenang, aku tidak akan menyakiti putrimu Anggun..." Karina tersenyum tetapi senyumnya penuh kebusukan.


Anggun berusaha melindungi Fridha meskipun dirinya duduk di kursi roda.


"Anggun. Aku datang kesini hanya ingin mengajukan penawaran bagus untukmu."


"Tidak!!!" Anggun langsung menolaknya tanpa mendengar penawaran apa itu.


"Dengarkan dulu, aku yakin kamu akan setuju."


"Karina.A__aku tidak butuh apapun darimu."


Karina tetap diam tapi senyumnya semakin dalam. "Baiklah... Tapi jangn salahkan aku jika Reynold dan keluarga Daguezze lainnya tahu tentang siapa Fridha."


Anggun melototi Karina. "Jangan keterlaluan Karina!!!"


Karina tertawa. "Anggun sekali lagi aku menawarkan sesuatu yang tidak akan rugi atau merugikan kita."


Anggun menatap Fridha. Anggun tidak ingin keluarga Daguezze tahu tentang keberadaan Fridha, apalagi Reynold.


"Ayolah Anggun..." bujuk Karina.


"Kondisi apa yang ingin kau tawarkan?" tanya Anggun.


Karina menaikan satu alisnya merasa puas dengan keputusan Anggun. Karina berjongkok di depan Fridha. "Sayang, bisakah tante berbicara empat mata dengan ibumu?"


"Aku_" Fridha mengigit bibirnya.


"Tenang saja, tante tidak akan menyakiti ibumu. Kami hanya ingin berbicara." bujuk Karina.


"Ibu akan baik baik saja Fridha, pergi bermainlah bersama teman temanmu." bujuk Anggun.

__ADS_1


Fridha pergi dengan enggan, tapi Karina dan ibunya berkata baik baik saja, pada akhirnya Fridha meninggalkan ibunya bersama Karina.


Video itu berhenti berputar, lalu Mahira menggeser layar ponselnya dan di sana ad Foto Anggun hamil hingga Fridha lahir dan masa kecil Fridha lalu berakhir pada hasil tes DNA Fridha dan Reynold yang di ubah nama menjadi Reyvan.


__ADS_2