
Vanilla duduk dan memeluk Mahira yang menangis, dia berusaha menenangkan sahabatnya sekaligus kakak iparnya, kabar ini juga mengejutkan Vanilla dan membuat Vanilla kecewa pada Reyvan.
"Semuanya belum jelas Mahira, kak Reyvan akan melakukan tes DNA, dan tes itu akan membuktikan semuanya."
"Aku sangat kecewa pada kakakmu, bukan tentang itu saja. Meskipun kakakmu bukan ayah dari anak itu, tetapi kakakmu adalah bekas. Aku benci bekas,"
Bagaimana Vanilla bisa lupa, Mahira memiliki syarat tertentu untuk pria yang menjadi suaminya, dia ingin pria yang bersih pria yang hanya pernah menyentuhnya dan tidak pernah untuk wanita lain.
Vanilla menangis, hubungan cinta sahabatnya dan dirinya sendiri sedang di landa badai.
Di luar kamar, Reyvan mendengar langsung percakapan Mahira dan Vanilla.
Rasa bersalah muncul begitu saja dan membuat Reyvan merasa dirinya rendah dan kotor, meskipun ia bukan seorang perempuan yang biasanya menjaga pertama kali untuk pasangannya, namun setelah mendengar Mahira juga peduli dengan hal itu, Reyvan menyesali kenakalan nya saat muda.
"Vanilla, aku merasa aku kotor. Aku memberikan untuk pertama kalinya tapi aku mendapatkan bekas orang yang paling benci.... hiks...hiks Aku-"
Vanilla menepuk punggung Mahira. "Sudah sudah, tenangkan dirimu, tunggu sampai emosimu mereda dan pikiranmu lebih jernih, setelah itu kamu bisa mengambil keputusan ingin tetap bertahan bersama kak Reyvan atau bercerai dengannya."
Reyvan mengepalkan tangannya, dia marah adik sepupunya memberi saran buruk pada Mahira, Reyvan langsung masuk dan mengganggu kedua wanita yang sedang menangis.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Mahira!!!."
Mahira dan Vanilla terperajat kaget, mereka menoleh secara bersamaan dan menatap Reyvan yang berteriak dengan nafas memburu.
Reyvan berjalan cepat dan menarik tangan Mahira.
"Ayo pulang..."
Mahira melepaskan tangan Reyvan yang mencengkram pergelangan tangannya.
Reyvan mengerutkan keningnya, ekspresi nya menjadi semakin dingin dan gelap seolah awan hitam di seluruh dunia pindah ke wajahnya.
"Aku tidak mau."
"Pulang bersamaku Mahira." Reyvan menekan nama Mahira sebagai pengingat dia marah dan Mahira tidak bisa membantahnya.
"Aku tidak mau, aku akan tinggal di sini atau aku akan kembali ke rumah orangtua ku." balas Mahira sengit, sorot matanya menunjukan kecemburuan yang luar biasa, tetapi Mahira tidak menyadari dirinya cemburu dia hanya berfikir menjalani peran sebagai istri Reyvan.
Reyvan melirik Vanilla dan memberi isyarat pada gadis itu untuk keluar dari kamar. Vanilla yang masih sayang nyawa tentu saja segera keluar dan menutup pintu.
Mahira ingin menyusul Vanilla bahkan kakinya sudah turun dari tempat tidur dan menyentuh lantai, tetapi Reyvan dengan kekuatannya menarik pergelangan tangan Mahira dan menjatuhkannya di tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan?" Mahira sangat kesal, dia menggertakan giginya menatap Reyvan benci.
Mahira benci Reyvan seperti ini.
"Kau berfikir aku kotor karena perjakaku aku berikan pada wanita lain kan?" Reyvan membungkukkan tubuhnya mengurung Mahira di bawah tubuhnya.
Mahira yang terjebak antara tempat tidur dan tubuh Reyvan jelas tidak menyukai posisi ini, dia memberontak dan mendorong dada Reyvan demi membebaskan dirinya.
"Menyingkir..." desis Mahira.
Reyvan tidak bergerak sedikitpun dan membuat Mahira tidak nyaman.
"Reyvan!!!!"
__ADS_1
Sia sia Mahira mendorong Reyvan yang bahkan tidak bergerak, dia akhirnya menyerah dan menghela nafas.
"Apa maumu?" tanya Mahira lemah.
Reyvan tidak menjawab dia malah mematap Mahira dengan ekspresi yang sama yaitu dingin dan acuh.
Karena Mahira tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan pria itu, dia hanya bisa diam dan menghindari menatap Reyvan.
setelah cukup lama dengan posisi ambigu, Reyvan menjepit rahang Mahira memposisikan gadis itu agar berhadapan dengan wajahnya.
Mahira menciutkan lehernya seperti kura kura.
Tiba tiba Reyvan menunduk dan ingin mencium bibir Mahira, dan Mahira yang mendapat firasat buruk mencoba berontak dengan menggelengkan gelengkan kepalanya. Bibir Reyvan jatuh di pipi Mahira, dagu dan hidung membuat Reyvan bertambah marah.
Reyvan mengencangkan jepitan di rahang Mahira hingga membuat Mahira menjerit.
"Sakit!!!!" Teriak Mahira.
"Kamu tahu rasa sakit juga? Hah..." Reyvan tertawa ironis.
Tawa yang di lakukan Reyvan tawa yang menakutkan untuk Mahira, dia tanpa sadar bergidik merinding.
"Lalu apa kamu tahu, yang kamu katakan juga menyakitiku Sayang." Dengan sengaja Reyvan menekan kata sayang lalu mencium telinga Mahira yang meumerah.
Mahira memejamkan matanya. "Kamu bilang aku kotor, masa mudaku berantakan. Sayang, katakan padaku siapa yang bersih. Apakah itu Daren?"
Mahira melotot saat nama Daren terseret dalam pertengkaran mereka.
"Apakah kamu ingin kembali bersama Daren, melanjutkan cinta kalian yang terlarang?"
"Reyvan.... Jangan bicara omong kosong! dia kakak ku."
"Aku benci kamu yang seperti ini." desis Mahira.
Reyvan menghentikan tawanya dan menatap Mahira tajam.
"Katakan lagi."
Mahira menutup bibirnya rapat rapat.
"Katakan lagi sayang, aku ingin mendengarnya." Reyvan mengelus pipi Mahira hingga ke leher.
Mahira merasa geli karena tangan besar yang merayap dari pipi hingga ke leher, dia memejamkan matanya dan membukanya lagi saat jari jari Reyvan melepas satu persatu kancing Mahira dan mulai menujukan bagian tubuh nya yang tak layak di pertontonkan.
"Reyvan. Hentikan, Aku tidak mau melakukannya."
Reyvan tidak menghentikan tindakannya, dia menulikan telinganya dan terus melepas kancing dari tombol dua ke tiga.
Mahira memegang tangan Reyvan yang satu langkah lagi melepas seluruh kancing.
"Aku bilang aku tidak mau melakukannya,"
Reyvan menatap Mahira alih alih menjawabnya, tiba tiba Reyvan membukukan tubuhnya dan semakin menekan Mahira, leher Mahira di cium dan membuatnya tidak nyaman.
Mahira akhirnya mendorong Reyvan sekuat tenaganya hingga jatuh ke lantai.
__ADS_1
Gedebukk.....
Ini pertama kalinya Mahira menolak Reyvan hingga membuat pria itu terluka.
Mahira segera mengancingkan bajunya lalu berlari ke kamar mandi, aroma kuat yang di miliki Reyvan menempel pada tubuh Mahira.
Reyvan menatap pintu kamar mandi yang di tutup rapat, tiba tiba dia tertawa suram dan terdengar jelas ke kamar mandi.
Perasaan Marah, benci dan kecewa bercampur menjadi satu mengaduk hatinya yang dingin menjadi semakin dingin. Reyvan keluar dari kamar setelah menunggu lama istrinya keluar dari kamar mandi namun tak kunjung muncul, sepertinya istrinya telah menghindari nya.
Mahira yang mendengar gerakan di luar kamar mandi akhirnya merasa tenang, dia perlahan membuka pintu dan tidak melihat siapapun di kamar.
"Huffhhh...." Mahira menghela nafas pelan.
Mahira benar benar tidak ingin dekat dengan Reyvan untuk saat ini, berita Reyvan memiliki anak bersama Karina mengguncang mentalnya secara langsung. Mahira tidak bisa mencerna dan memahaminya, dia marah dan tidak terima dengan apa yang terjadi di masa lalu antara Reyvan dan Karina.
"Akkhhhh... Apa yang harus aku lakukan? Aku benci situasi ini." Mahira mengoceh sendiri.
Tokkk...tokkk... tokk...
Pintu di ketuk, dan seorang pelayan memanggil Mahira.
"Nyonya muda, saatnya makan malam Ketua Daguezze memanggil anda untuk bergabung."
Mahira mengepalkan tangannya."Aku akan segera turun." jawab Mahira.
Mahira merapikan rambutnya lalu turun dan bergabung, Mahira duduk di kursi kosong yang Jauh dari Reyvan.
Reyvan semakin suram, dia ingin sekali menarik wanita itu.
Karina menunduk, dia tidak jadi pergi setelah kabar dirinya memiliki anak bersama Reyvan di dengar oleh kakek dan nenek Daguezze.
Mahira begitu damai, dia mengambil piring dan menyiapkan apa yang ingin dirinya makan tanpa memperdulikan tatapan simpatik dari anggota keluarga lainnya.
"Selamat makan semuanya...." Mahira melahap suap demi suap nasi dan membiarkan dirinya di tonton anggota lainnya.
Mahira tidak keberatan dengan itu, karena memang saat ini posisinya adalah yang paling menyedihkan.
memikirkan anak suaminya bersama wanita lain membuat selera makannya tiba tiba memburuk. Mahira menaruh sendoknya dan berdiri siap meninggalkan meja makan.
"Habiskan makananmu." Ujar Reyvan.
Mahira tidak menanggapinya, dia berjalan ke atas tanpa menoleh sedikitpun.
"Mahira!!!!" Kali ini Reyvan berteriak karena marah.
"Aku kenyang." Jawab Mahira singkat lalu berjalan pergi menaiki tangga.
Reyvan membanting sendoknya dia sangat frustasi menghadapi sikap Mahira saat ini.
"Reyvan, jangan terlalu marah. Mengertilah, apa yang terjadi saat ini tentu mengguncang mental Mahira." Ujar ibu Reyvan menenangkan putranya.
Karina yang menyaksikan langsung pertengkaran Mahira dan Reyvan hanya bisa menyembunyikan senyum bahagianya di balik tatapan sendunya.
"Sebaiknya ini semua nyata. Jika kau hanya ingin menipu kami, jangan harap aku akan mengampunimu." Tatapan Reyvan sangat menakutkan dan membuat semua yang melihatnya menggigil. Ancaman itu jelas di tunjukan pada Karina.
__ADS_1
Vanilla tidak menghabiskan makanannya, dia pergi menyusul Mahira.
"Aku selesai." ujar Vanila.