Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
.........


__ADS_3

Dalam keluarga Daguezze hanya Reyvan saja yang tidak bahagia dan merasa buruk, meskipun berada di tengah tengah keceriaan, tetapi pikiran Reyvan ada di tempat lain.


"Papa..." Suara imut dan manis memanggil Reyvan.


Tubuh Reyvan menegang, untuk pertama kalinya seorang anak memanggilnya papa, ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya.


"Papa, Fridha senang sekali akhirnya bertemu papa." Gadis kecil itu tersenyum cantik.


Gadis itu bernama Fridha dia cantik dan imut, sikapnya juga lembut dan manis tipe kesukaan keluarga.


Reyvan tidak bisa menunjukkan wajah masamnya, dia tersenyum dan mengusap puncak kepala Fridha.


"Maaf baru bisa menemuimu..." ucap Reyvan.


Fridha tersenyum, beberapa tahun lagi Fridha akan menjadi gadis remaja, dan usia Reyvan baru tiga puluh tahun, tidak pernah terpikirkan oleh dirinya di usia tiga puluh tahun memiliki anak yang cukup besar.


"Mahira belum kembali?" Tanya Nenek Daguezze.


Semua orang terdiam, tentu diam mereka sudah menjadi jawaban kuat untuk nenek Daguezze. Nenek Daguezze mendengus dia mengungkapkan penghinaan untuk Mahira sebagai menantu yang tidak kompeten.


"Lihat istrimu, dia bahkan tidak ada saat tamu berkumpul di rumah."


"Nenek, aku yang menyuruh Mahira pergi berjalan jalan." Jawab Reyvan.


"Kamu terlalu memanjakannya."


Reyvan tidak mengatakan apapun, dia duduk dan hanya memperhatikan Fridha yang sedang bermain game di ponselnya.


...----------------...


"Mahira kamu tidak akan kembali ke Daguezze Mansion?" Tanya Vanilla.


"Enggak... Aku akan kembali ke rumah,"


Rumah yang di maksud Mahira adalah rumah pernikahan nya bersama Reyvan.


"Aku pun tidak ingin kembali ke sana, aku tidak ingin melihat wajah sombong Karina."


Mahira hanya tersenyum menanggapi perkataan Vanilla, dia bahagia memiliki sahabat seperti Vanilla yang menemaninya di kala sedih, padahal Vanilla seharusnya menyambut keponakan yang baru kembali, tetapi gadis itu memilih menemaninya.


"Terimakasih..." ucap Mahira tulus.


Vanilla merangkul bahu Mahira dan berjalan bersama sama. "Kami adalah sahabat, jangan katakan itu..."


...----------------...


Rumah Reyvan dan Mahira.


Kepala pelayan datang menyambut nyonya dengan senyum lebar, Reyvan sudah menelpon dan mengatakan Mhira akan pulang dan ternyata memang benar.


"Tuan sudah memberi tahu bahwa nyonya akan kembali..."


Mahira terdiam dan Vanilla menatap Mahira yang melamun.


"Kak Reyvan sangat menyayangimu..."


Mahira tidak benar benar mendengar apa yang di katakan Vanilla, hatinya sedang bingung Reyvan begitu baik tetapi hubungan mereka begitu rumit.


Mahira mengepalkan tangannya, dan berjalan pergi ke kamarnya, Mahira mengambil gaun malam seksi berwarna merah lalu pergi ke kamar mandi.


Vanilla yang setia mengekor di belakang Mahira kebingungan, bingungan melihat sahabatnya.


"Mahira, apa kamu akan pergi ke suatu tempat?"


Mahira yang sedang di kamar mandi terdiam pegangan nya di gaun merah mengencang seiring dengan hatinya yang sakit memikirkan Reyvan.


"Aku....ingin pergi ke club malam."


Vanilla kaget, dia buru buru menggedor gedor pintu kamar mandi dan menyuarakan ketidak setujuan nya atas rencana Mahira.


"Tidak Mahira. Jangan gegabah, kak Reyvan akan marah...."


Gedukkk...Gedukkkk...


Gedukkk... Gedukkkk...

__ADS_1


Mahira mengabaikan teriakan Vanilla, dia mandi dengan cepat dan memakai gaun seksinya dengan mudah.


Kemungkinan gaun yang di pakai Mahira adalah gaun yang di beli Mahira asli karena tidak ada merek ternama dari gaun ini.


Mahira keluar dengan ekspresi dingin dan mengabaikan Vanilla yang tampak melongo melihat pakaian Mahira yang teramat seksi dan terbuka di mana mana.


"Mahira, kamu-"


"Aku akan pergi ke bar, apakah kamu akan ikut? Jika ya, cepat ubah penampilan. Jika tidak jangan coba coba menghentikan aku." Ujar Mahira.


Vanilla buru buru mengangguk. "Aku ikut...."


Vanilla tidak ingin meninggalkan Mahira dan membiarkannya sendirian.


...----------------...


Setelah mengenakan mantel dan membawa barang barang yang di butuhkan, Mahira pergi ke garasi dan memilih mobil mana yang akan di kendarai nya.


Pilihan Mahira akhirnya jatuh pada Lamborghini merah mencolok dan menarik perhatian, bahkan Vanilla yang tidak biasanya melihat Mahira seperti ini hampir menjatuhkan kepalanya.


Melihat gaun merah Mahira dan mobil merah yang akan di kemudikan Mahira seperti ingin membakar tempat dengan pesona nakal seorang wanita.


"Ayo Masuk..." Mahira menepuk bahu Vanilla.


Vanilla ingin membujuk Mahira tetapi setiap kata yang ingin di ucapannya hanya tersangkut di tenggorokannya.


"Mahira aku akan menemani mu kemanapun kamu pergi." ucap Vanilla serius.


Mahira menatap Vanilla penuh rasa terimakasih.


Lamborghini merah itu melaju dengan kecepatan sesuai, membelah jalan melewati beberapa mobil yang melaju terlambat


...----------------...


"Tuan muda anda kembali..." Kepala pelayan membungkuk menyambut Reyvan.


Reyvan hanya membalas anggukan sebagai tanggapan, lalu dia berjalan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


Reyvan membuka pintu dan kegelapan menyambutnya, lampu sengaja Mahira matikan sebelum meninggalkan rumah.


"Mahira," panggil Reyvan.


Namun suara Reyvan bergema karena kekosongan tanpa adanya orang lain selain dirinya di dalam kamar.


Reyvan mencari cari Mahira ke setiap sudut kamar tetapi tidak ada Mahira di manapun.


"Dimana Nyonya muda?" Tanya Reyvan pada seorang pelayan yang lewat.


"Tuan, Nyonya pergi bersama nona Vanilla."


"Vanilla..." gumam Reyvan.


Reyvan merogoh sakunya mengambil ponsel.


"Dimana kalian?" Suara Reyvan di tekan tanpa ke ramahan.


Di sisi lain Vanilla ketakutan setengah mati mendengar suara Reyvan yang seperti Adonis yang marah.


Vanilla melirik Mahira yang sedang minum alkoholnya memisahkan diri dari masalah yang menekannya.


(Kalian dimana? Jangan membuatku mengulang pertanyaan ku jika tidak ingin hal buruk terjadi padamu.) Suara Reyvan menggema membuat telinga Vanilla sakit.


"Kami di club eksotik..."


(Tunggu aku datang.)


Panggilan di tutup. Vanilla menelan salivanya dengan susah payah.


Vanilla menghampiri Mahira dan mengambil botol alkohol dan menjauhkannya dari Mahira.


"Kembalikan!!!" Mahira meraung.


"Tidak. Kamu sangat mabuk," ucap Vanilla.


Mahira berdiri goyah dan menatap Vanilla dengan matanya yang sayu.

__ADS_1


"Kembalikan..." Mahira mencoba mengambil botol di tangan Vanilla tetapi Vanilla menghindarinya.


"Vanilla..."


"Mahira sudah jangan minum lagi."


Mahira mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin minum lagi," rengeknya.


"Tidak."


Brakkkk....


Mahira menggebrak meja dan membuat bartender menggigil ketakutan.


"Aku pesan minuman yang sama seperti yang tadi." Mahira melototi bartender.


Pipi Mahira sudah sangat merah, bahkan pikirannya sudah sangat kacau, namun dia masih ingin minum lagi dan lagi.


Vanilla menatap bartender sambil menggelengkan kepalanya.


Bartender itu tertawa tidak enak. "Nona, minumannya habis."


"Aku ingin minum!!!!!" Mahira berteriak tak Terima.


Daren mengerutkan keningnya mendengar terikan seorang gadis, dia kenal betul dengan suara ini, langkahnya tanpa sadar membawa Daren ke tempat Mahira yang sedang dalam keadaan mabuk.


"Aku ingin minum!!!!"


"Mahira..." panggil Daren.


Mahira mendongak. "Kak Daren." suara Mahira sangat lembut lalu berhambur ke pelukan Daren.


"Mereka menggertak ku. Vanilla juga bukan temanku lagi, aku tidak ingin bersamanya."


Vanilla menghela nafas pelan, dia juga sangat lelah dan bersyukur Daren ada di tempat.


"Apa yang terjadi?" tanya Daren pada Vanilla.


"Ceritanya panjang."


Daren tidak menyukai Mahira mengenakan pakaian seksi, dia melepas jaketnya dan membungkus Mahira menggunakan itu.


"Aku tidak mau memakainya." ucap Mahira polos.


"Jangan di lepas." Ucap Daren.


"Pria sama saja. Suka memerintah dan seenaknya."


Mahira mendorong Daren dan berlari berbaur dengan kerumunan yang sedang menari.


"Mahira...." Panggil Daren dan Vanilla bersamaan.


Mahira seperti orang gila menari dan berteriak bahagia.


"Ya Tuhan.... ada apa dengan Mahira." gumam Vanilla.


Mahira yang sedang Menari ingin melepaskan jaket Daren, tetapi tiba tiba sebuah tangan menghentikannya.


Mahira mendongak dan seketika wajah Reyvan yang memiliki ekspresi gelap membuatnya kaget.


Mahira ingin melarikan diri tetapi dengan cepat Reyvan menarik Mahira dalam pelukannya lalu memanggulnya seolah Mahira hanya karung beras.


"Akhhhh lepaskan aku. Penculik...."


Vanilla ingin mengikuti Reyvan tetapi di hentikan Daren.


"Apa sedang terjadi sesuatu?" tanya Daren.


Vanilla diam, bingung harus mulai darimana.


"Vanilla aku harap kau menjawabnya, atau aku tidak akan membiarkanmu keluar dari club milikku."


"Aku akan menjelaskannya, tapi bukan di sini."


"Umh..." Daren mengangguk dan berjalan di depan Vanilla menuju tempat senyap.

__ADS_1


__ADS_2