Kenapa Aku Pindah Ke Novel

Kenapa Aku Pindah Ke Novel
Aku ingin pelayan itu di pecat.


__ADS_3

Mahira tidak melihat siapapun di belakangnya, tetapi instingnya pasti tidak salah seseorang sedang mengawasi mereka.


Aura Mahira yang biasa lembut berubah minus dalam sekejap, tatapan matanya yang biasa terlihat polos dan ceria menatap tajam makanan di piringnya.


Siapa yang berani bermain main di belakangku? Batin Mahira.


Reyvan melihat Mahira hanya mengaduk makanannya. "Apa makanannya tidak sesuai seleramu sayang?"


Mahira mendongak lalu menggeleng. "Tidak, hanya saja tiba tiba badmood."


Reyvan mengerutkan keningnya, ini pertama kalinya Mahira mengatakan dirinya badmood saat sedang makan.


Reyvan mengusap puncak kepala Mahira dengan sayang. Mahira tidak menolak, di juga kembali melanjutkan makannya meskipun sudah tidak nafsu.


Sekali lagi Mahira menengok kebelakang dan sekilas dia melihat bayangan samar, tentunya Mahira yakin orang itu yang sejak tadi mengawasinya.


Senyum samar terukir di bibir Mahira, matanya yang cantik menjadi tajam dan kedinginan.


Bermain denganku, mari kita lihat siapa pemenangnya di antara kita. Batin Mahira.


Mahira sudah bisa menebak siapa yang menjadi penguntit di balik kegelapan itu.


Mahira menatap Reyvan sambil mengunyah.


Seberapa banyak kumbang yang ingin mendapatkan madu pria ini, daya tarik Reyvan memang sangat berbahaya plot di novel ini benar benar banyak berubah dari cerita aslinya. Fikir Mahira.


Mahira mengaduk makanannya dan satu suap dia masukan ke mulutnya.


Reyvan memperhatikan perubahan suasana hati Mahira yang signifikan, entah apa yang mengganggu fikiran gadis itu, Reyvan juga ingin bertanya namun tidak di lakukannya.


......................


Selesai makan Mahira mengobrol bersama ibu dan ibu mertuanya, sedangkan Reyvan pergi ke ruang kerja,menyelesaikan pekerjaan yang dia tinggalkan siang tadi. Mahira berbaring di pangkuan Nyonya Nera menikmati elusan halus dari ibu tiri yang sudah di anggap ibu kandungnya ini.


"Mahira, kemana Reyvan?"


Mahira melirik pintu ruang kerja yang tertutup rapat.


"Dia sedang bekerja, katanya akan melakukan konferensi video dengan klien dari Dubai."


"Menantu benar benar pekerja keras." Puji Nyonya Nera.


Ibu Reyvan yang sebagai ibunya mersa bangga, dia tersenyum penuh suka cita.


"Mahira juga sangat luar bisa, dia baik dan cantik." Ujar Ibu Reyvan.


Ibu Reyvan tidak menyebutkan tentang Mahira yang tidak melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi, karena itu adalah kendala terbesar yang membuat keluarga Daguezze menolak Mahira selain kemiskinan.


Nyonya Nera tersenyum, tetapi di balik senyumnya ada penyesalan.


Kedua ibu terus bicara mengobrol satu sama lain dan tidak menyadari Mahira yang tertidur di pangkuan Nyonya Nera. Begitu Ibu Reyvan melihat Mahira yang tidur lelap, hatinya melembut dan tidak tega membangunkan menantunya.


"Aku akan memanggil Reyvan,"


Ibu Reyvan berjalan pergi.


Melihat wajah tidur Mahira yang polos, Nyonya Nera semakin menyesal karena gagal menyekolahkan Mahira setinggi mungkin, saat itu dia jatuh sakit dan membutuhkan biayaya banyak, Mahira bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka sedangkan saat itu Nyonya Nera menolak uang Daren karena uang itu di dapat dari pekerjaannya yang haram, Daren berjudi, bahkan dia menjadi pembunuh bayaran demi mendapat uang lebih banyak. Orang orang mungkin hanya mengetahui Daren adalah pemilik klub terbaik di negara ini dengan perkembangan pesat luar biasa yang di beri nama Eksotik.


"Maafkan Mama nak, Maaf." Hidung Nyonya Nera sakit, matanya merah air mata dia tahan agar tidak jatuh.


Tidak lama kemudian, Reyvan datang bersama ibunya.


Reyvan membungkuk dan mengusap kepala Mahira.


Mahira tidur pulas hingga tak merasakan Reyvan menggendong dan memindagkannya ke kamar.


Setelah Mahira di pindahkan, Reyvan mematikan lampu dan kembali ke ruang kerja.


Tidak lama kemudian pintu di ketuk.


Tokk...tokk...tokkk..


"Masuk." Teriak Reyvan.


"Tuan Kopi anda," Nela datang dengan kopi tanpa Reyvan minta.

__ADS_1


Reyvan tidak mendongak, dia tetap fokus pada dokumennya, tapi dia juga tidak lupa menjawab.


"Taruh saja di meja." Jawabnya dingin.


Nela agak kecewa mendapat bahu dingin pria itu, dia menaruh kopi dan berdiri sebentar berharap Reyvan mendongak dan menatapnya, sayangnya setelah hampir dua menit Reyvan tidak mengangkat kepalanya.


"Aku tidak butuh apapun lagi pergilah."


Nela tidak ingin pergi tetapi dia juga tidak bisa terlalu berani di hadapan Reyvan, takut pria itu marah.


Nela pergi dengan perasaan kecewa.


Reyvan mengambil kopi dan meminumnya sedikit. Pertama kalinya Reyvan minum kopi dengan rasa yang menggugah, rasa kantuk dan lelahnya sepertinya menghilang setelah kopi itu dia minum.


Sayangnya Reyvan tidak mengetahui si pembuat kopi begitu terobsesi dengannya.


Nela berdiri di depan ruang kerja Reyvan, ekspresi nya begitu bahagia membayangkan Reyvan mengejarnya dan berdiri di depannya.


"Sayangku..." bisiknya pelan


Nela yang tergila-gila dengan Reyvan tidak memperdulikan sekitar, dia bertingkah seperti dirinya adalah kekasih Reyvan.


"Reyvan, aku menunggumu begitu lama..." bisiknya.


"Kak Nela."


Nela tersadar dari khayalan nya, dia menoleh .


Rena berjalan ke arahnya sambil mengunyah. Nela ingin marah karena Rena sudah mengganggu dirinya, tetapi sebisa mungkin dia menahan emosinya.


"Rena, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Nela.


Rena menatap pintu ruang kerja Reyvan.


"Kak Nela sedang apa? kenapa sejak tadi Kak Nela betdiri di sini,"


"E-eumh...a-aku baru saja memberi Tuan kopi."


Rena curiga dengan tingkah laku Nela yang aneh, beberapa kali dirinya memergoki Rena tersenyum sambil berbicara sendiri.


"Kak Nela, ini sudah larut. Ayo kita istirahat."


"Ayo.."


Nela berjalan di depan Rena, dan Rena terus memperhatikan punggung Nela dengan tatapan tak biasa.


...----------------...


Di tengah malam Mahira terbangun, tangannya meraba raba sisi tempat tidur, dia bangun turun dari tempat tidur dan memakai sandal bulu miliknya.


Mahira keluar dari kamar berjalan menuju ruang kerja Reyvan.


tetapi Mahira tidak menemukan Reyvan di dalam, dia keluar lagi, bingung harus mencari suaminya di mana. Mahira duduk di sofa.


"Kemana dia malam malam seperti ini?" Mahira bertanya tanya.


Mahira ingin kembali ke kamar mengambil ponselnya tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara di dapur.


Mahira segera turun dan pergi ke arah dapur.


Dua orang berbeda jenis sedang berdiri di dapur dengan pencahayaan yang minim, sekilas orang akan curiga dengan apa yang mereka lakukan.


Mahira sangat mengenal sosok pria yang berdiri sedikit membungkuk di belakang seorang wanita, dari kejauhan posisi semacam itu akan di anggap intim, tetapi begitu di lihat dari jarak dekat, Mahira bisa dengan jelas melihatnya.


Namun tetap saja Mahira kesal melihatnya. Dia berdiri di ambang pintu dengan tangan di lipat di depan dada.


Tatapan Mahira mencemooh pada dua orang yang tidak menyadari kehadirannya setelah lama berada di sana.


Reyvan begitu fokus melihat proses pembuatan kopi yang di buat Nela sehingga tidak menyadari dirinya mencondongkan tubuhnya ke arah Nela.


Mahira berjalan mendekat tetapi dia berbelok menuju kulkas dan mengambil air dingin untuk meredam panas di hatinya.


Suara lain yang di buat Mahira mengganggu konsentrasi keduanya.


Reyvan menoleh dan melihat Mahira, dia pun kaget.

__ADS_1


"Sayang, kamu terbangun?" Reyvan buru buru menghampiri Mahira.


Mahira tidak menjawab pertanyaan Reyvan, dia mengambil botol air lalu keluar dari dapur.


Reyvan kebingungan dengan sikap Mahira, dia mengejar Mahira hingga ke kamar.


"Mahira..." panggil Reyvan.


Mahira tetap tidak menjawab, dia bahkan tidak melirik Reyvan sama sekali.


Mahira meminum air langsung dari botol berniat ingin menghabiskannya karena rasa panas itu tidak menghilang dengan sedikit minum, tetapi Reyvan mengambil botol itu.


"Tidak baik minum banyak air dingin di tengah malam."


Mahira ingin mengambil kembali tetapi Reyvan menghindarinya agar Mahira tidak mendapatkan botol itu.


"Kembalikan!!!" Teriak Mahira.


"Ada apa denganmu? Kenapa tiba tiba marah?" Tanya Reyvan.


Mahira berusaha kembali mengambil botol air minum tetapi Reyvan menghindar.


"Sayang bicara baik baik, jangan marah oke."


Mahira menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan.


"Reyvan, aku ingin kamu memecat pelayanan yang bersamamu barusan di dapur."


Reyvan tertegun, dia tertawa setelah beberapa saat.


"Sayang, kamu cemburu? Sayang, apa yang kami lakukan tidak seperti apa yang kamu fikirkan."


Reyvan ingin menyentuh kepala Mahira tetapi gadis itu menghindar, al hasil tangan Reyvan berhenti di udara.


"Kamu ingin memecatnya atau enggak?" Tanya Mahira.


Reyvan ingin membuat Mahira mengerti.


"Mahira, gadis itu seorang yatim piatu, dia tinggal di panti asuhan dan sekarang dia bekerja bahkan gaji setengahnya di berikan ke panti, dia juga bekerja rapi dan membuat kopi yang lezat. Aku rasa tidak adil jika aku memecatnya tanpa alasan."


Mahira menatap Reyvan. "Lalu apakah aku harus memanggil setiap orang yatim piatu ke rumah ini?"


"Tidak seperti itu konsepnya."


"Jadi Tuan Reyvan, apakah kamu ingin memecatnya atau tidak?" Mahira mendesak tanpa kompromi.


Reyvan tidak tahu mengapa Mahira begitu kesal dan ingin sekali memecat Nela.


"Aku tidak akan memecatnya, dia tidak berbuat kesalahan dan jika aku memecatnya, akan sangat tidak adil untuknya."


Mahira mengangguk, tanpa berkata apa apa lagi Mahira mengambil bantal dan siap pergi dari kamar tetapi Reyvan mengambil bantal dari tangan Mahira.


"Mu kemana?" Tanya Reyvan.


"Aku akan tidur di kamar tamu." jawab Mahira.


"Tidak. Jangan seperti anak kecil."


Mahira sangat Marah. "Justru karena aku seperti anak kecil aku akan tidur terpisah dengan orang dewasa seperti kamu."


"Mahira..."


"Aku yang tidur di kamar tamu, atau kamu? Tinggal pilih, tidak baik orang dewasa tidur dengan anak kecil, atau orang orang akan berfikir kamu seorang fedofilia."


Ini kedua kalinya Reyvan dan Mahira bertengkar hebat.


Reyvan memijat pelipisnya sambil membuat pilihan di dalam hatinya.


"Aku akan tidur di ruang kerja," Jawab Reyvan.


Mahira melirik nya sebentar. "Terserah..."


...----------------...


Di dapur.

__ADS_1


Nela begitu bahagia melihat Reyvan dan Mahira bertengkar, dia minum kopi buatannya yang tadi akan di berikan pada Reyvan, dengan senyum lebar Nela sedikit demi sedikit menyeruput kopi.


"Kopinya terasa lebih enak." ucapnya dengan senyum bangga.


__ADS_2