
"Aku mau hak asuh Rara berpindah sama aku." Ucap Jordy dengan nada lirih, namun tanpa ekspresi.
"Ngga bisa, cukup Reza yang kamu ambil dari aku. Aku ngga mau kehilangan anakku untuk kedua kalinya." Ujar Maya tidak mau kalah.
"Emang kamu bisa? Mencukupi kebutuhan Rara? Kamu bisa?" Ujar Jordy dengan tampang mengejek.
"Bisa, aku bisa, walau harus menanggung semua kebutuhan Rara sendirian."
"Halah, aku ngga yakin soal itu." Jordy tersenyum miring, menatap Istrinya, oh bukan, tapi mantan istrinya, dengan tatapan tidak suka. Lalu berdiri.
"Aku akan mengambil hak asuh Rara dari kamu. Tenang saja, kamu masih bisa ketemu koq sama Rara, sama halnya kamu ketemu sama Reza. Aku balik, besok aku akan jemput Rara." Lanjut Jordy lalu pergi meninggalkan Maya.
Maya menangis ditempatnya. Frustasi, iya, dia bingung harus apa. Akhirnya dia pun menemukan cara.
Pagi, masih sangat pagi, Maya memboyong anak dan pembantunya pergi dari rumah itu. Rumah yang Jordy berikan untuknya, ia kembali ke Jakarta, ke kediaman orangtuanya.
Sebelum sampai di tujuannya, mobil yang Maya kendarai tidak bisa dikendalikan hingga sebuah kecelakaan tidak bisa dihindarkan lagi.
Maya koma selama satu bulan, ia diselamatkan oleh beberapa warga, lalu ia dibawa ke rumah sakit terdekat, ibunya hanya bisa menangis menatap putrinya yang kehilangan semangat.
Maya syok setelah sadar dan mengetahui mobilnya terbakar saat itu, ia tidak tahu, apakah anaknya selamat atau tidak.
Tak terasa bulir air matanya jatuh menetes di pipinya.
"Rahma? Kamu masih hidup?" Dengan tidak percaya Maya dan Rahma saling memeluk.
"Kalian saling kenal?" Tanya Zahra dan juga Reza bersamaan.
"Sayang, apa kamu lupa? Kalo Ibu Rahma ini yang jagain kamu waktu kecil." Ujar Maya, Rahma mendekati Reza.
"Den Reza? Udah gede sekarang." Rahma menangis pasalnya Reza setiap hari bahkan setiap saat selalu berada dalam gendongan Rahma waktu kecil, mereka sangat dekat. Reza memeluk Bu Rahma.
Ada yang janggal disini, Zahra menatap tiga orang di depannya dengan tatapan heran.
"Tunggu, ada apa ini?" Tanya Zahra.
"Zahra, mereka ini,-"
Mengalirlah cerita dari mulut Bu Rahma. Tetesan air mata mulai mengalir di pipi Zahra. Bu Rahma rasa takut yang selama ini Rahma pendam akhirnya terjadi. Rasa takut kehilangan Zahra.
__ADS_1
"Zahra, Rara?" Tanya Bu Maya pada Bu Rahma, dan dijawab dengan anggukan oleh Bu Rahma, Bu Maya memeluk Zahra, dan dibalas juga oleh Zahra.
Zahra melepas pelukannya. Memandang Reza terkekeh namun air matanya masih mengalir. Zahra mendekat ke arah Reza.
"Aku brotherzone Za." Ucap Zahra sambil terkekeh. Reza yang mengerti maksud Zahra pun ikut terkekeh. Zahra menghapus air matanya, memegang tangan Reza.
"Makasih ya Za, selama ini, kamu udah jagain aku, udah nemenin aku juga selama disini,-" ucap Zahra tersenyum tulus.
"Ngga usah makasih, selamanya aku bakal jagain kamu, karena kamu adek aku." Ujar Reza tersenyum, menepuk puncak kepala Zahra.
Bu Maya dan Bu Rahma saling memeluk dengan menatap Reza dan juga Zahra di depannya.
Dua hari usai wisuda, Zahra pulang bersama ibunya. Bukan berdua melainkan berempat dengan Bu Maya dan juga Reza.
Dalam perjalanan Reza mengemudi, disampingnya Bu Rahma, sedangkan Bu Maya dan Zahra di kursi belakang.
Padahal Bu Maya sering bertemu Zahra, bahkan sejak Zahra masih kecil, Zahra mendatanginya dulu. Namun rasanya sudah lama sekali, ia takut jika harus kehilangan Zahra lagi.
Sampai di Jakarta Zahra masih memilih untuk tinggal bersama Bu Rahma, rasanya tidak tega jika harus meninggalkan rumah masa kecilnya. Bu Maya pun memakluminya, sampai Zahra siap untuk pindah ke rumahnya.
***
Sesuai janji, Reza dan Keina bertemu di 'MaraCafe'.
"Kamu kenapa deh Za?" Tanya Keina bingung, pasalnya Reza tidak pernah se agresif ini, Reza yang Keina kenal itu tidak romantis, dia selalu bersikap serius di depan Keina. Dan apa sekarang? Seperti ada yang aneh.
"Aku kangen sama kamu Ki." Ujar Reza memegang tangan Keina.
Reza mengajak Keina di ruang khusus di 'MaraCafe' seperti biasa, sengaja agar tidak ada yang mengganggu obrolan mereka.
"Aduh Za, kamu kenapa sih? Kamu ngga sakit kan? Ini bukan Reza banget loh." Ujar Keina.
"Cie yang udah kenal Reza. Jadi Reza yang seharusnya itu yang kayak gimana sih?" Tanya Reza membuat Keina tersenyum kikuk.
"Za, ampun deh kamu kesambet ya?" Ujar Keina menempelkan telapak tangannya pada dahi Reza lalu melepaskannya.
"Ngga panas." Ujarnya polos.
Sepertinya Reza tidak bisa menjadi cowok romantis di depan Keina. Reza berdehem lalu melepaskan genggamannya dari tangan Keina.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu nyembunyiin hubungan kita ke Zahra? Kamu janji kan? Setelah kita lulus, kita akan memberithu semuanya." ujar Reza.
Pertanyaan itu muncul lagi, Keina tersentak, Keina bingung harus jawab apa. Ia memang berjanji dulu, Namun ia bingung harus memulai dari mana.
"Aku,-"
"Keina." tegur seseorang dari belakang Keina, sontak Keina menoleh.
"Zahra" Keina gugup, panas dingin, itulah yang Keina rasakan sekarang.
"Kenapa kamu ngga bilang kalo kalian udah saling kenal? Bahkan kalian memiliki hubungan." tanya Zahra datar.
"Zahra maafin aku, jangan salahin Reza,ini salah aku, kumohon." Keina berdiri menghampiri Zahra yang tak jauh dari tempatnya.
"Reza? Ooh, jadi Reza yang kamu maksud itu Reza yang sama?" Ujar Zahra datar.
Keina mengangguk lemah, Zahra memutar tubuhnya membelakangi Keina, dia menunduk terdiam. Tubuhnya bergetar, Keina memandang Zahra penuh sesak di dadanya.
"Kamu marah sama aku Ra? Maafin aku Ra, aku salah. Please jangan diemin aku kayak gini." Ucap Keina, air matanya telah menetes. Ia tahu, ia telah melukai hati sahabatnya.
Keina memutar tubuh Zahra. Namun apa ini? Zahra tertawa? Keina menatap heran sahabatnya ini.
"Koq kamu ketawa sih Ra?" Tanya Keina heran.
Bukan menjawab, Zahra tersenyum manis lalu mengusap air mata Keina dan memeluknya. Tanpa sepatah kata Zahra melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Keina hingga dia berhadapan dengan Reza.
Happy birthday to you🎶
Happy birthday to you🎶
Happy birthday Happy birthday Happy birthday Keina🎶
Air mata Keina kembali turun membasahi pipinya. Keina menutup mulutnya, terkejut melihat ini semua. Setelah meniup lilin, Reza meletakkan kue tart diatas meja lalu memeluk Keina erat, dan dibalas pelukan juga oleh Keina.
Keina tersadar lalu melepaskan pelukannya dari Reza. Reza menghapus air mata Keina.
"Aduh kasihan sayangnya aku sampe nangis gini. Pinter banget sih deek aktingnya, kasihan kan kakak iparnya." Celoteh Reza, Keina pun menepuk lengan Reza lalu tersenyum. Keina tersadar sesuatu.
"Dek?" Keina menatap Zahra dan Resa bergantian.
__ADS_1
Zahra menceritakan semuanya pada Keina, termasuk yang tadi Zahra lakukan itu adalah salah satu rencana yang Zahra dan Reza buat untuk mengerjai Keina. Keina tersenyum lalu memandang Reza.
Setelah hari itu, hubungan keduanya bukan lagi backstreet.