Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
19. Eps 18


__ADS_3

"Restu? Siapa dia?" tanya Reza menoleh pada Gilang sejenak. Gilang menatapnya datar.


"Dia teman sekelas gue sama Ara, dan cowok yang naksir sama Ara dulu." Ujar Gilang dengan tatapan datar. Reza hanya berooh tanpa suara.


"Gue ketemu lagi sama dia di Australia. Ternyata dia kuliah di sana." Lanjutnya.


Flashback on


"Hai Gilang, apa kabar?" Tegur seseorang pada Gilang. Saat di dalam kelas. Gilang tampak menimang-nimang, siapa dia.


"Maaf lo siapa?" Tanya Gilang pada lelaki itu.


Lelaki itu tampak memakai sebuah kacamata.


"Restu?" Seru Gilang tekejut.


"Ya, ini gue. Ternyata lo masih inget sama gue." Ujar Restu membuka kacamatanya lagi.


Gilang tampak terkejut melihat perubahan Restu. Yah, Restu dulu cupu di mata Gilang. Dulu dia memakai kacamata, berpakaian rapi, disiplin. Restu ketua kelas Gilang saat SMP dulu, yang super duper ribet menurut Gilang, karena peraturan di kelasnya. Selain itu, Gilang tidak menyukainya karena Restu menyukai Zahra.


"Lo terkejut ngeliat penampilan gue? Ohya gue mau ngomong makasih sama lo." Ujar Restu tersenyum licik.


"Apa maksud lo?" Gilang tampak menahan emosi.


"Makasih, berkat lo pergi dari kehidupan Zahra, gue jadi bisa deketin Zahra." Ujar Restu lalu pergi.


Sebelun dia pergi, dia membisikkan sesuatu pada Gilang. Restu menyentuh pundak Gilang.


"Gue, bakal dapetin Zahra, gimanapun caranya." bisiknya, Restu melangkahkan kakinya meninggalkan Gilang.


Gilang mengepalkan tangannya lalu menggebrak mejanya. Aaarrrgggghhhh...


Restu tersenyum puas.


Flashback off


Reza melajukan mobilnya tidak tahu akan kemana. Mereka bingung harus mencari Zahra kemana. Gilang memikirkan satu tempat. Sekolah.


Reza mengendarai mobilnya ke SMP Nusa Karya. Sebuah mobil terparkir tidak jauh dari sekolah itu.


"Dugaan gue bener. Itu mobil Restu." Ujar Gilang. Menunjuk mobil yang terparkir tidak jauh darinya.

__ADS_1


Gilang dan Reza berjalan menuju sekolah itu, gerbang itu tampak terbuka.


Hari telah sore, sekolah ini sudah sepi tidak ada siapapun.


Gilang dan Reza berkeliling ke seluruh sekolah, tidak menemukan tanda-tanda ada Zahra di sana, mereka berpencar. Samar-samar Gilang mendengar teriakan Zahra.


"Engga! Aku cuma sayang sama Gilang! Jadi lepasin aku. Aku mohon Res." Racau Zahra, Zahra mulai melemas karena terus berteriak.


Zahra mencoba melepaskan diri dari dekapan Restu. Namun tenaganya tidak cukup kuat untuk menghindar dari dekapan Restu. Air matanya mengalir sedari tadi, dia sangat kacau. Namun Restu tidak luluh sedikitpun.


"Lepasin dia."


Zahra dan Restu menoleh pada sumber suara. Zahra hendak berlari namun di cegat oleh Restu, Restu mencengkeram tangan Zahra kuat. Zahra merintih karena menahan sakit. Tangannya memerah akibat cengkeraman Restu.


"Jangan sakiti dia." Ujar Gilang yang melihat Zahra kesakitan.


"Lo berani maju gue bakal sakitin Zahra lebih dari ini." Ancam Restu. Sebenarnya Restu hanya main-main, Restu tidak akan setega itu pada Zahra.


"Res, gue mohon jangan sakitin Ara." Ujar Gilang mendekat beberapa langkah.


Restu tersenyum licik. "Gue ngga bakal nyakitin Zahra, asal lo mau lepasin Zahra buat gue."


"Ngga!" seru Gilang. Gilang mencoba mendekati Restu, namun Restu perlahan mundur dengan menarik Zahra.


"Kenapa Zahra? Ini kan yang lo mau? Gue udah minta sama lo dengan baik, tapi lo ngga pernah ngasih hati lo buat gue." Racau Restu di hadapan Zahra.


"Res, aku tau, kamu emang suka sama aku dari dulu, tapi kamu juga tau? Kalo hati aku cuma buat Gilang." Ujar Zahra lirih, Restu menggeleng tidak terima dengan ungkapan itu. Restu mengendurkan cekalannya dari tangan Zahra, namun masih menggenggamnya, ia mengangkat tangannya.


"Tangan lo Ra!" Restu terkejut melihat tangan Zahra yang memar karena genggamannya tadi. Zahra meringis kesakitan.


"Maafin gue Ra, Gue,-" ucap Restu, tanpa sadar sebuah bulir air mata jatuh ke tangan Zahra, membuat Zahra terkejut.


Restu menangis? Pikirnya.


"Gue nyesel ngelakuin ini sama lo, gue,-" belum selesai Restu bicara, seseorang dari belakang Restu memukulnya hingga Restu tersungkur .


Zahra terkejut, "Restu!" Seru Zahra. Dengan cepat Gilang menarik Zahra dari sana.


"Za, bawa Ara keluar!" Pinta Gilang datar pada Reza yang barusan memukul Restu.


"Biar gue yang ngurusin dia." Lanjut Gilang datar, menatap Restu penuh emosi.

__ADS_1


"Tapi Lang,-" Ucapan Zahra terpotong kala Reza memaksanya untuk keluar. Gilang tidak menoleh sedikit pun. Ia kalut dalam emosinya.


Restu tampak meringis kesakitan. Namun ia tetap dalam pendiriannya.


"Segitu doang kemampuan kalian? Kenapa ngga lo bunuh aja gue sekalian." Ujar Restu terkekeh dan tersenyum licik. Tangannya terus mengusap bahunya yang baru saja terpukul oleh balok kayu.


"Gue ngga mau ngotorin tangan gue buat ngebunuh orang kayak lo. Gak guna!" Ujar Gilang di depan wajah Restu, sedangkan Restu terkekeh mendengarnya.


"Zahra beneran cinta sama lo Lang. Selamat bro." Ujar Restu mengulurkan tangan. Gilang menyambutnya lalu tersenyum.


"Thanks." balas Gilang. Restu tampak tersenyum licik setelahnya.


"Tapi gue bakal bikin Zahra benci sama lo." Restu terkekeh dan disusul pukulan di bahunya. Restupun meringis.


"Lo berani ngelakuin itu, gue pastiin tulang lo patah semua." Ujar Gilang lalu pergi dari hadapan Restu.


"Kita liat aja nanti." Ujar Restu saat Gilang telah menghilang dari hadapannya.


***


"Aw, sakit Lang. Pelan-pelan donk!" Protes Zahra saat Gilang mengobati tangannya.


"Ya ini udah pelan Ra," Gilang menghela nafas.


"Koq bisa sih berurusan sama si Restu? Kamu janjian ketemuan sama dia di tempat sepi lagi. Pasti mau mesum kan?" Cibir Gilang. Refleks Zahra menyentil bibir Gilang yang suka ngomong asal-asalan.


"Aw sakit Ra." Gilang melotot ke arah Zahra, membuat Zahra terkekeh geli melihatnya.


"Makanya tuh mulut buat ngomong yang berfaedah donk. Ngga pernah disekolahin yah tuh mulut? Bisanya cuma mencibir" sungut Zahra.


"Oke, aku bakal ngomong yang berfaedah mulai sekarang." Zahra mengangguk lalu tersenyum tanpa Gilang tahu. Gilang mengobati luka Zahra lagi.


"Ohya Ra, ngomong-ngomong, tadi aku kayak denger ada yang bilang sayang sama Gilang deh. Itu Gilangnya aku atau Gilang yang lain?" Gilang mencoba menggoda Zahra, dan berhasil. Zahra gugup sekarang. Meskipun Gilang tidak melihatnya langsung, namun gerakan kecil di tangan Zahra menunjukkan bahwa ia gugup.


"Kamu beneran sayang sama aku Ra?" Pancing Gilang. Zahra terdiam lama.


"Ra? Koq diem, pertanyaan aku kan berfaedah." Gilang tampak memohon, namun wajahnya seperti meledek di mata Zahra. Zahra bingung harus menjawab apa.


"A,- aw, udah ah, kamu ngga becus ngobatinnya." Zahra pun berdiri.


"Kamu ngga jawab pertanyaan aku, berarti jawabannya iya." seru Gilang menggoda Zahra lagi.

__ADS_1


"Tau ah." Zahra pergi meninggalkan Gilang dengan rasa malu. Malu karena Gilang sudah tahu tentang perasaannya pada Gilang. Gilang tersenyum melihat tingkah Zahra.


"Ini terlalu cepat Ra, belum sekarang." Ujar Gilang bermonolog saat Zahra sudah tidak lagi terlihat lagi.


__ADS_2