Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
33. Eps 32


__ADS_3

“Gue suka sama Gilang.” Ujar Nesya. Zahra menoleh terkejut. Belum sempat Zahra membuka suara, Nesya tersenyum dan kembali melanjutkan.


“Yah, gue suka sama Gilang. Tapi Gilang ngga pernah sedikitpun suka sama gue. Gue ngga tau kenapa dia nolak gue. Selama ini banyak cowok yang pengen deketin gue tanpa gue minta. Kecuali Gilang.”


***


Nesya menatap buku tulisnya dengan sesekali menatap Gilang. Sedangkan Restu hanya mengutak utik ponselnya yang miring itu. Hari ini mereka sedang menyelesaikan makalah. Nesya tersenyum menatap wajah tenang Gilang yang tengah menatap layar laptopnya.


Entah mengapa akhir akhir ini Nesya merasa sangat senang menatap wajah tenang dan serius Gilang.


“Sa, ambilin buku gue di sebelah lo donk.” Pinta Gilang tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya. Merasa tidak ada jawaban. Gilang menoleh mendapati Nesya yang tengah menatapnya. Gilang terus melambaikan tangannya di depan wajah Nesya.


“Sa.. Sa..??”


“Eh ya Lang? Kenapa?” ujar Nesya tersadar.


“Buku gue donk, tolong ambilin di sebelah lo.” Ulang Gilang. Nesya segera menoleh meraih buku Gilang di sampingnya. Gilang meraihnya dan kembali menatap laptopnya. Gilang mengangkat kedua sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman.


“Lo kenapa liatin gue gitu? Naksir lo sama gue?” ujar Gilang tanpa menatap Nesya. Nesya memangku dagunya dengan tangan kirinya sambil menatap Gilang serius.


“Ngga tau Lang, gue suka aja gitu liatin lo lagi serius. Kalo gue suka beneran sama lo gimana?” ujar Nesya. Bukan Nesya namanya kalau tidak mengungkapkannya secara terang-terangan. Restu yang mendengar itu langsung menghentikan kegiatan main gamenya.


“Hahahaa...” bukan menjawab, Gilang hanya tertawa renyah mendengarnya di susul dengan Restu yang ikut tertawa.


“Gue serius kalian kenapa ketawa sih!” ujar Nesya jengkel. Akhirnya Gilang menghentikan tawanya dan menghela nafasnya.


“Jangan anggap serius perasaan lo ke gue Sa. Gue takut nyakitin lo.” Ujar gilang tenang. Restu meraih keripik di atas meja itu.

__ADS_1


“Bener tuh Sa. Percuma! Hati Gilang udah paten sama satu gadis lokal.” Ujar Restu sambil mengunyah keripiknya.


Nesya hanya mendengus. “Haruskah secepatnya kandas?” batin Nesya.


Beberapa hari kemudian, Restu mengajak Nesya jalan berdua tanpa Gilang. Tidak disangka, Restu membawa Nesya ke sebuah tempat romantis dan dinner bersama. Pada malam itu.


“Sa. Gue bukan tipe cowok yang romantis. Gue..”


“Tunggu! Jangan bilang lo mau nembak gue Res?” potong Nesya sebelum Restu menyelesaikan puisinya. Restu menepuk keningnya. Dia lupa dengan siapa dia akan mengungkapkan perasaannya. Nesya, gadis terang-terangan yang tidak bisa dibuat penasaran. Nesya juga tidak mudah dibohongi. Dengan menatapnya saja Nesya sudah tahu siapa yang terlihat baik atau tidak.


“Sa Sa. Bisa ngga sih lo jangan ngerusak suasana dulu. Pura-pura aja lo ngga tau kalo gue bakalan nembak lo.” Ujar Restu terkekeh. Nesya pun ikut terkekeh.


“Res lo tau kan kalo gue..”


“Suka sama Gilang?” potong Restu. Nesya hanya menatapnya datar dan merasa bersalah.


“Gue tau koq. Tapi apa salahnya lo buka hati lo buat gue. Sampai kapanpun hati Gilang ngga akan pernah berubah untuk cewek itu.” Lanjut Restu. Nesya mengernyit.


“Yah. Gadis. Zahra namanya. Dan lo harusnya tau gue dan Gilang berselisih karna gadis itu. Tapi cuma dia yang bertahan. Dia ngga pernah tertarik gadis manapun kecuali Zahra.” Ujar Restu. Dia bahkan mengingat bahwa Zahra juga tidak pernah menyukainya. Nesya mulai memahami situasi ini.


“Jadi begini ceritanya.” Nesya mengangguk paham. Restu meraih tangan Nesya dan menggenggamnya.


“Mungkin kalimat ini udah banyak dipake untuk merayu wanita. Dan lo tau kalo gue di cap playboy di universitas ini. Tapi gue benar-benar suka sama lo sejak pertama lo hadir dalam hidup gue. Lo yang menyadarkan bahwa bukan hanya Zahra cewek di dunia ini. Ada lo. Dan gue sayang sama lo. Mau kan jadi pacar gue?” ujar Restu.


Nesya tampak berpikir panjang. Sesekali menatap Restu, bimbang. Bahkan sebelumnya Nesya tidak pernah berpikir bahwa ia akan jatuh cinta pada lelaki di depannya ini. Tapi? Apa salahnya membuka kesempatan untuk dia. Cukup lama Nesya berpikir akhirnya ia mengangguk. Restu sangat senang melihatnya. Ia mencium tangan Nesya yang ada di genggamannya, mendekati Nesya dan memeluknya.


“Makasih. Makasih Sa. Aku ngga akan kecewain kamu.”

__ADS_1


***


“Ah iya gue jadi curhat soal Restu sama lo.” Ujar Nesya sedikit menyesal. Zahra hanya menggeleng dan tersenyum.


“Nggapapa kalo emang kamu mau curhat sama aku. Ya biar gimanapun kita masih satu saudara kan?” ujar Zahra tersenyum. Nesya teringat itu dan tersenyum menampakkan giginya.


“Ah iya. Kita saudara.Yah karena kita saudara jadi ngga ada yang harus gue tutupin lagi dari lo.” Ujar Nesya masih tersenyum, ia meraih tangan Zahra. Zahra menatapnya heran.


“Ra. Perlu lo tau. Cerita tentang Gilang jadiin lo pelampiasan itu ngga bener. Dia sungguh-sungguh sayang sama lo. Itu cuma akal-akalan Restu. Dia ingin Gilang ngerasain gimana sakitnya ditinggal oleh orang yang dia sayang. Dia ingin buat gue cemburu saat dia ada sama lo.” Ujar Nesya, ia melepaskan genggamannya dari Zahra. Ia kembali menatap lain arah.


“Lo tau kan? Gue bakalan married.” Nesya menunduk. Zahra mengangguk. Dia tau dari Restu bahkan Reza juga mengatakan itu, tapi dia tidak mengetahui siapa pria itu yang akan menikahi Nesya.


“Maka dari itu dia ngga terima. Dan lo tau? Dia ngelakuin ini karena calon suami gue adalah..”


“Galang?” ujar Zahra sebelum Nesya mengucapkannya. Nesya menoleh. Ia mengangguk. Namun ada sesuatu yang tersirat di dalam manik mata Nesya.


“Kenapa? Kamu ngga bahagia?” tanya Zahra saat melihat raut wajah sedih Nesya.


“Sebenernya. Gue dulu cuma main-main, bilang kalo gue suka sama Galang. Itu semua karena gue pengen menghindar dari Restu. Gue kecewa sama dia yang udah selingkuhin gue. Waktu itu gue terlihat buruk banget. Gue begitu banyak minum sampai gue mabuk. Seseorang negur gue dan merampas gelas gue. Bukan satu dua kali dia nolongin gue.” Nesya menghela nafasnya. Matanya mulai memanas. Seakan air matanya akan tumpah saat ini.


“Bahkan dia belain gue di depan Restu hingga gue memberanikan diri, bilang bahwa gue pacar Galang dan sangat mencintainya.” Lanjutnya. Zahra terkejut mendengar ungkapan gadis itu. Zahra mengusap lembut bahu Nesya.


“Lalu gimana sekarang? Apa kamu udah bisa sayang sama Galang? Atau kamu masih menyimpan perasaan sama Restu?” tanya Zahra. Nesya menatap Zahra, air matanya mengalir seketika. Zahra buru-buru mengusap air mata Nesya itu.


“Gue, gue bodoh karena perasaan gue masih sama. Gue masih sayang sama Restu. Biar gimanapun kebersamaan gue sama Restu sudah cukup lama. Dan gue jahat. Jahat karena telah mempermainkan perasaan Galang.” Ujar Nesya, air mata itu terus mengalir. Zahra tidak tega melihatnya, ia meraih Nesya ke dalam pelukannya dan mengusap punggung Nesya, berusaha menenangkannya.


“Udah, kalo kamu udah ngga bisa cerita lagi jangan lanjutin cerita kamu.” Ujar Zahra menenangkan nya.

__ADS_1


“Gue cuma pengen lo tau kalo gue sama Gilang cuma sahabat ngga lebih. Gue emang salah udah mencoba untuk masuk dalam hati Gilang. Tapi gue ngga bisa karena dalam hatinya cuma ada lo.” Ujar Nesya di dalam pelukan Zahra.


Galang menatap kedua gadis itu dengan tatapan datarnya. Ia berniat memberikan dua botol minuman dingin untuk dua gadis itu. Namun apa yang ia dapatkan? Sebuah kenyataan yang mengiris hatinya. Ia tersenyum tipis dan mulai melangkahkan kakinya mendekati dua gadis itu.


__ADS_2