Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
12. Eps 11


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, Zahra sudah mau tinggal bersama Maya. Reza juga sudah pindah di sini, ia juga menepati janjinya akan mengurus perusahaan milik papanya.


Acara pertunangan Reza yang seharusnya di adakan beberapa bulan lalu pun harus tertunda karena papanya yang belum selesai mengurus pekerjaannya di luar kota. Keina pun memakluminya.


Bu Maya memberikan salah satu cabang cafe miliknya pada Bu Rahma karena selama ini telah menjaga putri kesayangannya. Dan juga karena ia teringat akan keinginan Zahra waktu kecil, akan membelikan ibunya toko kue.


Zahra bekerja di MaraCafe sambil menunggu panggilan kerja. Zahra melamar ke beberapa perusahaan yang menurutnya sesuai dengan ijazah kelulusannya. Tidak menunggu lama akhirnya Zahrapun di terima di salah satu perusahaan yang telah ia titipi lamaran.


Sudah lima bulan lamanya Zahra bekerja dikantor ini. Satu minggu dia absen karena sakit. Dan hari ini ia mulai bekerja kembali.


"Ra? Udah mendingan? Yakin mau berangkat?" Ujar mamanya khawatir.


Ya, sekarang Zahra telah tinggal dirumah Maya, dan memanggilnya mama, seperti Reza.


"Udah koq ma, udah baik." Ujar Zahra tersenyum


"Mau dianter sama Mang Udin aja?" Usul Maya.


"Ngga usah ma, Zahra bisa sendiri koq ke kantornya." Tolaknya tersenyum.


Mayapun tersenyum, setelah sarapan Zahra berpamitan untuk berangkat ke kantor.


Sampai dikantor, Zahra terkejut mendapati mejanya yang terdapat sebuah coklat, setangkai bunga dan amplop berwarna merah muda. Zahra pun penasaran dan membuka amplop itu.


Lekas sembuh 🖤


Itu isi pesannya. Tidak ada nama pengirim di amplop itu. Seorang OB melintas di depannya.


"Eh Cal." Panggil Zahra pada OB itu yang bernama Ical. Ical pun menoleh.


"Iya mbak? Ada yang bisa dibantu?" Tanya Ical mendekati Zahra.


"Tadi kamu liat ada yang ke mejaku ngga?" Tanya Zahra.


"Engga tuh, emang ada barang mbak Zahra yang ilang?" Tanya Ical.


"Ah engga, yaudah makasih." Ucap Zahra tersenyum lalu Ical pun pergi.

__ADS_1


Bingung dengan hadiah ini, namun Zahra tetap memakan coklat itu.


"Ra? Udah sembuh?" Tanya Fanya, rekan kerjanya.


Fanya menjabat sebagai asisten presdir di perusahaan ini, jabatan itu ia dapatkan satu minggu yang lalu. Saat pengangkatan presdir yang baru di perusahaan ini.


"Alhamdulillah udah nih. Eh gimana rasanya jadi asisten sang presdir?" tanya Zahra dengan wajah berbinar karena sahabatnya itu naik jabatan.


Meski baru mengenal lima bulan, Zahra dan Fanya sudah sangat akrab seperti sudah mengenal lama.


"Ya gitu deh, gilaa Ra, bosnya ganteng gitu gimana aku ngga seneng coba." ujar Fanya. Zahra terkekeh mendengar penuturan Fanya barusan.


Umur Fanya dua tahun di atas Zahra, namun sikapnya yang menggemaskan dan cerewet itu tampak sebaya dengan Zahra.


"Oh ya? Selain ganteng apa lagi? Beliau baik kan?" tanya Zahra. Fanya tampak berpikir sejenak.


"Sejauh ini sih, dia baik, tapi,- dia dingin orangnya. Ngomong cuma seperlunya. Satu lagi, tatapannya itu loh datar banget." ujar Fanya menilai bosnya.


"Tapi ya, untung dia ganteng, kalo engga? Aku pasti udah ngga betah lama-lama deket sama dia." sambung Fanya, lagi-lagi membuat Zahra terkekeh.


"Ah kamu bisa aja deh Nya, aduh kenapa jadi gosip sih pagi-pagi." tepis Zahra kemudian. Zahra melanjutkan makan cokelat tadi. Fanya mengernyit menatap Zahra.


"Kamu mau?" tawar Zahra menyodorkan cokelat itu, Fanya pun mengangguk. Zahra memberikan separuh cokelat itu untuk Fanya.


Setelah memakan sebagian cokelat itu Fanya menuju tempatnya. Zahra tersenyum simpul dan geleng-geleng melihat tingkah Fanya. Zahra kemudian mulai berkutik pada laptopnya.


***


Hari-hari seterusnya Zahra selalu mendapat kejutan kecil seperti ini. Hingga ia jengah, Zahra sengaja berangkat pagi untuk memastikan siapa yang meletakkan coklat-coklat itu.


Namun nihil, saat Zahra berangkat lebih pagi, tidak ada kejutan untuknya lagi. Seperti ada rasa kecewa.


Ya ampun kenapa dengan aku? Kenapa aku kecewa? batin Zahra, tanpa sadar ia tersenyum karena pikirannya sendiri.


Sudah tiga hari Zahra berangkat lebih pagi, namun ia tetap tak menemukan siapa pelaku yang menaruh coklat dan bunga di mejanya.


"Ra? Kamu koq kelihatan lesu banget? Kenapa?" tanya Fanya tiba-tiba saat melewati tempat Zahra. Zahra menghela nafas berat. Kemudian ia menatap Fanya penuh semangat.

__ADS_1


"Eh Nya? Kamu kan berangkat ke kantor pagi tuh? Kamu ada liat ngga? Orang yang mampir ke mejaku?" tanya Zahra. Fanya tampak berpikir.


"Eum, kalo liat yang lewat si banyak ya, ada Ical, Bobby, Reni, Dion, Dani, Resya, Dodi, Septia, Baron, Joko,-"


"Stop stop!" potong Zahra, membuat Fanya menghentikan kegiatan mengabsennya.


"Kamu mau nyebutin seluruh karyawan kantor apa gimana? Aku kan cuma tanya yang mampir di mejaku Nya." ujar Zahra jengah. Namun Fanya hanya terkekeh.


"Ah, aku ngga tau Ra, Ical kan juga suka mampir ke meja kamu tuh, nganterin kopi sama bersih bersih." timpal Fanya. Zahra melempar bolpoin ke arah Fanya yang disambut kekehan oleh Fanya.


"Emang kenapa si?" tanya Fanya kemudian. Zahra tampak menghela nafasnya berat.


"Kamu pernah makan cokelat dari aku kan waktu itu?" tanya Zahra. Fanya mengangguk.


"Yap. Masih ngga? Mau lagi donk." ujar Fanya. Zahra mengembungkan pipinya.


"Duh, soal makanan aja cepet." ujar Zahra lalu memberikan cokelat yang ia simpan di balik lacinya.


"Wah, baik banget sih Zahra, cantik deh. Makasih Zahraa" ujar Fanya setelah menerima cokelat itu. Zahra terkekeh lalu memutar bola matanya.


"Ngomong-ngomong koq kamu punya banyak banget cokelat sih di laci kamu?" tanya Fanya sambil memakan cokelat itu.


"Nah itu yang mau aku omongin sama kamu. Kan tadi aku tanya sama kamu, kamu liat ngga ada orang mampir di mejaku? Soalnya setiap aku berangkat, cokelat ini udah ada di mejaku Nya." ujar Zahra panjang lebar. Zahra melihat Fanya yang tampak berpikir. Namun tak kunjung memberi jawaban.


"Woyy Nya! Denger ngga sih?" tegur Zahra. Fanya menghela nafasnya.


"Denger koq. Aku ngga tau Ra, Ngga pernah liat orang mampir di meja kamu." Ujar Fanya. Fanya lalu berpamit untuk ke tempatnya lagi.


***


Sebelum pulang, Zahra selalu ke toilet. Setelah dari toilet ia kembali ke mejanya untuk mengambil tasnya dan pulang.


Saat mengambil tasnya, ia melirik secarik kertas di atas mejanya


Nggausah cari tau tentang aku, lama-lama juga kamu tau siapa aku, belum saatnya kamu tau Ra.


Zahra mengerutkan keningnya, ia menoleh tidak ada siapapun di sini. Ia mengangkat sebatang cokelat dan menatapnya.

__ADS_1


"Cokelat lagi? Ini orang pengen aku sakit gigi atau gimana sih?" gumam Zahra. Lalu beranjak dari tempat itu dan pulang.


Tanpa Zahra ketahui, seseorang tengah menatapnya dengan senyum mengembang di wajahnya.


__ADS_2