
“Gue bakalan batalin perjanjian gue dengan Gilang. Asalkan lo mau nerima gue dan tinggalin Gilang selamanya.” Tawar Restu, Zahra tersentak.
“Gimana Ra?” tanya Restu saat Zahra tidak menjawabnya. Zahra tampak berpikir,
Zahra menatap Restu dengan lesu.
Maafin aku Lang, ini demi perusahaan kamu. Batin Zahra.
Restu melihat kebimbangan dalam wajah Zahra, ia mengeluarkan ponselnya. Restu tampak berkutik dengan ponselnya lalu menyodorkannya pada Zahra.
Zahra tampak terkejut melihat sebuah foto dua insan yang sedang tertawa lepas. Itu Gilang, dengan seorang gadis.
“Ngga mungkin!” tepis Zahra mengembalikan ponsel itu pada Restu. Restu mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum pada Zahra.
“Apanya yang ngga mungkin Ra? Gilang sama cewek itu deket banget. Mungkin mereka pacaran karena selama di Australia, mereka selalu pergi bersama kemana-mana.” Ujar Restu menjelaskan. Zahra mencoba untuk tetap berpikir positif.
“Namanya Nesya, gue, Gilang dan Nesya, satu kampus. Dan kami bersahabat Ra.” Ujar Restu saat melihat Zahra hanya terdiam. Zahra terkejut mendengar itu. Karena setahu Zahra, Gilang sangat membenci Restu, bahkan di gedung sekolah waktu itu, tatapan Gilang sangat ingin membunuh Restu. Dan Restu juga sama seperti Gilang, mana mungkin mereka bersahabat.
“Gue tahu, lo ngga percaya kan kalo gue sama Gilang sahabatan. Tapi gimana lagi Ra? Kenyataannya gitu koq. Dulu waktu kita SMP, Gilang benci sama gue karena gue deketin lo, karena Gilang juga suka sama lo. Di Australia, gue ketemu lagi di Universitas yang sama dengan Gilang, dan siapa sangka kita bakalan deket waktu itu. Lalu gue sama Gilang kenal sama cewek yang bernama Nesya, dan menjalin persahabatan dengan dia. Dan sekarang, Gilang benci sama gue lagi, dengan alasan yang sama, namun dengan gadis yang berbeda. Lo pasti tau siapa gadis yang gue maksud itu.” Sambung Restu, Zahra makin terkejut.
Apa gadis yang ada dalam foto itu yang Restu maksud. Batin Zahra.
Restu tampak tersenyum senang saat melihat Zahra yang tampak memikirkan sesuatu.
“Kalo lo berpikir gadis yang ada dalam foto ini yang gue maksud, itu bener.” Tebak Restu yang seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Zahra.
“Aku tau, ini cuma akal-akalan kamu doang kan? Biar aku mau jauhin Gilang.” Ujar Zahra mencoba untuk tidak terpengaruh oleh ucapan Restu barusan.
“Terserah kalo lo ngga percaya sama omongan gue. Tapi suatu hari nanti lo tau kebenarannya, penawaran gue soal lo mau apa ngga jadi cewek gue tetap berlaku koq, sampai kapanpun. “ ujar Restu lalu meninggalkan Zahra.
Zahra terpaku di tempatnya. Zahra teringat ucapan Restu saat itu. Gadis yang waktu itu ada dalam ponsel Restu, kini ada di hadapan Zahra sekarang.
“Lo koq bisa ada di sini? Oh ya kapan lo ke Indonesia?” tanya Gilang pada Nesya, Nesya menepuk lengan Gilang.
“Jodoh mungkin hahaha, gue balik kemaren.” Nesya tertawa renyah begitu juga Gilang.
“Bisa aja lo, oh gitu.” Ujar Gilang di sela tawanya, Zahra melihat keakraban di antara Gilang dan Nesya. Ia tidak tahan. Apa mungkin ucapan Restu waktu itu benar? Batin Zahra.
Zahra memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
“Ohya mana nih cewek lo yang mau lo kenalin ke gue?” tanya Nesya dengan tersenyum.
Dulu Gilang pernah mengatakan pada Nesya bahwa dia memiliki teman yang spesial menurutnya. Bahkan suatu saat nanti, Gilang akan menjadikannya kekasih. Nesya sangat senang mendengarnya dan ingin bertemu dengan Zahra.
“Oh iya sampe lupa, nih A,- loh dia ke mana?” Gilang terkejut saat Zahra sudah tidak ada di tempatnya.
__ADS_1
“Kenapa Lang?” tanya Nesya yang juga ikut khawatir.
“Entahlah dia pergi ke mana.” Ujar Gilang. Reza menepuk bahu Gilang.
“Kenapa Lang?” tanya Reza. Gilang menatap Reza lesu.
“Ara ngga tau ke mana.” Ujarnya, Reza terkekeh mendengarnya.
“Zahra lagi sama nyokap dan bokap gue, yuk ke sana. Sya, papa juga nyariin lo tuh. Yuk.” Ujar Reza mengajak Gilang dan Nesya.
Ya, Nesya adik tiri Reza yang melanjutkan studinya di Australia. Nesya mungkin terlihat lebih modis dari Zahra, namun Gilang tidak pernah meliriknya sedikitpun, apalagi setelah mengetahui bahwa Nesya adik dari sahabatnya.
Gilang pernah menceritakan pada Nesya, bahwa Zahra yang ia sukai sangat dekat dengan Reza, kakaknya. Dan Gilang berpikir Zahra dan Reza saling mencintai sehingga membuat Gilang sedikit putus asa akan perasaannya. Namun Nesya mensupportnya agar tidak menyerah. Dari cerita itulah Nesya sangat ingin tahu, seperti apakah sosok Zahra, yang telah mencuri perhatian yang lebih dari Gilang bahkan Reza juga.
Reza, Gilang, dan Nesya menuju meja kebesaran keluarga Keina. Orangtua Reza memperkenalkan Nesya pada keluarga Keina. Begitu juga Zahra.
Zahra dan Nesya begitu terkejut mendengarnya.
Aku relain Keina bersama Reza, karena Reza ternyata kakakku sendiri. Dan sekarang Nesya saudaraku juga. Haruskah aku merelakan cintaku untuk saudaraku lagi? Batin Zahra.
***
Zahra diantar pulang oleh Gilang. Dalam perjalanan, Zahra terdiam dan terus memandangi jalan lewat kaca pintu mobil Gilang. Gilang menatap Zahra heran.
“Ra? Kamu kenapa?” tanya Gilang khawatir.
Gilang merasa ada yang aneh setelah pulang dari pesta pertunangan Reza dan Keina tadi. Zahra banyak diam. Hingga mereka sampai di rumah Zahra. Merekapun turun. Zahra hendak masuk ke dalam rumahnya, namun Gilang memanggilnya.
“Ra, besok mau ngga jalan sama aku?” tanya Gilang. Zahra tampak berpikir.
“Boleh.” Ujar Zahra singkat. Meski hanya jawaban singkat yang Gilang dapat, namun cukup untuknya tersenyum.
“Oke, besok aku jemput jam delapan. Bye Ra” Ujar Gilang lalu melambaikan tangannya
Zahra menatap kepergian Gilang dengan sedu.
Sebuah panggilan masuk membuat Zahra mengangkatnya. Zahra masuk ke dalam rumahnya dan menjatuhkan dirinya pada sofa.
“Halo Res?”
“Halo Ra? Gimana? Udah tau Nesya siapa?” tanya Restu di seberang telefon.
“Ya, dia saudara aku.” Ujar Zahra lesu. Zahra bangkit dan berjalan menuju kamarnya.
“Saudara? Koq bisa?” Tanya Restu penasaran. Zahrapun menceritakannya. Entahlah Zahra mulai percaya dengan ucapan Restu.
__ADS_1
“Lo inget kan Ra? Gue sama Gilang sama-sama menyukai Nesya, lo udah liat sendiri kan Nesya itu cantik. Gue sama Gilang bersaing waktu itu, gue menang, gue yang udah dapetin Nesya. Tapi Gilang ngga pernah mau ninggalin Nesya, ada aja caranya untuk gangguin kencan gue sama Nesya. Dengan berat hati gue ngelepas Nesya buat dia. Dan gue teringat sama lo. Gue jahat emang, gue inget lo waktu gue sakit hati. Tapi gimana lagi Ra, lo cinta pertama gue.” Ujar Restu panjang lebar, Zahra terdiam merenungi ucapan Restu.
“Tapi Gilang ngga terima, gue udah relain Nesya buat dia, dan gue nyari lo. Gilang justru kembali ngerebut lo dari gue. Gue denger Nesya bakalan married sama cowok Australia, makanya Gilang ngejar lo lagi. Gue minta lo pikirin baik-baik. Gilang ngga pernah beneran suka sama lo. Dia cuma jadiin lo pelampiasannya.” Tambah Restu.
Zahra masih terdiam mencerna ucapan Restu.
Benarkah itu? Batin Zahra.
“Ra? Lo masih di situ kan?” tanya Restu khawatir.
“Ya aku masih di sini Res. Oh ya besok kamu ada acara ngga?” tanya Zahra, Restu tersenyum senang mendengarnya.
“Sepertinya ngga ada deh.” Ujar Restu. Zahra mengatakan bahwa besok dia baru akan memberitahu kapan dan di mana mereka akan bertemu. Setelah itu sambungan ditutup.
Zahra merebahkan dirinya di atas ranjangnya dan memejamkan matanya, dia lelah menghadapi kenyataan hari ini.
***
Gilang sangat bahagia hari ini, dia merapikan kemejanya lalu memencet bel di depan rumah Zahra. Hari ini dia akan membuat kejutan lagi untuk Zahra. Kemarin dia gagal mengungkapkan perasaannya karena kedatangan Nesya, makanya dia akan mengulanginya.
“Gilang?” ujar Reza terkejut saat membuka pintu rumahnya.
“Hai bro! Ara mana?” tanya Gilang tanpa basa basi. Reza tersenyum simpul.
“Gue mencium bau-bau mau kencan nih.” Ujar Reza membuat Gilang terkekeh.
“ Tau aja lo, panggilin Aranya donk.” Pinta Gilang, Reza bersedekap menatap Gilang datar.
“Lo nyuruh gue?” tanya Reza datar, Gilang menatapnya dengan kerutan di keningnya.
“Ayolah Za, gue ngga becanda nih.” Ujar Gilang memelas.
“Gue juga ngga becanda tuh. Minta baik-baik ntar gue panggilin Zahra buat lo” Ujar Reza masih bersedekap. Gilang menghela nafasnya berat lalu mencoba untuk tersenyum mengikuti perintah calon kakak iparnya yang banyak maunya itu.
“Bang Reza, bisa tolong panggilin Ara ngga buat gue?” ujar Gilang lirih mencoba sesopan mungkin.
Dari belakang Reza terdengar kekehan Zahra yang mendengar ucapan Gilang barusan. Zahra pun keluar.
“Udah Lang, ini bukan kamu banget tau.” Ujar Zahra di tengah kekehannya.
Gilang menatap Zahra sedikit malu. Ya, memang bukan Gilang kalau harus bersikap seperti itu.
“Udah siap Ra? Kenapa ngga langsung keluar aja sih? Kan aku jadi dikerjain nih sama cecunguk satu.” Ujar Gilang mendengus, menatap Reza yang sedang terkekeh di depannya.
“Apa lo bilang? Cecunguk? Lo tuh cecunguk.” Ujar Reza tidak terima.
__ADS_1
“Huss kalian tuh ya? Udah kayak anak kecil aja. Udah ah bang, aku pergi dulu ya sama Gilang.” Pamit Zahra pada Reza. Reza pun mengangguk.
Gilang dan Zahra memasuki mobil Gilang. Mobil itu pun keluar dari pelataran rumah Zahra.