
"Nesya?" Zahra terkejut melihat Nesya yang menggenggam tangan Galang. Ia mendekati mereka.
Galang terkejut melihat Zahra yang sudah berada di belakangnya. Galang buru-buru melepaskan genggaman tangan Nesya.
“Sayang?” Zahra mengulang ucapan Nesya menatap Nesya dan Galang bergantian. Ia menatap Galang dengan mata berkaca-kaca.
“Gilang? Kamu ada hubungan sama Nesya? Jadi selama ini kamu pacaran sama Nesya?” Air mata yang terbendung hendak menetes di pipi Zahra. Ia menutup mulutnya. Ia tidak percaya bahwa selama ini Gilang mempunyai kekasih dan dia adalah saudara tirinya.
“Selama ini aku percaya sama kamu, kalo kamu ngga ada hubungan apa-apa sama Nesya. Aku percaya sama kamu Lang. Tapi apa? Ternyata ini?” Zahra tidak tahu harus mengucapkan apa. Yang ia rasakan hanya kecewa. Kecewa karena ternyata orang yang ia sayangi telah mempunyai kekasih. Bukan, tapi karena ia merasa dibohongi selama ini. Selama ini Zahra percaya bahwa Gilang dan Nesya hanyalah sahabat, tapi ternyata lebih dari itu. Zahra bingung sekarang harus apa. Ia ingin lari sejauh mungkin tapi ia tidak tahu harus kemana, ini bukan tempatnya ia tidak tau arah jalan pulang.
“Aku bisa jelasin semuanya Ra, kamu mau kan dengerin aku?” ucap Galang lirih. Zahra hanya bisa memalingkan wajahnya.
Nesya merasa ada yang janggal. Ia mengernyit bingung. “Gilang?” gumamnya. Ia menatap kekasihnya dan Zahra bergantian. Zahra menoleh pada Nesya heran. Sedangkan Galang mengusap wajahnya kasar lalu menghembuskan nafas berat. Kacau? Mungkin itu yang sedang ia alami sekarang. Semuanya benar-benar akan berakhir sekarang.
“Aku akan jelasin semuanya sama kamu, dan sama kamu Zahra.” Ucap Galang lembut pada Nesya dan Zahra bergantian.
“Tapi ngga di sini, kita harus ke rumah sakit sekarang. Nesya? Kamu ikut ya.” Lanjutnya. Nesya mengangguk. Merekapun masuk ke dalam mobil mereka masing-masing.
Dalam perjalanan, Zahra memilih untuk diam. Pikirannya entah melayang kemana sekarang. Memikirkan apa ini mimpi atau nyata. Seakan yang ia alami itu cuma mimpi. Akankah kisahnya hanya sebatas angin lalu?
Sampai di rumah sakit Zahra masih tetap diam. Galang membawa Zahra dan Nesya menemui kedua orangtuanya di sana. Galang mendekati ayahnya sebelum kemudian ia memasuki ruangan adiknya itu.
Ceklek... Galang melangkahkan kakinya menemui kembarannya. Ia duduk di samping ranjang Gilang. Gilang tampak tersenyum tipis pada Galang.
“Maaf! Maafin gue Lang. Gue ngga bisa bener-bener jagain Zahra. Semuanya kacau. Harusnya dari awal gue jujur kalo gue bukan lo. Harusnya gue jujur kalo kita kembar.” Racau Galang. Gilang tampak terdiam. Ia tersenyum tipis pada Galang.
“Ini bukan salah lo. Tapi salah gue. Harusnya gue ngga minta lo buat ngelakuin ini. Jangan salahkan diri lo sendiri karena ini salah gue.” Ujar Gilang lirih. Galang menatapnya datar.
“Gimana keadaan lo sekarang?” tanya Galang mengalihkan pembicaraan. Gilang tersenyum.
__ADS_1
“Gue baik. Sebentar lagi operasi gue dilakukan.” Ujar Gilang lirih. Galang menatap adiknya itu. Hatinya teriris, ia merasa sebagian dari dirinya terluka menatap adik kembarnya itu.
“Galang. Kalo nanti terjadi sesuatu sama operasi gue. Gue titip Ara ya. Gue percaya sama lo.” Ujar Gilang tersenyum. Galang terkejut mendengarnya. Ia melepaskan genggamannya pada tangan Gilang.
“Lo ngomong apa sih? Ngga akan ada sesuatu! Operasi itu akan lancar. Lo bisa ngelaluin ini semua, Zahra butuh lo bukan gue!” tegas Galang.
“Lo ngga mau nurutin kemauan gue? Gue mohon, ini untuk yang terakhir. Gue ngga bisa percaya sama orang lain. Gue ngga mau liat Ara sedih.” Pintanya. Galang menghela nafas berat.
“Nesya? Sebentar lagi gue akan married sama Nesya, gue..”
“Nesya ngga bener-bener suka sama lo. Dia cuma jadiin lo pelariannya dari Restu. Bahkan lo juga tau itu.” Potong Gilang. Galang terdiam.
“Pesen gue cuma satu. Jagain Ara sekali lagi buat gue.”lanjut Gilang.
***
“Ra, ikut aku sebentar.” Pinta Galang. Zahra menatap Galang. Wajahnya tampak lesu. Tanpa berpikir panjang, Zahra berdiri dan mengikuti Galang di belakangnya. Kembali Galang membuka ruangan adiknya itu.
“Lang” panggil Galang pada adiknya. Gilang menatap Zahra di samping Galang. Zahra terkejut melihat apa yang ada di depannya. Entah sejak kapan air mata membendung di pelupuk matanya.
Gilang tersenyum senang menatap wanitanya. Akhirnya ia dapat bertemu kembali dengan wanita yang sangat ia cintai itu.
“Dia Gilang yang asli. Gue bukan Gilang, tapi Galang.” Ucap Galang lirih, ia merasa bersalah saat ini. Ia siap jika Zahra benar-benar akan membencinya sekarang. Untuk kedua kalinya Zahra terkejut. Ia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Ia duduk di sebelah ranjang Gilang dan meraih tangan lemah itu.
“Gilang?” ujar Zahra lirih. Ternyata selama ini dia salah, yang salama ini ada di dekatnya bukan Gilang. Melainkan Galang, saudara kembar Gilang. Gilang tersenyum hangat menatap wanita yang selama ini ia rindukan.
“Gilang, Zahra. Gue keluar dulu.” Pamit Galang. Galang melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
Zahra menatap Gilang yang terbaring lemah di atas ranjang nya. Hatinya sakit. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Tangan Gilang terulur menghapus air mata itu.
__ADS_1
“Ara. Aku mohon jangan menangis.” Gumam Gilang lirih, bukan berhenti, justru air mata itu semakin deras mengalir.
“Maafin aku Ra. Aku ngga bisa buat kamu bahagia. Aku selalu aja bikin kamu sedih.” Ujar Gilang. Gilang terus menghapus air mata itu. Tangannya terhenti saat Zahra menggenggam tangan itu. Zahra masih menempelkan tangan Gilang di pipinya.
“Aku ngga tau harus menyalahkan siapa. Semua ini terasa mimpi Lang. Kamu yang menghilang ngga ada kabar tiba-tiba setelah tujuh tahun kamu nemuin aku lagi. Kamu ngisi hari-hari aku, pikiran aku. Kamu yang tiba-tiba menghilang lagi beberapa bulan lalu datang dengan wajah yang sama namun dengan orang yang berbeda. Tiba-tiba aku ada di sini bertemu lagi dengan Gilang yang sama. Dengan keadaan yang berbeda.” Ujar Zahra kembali meneteskan air matanya. Buru-buru ia menghapusnya. Bahkan ia sendiri tidak tahu air matanya menetes karena apa.
“Aku ngerasa ini mimpi Lang. Bisa bertemu lagi sama kamu. Orang yang dulu selalu aku benci setiap kali aku melihatnya. Orang yang selalu membuatku berpikir bagaimana caranya aku bisa menjauh dari dia, bagaimana caranya aku tidak lagi dijaili sama dia. Yang tanpa sadar aku hanya terfokus sama kamu Lang. Semuanya tentang kamu. Selama bertahun-tahun aku baru sadar kalo selama ini cuma ada kamu di hati aku. Aku ngga mau kehilangan kamu lagi.” Sambungnya. Gilang tersenyum senang perasaannya benar-benar terbalaskan oleh Zahra.
Gilang menarik tangannya dan membawa tangan Zahra padanya. Ia mengecup punggung tangan Zahra. Ia begitu mencintai wanita ini. Wanita yang dulu selalu ia ganggu. Entah mengapa ia hanya ingin mengganggu Zahra. Bahkan setelah jauh dari Zahra pun, ia hanya memikirkannya. Banyak wanita yang ingin mendekatinya. Namun Gilang selalu menolaknya. Hanya Zahra yang ada di hatinya.
“Ra. Janji sama aku. Kamu ngga akan pernah lupain aku kalo aku ngga ada di dekat kamu. Aku sayang sama kamu Ra.” Ujar Gilang lirih. Air mata itu kembali meluruh.
“Sampai kapanpun aku ngga akan pernah lupain kamu.” Ucap Zahra tersenyum dalam tangisnya.
Ceklek.. pintu itu terbuka menampakkan seorang dokter di sana. Dokter itu mengatakan bahwa Gilang harus segera di operasi. Zahra menatap Gilang yang menggenggam tangan Zahra erat.
“Kamu pasti bisa lewati ini Lang. Aku ada di sini nungguin kamu. Kamu pasti sembuh.” Ujar Zahra tersenyum hangat.
“Aku sayang samu kamu Ra.” Ujar Gilang lirih. Zahra mendekatkan wajahnya pada Gilang lalu mengecup kening Gilang.
“Aku juga sayang sama kamu Lang.” Ujar Zahra lirih di depan wajah Gilang. Zahra mundur beberapa langkah membiarkan para petugas rumah sakit membawa Gilang ke ruang operasi.
Hatinya kembali merasa perih. Ia sangat terpukul mengetahui keadaan Gilang yang sebenarnya. Zahra berjalan dengan lemas keluar dari ruangan itu. Matanya menangkap dua sejoli yang duduk di kursi tunggu. Zahra berdiri mematung di tempatnya. Nesya mendekati Zahra.
“Boleh ngomong bentar ngga sama Lo?” pinta Nesya lirih. Nesya takut Zahra akan membencinya karena kedekatannya dengan Gilang. Zahra hanya mengangguk. Nesya mengajak Zahra duduk di kursi tunggu di mana ada Galang di sana. Nesya mengisyaratkan pada Galang untuk meninggalkan mereka berdua. Galang pun pergi dari sana. Mereka pun duduk bersama.
“Boleh gue jujur sesuatu sama lo?” tanya Nesya. Zahra menoleh lalu mengangguk. Nesya menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya pada Zahra.
“Gue suka sama Gilang.”
__ADS_1