Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
30. Eps 29


__ADS_3

Seperti biasa Galang menjemput Zahra di rumahnya. Ia menatap sosok gadis yang selalu terngiang di pikirannya akhir-akhir ini, ia menggeleng buru-buru menepis pikirannya. Ia tidak boleh seperti ini.


Zahra menatapnya heran. “Lang? Gilang?” panggilnya sambil melambaikan tangannya di depan Galang. Galang tersadar.


“Eh iya Ra, udah siap?” Zahra hanya mengangguk.


Galang mempersilahkan Zahra masuk ke dalam mobilnya. Mobil itupun melaju meninggalkan rumah Zahra.


Seperti biasa sampai di depan gerbang kantor Zahra selalu meminta Galang untuk menurunkannya. Namun kali ini Galang membawa Zahra sampai di depan kantor karena memang semua orang sudah tahu tentang hubungan mereka.


"Lang? Gimana kalo semua orang gosipin kita?" tanya Zahra khawatir. Galang hanya tersenyum menatap Zahra.


"Biarin aja. Toh dari kemarin semua orang udah gosipin kita berdua." ujar Galang dengan santai.


Galang turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Zahra.


"Makasih." ucap Zahra tersenyum.


Baru selangkah meninggalkan mobil, Fanya menegur mereka. Akhirnya Zahra masuk ke dalam kantor bersama Fanya.


"Aku duluan ya Lang." ujar Zahra. Galang mengangguk tersenyum pada Zahra. Tidak disangka ia mengelus puncak kepala Zahra. Zahra tampak gugup dibuatnya, apalagi ada Fanya di sampingnya.


"Nanti kita makan siang bareng ya." ajak Galang.


"i.. iya Lang." ujar Zahra gugup. Galang berjalan lebih dulu ke dalam kantor.


***


Sampai di bilik mejanya, Nella menegur Zahra yang menatap layar monitornya dengan tatapan kosong.


"Ra? Kenapa?" tanya Nella. Zahra terkejut menoleh pada Nella.


"Eum, nggapapa Nel." ujarnya gugup.


Zahra membayangkan kejadian tadi saat di depan kantor. Entah mengapa ada perasaan aneh. Bukan pertama kalinya ia dekat dengan Gilang, mengapa kali ini berbeda. Padahal dia orang yang sama.


"Ra. Berkas kemarin udah kamu kasih ke Bu Fia belum?" tanya Fanya yang tiba-tiba ada di depan mejanya.


"Ah iya, lupa. Aku akan antar sekarang." ujar Zahra mengambil berkas di atas mejanya dan mengantarnya ke ruangan Bu Fia.


"Itu anak kenapa sih?" tanya Fanya pada Nella. Nella hanya mengangkat kedua tangannya karena ia juga tidak tahu. Fanya menghela nafas lalu meninggalkan tempat itu.


Tidak terasa sudah saatnya istirahat makan siang. Galang mengajak Zahra ke cafe di depan kantor. Tempat di mana ada Cappucino kesukaan Zahra.


"Hemmm, enak juga ya cappucino ini." ujar Galang. Zahra mengangguk.


"Iya kan? Nih recommended banget pokoknya." ujar Zahra tersenyum bangga.


Galang menatapnya tersenyum menatap wajah Zahra. Sesekali ia menyesap Cappucinonya. Bunyi telfon di sakunya membuat ia mengalihkan pandangannya dari Zahra. Ia menatap layar ponselnya.


"Ayah?" gumamnya.


"Siapa Lang? Koq ngga diangkat?" tanya Zahra penasaran.


"Ayah. Aku angkat telfon dulu ya." ujar Galang berpamitan. Zahra mengangguk mempersilahkan Galang mengangkat telepon itu.


Galang berdiri sedikit menjauh dari Zahra.


"Halo yah?"


"Gilang sadar Lang, kamu harus pulang secepatnya." ujar ayahnya dari seberang telefon.

__ADS_1


"Ohya? Baik, Gal,-" ucapnya terhenti lalu menatap Zahra yang sedari tadi menatapnya.


"Aku akan pulang secepatnya yah." lanjutnya.


"Ayah tunggu. Kamu baik-baik aja kan di sana?"


"Iya aku baik koq yah. Nanti malam aku pulang." ujar Galang. Tidak lama kemudian panggilanpun berakhir.


Galang duduk kembali di samping Zahra.


"Kenapa Lang? Ada kabar baik?" tanya Zahra saat melihat Galang yang tampak bahagia.


"Ya, baik, baik banget Ra. Gil, eum.. Oma sadar dari komanya." ujar Galang. Zahra tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Ohya? Syukurlah." Ujar Zahra tersenyum dan menggenggam tangan Galang. Galang tersentak. Ia kembali mengingat akan perasaannya pada Zahra saat ini. Haruskah secepat ini melepas Zahra, wanita yang baru saja ia cintai. Sejenak ia menghela nafas beratnya. mengingat bahwa ia harus pergi dari kehidupan Zahra.


"Kenapa Lang?" Tanya Zahra cemas saat melihat perubahan ekspresi wajah Galang.


"Aku.. nanti malam aku pulang ke Australia." ujar Galang. Zahra tersenyum masih menggenggam tangan Galang.


"Ya ampun Gilang. Apa sih yang bikin kamu cemberut? Kamu takut kangen sama aku ya?" Zahra mencoba menggoda lelaki itu. Galangpun terkekeh.


"Iya, aku bakalan kangen sama kamu Ra."


"Kali ini kamu harus janji, kalo kamu ngga akan ninggalin aku lagi." ujar Zahra. Untuk kedua kalinya ia tersentak.


Galang tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu Zahra hanya menginginkan Gilang, bukan dirinya. Apa keadaannya akan tetap sama saat Gilang kembali. Galang merasa cemas sekarang.


"Aku janji akan pulang secepatnya." ujar Galang tersenyum tipis.


***


Reza menatap sosok sahabatnya yang tengah gelisah di depannya.


"Gue, Gilang udah sadar dari komanya." Ujarnya kemudian. Reza menatap Galang dengan rona bahagianya.


"Alhamdulillah dong kalo gitu. Kapan dia sadar Lang?" tanya Reza tak sabar mendengar kabar sahabatnya itu.


"Tadi siang." ujarnya sedikit lesu. Reza mengernyit heran.


"Lo kenapa? Adek lo siuman koq lo lesu gitu?" ujar Reza menatap heran Galang. Galang menatap Reza dengan lesu.


"Itu artinya gue harus lepasin Zahra." gumam Galang. Reza tersenyum, ia berdiri menghampiri Galang yang berdiri di seberangnya. Reza menepuk ringan bahu Galang.


"Gue tau perasaan lo sama Zahra kayak gimana sekarang. Tapi mau gimana lagi. Gue juga ngga bisa bantuin lo." ujar Reza. Galang menoleh.


"Gue memang harus menerima konsekuensinya. Jika memang ini akhir dari kisah gue sama Zahra. Gue siap kehilangan dia demi adek gue." ujar Galang. Ia duduk meninggalkan Reza yang berdiri di tempatnya.


"Gue memang udah salah dari awal. seharusnya gue jujur sama Zahra kalo gue bukan Gilang. Harusnya gue ngga pura-pura amnesia untuk Gilang." sambungnya.


Galang menghela nafasnya. Ia sadar amnesia yang ia buat justru akan mendekatkannya dengan Zahra.


"Gue rela Zahra sam Gilang. Tapi gue ngga rela kalo sampe Zahra benci sama gue. Gue takut setelah Zahra tau semuanya, dia jadi benci sama gue." ujar Galang lesu.


"Gue ada ide." lanjutnya. Reza mengernyit heran.


"Ide?" tanya Reza. Galang mengangguk.


"Gue minta izin sama lo, buat ngajak Zahra pulang ke Australia. Gue.."


"Lo gila?" serobot Reza memotong ucapan Galang. Galang menggeleng.

__ADS_1


"Apa boleh buat, Gilang hanya butuh support dari Zahra sekarang. Dan gue... Gue cuma ingin di samping Zahra untuk terakhir kalinya. Please bantu gue. Ijinin Zahra ikut gue." ujar Galang memohon. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.


"Tapi.."


"Lo peduli kan sama Gilang?" tanya Galang, setelah beberapa saat. Reza pun mengangguk. Galang tersenyum lalu meraih Reza dan memeluknya sejenak.


"Makasih. Gue janji sama lo, ngga akan nyakitin Zahra." ujar Galang. Reza menepuk bahu Galang dan tersenyum.


***


"Kamu yakin mau bawa aku?" tanya Zahra saat di dalam mobil.


Galang membujuk Zahra dengan mengatakan bahwa oma ingin bertemu dengan gadis yang telah membuat Gilang selalu ingin ada di dekatnya dan rela jauh dari kedua orangtuanya. Dengan tersipu malu akhirnya Zahra mau ikut bersama Galang ke Australia.


Beberapa jam berlalu, Galang dan Zahra telah sampai di sebuah apartemen. Galang sengaja membawanya ke apartemennya, di sana ada seorang pembantu dan juga mamanya.


"Gal,-" ucapan mamanya terhenti saat mendapat tatapan tajam dari Galang. Zahra menatap Leona-Mama Galang dengan heran.


"Kamu ngga bilang mau pulang sayang. Oh ini?" Tatapan Leona jatuh pada wanita di sebelah Galang.


"Zahra tante." ujar Zahra memperkenalkan diri. Leona tersenyum menyambut tangan Zahra lalu meraihnya ke dalam pelukannya.


"Duduk yuk sayang." ajak Leona pada Zahra.


Mereka duduk di ruang tamu dan membicarakan kedekatannya dengan Gilang. Leona tampak berkaca-kaca saat Zahra terus membicarakan Gilang di depannya, sedangkan Galang hanya menunduk dengan tatapan kosong. Zahra menatap heran pada Galang dan juga Leona.


"Tante? Tante kenapa?" tanya Zahra saat menyadari


mata Leona yang berkaca-kaca itu.


"Ah nggapapa Ra. Tante cuma terharu aja sama hubungan kamu." elak Leona. Ia tersenyum tipis mengingat Gilang, putra bungsunya.


"Oh iya tante? Kata Gilang, oma udah sadar dari komanya. Gimana keadaannya sekarang?" ujar Zahra menatap Leona dan Galang bergantian. Leona tersentak karena ucapan Zahra. Ia menatap Galang seakan menuntut jawaban.


"Eum.. Iya kita besuk oma besok ya. Kamu pasti capek kan? yuk aku anter kamu ke kamar tamu." Bukan Leona yang menjawab, tapi Galang. Leona menghela nafas lega saat Zahra berdiri mengikuti Galang.


"Aku permisi dulu ya tante." pamit Zahra. Leonapun mengangguk mempersilahkan Zahra ke kamar tamu.


Setelah mengantar Zahra ke kamarnya, Leona menemui Galang. Ia menuntut jawaban pada Galang. Dengan menghela nafas berat Galang menceritakan semua kebohongannya pada Zahra selama ini.


***


Zahra menatap jendela kamarnya. Ia tersenyum membayangkan perlakuan baik Leona padanya. Akankah hubungannya direstui oleh keluarga Gilang? Itulah yang ia pikirkan saat ini. Ia duduk di tepi ranjang Queen size itu. Ia tidak menyangka berada di sini. Ia tidak menyangka bahwa ia akan diperkenalkan dengan keluarga Gilang secepat ini.


Zahra memegang lehernya dan mengelusnya.


"Haus banget deh." gumamnya. Ia menatap pintu kamar yang tertutup. Lalu berjalan mendekati pintu itu dan membukanya.


"Koq bisa sih kamu ceroboh banget Galang! Apa kamu ngga mikirin perasaan cewek itu yang udah kamu bohongin. Sekarang apa? Kamu justru punya perasaan sama cewek itu." ujar Leona heran menatap Galang. Galang menunduk lesu.


"Galang tau, Galang salah ma. Tapi ini semua udah terjadi. Galang ngga tau harus gimana lagi. Semakin Galang dekat sama Zahra Galang semakin sayang sama dia." ujarnya lesu. Leona menatap Galang lembut.


"Apa yang harus mama lakuin sama putra sulung mama ini?" ujarnya lembut mengelus pundak Galang.


"Eh iya mama juga kangen banget sama kamu, kamu sih lama banget ngga pulang-pulang." ujar Leona tersenyum pada Galang. Galang mengernyit heran karena perubahan sikap mamanya.


"Eh Zahra, ada apa? Ada yang kamu butuhin?" seru Leona membuat Galang terkejut dan menoleh pada Zahra.


"Ooh, jadi karena ini mama tiba-tiba mengalihkan pembicaraan tadi." batin Galang.


"Ah aku haus tante makanya aku keluar." ujar Zahra tersenyum. Leona menepuk bahu Galang sebelum ia berjalan mendekati Zahra. Mereka berjalan ke arah dapur meninggalkan Galang yang berdiri terpaku di tempatnya.

__ADS_1


"Apa Zahra denger semuanya?" gumam Galang.


__ADS_2