
Mata Zahra menangkap seseorang di pintu masuk. Zahra melepaskan pelukannya.
"Nah itu dia Reza." ucap Zahra membuat Keina menoleh.
Senyum yang tadinya mengembang di wajah Keina secara perlahan memudar bersamaan dengan langkah kaki Reza yang semakin mendekat hingga Reza sampai di meja Zahra. Lalu duduk di depan Zahra dan Keina. Mata Reza tanpa sengaja menatap mata Keina. Membuatnya terpaku sejenak.
"Gimana Za? Udah selesai urusannya?" Tanya Zahra.
"Ah iya? Kenapa Ra?" Reza mengalihkan pandangannya, dan menatap Zahra.
"Gimana? Udah selesai urusannya?” ulang Zahra.
"Ah iya, udah Ra.” Ujar Reza sedikit gugup.
"Eh iya kenalin, Kei ini Reza , dan Za, ini Keina." Ujar Zahra memperkenalkan mereka.
Reza terdiam ditempatnya begitu juga Keina. Rasa canggung itu menghampiri mereka, Zahra yang memahami situasi itu pun menyikut lengan Keina, Keina pun tersadar dan mengulurkan tangannnya.
"Keina." Ujar Keina memperkenalkan diri, sedangkan Reza mengangkat alisnya bingung. Tanpa menunggu lama akhirnya Reza meraih uluran tangan Keina.
"Reza." Balasnya, entah permainan apa yang akan kamu mainkan sekarang,-batin Reza.
Setelah berbincang panjang, Zahra berpamitan ke toilet dan meninggalkan kedua sahabatnya itu. Beberapa menit kepergian Zahra, suasana di meja itu hening. Hingga Reza membuka suaranya.
"Kei? Kenapa kamu ngga jujur aja sama Zahra, kalo kita udah kenal, bahkan deket?" tanya Reza menuntut jawaban. Keina menghela nafasnya.
"Aku,- aku ngga bisa!" ujar Keina tanpa menatap Reza. Reza mengernyit bingung.
"Kenapa?"
"Aku ngga bisa jelasin ke kamu sekarang." ujar Keina tampak gugup.
"Lalu kapan kamu mau jelasin ke aku? Lama-lama Zahra juga pasti tau koq." sergah Reza datar, Keina bingung harus menjawab apa.
"Aku,-"
"Hayoo.. Kalian ngobrolin apa nih? Udah mulai akrab kelihatannya." sergah Zahra tiba-tiba saja muncul membuat Keina terkejut.
"Zahra!" suara Keina tercekat, tidak bisa menyembunyikan keterkejutanya.
"Ah engga koq,- Eum, Ra, kayaknya kita harus pulang sekarang deh." ujar Keina mengalihkan pembicaraan. Akhirnya Zahra pun mengikutinya, dan pulang bersama Keina.
Keina melajukan mobilnya menuju rumah Zahra. Dalam perjalanan Keina banyak diam, Zahra bingung karena tidak biasanya Keina menjadi pendiam seperti ini. Namun Zahra tidak ingin mengungkit masalah itu. Mereka pun sampai di rumah Zahra.
Keina mengambil kue yang telah disiapkan oleh Bu Rahma untuk diantarnya ke MaraCafe.
__ADS_1
"Ra, aku pamit dulu ya, besok-besok kita ngobrol lagi." pamit Keina saat akan pergi.
"Oke deh, hati-hati di jalan ya Kei," ujar Zahra.
Mereka pun saling melambai. Zahra masuk ke rumahnya dan menuju kamarnya. Ia merebahkan badannya, rasa lelah membuat Zahra mengantuk, dan mulai memejamkan matanya.
"Zahra, kamu ngga makan dulu?" Tanya Bu Rahma di balik pintu kamar Zahra.
Zahra membuka matanya, mulai bangkit dan membuka pintu kamarnya.
"Engga ah bu, tadi udah makan sama Keina, Zahra mau istirahat aja." ujar Zahra tersenyum, Bu Rahma mengelus rambut Zahra dan membiarkan Zahra untuk tidur.
***
Pulang dari cafe milik mamanya, Reza pulang ke rumah mamanya. Namun saat dalam perjalanan pulang, ia melihat seseorang yang sangat familier di minimarket seberang jalan.
Reza menepikan mobilnya dari kejauhan, dia turun dan menyebrang jalan itu, untuk memastikan dia Keina atau bukan, dan dugaannya benar. Reza mencekal lengan Keina.
"Apasih,-" Keina berusaha menepis tangan yang mencekalnya. Bola matanya membulat sempurna.
"Reza?" Keina terkejut saat mengetahui bahwa Rezalah yang mencekal lengannya.
"Aku mau ngomong sama kamu." Ucap Reza datar.
"Aku,- aku buru-buru Za, besok aja ya." Ujar Keina melepaskan tangannya dari Reza.
"Za, turun ngga! Aku mau pulang. Za, buka pintunya!"
Kiara mengetuk kaca pintu mobilnya berkali-kali, bukan pintunya yang terbuka melainkan kaca pintu mobil yang terbuka.
"Aku anter pulang." Ujar Reza datar.
"Tapi Za,- Rezaa.!!" Tanpa menghiraukan ucapan Keina, Reza menutup kaca mobil itu lagi. Mau tidak mau Keina menurut pada Reza. Keina memutari mobil itu dan masuk ke dalam mobil.
Reza melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Diam. Tidak ada yang membuka suara, hingga mobil Keina melewati mobil yang terparkir di tepi jalan.
"Itu bukannya mobil,-" Ucapan Keina menggantung, Reza menoleh pada Keina.
"Itu mobil mama, tadi aku pinjem sebentar." Ujar Reza lalu menatap ke jalan lagi.
"Mama?" Tanya Keina bingung.
"Ya, kenapa?" Tanya Reza kembali menoleh pada Keina.
"Tante Maya, mama kamu Za, bukannya mama kamu,-" lagi-lagi ucapannya menggantung.
__ADS_1
"Iya, mama Maya itu mama kandung aku, Mama Sonya cuma mama tiri." Jelas Reza.
Keina hanya berooh tanpa suara.
"Kamu kenal sama mama aku?" Tanya Reza, tapi tetap fokus mengendarai mobil.
"Mama kamu sama mama aku temenan dari SMA." Ujarnya.
Reza menepikan mobil di sebuah kafe, kafe yang familiar, kafe milik mamanya.
"Koq kita kesini Za?" Tanya Keina bingung saat turun dari mobil.
Tiba-tiba Keina teringat sesuatu. Keina teringat kue Bu Rahma yang memang akan di bawa ke cafe ini. Keinapun membuka bagasi dan mengambil beberapa kardus berisi kue itu.
Reza menatap Keina bingung, namun kemudian ikut membawakan kardus-kardus itu. Setelah memberikan kardus itu pada salahsatu karyawan di sana,
Reza menggandeng tangan Keina membawanya ke ruang khusus di kafe itu.
Mereka duduk berhadapan, masih diam hingga waiters membawakan beberapa menu yang Reza pesan. Sepeninggal waiters itu, tinggallah mereka berdua.
"Kamu jualin kue ke sini?" tanya Reza yang sedang diselimuti rasa ingin tahu itu. Keina mengedikkan bahunya.
"Iya gitu deh, itu kue-kue ibunya Zahra, aku cuma bantuin ibunya Zahra nganterin ke sini." terang Keina. Reza mengangguk.
"Ooh gitu."
Mereka kembali terdiam, Reza menyesap minumannya sebelum membuka suara.
"Kamu hutang satu jawaban sama aku." Ucap Reza to the point.
Keina tersedak saat sedang meminum cappucinnonya. Rezapun refleks menepuk punggung Keina, mengusap-usap hingga Keina merasa lega.
"Maaf maaf, maafin aku." Ujar Reza duduk kembali ditempatnya.
Keina terdiam di tempatnya, ia bingung harus menjawab apa.
"Aku,-" ucapan Keina terhenti saat Reza mengangkat telfonnya.
"Hallo, iya tante ini Reza, tante apa kabar? Ah Reza juga baik koq. Oh iya Keina lagi jalan bentar sama aku, nggapapa kan tan? Ooh gitu, oke bye tante." Reza mengakhiri telfonnya.
"Kamu ngapain?" Tanya Keina penasaran.
"Telfon mama kamu lah, mama kamu ngijinin kamu jalan sama aku, jadi kamu ngga ada alasan lagi untuk pergi." ujar Reza membuat Keina terdiam, ia tidak tahu harus bilang apa.
"Sekali lagi aku tanya sama kamu. Kenapa kamu ngga ngasih tau aja sama Zahra, kalo kita udah saling kenal." Ujar Reza menatap Keina, namun Keina justru tidak mampu menatap Reza. Tanpa menunggu jawaban dari Keina, Reza kembali menambahkan.
__ADS_1
"Bahkan hampir tunangan,-"