
Setelah acara potong kue, Reza mengambil microphone dari pembawa acara.
“Terimakasih untuk rekan-rekanku semua yang sudah hadir dalam acara sederhana ini. Adik kecilku yang sekarang sok sibuk, hehe makasih udah meluangkan waktu untuk kakakmu ini. Istriku yang amat sangat aku sayang, dan anakku tersayang. Di malam ini, aku mau kasih surprize untuk kalian. Karena aku mau duet nih.” Ujar Reza di dalam microphone itu.
Semua tamu bertepuk tangan. Menunggu duet Reza dengan seseorang.
“Emang Reza bisa nyanyi?” bisik Zahra pada Keina. Ia masih setia menggendong Vania, keponakannya. Keina terkekeh.
“Dia sih emang ngga jago nyanyi Ra, tapi kalo main gitar, Reza jagonya.” bisik Keina membanggakan suaminya.
Denting gitar mulai berbunyi, semua tamu menatap Reza dengan takjub. Reza memainkan gitar itu dengan tenang. Semua orang terdiam saat lampu mulai redup.
🎶 Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
Aku tak akan lupa, tak akan pernah bisa
Tentang apa yang harus memisahkan kita
Lagu Seluruh Nafas Ini milik Last child mulai terdengar, Semua mata tertuju pada orang lain yang berjalan dari lantai dua. Seorang pria dengan mengenakan kemeja merah muda berbalut jas silver senada dengan celananya. Orang yang sangat familiar. Dia mulai turun dari tangga itu. Tatapannya tidak lepas dari mata Zahra, dia Galang. Pria yang selama ini ia rindukan, saat ini ada di hadapannya.
🎶Disaat ku tertatih, tanpa kau di sini
Kau tetap kunanti demi keyakinan ini
Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati dalam pelukmu
Untukmu s'luruh nafas ini
Galang menggenggam tangan Zahra, microphone itu masih ia genggam di tangan kanannya. Mata itu terus menatap Zahra tanpa berpaling. Zahra menatapnya dengan mata berkaca-kaca, terharu, bahagia semua tercampur di lubuk hatinya.
🎶🎶
Zahra kembali teringat akan kenangan masa kecilnya dengan Gilang. Kejailannya, bahkan perhatian yang tanpa sengaja ia ketahui.
__ADS_1
🎶🎶
“Balikin tas aku!!” teriak Zahra
“Ambil aja kalo bisa wleee” Gilang mengangkat tangannya tinggi-tinggi membuat Zahra tidak dapat meraihnya.
Secercah kenangan itu menari-nari di depannya. Hanya air mata yang saat ini membanjiri kedua pipinya.
🎶🎶
“Ara kamu nggapapa?” tanya Gilang khawatir.
“Engga, cuma sakit sedikit di kaki aku Lang.” Ujar Zahra menahan sakit di kakinya.
“Yaudah, aku gendong ya?” tawar Gilang. Zahra dengan cepat menggeleng.
“Aku berat Lang, lagi pula aku masih bisa berjalan koq.” ujarnya beralasan.
“Yaudah coba berdiri.” Pinta Gilang, Zahra mencoba untuk berdiri, namun usahanya sia-sia, ia kembali terjatuh.
“Tuh kan ngga bisa.” Dengan sigap Gilang berjongkok di depan Zahra, membiarkan Zahra naik di punggungnya. Gilang membawa Zahra ke UKS.
🎶🎶
Zahra teringat kali pertama ia bertemu Galang, saat itu ia memeluknya, melewati hari-hari bersamanya. Hingga bayangan Gilang di ruang operasi kembali membuatnya merasa sakit. Air mata deras mengalir. Teringat Galang yang berada di sisinya kala itu.
“Maaf aku jadi ketiduran di bahu kamu.” Ujar Zahra canggung.
🎶
Bayangan-bayangan itu terus terlintas di pikiran Zahra hingga ia tidak sadar Galang telah berlutut di hadapannya.
“Ra, sebelumnya, maafin aku udah ninggalin kamu tanpa kabar. Aku sadar, karena selama ini aku punya salah sama kamu. Aku juga sadar, selama kamu ngga ada di sampingku, aku ngerasa ada yang hilang dari hidupku.” Galang tidak mengalihkan pandangannya dari Zahra. Zahra hanya terdiam kaku menatap Galang. Tanpa menghiraukan tatapan kagum dari para tamu undangan.
“Setelah kebersamaan kita tahun lalu aku sadar, ada yang lain dalam diriku. Aku selalu mikirin kamu. Perasaan aku ke kamu, sama seperti perasaan kamu ke Gilang. Maaf aku lancang mengatakan ini. Tapi Ra, aku sayang sama kamu. Izinkan aku jadi pengganti Gilang di sisi kamu, aku tahu, aku ngga akan pernah bisa gantiin Gilang di hati kamu. Tapi aku mohon, izinkan aku untuk menjaga kamu. Izinkan aku bahagiain kamu.” Ujar Galang.
Galang menghela nafas panjang. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu membukanya. Sebuah cincin berlian nampak di depan matanya.
“Ra? Maukah kamu menjadi pendamping hidup ku. Bukan hanya sekedar teman, melainkan teman hidupku?” Kembali Galang menghela nafas.
__ADS_1
“ Will you marry me Nayratuz Zahra?”
Air mata yang sempat terhenti kembali membasahi pipinya. Zahra tidak menyangka Galang akan melakukan ini di depan semua orang. Zahra menoleh pada Keina dan Reza, serta mamanya yang ada di sampingnya. Mereka tersenyum, membiarkan Zahra memilih pilihannya sendiri. Zahra kembali menatap Galang yang terus menatapnya.
“Yes i will Galang.” Ujar Zahra lirih. Ia tersenyum dalam tangisnya. Galang tersenyum senang dan memasangkan cincin itu di jari manis Zahra.
Rasa bahagia itu muncul lagi, rasa kesepian yang selama ini menghampirinya, terobati oleh kehadiran Galang kembali. Galang berdiri memeluk Zahra. Semua tamu undangan bersorak ria. Reza kembali bersuara.
“Tes tes.. maaf mengganggu. Belum mukhrim woy!!” ujar Reza lantang membuat semua orang tertawa, sontak membuat Zahra melepaskan pelukannya. Wajahnya bersemu merah.
Reza hanya terkekeh saat Galang menatapnya tajam, karena telah mengganggu suasana romantisnya.
“Sialan lo.” Gumam Galang, Reza yang melihatnya hanya mengangkat jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V.
Tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Zahra, Galang mengambil microphone tadi dan berjalan mendekati Reza dan Keina.
“Sebelumnya, gue mau ngucapin selamat ulangtahun untuk Reza, sahabat sekaligus calon kakak ipar gue. Semoga apa yang lo inginkan segera terwujud. Dan gue mau minta maaf pada semua tamu undangan karena telah menyita waktu kalian untuk menjadi saksi perasaan gue sama Zahra. Sebelum itu, gue mau memperkenalkan nama gue Galang. Saudara kembar Gilang...” Galang menoleh menatap Zahra.
“Kekasih Zahra.” tambahnya, Galang kembali menatap tamu undangan. Ia menghela nafas berat.
“Gue mau kasih tahu semuanya, maaf sebelumnya karena ini akan menyinggung Reza dan wanita di sebelah gue, Zahra. Gue...” ucapannya terhenti, ia enggan mengatakan kalimat selanjutnya. Ia menatap kosong lantai di depannya. Genggaman Zahra semakin erat, seakan memberinya semangat. Galang menoleh, melihat Zahra mengangguk. Seakan tahu apa yang akan Galang katakan. Zahra tersenyum lembut.
“Seperti yang gue bilang tadi, Gilang saudara kembar gue. Lebih tepatnya dia adik gue. Bukan hanya wajah kami yang mirip, hobi kita pun sama, penggila bola. Sama-sama pecinta kopi. Dan sama-sama mencintai wanita yang sama.” Galang menoleh pada Zahra sekilas.
“Ara, Galang selalu memanggilnya Ara. Panggilan kesayangan katanya.” Galang tersenyum mengatakannya. Matanya berkaca menceritakan ini.
“Bedanya satu, dia lebih dulu menyukainya. Kalian pasti akan mengira gue rebut Zahra dari dia. Jahat? Mungkin itu yang pantas buat Gue. Karena gue merebut kekasih adik gue sendiri. Gue ngelakuin ini karena gue sayang sama Zahra. Pertama kali gue melihatnya. Sekilas gue ragu. Namun setelah hari-hari gue lewati sama dia, gue ngerasa nyaman. Bahkan sampai gue lupa, kalo dia kekasih adik gue.” Galang menghela nafasnya. Ia tersenyum tipis.
“Bahkan saat itupun, gue mengkhianati kekasih gue sendiri. Nesya, yang tak lain saudara tiri Zahra. Gue ngga tau kalo mereka bersaudara. Perlahan gue coba untuk menghindar dari Zahra setelah Gilang meninggal. Gue ngga mau terus menyakiti Zahra. Tak pernah sedikitpun gue ingin merebut Zahra dari Gilang. Amanat terakhir Gilang hanya Zahra. Dia ingin gue jagain Zahra.” Galang terdiam. Ia menatap Zahra cukup lama.
“Zahra hadir.. Oh bukan, tapi gue hadir dalam kehidupan Zahra saat Gilang koma. Gue diperintah bokap untuk mengurus perusahaan Gilang. Di situlah awal gue mengenal Zahra. Tepat satu minggu setelah Gilang di temukan.” Galang menghela nafasnya kembali menatap para tamu. Ia merasa lega telah mengungkapkan semuanya.
Galang bahkan tersenyum mengingat kekonyolannya, memberi tip pada pelayan butik agar memberikan diskon saat Zahra berbelanja. Cappucinno yang ia beli untuk Zahra, ia titipkan pada Reza. Dan saat itu Zahra kebingungan sendiri. Ingin rasanya ia bertemu kembali setelah pernikahan Keina dan Reza, namun bertepatan dengan itu, ia kembali ke Australia karena perusahaannya mengalami kendala. Saat itu Galang sangat sibuk hingga ia tidak bisa menghubungi Zahra. Hingga semuanya normal kembali.
Galang selalu mengunjungi makam adiknya. Namun saat itu berbeda, ada seseorang di sana. Ia menatap postur tubuh wanita yang sangat mirip dengan Zahra. Ia mengamatinya dari jauh. Ia menatap punggung Zahra yang tampak bergetar.
“Zahra menangis?” gumamnya. Galang mencoba mendekatinya. Berbekal Hoodie dan topi ia bisa berdiri lebih dekat dengan Zahra, sehingga ia bisa mendengar ucapan Zahra.
“Aku sayang sama kamu Lang. Aku ingin kamu di sini. Aku kangen sama kamu. Aku tahu ini salah. Tapi aku ngga bisa bohongin diri aku sendiri kalo aku sayang sama kamu. Seandainya kamu di sini. Aku pengen peluk kamu..” Zahra terdiam. Air matanya telah deras mengalir.
__ADS_1
Perasaan sakit saat mendengar Zahra mengucapkan sayang pada Gilang menghampirinya. Galang hendak pergi dari sana. Namun langkahnya terhenti. Saat mendengar lanjutan ucapan Zahra.