Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
26. Eps 25


__ADS_3

“Bos?” tanya Zahra. Fanya hanya mengangguk. Ia menuntun Zahra ke ruangan atasannya.


Zahra menoleh pada Fanya setelah sampai di depan ruangan atasannya. Fanya ngangguk. Zahra mengetuk pintu ruangan itu, baru kali ini dia dipanggil ke ruangan ini.


“Masuk!” suara bariton dari dalam ruangan membuat Zahra sedikit gugup. Zahra pun membuka pintu itu dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.


“Bapak panggil saya?” ujar Zahra setelah berdiri di depan meja atasannya, ia tidak bisa melihat siapa di balik koran yang menutupi wajah atasannya.


Zahra membulatkan mata sempurna saat koran itu mulai dilipat oleh pemiliknya.


“Gilang?” ucapnya terkejut. Ia memang tahu bahwa Gilang presdir di sini, tapi ia tidak yakin bahwa Gilang lah yang memanggilnya. Ia pun berdiri menghampiri Zahra. Zahra memeluknya, ia sangat senang Gilang kembali dengan selamat.


“Gilang, aku seneng banget kamu baik-baik aja.” Ujar Zahra senang. Namun Zahra merasa ada yang aneh pada Gilang. Gilang tidak membalas pelukannya.


“Kamu yang namanya Zahra?” tanyanya. Sontak membuat Zahra terkejut, bingung karena Gilang tidak mengenalinya.


“Gilang? Kamu lupa sama aku?” tanya Zahra, ia menatap sedu pada Gilang yang melupakannya.


Apa dia mengalami amnesia? Batin Zahra.


Tiba-tiba Gilang merasa pusing melanda kepalanya. Refleks ia memegangi kepalanya dan merintih. Zahra syok melihatnya dan menuntun Gilang duduk di sofa.


“Gilang! Kamu ngga papa?” tanya Zahra khawatir. Gilang hanya menggeleng.


“Aku nggapapa Ra, hanya saja kata dokter, ada beberapa ingatanku yang hilang karena benturan di kepalaku.” Ujar Gilang. Zahra terkejut, tanpa ia sadari air mata mengalir di pipinya. Ia menatap Gilang yang merintih kesakitan di depannya.


“Jadi kamu ngga inget siapa aku? Kamu lupa kenangan kita?” ujar Zahra menatap Gilang sedu. Gilang mengangguk lemah. Air matanya semakin deras mengalir, dengan cepat Gilang menghapusnya.


“Maafin aku Ra. Aku ngga inget sama sekali.” Gumam Gilang lirih, Zahra menyeka air matanya dan menatap Gilang dengan senyumnya.


“Ngga papa Lang, kamu ngga usah minta maaf sama aku. Bukan salah kamu koq. Ini kecelakaan.” Ujar Zahra tersenyum. Ia menggenggam tangan Gilang. Gilang tampak terkejut menerima genggaman itu, sebuah desiran aneh menjalari tubuhnya.


“Aku akan bantu kamu inget semuanya. Kita mulai lagi dari awal.” Ujar Zahra tersenyum. Gilangpun tersenyum menanggapinya.


Zahra membuka tasnya, ia mengambil buku berwarna cokelat dari dalam tasnya.


“Kita mulai dari sini.” Tambahnya mengulurkan buku itu pada Gilang. Gilang tampak mengernyit.


“Ini buku apa?” tanya Gilang. Zahra tampak terkekeh.


“Ini buku harian kamu, sebelum kamu pulang ke Australia, kita bertengkar, bukan kita sih tapi aku yang marah sama kamu karena aku cemburu sama Nesya. Karena aku ngga mau dengerin penjelasan kamu, jadi kamu kasih buku harian ini ke Reza buat aku.” Ujar Zahra terkekeh, setelah membaca diary Gilang, Zahra percaya Gilang hanya mencintainya karena di sana tertulis banyak namanya.


“Reza?” ujar Gilang mengernyit.


“Ah iya, Reza sahabat kita. Kakak aku. Semuanya ada dalam buku harian kamu. Nanti kamu baca aja ya. Tapi jangan terlalu dipaksain, aku ngga mau kamu kenapa-kenapa. Aku yakin koq, perlahan-lahan kamu pasti inget semuanya.” Ujar Zahra tersenyum tulus. Gilangpun mengangguk lalu menatap buku itu

__ADS_1


“Oh iya Lang, aku balik ke mejaku dulu ya.” Pamit Zahra lalu keluar dari ruangan itu. Gilang menatap kepergian Zahra dengan tatapan sedu.


“Maafin aku Ra.” Gumamnya.


***


Pulang dari kantor Zahra tengah menunggu Reza menjemputnya, namun tak kunjung datang. Sebuah klakson mengagetkannya, ia menoleh menatap pemilik mobil itu.


“Gilang! Kamu tuh ya!” dengus Zahra, Gilang terkekeh lalu turun dari mobilnya. Ia menghampiri Zahra yang menatapnya datar.


“Katanya aku suka banget jailin kamu kan? Tadi aku udah baca sedikit diary itu.” Ujar Gilang terkekeh, tatapan Zahra melunak lalu ikut terkekeh.


“Kamu nungguin jemputan? Pulang sama aku yuk!” ajaknya, Zahra tampak berpikir.


“Tapi Reza?”


“Kamu di jemput Reza?” tanya Gilang, Zahra mengangguk.


“Yaudah, nanti kamu telfon Reza aja. Katanya kamu pengen mulai dari awal lagi sama aku.” Ujar Gilang. Zahra tersenyum menanggapinya.


“Ya udah iya.” Ujar Zahra. Mereka masuk ke dalam mobil. Mobil itu pun melaju meninggalkan kantor. Zahra menatap jalan, mereka hanya terdiam tanpa ada yang mau membuka suara, hingga mobil itu berhenti.


“Loh koq kita ke sini?” tanya Zahra heran saat Gilang membawanya ke sebuah restoran. Gilang menoleh tersenyum. Ia tidak menjawab pertanyaan Zahra, ia turun dan membukakan pintu untuk Zahra.


“Yuk Ra.” Ajaknya mengulurkan tangannya. Zahra pun meraih tangan Gilang itu.


“Ra mau pesen apa?” suara Gilang mengalihkan matanya dari pemandangan di sampingnya itu.


“Eh iya. Samain aja sama kamu Lang.” Ujar Zahra tersenyum.


“Samain aja ya mba kayak yang tadi.” Ujar Gilang pada waiters.


"Baik mas." ujar waiters itu, lalu pergi.


Beberapa saat kemudian waiters datang membawa pesanan mereka. Zahra menoleh pada Gilang yang tengah menyantap makanannya.


"Lang? Bukannya kamu ngga suka udang?" tanya Zahra, Gilang menghentikan kunyahannya dan menatap Zahra.


"Ngga tau Ra, tiba-tiba aja aku pengen makan udang." ujar Gilang mengedikkan bahunya.


"Kamu sendiri ngga suka udang?" sambungnya, Zahra tersenyum mengingat bahwa Gilang sedang amnesia.


"Aku suka koq. Ini yang sering aku pesen kalo kita jalan. Dan kamu inget? Aku suka banget bujukin kamu supaya mau makan udang juga." ujar Zahra terkekeh begitu juga Gilang.


"Sekarang kamu ngga perlu paksa aku kan? Aku udah makan sendiri." ujar Gilang lalu menyantap makanannya lagi. Zahra tersenyum memandang wajah Gilang. Ia pun kembali menyantap makanannya.

__ADS_1


Setelah makan malam, Gilang mengantar Zahra pulang.


"Ra besok aku jemput ya." ujar Gilang. Zahra tampak gugup, tidak seperti biasanya Gilang akan menjemputnya.


"Lang, nanti kalo orang kantor liat gimana? Nanti yang ada aku jadi bahan gosip di kantor." ujar Zahra khawatir. Gilang menggenggam tangan Zahra dan tersenyum.


"Udah nggapapa koq, biar semua orang tau kalo kamu milik aku." ujar Gilang. Zahra bingung harus mengatakan apa.


"Ya udah deh terserah kamu. Aku turun dulu ya. Kamu hati-hati di jalan." ujar Zahra lalu turun dari mobil itu. Zahra melambaikan tangannya pada Gilang sebelum akhirnya mobil itu menghilang dari pandangannya.


"Assalamu'alaikum." salam Zahra saat membuka pintu rumahnya.


"Waalaikumsalam." terdengar jawaban dari dalam. Zahra melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Mereka sedang berada di sana.


"Ra, kamu pulang sama Gilang beneran?" sergah Reza saat Zahra duduk di sebelahnya. Zahra hanya mengangguk.


"Loh Gilang udah pulang Ra?" tanya Maya yang sedang mengambilkan nasi untuk Reza. Lagi-lagi Zahra hanya mengangguk tersenyum pada mamanya.


"Serius? Terus gimana keadaannya?" lanjut Reza. Zahra menatapnya sedu.


"Dia baik-baik aja, cuma dia amnesia sekarang. Dia ngga inget sama aku." ujar Zahra lesu. Reza syok mendengarnya.


"Kata dokter benturan keras membuat Gilang jadi melupakan beberapa ingatannya." tambah Zahra.


"Kamu yang sabar ya. Perlahan juga Gilang inget koq sama kamu." ujar Reza tersenyum menenangkan Zahra, Zahra hanya mengangguk.


***


Mobil itu terparkir di sebuah rumah bernuansa putih. Dengan senyum yang mengembang, ia melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Rumah ini sangat sepi. Mungkin pemilik rumah sudah tertidur malam ini, karena sudah larut malam.


"Lang, kamu baru pulang?" suara wanita lansia itu membuatnya menoleh.


"Oma belum tidur?" tanyanya mendekati oma. Oma menggeleng.


"Oma nunggu kamu pulang. Kamu udah makan?" tanya Oma.


"Udah koq oma. Oma istirahat ya udah malem. Nanti oma sakit. Aku juga mau istirahat nih oma, capek." ujarnya tersenyum. Oma pun mengangguk. Setelah memeluk omanya itu, ia menuju kamarnya.


Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya, ia memejamkan matanya, namun bayangan Zahra tiba-tiba melintas di sana. Dengan cepat ia membuka matanya.


"Kenapa gue jadi mikirin Zahra? Bahkan baru tadi gue bertemu sama dia, sekarang gue udah rindu sama dia. Apa karena genggaman tangannya tadi? Sekuat itu perasaannya sama gue?" gumamnya.


Ia berdiri menghampiri meja di depannya. Ada rak yang berisi banyak buku. Ada dua buku harian dengan nama di sana. Ia mengerutkan keningnya. Ia juga mengingat buku harian yang Zahra berikan tadi siang. Di buku itu juga terdapat sebuah nama,"Zahra". Ia kembali melirik dua buku harian dengan nama "Reza" dan "Galang". Ia menarik salah satu buku harian itu.


"Galang?" gumamnya. Perlahan ia mulai membuka buku itu, ia membaca setiap deretan kata di sana. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Maafin gue Ra!" gumamnya lirih.


__ADS_2