Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
31. Eps 30


__ADS_3

Galang terus memikirkan percakapannya dengan mamanya tadi. Ia teringat kehadiran Zahra yang tiba-tiba ada di belakangnya. Hingga ia tidak sadar seseorang telah duduk di sebelahnya.


“Lang? Kamu kenapa?” tanya Zahra khawatir saat melihat Galang termangu. Galang menoleh.


“Ra? Sejak kapan kamu duduk di sini?” tanya Galang terkejut.


“Eh?” Zahra menatap Galang heran.


“Ah maksudku, aku nggapapa koq Ra.” Ujar Galang mengalihkan pandangannya dari Zahra. Zahra menepuk bahu Galang lembut.


“Cerita aja Lang kalo ada masalah. Kamu lagi mikirin keadaan oma ya?” tanya Zahra lembut. Galang menoleh menatap wajah Zahra yang tersenyum padanya. Kembali ia merasa bersalah telah membohongi Zahra sejauh ini. Apa pantas cinta hadir dalam hatinya saat ini? Dalam kebohongan ini. Galang meraih Zahra dalam pelukannya. Zahra terkejut saat Galang tiba-tiba memeluknya.


Zahra membalas pelukan itu. Sejenak ia merasa nyaman dalam pelukan itu. Tiba-tiba rasa itu datang lagi. Ada apa sebenarnya? Kenapa akhir-akhir ini ia merasa aneh pada sikap Gilang. Zahra melepaskan pelukannya.


"Ra, aku mau jujur sesuatu sama kamu." ujar Galang lirih. Zahra menatapnya heran.


"Soal?" Zahra mulai penasaran, benarkah ada sesuatu yang selama ini Gilang sembunyikan?


"Sebenarnya aku,-"


Kriukkkrukkkrukk...


Dengan cepat Zahra memegang perutnya, ia menatap Galang dengan tersenyum malu. Galang memperhatikannya dengan terkekeh.


"Ra? Kamu laper?" ucap Galang masih dengan kekehannya. Sedangkan Zahra hanya mengangguk pelan. Ia tersenyum kikuk menatap Galang.


Duh malu-maluin aja sih!!! batin Zahra.


Galang mengambil kunci mobilnya yang ada di atas nakas kamarnya. Beberapa saat kemudian ia kembali dan mengulurkan tangannya pada Zahra.


"Yuk!" ajak Galang, Zahra meraih uluran tangan Galang dan berdiri di sampingnya.


"Kita mau kemana?" tanya Zahra saat mereka telah masuk ke dalam mobil.


"Cari makan di luar." Ujar Galang tersenyum. Ia menatap Zahra yang masih tampak malu. Tangan Galang terulur mengelus puncak kepala Zahra.


"Kamu lucu deh kalo pipinya merah padam gitu." Ujar Galang terkekeh.


"Iih Gilang. Kamu suka banget sih bikin aku malu." ujar Zahra menepuk lengan Galang.


"Iya iya ampun Ra, ampun." ujar Galang.


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah restoran. Galang menggenggam tangan Zahra memasuki Restoran itu.

__ADS_1


***


Tik tikk tiikk....


Suara alat medis terus berdetik menemani kesendirian pria tampan yang berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Sudah beberapa jam yang lalu ia kembali membuka matanya setelah tiga bulan ia koma.


Ceklek.. Suara pintu terbuka menampakkan dua sejoli. Mereka berjalan mendekati ranjang rumah sakit yang telah diubah layaknya kamar pribadi.


Sosok wanita paruh baya menatap anak bungsunya dengan rona bahagia, setelah sekian lama anaknya koma akhirnya dia tersadar dari komanya. Wanita itu duduk di samping ranjang anaknya. tangannya terulur menggenggam tangan anaknya itu.


"Sayang, mama seneng banget kamu udah sadar sekarang. Jangan tinggalin mama lagi ya sayang." ucap Leona lirih, Gilang tersenyum menatap wajah mamanya yang tetap cantik meski umurnya sudah tidak lagi muda itu. Prima-Ayah Gilang, mengelus bahu istrinya itu. Ia sangat terpukul atas kejadian yang menimpa anaknya.


Dengan susah payah Gilang mengangguk dan entah apa yang akan ia katakan, suaranya tercekat.


"Ssstt, kamu jangan banyak bicara dulu sayang. Oh iya mama punya kejutan buat kamu." ujar Leona lirih dan tersenyum. Gilamg menunggu mamanya yang akan mengatakan sesuatu padanya.


"Seorang gadis yang kamu cintai ada di sini. Dia nyusulin kamu ke sini sayang." ujar Leona masih dengan senyumnya. Gilang tersenyum bahagia mendengarnya. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu. Leona mendekatkan wajahnya pada Gilang mencoba mendengarkan apa yang akan Gilang katakan.


"Ara?" ucapnya. Leona mengangguk. Gilang tersenyum akhirnya ia bisa melihat Zahra lagi.


"Kamu mau ketemu Zahra sekarang sayang?" tanya Leona lirih. Gilang mengangguk lemah dan tersenyum pada mamanya.


"Mama akan telfon Galang untuk mengantarnya." ujar Leona lalu berdiri meninggalkan Gilang dan juga Prima di sana.


"Ada apa Gilang?" tanya Prima lirih, ia mendekatkan wajahnya pada Gilang. Filang tampak membisikkan sesuatu pada ayahnya.


"Sebelum- aku- ketemu Ara. Aku- pengen- bicara- sama Galang." bisik Gilang sedikit terbata. Ayahnya hanya mengangguk paham. Ia menggenggam tangan putranya.


"Cepet pulih sayang." gumam Prima.


***


Galang membawa Zahra berkeliling kota, ia berhenti di tepi jalan, ia turun dari mobil dan mengajak Zahra duduk di atas mobil. Pemandangan kota malam ini sungguh indah. Galang tidak ingin melewatkan saat-saat terakhir sebelum Ia benar-benar melepaskan Zahra dan menjauh darinya.


Zahra tampak menikmati indahnya pemandangan malam hari ini, bintang yang bertebaran malam ini memanjakan matanya. Tenang, itu yang sedang ia rasakan. Sesekali menatap tangannya yang entah sejak kapan telah ada dalam genggaman Galang.


"Oh iya tadi kamu mau ngomong apa?" tanya Zahra tiba-tiba.


Degg... Bagai ada petir di siang bolong. Galang teringat ucapannya yang gagal tadi. Haruskah sekarang ia mengungkapkan bahwa dia bukan Gilang.


Lantunan lagu My Destiny terdengar nyaring dari ponsel Galang.


"Mama?" gumamnya. Haruskah ia menunda lagi untuk memberitahu semuanya pada Zahra. Galang menghela nafasnya berat.

__ADS_1


"Siapa Lang?" tanya Zahra penasaran. Galang menoleh pada Zahra.


"Mama yang nelfon. Bentar ya." ujar Galang sedikit menjauh dari Zahra.


"Hallo ma.."


"Gilang minta ketemu sama Zahra sekarang.Kamu anterin Zahra ke sini ya." ujar Leona dari seberang telefon. Galang menghembuskan nafasnya kasar.


"Hallo, Lang? Galang kamu denger mama kan?" Ucap Leona saat Galang tak juga menjawabnya.


"i..iya ma. Galang kesana sekarang." ujar Galang lesu lalu mematikan sambunganya.


"Kenapa?" tanya Zahra saat Galang kembali padanya.


"Mama nyuruh kita ke rumah sakit sekarang." ujar Galang. Zahrapun mengangguk. Mereka menaiki mobil dan melaju menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan hening, Galang memilih diam, sedangkan Zahra juga enggan berkomentar saat Galang hanya diam.


"Apa yang akan terjadi setelah ini? Zahra tau semuanya dan akan benci sama gue? Gue siap jika harus jauh dari Zahra, tapi apa gue bisa siap kalo Zahra benci sama gue nantinya? Gue harus nerima konsekuensinya. Gue yang udah mulai ini semua, ya gue harus siap jika Zahra benci sama gue." batin Galang.


"Gilang awass!!" teriak Zahra saat melihat seekor kucing melintas di depan mobil itu. Galang yang terkejutpun langsung mengerem mobil itu.


brakk... suara itu terdengar dari arah belakang mobil Galang. Tidak berapa lama seseorang mengetuk mobil Galang. Galang menurunkan kaca mobilnya.


"Kalo mau ngerem jangan mendadak donk!!" bentak seorang cewek yng tadi menabrak bagian belakang mobil Galang.


"Maaf maaf, saya ngga sengaja ngerem mendadak karena tadi ada kucing tiba-tiba lewat di depan saya." ujar Galang meminta maaf menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya.


"Sayang?"


Galang menoleh pada orang itu. Ia terkejut dan menoleh pada Zahra yang juga terkejut mendengarnya.


"Loh Zahra?" ucapnya terkejut melihat Zahra di mobil Galang. Galang turun dari mobil mendekat pada orang itu.


"Sayang apaan sih tarik-tarik aku sakit tau." ucapnya. Galang melepaskan cekalannya itu.


"Maaf sayang aku ngga sengaja. Aku buru-buru sekarang. Kita bicara nanti ya." ujar Galang pada cewek itu. Galang hendak pergi dari sana namun cewek itu mencekalnya dan terus menggenggam tangan Galang.


"Kenapa kamu bisa bareng sama Zahra?" ujarnya.


"Aku, aku akan jelasin semuanya nanti, sekarang aku buru-buru." Ujar Galang mencoba pergi dari sana.


"Nesya?"

__ADS_1


__ADS_2