Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
36. Eps 35


__ADS_3

“Zahraa!!!” Teriak Maya Reza dan Keina saat Zahra kembali jatuh pingsan.


“Gimana keadaan Zahra?” Galang menatap Reza dengan cemas. Reza menoleh.


“Masih belum sadar.” Ujar Reza lirih. Galang duduk di sebelah Reza. Ia tertunduk lesu.


“Gue ngerasa bersalah banget sama Zahra. Gue...”


“Ngga usah nyalahin diri lo terus. Lo juga terpaksa kan ngelakuin ini?” Reza memotong ucapan Galang, mencoba menenangkan hati Galang. Ia tidak tega melihat Galang yang terus menyalahkan dirinya sendiri.


Reza menatap seseorang yang baru saja menghampiri mereka. Ia juga tampak terkejut saat melihat Reza di sana.


“Sa, lo di sini?” tanya Reza bingung melihat adik tirinya itu. Lalu ia teringat bahwa Nesya juga sahabat Gilang. Nesya mengulurkan air mineral untuk Galang.


“Gue di sini untuk Galang.” Ujar Nesya. Reza menatap Galang.


“Lo sama...”


“Kak, orang yang waktu itu gue ceritain sama lo itu Galang.” Ujar Nesya memotong ucapan Reza.


“Jadi. Dia tunangan lo?” Ujar Reza. Nesya mengangguk, sedangkan Galang hanya menunduk.


“Gue ngga tau kalo Zahra adik lo dan saudara tiri Nesya.” Ujar Galang lirih.


Semua terasa rumit di pikiran Reza. Keina datang bersama Maya dengan tergesa.


“Ada apa ma?” tanya Reza.


“Zahra sadar lagi.” Ujar Maya. Reza langsung berdiri hendak pergi ke ruangan Zahra. Galang mencekal lengannya. Reza menoleh.


“Boleh gue ketemu sama Zahra? Sebentar aja.” Ujar Galang memohon. Reza melepaskan tangan Galang dari lengannya. Ia tersenyum menatap Galang.


“Selesaikan masalah lo sama Zahra. Gue ngga tega liat lo nyalahin diri lo sendiri.” Ujar Reza mengijinkan. Galang tersenyum senang. Sebelum ia melangkah, Galang menoleh pada Nesya. Nesya tampak memberi dukungan untuk Galang.


“Pergilah Lang, selesaikan urusan kamu sama Zahra.” Ujar Nesya. Galang mengangguk.

__ADS_1


Galang melangkah menuju ruangan Zahra. Ia menatap Zahra yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit itu. Ia mendekatinya.


“Ra.” Sapa Galang saat ia telah di samping Zahra. Zahra perlahan menoleh.


“Gil... Galang?” ujar Zahra datar. Matanya yang masih sembap terlihat jelas oleh Galang. Ia semakin merasa bersalah pada Zahra.


“Gue ke sini buat minta maaf sama lo.” Ujar Galang. Ia duduk di sebelah ranjang Zahra. Zahra tak bergeming. Ia hanya menatap lurus ke depan.


“Gue ngga tau gimana caranya gue nebus kesalahan gue. Gue memang salah udah ngaku-ngaku jadi Gilang selama ini. Gilang..”


“Stop sebut nama Gilang !” seru Zahra membuat Galang berhenti bicara. Air mata Zahra kembali menetes. Galang tersentak melihatnya.


“Dengan kamu nyebut-nyebut Gilang. Apa kamu ngga ngerasa bersalah?”


Galang tersentak. Dia tidak tahu harus bilang apa lagi.


“Udah lah. Kamu sekarang keluar dari sini. Aku ngga mau di sangka merebut calon adik ipar aku sendiri.” Ujar Zahra memalingkan wajahnya.


“Tapi Ra.”


“Jangan pegang-pegang aku. Aku ngga apa-apa koq.” Ujar Zahra menepis tangan Galang. Galang menyerah, ia melangkah keluar dari ruangan itu.


Sesaat kepergian Galang, Zahra kembali meneteskan air matanya. Hatinya merasakan sakit. Kali ini bukan kepergian Gilang penyebabnya. Ia merasa bersalah telah mengusir Galang. Seperti ada yang hilang dari dirinya.


“Maafin aku Lang. Aku hanya ngga mau perasaan ini tumbuh semakin besar sama kamu.” Ucapnya Lirih.


***


Zahra dengan didampingi keluarga dan sahabatnya, Keina. Mengantarkan Gilang ke peristirahatan terakhirnya. Ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes. Ia sudah berjanji pada Gilang tidak akan menangisinya. Namun Zahra tidak mampu.


Setelah keluarga dan kerabat Gilang pulang. Zahra memilih untuk tinggal. Ia berjalan mendekati makam Gilang. Air matanya masih setia menetes di pipinya. Ia mengusap nisan Gilang. Hatinya teriris mengingat kenangannya bersama Gilang.


“Gilang. Kenapa sih, kamu pergi secepat ini. Kamu belum jelasin sama aku, gimana kedekatan kamu sama Nesya. Kamu belum jelasin kalo kamu punya saudara kembar.” Zahra menghentikan ucapannya. Ia tidak sanggup mengatakan hal lain. Air mata dan sesak di dadanya mengganggunya saat ini.


“Gilang. Aku sayang sama kamu. Aku mau kamu tetap di sini. Kamu janji sama aku kalo kamu ngga akan pernah ninggalin aku lagi. Tapi kenapa kamu ingkari janji kamu.” Zahra terus menangis di depan nisan Gilang.

__ADS_1


Galang yang memperhatikan Zahra dari jarak jauh merasa sakit di dalam hatinya. Ia merasa sangat terpukul atas kepergian Gilang apalagi mereka baru saja dipertemukan kembali beberapa tahun yang lalu.


“Yuk pulang.” Suara Nesya mengagetkannya. Ia bahkan lupa bahwa ia datang bersama Nesya. Nesya menatap kemana arah Galang memandang. Ia menemukan sosok Zahra yang masih berada di makam Gilang.


“Urusan kamu sama Zahra belum selesai?” tanya Nesya menyadarkan Galang dari lamunannya lagi. Galang menoleh.


“Aku ngga yakin. Apa urusan aku sama dia bisa berakhir? Aku terus merasa bersalah sama dia.” Ujar Galang.


Pernikahan Galang dan Nesya akan digelar satu bulan lagi. Namun akan ditunda karena kepergian Gilang. Nesya menggenggam tangan Galang.


“Aku tau koq.” Ujar Nesya tersenyum.


***


Lima bulan berlalu. Zahra tidak lagi bekerja di Surya Group, ia lebih memilih untuk mengurus salah satu cabang cafe milik mamanya. Alasannya hanya satu, ia tidak ingin terus terbayang kenangannya bersama Gilang di sana. Apalagi kenangan singkatnya dengan Galang yang diam-diam menumbuhkan perasaan di hati Zahra.


“Zahra? Kenapa melamun gitu?” tegur Ibu Rahma. Hari ini Zahra sedang berkunjung di rumah masa kecilnya.


“Ah ngga papa bu. Cuma kepikiran resep apa ya yang mau ditambahin di cafe.” Ujar Zahra sedikit berbohong. Dia memang berpikir demikian, namun tidak sepenuhnya. Sebenarnya ia teringat kembali pada Gilang. Bu Rahma hanya mengangguk, tidak ingin menambah beban pikiran Zahra. Ia tahu apa yang sebenarnya Zahra pikirkan.


“Ra.”


Zahra menoleh saat seseorang menyapanya.


“Keina? Ada apa?” tanya Zahra saat Keina tergesa menghampirinya. Keina tampak menepuk keningnya.


“Jangan bilang kamu lupa.” Ujar Keina. Zahra tampak mengingat sesuatu. Ia juga menepuk keningnya saat teringat bahwa hari ini ia menemani Keina untuk fitting baju pengantin. Reza tidak dapat menemaninya sekarang karena masih ada urusan.


“Ah iya, maaf Kei, aku lupa. Yuk mau berangkat sekarang?” Tanya Zahra, Keina mengangguk. Zahra meraih tas yang ia letakkan di atas meja.


“Bu, Zahra pamit pergi dulu ya sama Keina.” Pamit Zahra. Bu Rahma mengangguk lalu tersenyum ramah.


“Hati-hati bawa mobilnya.” Ujar Bu Rahma. Zahra mengangguk. Mereka memasuki mobil Keina. Zahra mengambil alih kemudi dan langsung menuju butik. Beberapa menit kemudian mereka pun sampai.


“Aku tunggu di sini ya.” Ujar Zahra pada Keina. Keina mengangguk meninggalkan Zahra yang duduk di sana. Zahra berdiri menghampiri salah satu gaun berwarna pink dengan hiasan mutiara yang indah. Ia terbayang jika ia yang mengenakan itu di atas altar bersama Gilang. Tiba-tiba air matanya kembali menggenang di matanya. Buru-buru ia menghapusnya.

__ADS_1


"Mbak? Ada yang bisa saya bantu?"


__ADS_2