
Kali ini Zahra berangkat dengan di antar oleh Reza. Karena tangannya yang masih sakit atas kejadian kemarin. Hari ini ada yang beda dengan suasana hatinya. Bahagia. Itu yang tengah Zahra rasakan. Bahagia karena Gilang kembali? Entahlah. Zahrapun bingung untuk menyikapinya.
"Ngapain senyum-senyum gitu. Bayangin Gilang ya?" Tanya Reza yang tidak sengaja menoleh melihat Zahra senyum-senyum menatap tangannya sendiri.
"Apaan sih bang? Siapa yang senyum-senyum. Ngga ada." Bantah Zahra menatap kakaknya itu.
"Aku liat Ra, ngga usah boong. Ngomong-ngomong gimana tuh tangan kamu? Udah baikan?" Tanya Reza dengan sesekali menoleh pada Zahra. Lagi-lagi Zahra tersenyum memandangi tangannya.
"Udah koq, alhamdulillah."ujar Zahra menoleh pada Reza dan tersenyum.
"Hemm.. aku lupa dokternya kan khusus. Cepet sembuh donk." Ledek Reza lalu terkekeh.
Zahra tidak mampu menyembunyikan senyumnya. Benarkah ini yang membuatnya bahagia sekarang? Kedekatannya dengan Gilang yang tidak pernah ada selama ini. Entahlah.
Tidak terasa mereka sampai di kantor di mana Zahra bekerja. Setelah berpamit dari Reza Zahra pun turun dan melambaikan tangannya pada Reza saat Reza melajukan mobilnya menjauh.
Zahra memasuki kantor itu, belum sampai di depan pintu kantor seseorang menegurnya dari belakang.
"Ra." Zahra menoleh.
"Hai Nya." Sapa Zahra pada Fanya. Mereka berjalan beriringan memasuki kantor.
"Ya ampun Ra, tangan kamu kenapa?" Tanya Fanya saat tidak sengaja melihat tangan Zahra yang memar. Meski Zahra telah menutupnya dengan bajunya yang lengan panjang namun masih terlihat sedikit kebiruan.
"Ah engga koq udah ngga papa. Cuma kemaren kebentur jadi gini." Ujar Zahra berbohong, ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. Namun ia cukup lega saat melihat Fanya mengangguk.
"Oh ya Ra, tumben berangkat sepagi ini?" Tanya Fanya karena biasanya Zahra berangkat lebih siang dari Fanya.
"Iya nih Nya, semalem aku ngga bisa nyelesaiin kerjaan gara-gara mama nyuruh aku istirahat terus. Jadi aku kerjain di kantor se pagi ini." Tutur Zahra.
Fanya pun mengangguk. Mereka sampai di depan lift. Menunggu lift terbuka. Zahra terkejut saat lift terbuka dan menampakkan lelaki jangkung di sana.
"Gilang?" Zahra menatap Gilang terkejut begitupun Gilang.
Gilang juga tampak terkejut melihat Zahra yang berdiri di depan lift dengan Fanya. Namun ia menutupi keterkejutannya. Beda dengan Fanya yang di samping Zahra tampak biasa saja.
Gilang tersenyum. Gilang keluar dari lift.
"Saya duluan." Ujar Gilang lalu melangkah menjauhi mereka.
__ADS_1
Zahra dan Fanya memasuki lift, mereka saling diam. Zahra berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Gilang presdir di perusahaan ini. Dia baru di pindah ke sini saat kamu baru dua bulan di sini Ra." Ujar Fanya mengetahui apa yang Zahra pikirkan.
"Jadi Gil,- maksud aku, kamu asistennya Pak Gilang?" Tanya Zahra pada Fanya. Fanya terkekeh membuat Zahra semakin bingung dibuatnya.
"Ngga usah panggil Pak Gilang di depan aku Ra, aku tahu koq kalian itu ada hubungan." Ujar Fanya tersenyum. Sedangkan Zahra menatapnya dengan heran.
Dari mana Fanya tau? pikirnya.
"Aku tau semuanya Ra, bahkan soal coklat misterius itu." Sambung Fanya kembali terkekeh. Lagi-lagi Zahra mengernyit bingung.
"Fanya. Kamu tau semuanya?" Zahra terkejut di buatnya.
"Bentar-bentar, koq kamu ngga pernah ngasih tau aku kalo kamu udah tau semuanya sih Nya." Sergah Zahra bersedekap menghadap Fanya. Tanpa rasa bersalah Fanya menoleh sekilas pada Zahra. Dia mengedikkan bahu.
"Gilang nyuruh aku tutup mulut." Ujar Fanya enteng.
"Berhubung kamu udah liat sendiri jadi aku kasih tau aja deh sekarang." Sambung Fanya.
"Lagi pula Ra, masa sih kamu ngga tau siapa presdir perusahaan ini? Dan, pacar kamu lagi." Cibir Fanya terkekeh.
"Duluan Nya." Ujar Zahra ada Fanya.
"Jangan lupa nanti makan siang bareng ya." Ajak Fanya. Zahra hanya mengangkat jempolnya menandakan dia setuju.
***
Gilang melangkahkan kakinya menuju cafe. Gilang duduk di salah satu meja di sudut ruangan. Menatap seseorang di depannya datar.
"Gimana soal penawaran gue?" Tanya Gilang.
"Gue ngga tertarik buat masuk dalam iklan produk lo. Dengan bayaran segitu." Tolak Restu menyesap kopinya. Gilang menghela nafasnya kasar.
"Ck, mau lo apa? Bahkan penawaran yang gue kasih lebih tinggi lima kali lipat dari hasil pendapatan lo di perusahaan lain." Decak Gilang. Restu tampak berpikir sejenak.
"Gue punya penawaran menarik untuk lo. Gue mau jadi model di iklan lo, tanpa lo bayar sepeser pun." Tawar Restu tersenyum licik.
Restu Febian adalah cowok modeling. Selain ia menjadi modeling untuk majalah dan iklan dia juga bergelut dalam dunia sinetron. Karena tubuhnya yang atletis , terlihat cool, dan tampan tentunya. Membuat banyak perusahaan menggunakannya untuk menjadi model produk mereka.
__ADS_1
Gilang tampak diam.
"Gimana? Lo itu salah satu orang yang beruntung bisa kerjasama sama aktor ternama kayak gue. Apalagi gue nawarin lo cuma-cuma." Ujar Restu.
Dia duduk santai di depan Gilang. Berbeda dengan Gilang yang duduk tegap penuh wibawanya. Gilang berdeham.
"Gue tau tujuan lo. Ngga usah basa-basi." Ujar Gilang datar. Restu tampak terkekeh.
"Gue akui lo emang jenius Lang. Penawaran gue emang ada syaratnya." Puji Restu. Dia membenarkan posisi bersandarnya. Duduk tegap memandang Gilang di depannya.
"Syaratnya gampang koq Lang, cuma Zahra. Lo bakal untung Lang, gue ngga minta uang dari lo, dengan begitu perusahaan lo bakal untung lebih besar." Ujar Restu.
"Gue ngga akan ngelepasin Ara buat cowok licik kayak lo. Gue rela bayar lo sepuluh kali lipat dari penghasilan lo di perusahaan lain. Daripada gue harus kehilangan Ara." Ujar Gilang., Restu tampak tersenyum licik.
"Lo bersedia bayar gue sepuluh kali lipat?" Tanya Restu masih tersenyum.
"Ya, gue bersedia. Asal lo ngga pernah deketin Ara lagi. Jauh jauh lo dari Zahra." Ujar Gilang tanpa berpikir panjang lagi. Restu tampak tersenyum senang.
"Deal?" Restu mengulurkan tangannya.
"Deal!"
***
Fanya menatap atasannya menuntut jawaban semasuk akal mungkin.
"Kamu ngga salah bayar Restu sepuluh kali lipat?" Tanya Fanya tidak habis pikir dengan atasannya itu. Gilang hanya mengangguk menatap laptopnya.
"Lang. Coba deh kamu pikir ulang lagi. Penawaran awal kita juga udah lebih tinggi dari perusahaan lain. Kalo Pak Prima sampai tau aku harus bilang apa?" Racau Fanya frustasi.
Gilang menutup laptopnya. Mereka hanya berdua di ruangan Gilang, Fanya yang sudah bertahun-tahun menjadi asisten Pak Prima, ayahnya Gilang. Baru kali ini mendapati masalah seperti ini hanya untuk sebuah iklan. Gilang menghela nafasnya.
"Biar nanti gue yang urus papa." Ujar Gilang enteng, Fanya menatap Gilang tidak percaya. Dengan entengnya Gilang menghadapinya?
"Lang, aku tau Restu itu aktor internasional. Tapi ngga gini juga kamu ngasih penawaran sama dia." tepis Fanya.
"Fanya. Gue kan udah bilang biar gue yang urus. Udah lo terima beres aja. Mending lo balik ke tempat lo selesaiin kerjaan lo." Pinta Gilang. Mendengus kesal Fanya berjalan ke luar dari ruangan Gilang.
Gilang memijat pangkal hidungnya. Menghela nafas.
__ADS_1