
Sementara itu di kediaman rumah Zahra. Zahra mengurung dirinya dalam kamarnya. Reza dan mamanya membujuk Zahra untuk keluar namun Zahra tidak mau keluar. Bahkan Reza belum sempat memberikan buku itu pada Zahra.
“Assalamu’alaikum tante.” Salam Keina saat memasuki rumah Zahra. Reza dan Maya tengah duduk di ruang keluarga. Wajah mereka tampak murung. Maya dan Reza sama-sama menoleh.
“Waalaikumsalam, Keina?” ujar Maya lalu menyuruh Keina duduk di sampingnya.
“Zahra mana tante?” tanya Keina mencari sosok Zahra yang tidak kelihatan batang hidungnya. Maya menghela nafas. Ia menoleh pada Reza. Dan akhirnya Reza pun memberitahukan masalah Zahra, Gilang dan Nesya. Bahkan Reza tidak tahu siapa yang benar. Dia juga tidak terlalu dekat dengan Nesya, sehingga dia tidak tahu harus membela siapa. Keina hanya mengangguk paham.
"Tapi aku yakin, Gilang itu tulus sama Zahra." ujar Reza yang sangat yakin akan hal itu. Keina pun mengangguk, sama halnya dengan Reza, ia yakin Gilang tidak berbohong tentang perasaannya pada Zahra. Keina menoleh menatap televisi yang sedang menayangkan berita.
“Tante, Za.. coba deh liat itu.” Tunjuk Keina pada televisi yang menayangkan berita kecelakaan pesawat. Maya dan Reza pun menoleh.
“Tunggu, pesawat itu,-“ gumam Reza.
“Kenapa Za?” tanya Maya. Reza menatap mamanya dan Keina bergantian.
“Itu pesawat yang ditumpangi Gilang ma. Ya! Pesawat itu. Reza yang nganterin Gilang tadi pagi. Reza tau betul kalo Gilang naik pesawat itu.” Ujar Reza panik. Maya dan Keina syok mendengar itu.
“Apa!”
Mereka menoleh pada sumber suara di belakang mereka. Zahra berdiri mematung setelah mendengar ucapan kakaknya barusan. Tubuhnya melemas, air matanya telah mengalir tanpa ia sadari. Zahra terduduk di anak tangga terbawah. Mereka berlari mendekati Zahra. Maya dengan cepat memeluknya. Ia tahu, Zahra dan Gilang memang ada hubungan. Dan ia tahu bagaimana perasaan Zahra saat ini.
Dengan cepat Zahra menghapus air matanya dan berdiri. Ia berlari menuju kamarnya. Selang beberapa saat ia kembali dengan membawa tas dan kunci mobil.
“Ra mau kemana?” ujar mamanya saat melihat Zahra bergegas keluar dari kamar dan menuju pintu keluar.
“Aku mau cari Gilang ma!” seru Zahra menoleh sebentar lalu kembali berjalan.
“Tapi Ra! Zahra!” teriak semua orang pada Zahra. Reza mengetuk pintu mobil yang Zahra tumpangi. Namun Zahra tidak menghiraukannya dan mulai melajukan mobilnya.
__ADS_1
“Ikutin Zahra Za!” pinta Maya. Reza mengangguk.
“Pakai mobil aku aja Za.” Seru Keina. Reza dan Keina pun mengikuti ke mana arah mobil Zahra.
Sampai di tempat di mana pesawat itu terjatuh. Keina dan Reza mencari sosok Zahra. Mereka berlari ke arah Zahra yang menghentikan beberapa tim SAR yang membawa korban.
“Tunggu! Maaf pak bukan.” Ujar Zahra setiap menghentikan beberapa petugas. Zahra tidak bisa menahan air matanya.
“Ra ayo pulang! Gilang ngga ada di sini. Pasti dia udah ditemuin.” Ujar Keina lirih mencoba mengajaknya pulang. Zahra menatap sedu pada Keina.
“Rumah sakit! Gilang pasti di sana. Ayo Kei kita ke sana.” Pinta Zahra memelas, akhirnya Keinapun mengangguk menuruti kemauan Zahra.
Keina merasa iba pada keadaan Zahra sekarang. Zahra sangat terpukul. Sampai di rumah sakit, nihil. Gilang tidak ada di sana. Hampir semua rumah sakit mereka datangi. Reza bahkan menghubungi ayah Gilang, namun tidak ada jawaban.
“Secepat ini kah kamu ninggalin aku Lang?” gumam Zahra lirih. Ia terduduk di lantai rumah sakit, tubuhnya merasa lemah karena terlalu lama menangis. Pandangannya gelap, sesaat ia merasa tubuhnya terangkat dan setelah itu ia tidak mengingat apapun.
***
Zahra menunggu dan terus menunggu kabar baik dari Gilang. Sampai saat ini Gilang masih tidak ada kabar. Maya dan Reza tidak tahu harus berbuat apa agar Zahra mau keluar dari kamarnya. Bahkan Keina yang selalu membuatnya tersenyum pun kali ini tidak bisa berbuat apa apa.
Zahra menoleh pada jam wekernya, sekarang pukul 00.00. Entah sejak kapan ia terbangun dari tidurnya. Ia terus terbayang sosok Gilang. Baru beberapa hari ia menyadari perasaannya pada Gilang, Gilang pergi lagi dari hidupnya, dan entah kembali atau tidak.
Detik demi detik berlalu begitu cepat. Zahra bergegas mandi dan bersiap untuk ke kantor. Setelah satu minggu dia ambil cuti, akhirnya ia memutuskan untuk berangkat lagi. Setelah merasa mata sembapnya tidak terlalu terlihat, ia memutuskan untuk turun.
“Ra? Kamu koq rapi banget?” tanya Maya yang sedang menyiapkan makanan bersama bibi.
“Mau berangkat ke kantor lah ma.” Ujar Zahra tersenyum lalu duduk di meja makan.
“Kamu yakin? Kamu masih lemes lho.” Ujar Maya khawatir. Reza yang baru saja keluar dari kamarnya pun langsung duduk di sebelah Zahra.
__ADS_1
“Aku yakin koq ma.” Ujar Zahra tersenyum. Reza menatap Zahra iba. Ia menghela nafas berat lalu menoleh pada Maya.
“Biar nanti Reza aja yang nganterin Zahra ma. Mama jangan khawatir ya .” ujar Reza, Maya pun mengangguk.
Setelah selesai sarapan, Zahra dan Reza berpamitan untuk berangkat ke kantor. Sampai di kantor Zahra, Reza menghela nafasnya berat.
“Ra?”
“Ya bang?” Zahra menoleh. Dilihatnya Reza yang menatap sedu padanya. Ingin sekali Reza membuat Zahra tertawa lagi. Ia menghela nafasnya berat.
“Hati-hati nanti kesandung.” Timpal Reza, Zahra menngerutkan keningnya lalu terkekeh.
“Apaan sih garing!! Udah ah, nanti aku telat. Bye hati-hati bang.” Ujar Zahra di tengah kekehannya. Reza tidak tahu akan mengucapkan apa tadi, ucapan itu tiba-tiba muncul di pikirannya. Meski ucapannya barusan hanya sekenanya, dia senang karena Zahra akhirnya tertawa. Reza tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum ia melajukan mobilnya lagi.
Zahra berjalan menuju mejanya, ia heran karena Fanya duduk di kursinya.
“Nya?” tegur Zahra. Fanya menoleh dan menghampiri Zahra.
“Zahra ya ampun! Kamu gimana? Udah sembuh? Kata kakak kamu, kamu sakit. Sakit apa Ra?” tanya Fanya khawatir.
“Cuma demam koq, udah sehat sekarang.” Ujar Zahra tersenyum, Fanya menghela nafas lega.
“Kamu tumben udah ada di mejaku Nya?” tanya Zahra bingung. Zahra duduk di kursinya dengan Fanya yang berdiri di sebelahnya.
“Aku nungguin kamu berangkat lah. Udah seminggu aku kesepian tau ngga ada kamu.” Timpal Fanya, Zahra hanya bisa tersenyum menanggapinya.
“Kamu bisa aja sih.” ujar Zahra.
“Ra! Kamu udah ditungguin tuh sama pak bos.” Ujar Fanya, membuat Zahra mengernyit bingung.
__ADS_1
“Bos?”