
Zahra menghempaskan tubuhnya pada sofa saat sampai dirumahnya.
"Kamu baru pulang sayang? Tumben?" Tanya mamanya yang baru saja dari dapur. Zahra menoleh.
"Eh mama, iya nih. Abis ketemu temen." Zahra senyum-senyum mengundang tanda tanya di hati mamanya. Maya duduk di samping anaknya itu.
"Kenapa nih senyum-senyum. Pasti ketemu cowok ya?"tebak mama. Zahra terkejut dan terkekeh menatap mamanya.
"Eum iya, eh tapi bukan siapa-siapa koq ma." tepis Zahra.
"Siapa-siapa juga nggapapa koq sayang, mama liat-liat kamu tuh betah sendiri ya?" ujar mamanya.
Duh pertanyaan macam apa ini? batin Zahra.
"Bukan betah sendiri ma, tapi lagi nunggu sang pangeran jemput tuh." Suara bariton sang kakak dari belakang membuat Maya dan Zahra menoleh.
"Gilang.." bisik Reza di samping Zahra, lalu memungut remot tv dan menyalakannya.
"Ih apaan sih." Zahra memukuli lengan Reza, namun dengan senyum-senyum tidak jelas.
"Tuh kan senyum-senyum, beneran nungguin Gilang kan?" Reza terus menggoda adiknya itu, membuat wajah Zahra memanas.
"Siapa tuh Gilang?" Tanya mamanya.
"Eum,- bukan siapa-siapa koq ma, cuma temen." Ucap Zahra gugup.
"Calon mantu ma." Reza tertawa bersamaan dengan mamanya, sedangkan Zahra menahan malu masuk ke kamarnya.
Reza menyusulnya ke kamar Zahra. Zahra menoleh saat ada ketukan di pintu kamarnya.
"Ngapain kamu kesini bang? Puas ledekin aku?" Zahra menoleh sejenak, lalu memainkan ponselnya.
"Ya sorry Ra, eh besok kamu cuti ya, temenin Keina ke butik, aku ngga bisa soalnya." pinta Reza, Zahra mengernyit.
"Lah koq dadakan si." dengus Zahra.
"Kenapa?" Tanya Reza.
"Aku ada lembur besok, tapi akan aku usahain deh. Tapi ngga janji ya." Ujar Zahra tersenyum.
"Nah gitu donk, namanya adek yang pengertian." Reza meninggalkan kamar Zahra setelah menepuk puncak kepala Zahra.
Zahra menatap punggung Reza yang mulai menghilang di balik pintu. Ia tersenyum.
Bukan cuma sahabat ternyata kita saudara Za. Apapun akan kamu lakuin demi aku. Kamu selalu ada buat aku. Ngga nyangka aku pernah cinta sama kakakku sendiri, batinnya.
Zahra terkekeh geli.
Ia pun membaringkan tubuhnya, sangat lelah hari ini. Ia menatap ponselnya ada sebuah nomor tak dikenal.
0856892xxxxx
Good night Ara.
Zahra tersenyum membaca pesan itu. Tanpa niat membalasnya, entah sengaja atau apa, Zahra meletakkan ponselnya di nakas.
Kamu kembali Lang, batin Zahra. Dia pun mulai berselancar dalam mimpinya.
__ADS_1
***
Pagi menyambut. Hari ini Gilang tidak berniat untuk pergi ke kantor. Ia mengunjungi rumah omanya yang tidak jauh dari apartemennya, rumah itu adalah rumah masa kecilnya, sebelum orangtuanya kembali bersatu. Setiap Gilang cuti atau sedang bosan, dia selalu ke rumah omanya.
"Pagi oma." Sapa Gilang saat melihat oma kesayangannya di teras rumah.
"Pagi cucu oma." Omapun mencium kening Gilang dan memeluknya.
"Oma koq sendirian, opah mana?" Tanya Gilang celingukan.
"Udah pergi tadi katanya sih mau ketemu kerabat dekatnya gitu." Ujar omanya.
Gilang adalah cucu yang sangat baik di mata oma dan opanya, dia selalu menuruti apa kata mereka. Dia sangat menyayangi mereka. Perusahaan Suryagroup sebenarnya milik opah Gilang, lalu diturunkan ke ayah Gilang dan sekarang dia yang memegangnya. Karena ayah Gilang mengurus perusahaan di Australia bersama Galang, kakaknya.
Sementara itu, Zahra segera menyelesaikan pekerjaannya sebisa mungkin.
"Buru-buru amat Ra?" Ujar Nella saat mengintip di balik bilik kerja Zahra.
"Iya nih, aku harus cepet-cepet nyelesaiin kerjaan aku biar bisa ijin setengah hari Nel." Zahra menjelaskan.
"Lah kamu mau ijin Ra? Emang boleh? Kamu kan baru di sini." ujar Nella mengernyit.
Zahra mengangkat bahunya. "Aku diijinin sama Bu Fia, asalkan aku bisa nyelesaiin kerjaan aku lebih cepet lagi."
"Koq bisa gitu sih Ra? Aku aja yang udah satu tahun baru boleh dikasih ijin, dulu waktu aku disini masih seumur jagung, aku ngga boleh ijin." Nella bersedekap. Zahra mengangkat bahunya lagi.
"Tau ah, jangan ganggu deh." dengus Zahra masih fokus dalam laptopnya. Nella menghela nafasnya kasar.
"Iya iya yang sibuk." Ujar Nella lalu duduk kembali di kursinya. Zahra tersenyum.
"Akhirnya selesai juga." Ujarnya lirih, Zahra membereskan barang-barangnya, lalu mengintip Nella.
"Udah ah jangan cemberut gitu, ntar cantiknya ilang loh."goda Zahra tersenyum meluluhkan Nella.
"Apaan sih Ra, aku lagi gak mood sama kamu." Ujar Nella masih setia menatap layar monitor.
"Ututututuu, jangan ngambek donk, gini deh, besok aku tlaktir kamu makan siang, gimana?" Tawar Zahra, tidak sampai tiga detik senyuman terukir di wajah Zahra saat melihat Nella tersenyum dan menatapnya .
"Bener ya? Aku tunggu loh." Ujar Nella bersemangat.
"Iya iya,udah ya aku duluan." Ujar Zahra lalu pergi dari sana.
***
Zahra keluar kantor dan mendapati mobil Keina terparkir di seberang kantor. Hari ini Zahra diminta Keina untuk tidak membawa mobil, karena ia ingin menjemputnya.
"Kita mau ke butik mana nih Kei?" Tanya Zahra setelah duduk di samping Keina.
"Makan dulu kita, kamu laper kan?" Tanya Keina balik.
"Iya juga sih." Zahra mengiyakan karena memang ia lapar sekali.
Keina menghentikan mobilnya di cafe yang tidak jauh dari sekolahnya dulu.
"Kamu ngga salah pilih tempat nih Kei?" Tanya Zahra bingung.
"Engga lah, aku tuh pengen nostalgia hari ini." Ujar Keina tersenyum.
__ADS_1
Setelah memesan makanan, Zahra dan Keina mengenang masa SMPnya dulu.
"Tempat ini ngga berubah ya Ra?" Ujar Keina.
"Iya Kei, aku kangen masa sekolah kita dulu. Eh abis ini gimana kalo kita ke tempat favorit kita?" usul Zahra, Keina mengangguk dan tersenyum.
"Ok setuju."
Setelah selesai makan, mereka meninggalkan mobilnya di depan cafe, mereka berjalan menuju halte.
"Inget ngga? Dulu ada yang mau coba deketin kamu tapi diajak berantem sama si Gilang?" Keina mengingatkan Zahra lalu merekapun tertawa bersama.
"Iya aku inget. Sok jagoan tuh si Gilang." Ujar Zahra terkekeh.
"Bukan sok jagoan Ra, tapi dia tuh ngga mau wanitanya direbut cowok lain." Zahra tersentak, ia mengingat kejadian kemarin saat di minimarket dan saat Gilang bilang kangen sama dia. Melihat Zahra yang terdiam, Keina pun melanjutkan.
"Kamu yakin? Kalo kamu ngga suka sama Gilang?" Selidik Keina.
"Aku.."
"Jangan boongin diri kamu sendiri Ra, aku tau koq kamu itu suka sama Gilang." Keina tersenyum, begitu pun Zahra.
"Aku ngga yakin Kei." racau Zahra bimbang.
"Apa sih yang bikin kamu ngga yakin?" tanya Keina. Zahra menggeleng lemah.
"Aku juga ngga tau." balasnya lemah.
"Kalo seandainya nih, si Gilang nembak kamu. Kamu terima ngga?" Tanya Keina. Zahra mengernyit dan mendengus.
"Aduh Kei, jangan mikir kejauhan deh." Tepis Zahra mengelak.
"Siapa tau gitu, tapi aku yakin, dia pasti sayang sama kamu Ra." ujar Keina meyakinkan Zahra.
Zahra tidak membalasnya, dia bangkit dari duduknya lalu menyebrang menuju mobil Keina.
"Ck.dasar." decak Keina lalu mengikuti Zahra.
Mereka menuju ke 'Ebita Store' untuk mengambil gaun Keina.
"Keren banget Kei, gaunnya. Kamu juga cantik banget pake gaun itu." puji Zahra saat Keina mencoba gaun itu.
"Ohya? Makasih." ujar Keina kembali menatap gaun itu, Keina menepuk lengan Zahra.
"Makanya cepetan nyusul aku juga, kalo ngga, kita tunangan bareng aja gimana Ra?" Usul Kiara. Zahra terkekeh.
"Ada-ada aja sih." Zahra melihat sekeliling butik dan menemukan dress yang sangat cantik berwarna silver, tampak sederhana namun berkesan elegan.
"Kei.. ini bagus ngga?" Zahra menunjukkan gaun itu pada Keina.
"Bagus tuh Ra, keliatan elegan banget." ujar Keina memuji gaun itu.
Zahrapun mencobanya. Dirasa cocok iapun mengambilnya.
"Mbak aku mau yang ini donk." Ujar Zahra.
***
__ADS_1