
Usai pernikahan Reza dan Keina, Galang mengajak Zahra menuju suatu tempat . Zahra terpesona melihat pemandangan yang ada di sana. Nuansa romantis, elegan dan yang pasti terkesan mewah. Mereka berjalan beriringan, Galang menggenggam tangan Zahra menuju sebuah meja yang di hias sangat indah.
“Ra?” tegur Galang saat Zahra terus memandangi keindahan tempat itu. Zahra menoleh.
“Ya?”
“Gimana? Kamu suka? tanya Galang. Ia melepaskan genggaman tangannya. Zahra mengangguk.
“Aku suka banget Lang.“ ujar Zahra dengan mata berbinar.
Galang terkejut saat tiba-tiba Zahra memeluknya. Ada sesuatu yang tidak dapat ia ungkapkan dengan kalimat. Mereka terdiam. Galang hendak membalas pelukan Zahra, namun Zahra tersadar dan melepaskan pelukannya.
“Maaf Lang, ak.. aku kelepasan.. hehe” cicit Zahra canggung.
“Ngga papa koq Ra. Asal kamu suka.” Ujar Galang tersenyum dan merentangkan tangannya. Zahra pun kembali memeluk Zahra.
“Makasih Lang. Kamu udah buat aku lupa atas kesedihanku.” Ujar Zahra dalam pelukan Galang. Galang tersenyum hangat.
“ Aku akan selalu membuat kamu tersenyum. Aku akan berusaha membuatmu bahagia, sebahagia mungkin. Hingga kamu lupa rasanya sedih.” Ujar Galang.
“Aku rindu sama Gilang.” Gumam Zahra lirih. Tak terasa air matanya mengalir hingga membuat jas Galang basah. Galang terdiam sesaat. Hatinya sakit saat Zahra mengatakan itu. Entah mengapa ia tidak rela jika Zahra menyebut nama Gilang di depannya.
Galang melepaskan pelukannya dan menatap Zahra. Tangannya terulur menghapus air mata Zahra dan menyentuh bahunya.
“Ra.. bukan Cuma kamu yang merasa kehilangan Gilang. Aku, mama, papa, oma semuanya kehilangan Gilang. Aku juga rindu sama dia. Tapi, sekuat apapun kita meminta, Gilang ngga akan pernah kembali Ra. Dengerin aku, kamu wanita yang kuat, kamu bisa tanpa Gilang. Kamu ngga mau kan liat Gilang sedih dan merasa bersalah karena udah ninggalin kamu?” Tanya Galang lirih, Zahra menggeleng cepat, ia tidak ingin melihat Gilang sedih karenanya.
“Hapus air mata kamu, Gilang udah bahagia di sana.” Ucap Galang menenangkan Zahra.Ia kembali memeluk Zahra. Seakan memberikan semangat untuk Zahra.
Sakit, sakit karena saudara satu-satunya telah pergi untuk selamanya. Bukan hanya itu, kenyataan lain yang membuat hatinya sakit saat ia menatap mata Zahra. Sebuah rasa sakit di mata Zahra ditinggal kekasih yang teramat Zahra cintai. Membuat Galang sakit, entah apa yang ia rasakan. Yang ia tahu, rasa sakit itu selalu datang saat Zahra mengatakan dia merindukan Gilang.
__ADS_1
Galang melepaskan pelukannya, mempersilahkan Zahra duduk di sana. Sejenak mereka melupakan kesedihan mereka.
Entah ini menjadi dinner yang terakhir atau bagaimana, Zahrapun tidak tahu.Karena setelah malam itu, Galang tidak pernah lagi menemui Zahra. Satu minggu berlalu, ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Zahra menanyakan kabar tentang Galang pada Reza. Namun Reza tidak mengetahui kabar apapun tentang Galang.
Bulan demi bulan berlalu Zahra selalu menunggu kabar Galang, namun nihil, Galang tidak pernah menghubunginya.
Tepat satu tahun pernikahan Keina dan Reza. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat lucu. Menggemaskan kata Zahra. Keina dan Reza telah memiliki rumah sendiri. Zahra selalu meluangkan waktunya main ke sana, sekedar menghilangkan kepenatannya karena seharian bekerja. Semenjak Zahra memegang salah satu cabang cafe milik mamanya, Zahra telah mengembangkannya menjadi restauran dan membuka beberapa cabang lagi. Entah itu karena suka atau sekedar hiburannya, hingga Zahra lupa bahwa ia juga butuh teman hidup.
Berkali-kali seorang pria datang menemuinya dan ingin mengenalnya lebih dekat, namun Zahra hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang teman.
Vania Rose Novela, putri kecil Keina, sedang duduk di pangkuan Zahra. Ia sngat dekat dengan Zahra. Umurnya masih tiga bulan.
“Jadi kapan?” sergah Keina tiba-tiba datang dengan membawa nampan di tangannya. Zahra tidak ingin menoleh pada Keina.
“Apanya?” cetus Zahra masih bermain dengan Vania.
“Cari pasangan lah. Biar ngga kesepian.” Ujar Keina tersenyum
“Koq ngejek sih? Ngga lah." Ujar Keina, ia menatap Zahra yang masih bermain dengan putri kecilnya.
“Gimana hubungan kamu sama Galang?” tanya Keina serius. Zahra mendesah.
“Ngga tau.” Ujarnya singkat. Satu tahun berlalu, ia masih mengingat sosok yang tanpa sadar telah merebut hatinya dari Gilang.
“Koq ngga tau sih?” Keina menatap Zahra heran. Wajah Zahra yang berubah murung membuatnya enggan bertanya lebih dari itu.
“Udah lah, aku ngga mau bahas dia.” Ujar Zahra mengelak. Keina hanya mengangguk.
“Oh iya, minggu depan Reza ulang tahun. Ngga lupa kan?” ujar Keina mengalihkan pembicaraan. Zahra menatap Keina dan menepuk keningnya
__ADS_1
“Hampir aja aku lupa Kei.” Ujar Zahra tersenyum.
“Tuh kan lupa. Kamu tuh mikirin restoran mulu makanya gitu deh.” Ujar Keina cemberut. Zahra terkekeh mendengarnya.
“Iya iya.. jam berapa acaranya?”
“Jam tujuh udah mulai koq.” Ujar Keina. Zahra mengangguk.
“Yaudh, aku pulang dulu ya Kei. Mau cek restoran soalnya.” Ujar Zahra berpamitan.
“Iya, kamu hati-hati, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya.” Ujar Keina mengingatkan, Zahra terkekeh lalu menatap Vania.
“Bye cantik, tante Ara pulang dulu ya. Besok-besok main lagi sama Vania.” Ujar Zahra pada Vania. Vania tampak mengulurkan tangannya ingin ikut dengan Zahra.
“Vania masih kangen ya sama tante?” ujar Keina lalu menggendong Vania. Zahra tersenyum lembut pada Vania dan melambaikan tangannya.
“Bye bye tante Ara.” Ujar keina.
Zahra mengendarai mobilnya menuju restoran.
Tiga hari sebelum ulang tahun Reza, Zahra memilih untuk pergi ke Australia. Ia ingin mengunjungi makam Gilang. Rasanya sudah sangat lama ia tidak mengunjunginya.
Dengan membawa satu buket bunga mawar, Zahra menaruhnya di atas makam Gilang.
“Lang? Apa kabar? Aku kangen sama kamu. Maaf aku baru sempet datang ke sini jengukin kamu.” Zahra menarik nafas panjang.
“Aku tahu, meskipun berulang kali aku meminta kamu untuk tetap di sini. Kamu ngga akan pernah datang ke sini. Aku egois, iya Lang. Aku egois karena aku selalu meminta sama Allah untuk mengembalikan kamu sama aku. Aku sayang sama kamu Lang. Baru beberapa hari aku nyadar kalo aku suka sama kamu, kamu malah pergi ninggalin aku. Kamu janji ngga akan pernah ninggalin aku lagi. Kenapa kamu malah pergi untuk selamanya. Mana janji kamu Lang? Kamu ingkari janji kamu. Kamu janji akan cepet pulang. Aku pengen kamu di sini. Aku pengen peluk kamu. Aku....”
Zahra tidak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Ia terus menangis menatap batu nisan itu dan mengusapnya lembut. Matanya yang sedikit bengkak tidak ia pedulikan lagi.
__ADS_1
Gilang yang dulu selalu membuatnya kesal dan sekaligus orang yang selalu terbayang dalam pikiran Zahra, kini telah tiada. Ia telah pergi jauh ke tempat yang tidak mungkin Zahra temui. Akankah Zahra bisa menggantikan posisi Gilang di hatinya? Bahkan Zahra selalu mengelak saat ada orang menanyakan soal hubungannya dengan seorang pria.
“Nanti juga ketemu jodoh.” Hanya kalimat itu yang selalu Zahra lontarkan untuk mereka.