Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
23. Eps 22


__ADS_3

Gilang mengajak Zahra ke sebuah cafe. Saat sampai di sana, Gilang menggandeng Zahra menuju meja yang telah disiapkan untuk mereka. Zahra tidak berhenti menatap hiasan penuh bunga di sana. Zahra begitu hanyut dalam suasana romantis di cafe itu. Ia menoleh pada Gilang yang sedari tadi menatapnya.


“Kamu yang nyiapin ini semua Lang?” tanya Zahra, Gilang tersenyum lalu mengangguk.


“Kamu suka ngga Ra?” tanya Gilang, Zahra yang sedari tadi menatap Gilangpun tersenyum manis dan mengangguk.


“Suka Lang. Aku suka banget.” Ujar Zahra, hatinya terasa hangat mendapat surprize ini dari Gilang.


“Sama aku?” Gilang mengangkat sebelah alisnya mencoba menggoda Zahra. Senyuman Zahra seketika menghilang dan mencubit perut Gilang sehingga membuat Gilang meringis kesakitan.


“Dih! Gilang udah deh becandanya. Kamu tuh suka banget ngerjain aku ya!” dengus Zahra. Gilang menatap Zahra yang cemberut di depannya itu dengan tersenyum.


“Ooh, jadi kamu sukanya sama yang serius?” ujar Gilang lalu meraih kedua tangan Zahra. Zahra cengo menatap kedua tangannya. Dengan gugup Zahra melepaskan tangannya.


“Eum,- haus nih. Ngga pesen minum?” ujar Zahra mengalihkan perhatian Gilang darinya. Gilang terkekeh melihat tingkah Zahra yang sangat terlihat kegugupannya. Tak lama kemudian seorang waiters membawakan hidangan yang telah dipersiapkan untuk mereka. Zahra mengernyit.


“Kenapa?” tanya Gilang saat melihat Zahra menatapnya heran. Zahra menggeleng, ia mengerti, hari ini benar-benar surprize untuknya.


Setelah makan siang itu, Gilang mengajak Zahra menuju satu tempat romantis lainnya. Pantai? Entah mengapa Gilang mengajaknya ke sini. Gilang menggenggam erat tangan Zahra.


Zahra menoleh pada Gilang yang terus menatap pantai, tatapannya datar. Ia menatap tangan yang menggenggamnya erat. Kembali ia menatap Gilang, entah mengapa Zahra seakan akan takut tidak dapat melihat wajah itu lagi. Gilang duduk di atas pasir putih itu begitu juga Zahra yang ikut duduk di sampingnya.


“Ra” panggil Gilang. Zahra menoleh ada tatapan sedu di mata Gilang.


“Besok pagi aku mau pulang ke Australia.” Gumam Gilang lirih. Zahra terkejut.


“Koq mendadak?” tanya Zahra. Gilang menatap Zahra sedu.

__ADS_1


“Maaf Ra, oma kritis. Tadinya aku mau kesana hari ini.” Ujar Gilang menatap Zahra.


“Ya ampun, kenapa ngga bilang dari semalem.” Zahra menatap Gilang. Gilang menghela nafasnya.


“Kamu inget? Semalem kamu cuekin aku? Aku pengen ngajakin kamu dinner romantis kayak tadi. Tapi aku tau mood kamu lagi ngga baik semalem. Aku ngga mau pergi tanpa senyum kamu.” Ujar Gilang.


Zahra teringat setelah pulang dari pesta pertunangan sahabatnya, ia mengacuhkan Gilang. Zahra tersenyum menatap Gilang.


“Lagipula dengan kejadian semalem, aku juga jadi lebih banyak waktu hari ini bareng kamu. Aku takut ngga bisa ketemu kamu lagi.” Lanjutnya. Senyum di wajah Zahra seketika menghilang, Zahra melepaskan genggaman tangannya dari Gilang.


“Koq kamu bilang gitu sih? Kamu kan udah janji ngga akan ninggalin aku lagi.” Zahra menatap Gilang datar.


“Kalo takdir berkata lain?” ucap Gilang. Entah mengapa kalimat itu lolos dari mulutnya.


Zahra tersentak dengan ungkapan Gilang. Ia terdiam. Matanya mulai panas, rasa sesak di dadanya membuat air matanya menggenang di pelupuk matanya.


“Harusnya kamu ngga usah nemuin aku lagi setelah perpisahan kita waktu SMP dulu.” Ujar Zahra, ia berdiri. Air mata yang telah menggenang itu tak mampu ia tahan. Gilang berdiri dan menggapai Zahra ke dalam pelukannya. Zahra menangis dalam pelukan Gilang.


“Ngga! Oma lebih butuh kamu sekarang Lang. Tapi kamu janji kamu harus pulang lagi ke sini.” Zahra menghela nafasnya, ia menatap Gilang yakin.


“Aku ngga mau kehilangan kamu lagi. Kamu yang udah ngisi hari-hariku selama ini. Aku sadar, selama ini aku selalu nunggu kamu Lang. Aku juga sayang sama kamu.” Lanjutnya,


Gilang tersenyum senang menatap Zahra, pernyataan dari Zahra membuatnya puas. Ia memeluk Zahra sejenak lalu ia melepaskan pelukannya.


“Aku kira, dulu kamu suka sama Reza, soalnya dulu apa-apa Reza, selalu Reza!” Dengus Gilang mengingat Zahra yang selalu di dekat Reza saat Gilang mencoba mengganggunya. Zahra terkekeh.


“Reza ngga akan hadir kalo kamu ngga usik aku. Kamu yang pertama muncul dalam pikiran aku.” Ujar Zahra tersenyum tulus. Gilang membalas senyuman itu, ia berlutut di depan Zahra.

__ADS_1


“Jadi aku ngga perlu meminta kamu untuk sayang sama aku? Karena aku tau kamu sayang sama aku.” Ujar Gilang, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang ada di saku celananya. Kotak yang sama, yang akan Gilang keluarkan semalam saat acara pertunangan Reza dan Keina.


“Kamu mau kan jadi pendamping hidup aku?” lanjutnya. Zahra terharu, untuk kesekian kalinya Gilang memberinya kejutan. Namun senyum di wajahnya tiba-tiba menghilang. Ia teringat Nesya yang semalam merusak suasana romantisnya. Ia juga teringat ucapan Restu hari itu. Zahra terdiam, ia menatap datar kotak cincin di hadapannya. Ia menepis kotak itu hingga kotak itu terjatuh di atas pasir. Gilang terkejut dan menatap kotak yang terjatuh itu.


“Ra? Ada apa? Kenapa kamu buang cincin itu?” tanya Gilang, ia menatap Zahra yang menatapnya datar. Gilang berdiri.


“Aku ngga bisa nglakuin ini. Aku emang sayang sama kamu. Tapi aku ngga bisa. Nesya,-“


“Nesya?” potong Gilang. Gilang terkekeh mendengar nama itu.


“Ooh jadi kemaren kamu diemin aku karena Nesya? Ra! Nesya cuma sahabat aku. Dia,-“


“Iya dia sahabat kamu, dan kamu cinta kan sama dia?” Potong Zahra.


“Cinta? Aku cuma cinta sama kamu Ra. Ngga ada yang lain. Aku cuma sahabatan sama dia. Aku deket sama dia karena emang aku sama dia udah kenal lama.” Ujar Gilang mencoba menjelaskan pada Zahra. Zahra tersenyum tipis.


“Sahabat? Ngga ada persahabatan antara cewek sama cowok Lang, karena salah satu dari mereka ada yang punya perasaan lebih.” Ujar Zahra frustasi, entah mengapa Zahra sakit mengingat kedekatan Gilang dan Nesya.


“Ya, aku tau pepatah itu Ra, dan mungkin orang lain iya. Tapi aku ngga Ra. Aku cuma sayang sama kamu. Lagipula Nesya itu udah,-“


“Udah mau married kan? Makanya kamu cari aku. Dan kamu deketin aku.” Potong Zahra untuk kesekian kalinya. Gilang tersentak, ia mengacak rambutnya frustasi.


“Ra! Sampai kapan si kamu mau percaya sama aku. Aku, Nesya sama Restu itu sahabat. Yang deketin Nesya itu Restu bukan aku. Dan yang kamu maksud tadi itu bukan aku, tapi Restu. Restu yang datengin kamu karena dia patah hati denger kabar Nesya yang mau married. Percaya sama aku Ra!” Gilang menggenggam tangan Zahra dan menatapnya sedu. Ia bingung harus bagaimana membuat Zahra percaya padanya. Zahra melepaskan tangannya dari Gilang.


“Restu udah cerita semuanya. Aku kira kamu sayang sama aku tulus Lang. Aku bodoh. Selama ini aku berharap aku menjadi satu-satunya orang yang ada di hati kamu. Ternyata aku salah. Aku bodoh udah nunggu kamu. Aku bodoh!!” racau Zahra. Air mata dengan lancang mengalir di pipinya, Zahra tidak ingin terlihat lemah, ia berlari meninggalkan Gilang yang terpaku di tempatnya.


Galang mencoba menyusul Zahra, namun Zahra dibawa pergi oleh..

__ADS_1


Restu.


***


__ADS_2