
Seperti biasa Fanya makan siang bersama Zahra. Zahra yang memperhatikan tingkah Fanya dengan penasarannya langsung menanyakan keadaannya. Karena merasa cocok dengan Zahra, Fanyapun menceritakan semuanya pada Zahra.
"Apa?" Zahra terkejut saat Fanya menceritakan masalah Gilang dan Restu.
"Bentar, Restu? Restu siapa sih?" Tanya Zahra.
"Restu Ra. Kamu ngga,- ya ampun Ra kamu ngga kenal Restu itu siapa? Restu Febian. Modeling terkenal itu loh." Fanya menggelengkan kepalanya tak percaya menatap sahabatnya itu, padahal Restu aktor internasional. Tapi Zahra tidak mengenalnya.
"Restu Febian?" Zahra tampak berpikir. Restu Febian temannya kah? Zahra memang tidak pernah tahu bagaimana karier teman sekolahnya itu. Mungkin karena Zahra lebih sering menikmati acara drama Korea daripada berita lokal. Namun hanya ada satu nama Restu Febian.
"Bentar aku searching dulu." Ujar Fanya lalu membuka sosmednya dan menunjukkan foto-foto Restu.
Zahra melirik pada ponsel Fanya. Benar saja dia Restu yang Zahra kenal. Zahra berpikir bahwa ada sesuatu sehingga Gilang menyetujui kerjasama gila itu.
"Biar aku yang bujuk Restu." Ujar Zahra menatap Fanya yakin. Fanya hanya menatap Zahra tak percaya.
“Apa yang mau kamu lakuin Ra?” tanya Fanya. Zahra tersenyum menatap Fanya.
“Udah kamu tenang aja.” Ujar Zahra dengan tenang. Fanya hanya mengedikkan bahunya mempercayakan semuanya pada Zahra.
***
Restu tersenyum senang saat Zahra mengajaknya untuk bertemu di cafe.
“Ada apa Ra? Lo kangen ya sama gue?” tanya Restu tersenyum tanpa basa basi saat dia telah duduk di hadapan Zahra. Zahra mendengus, menghela nafasnya kasar.
“Rencana kamu apa sih Res? Sampe buat perjanjian kayak gitu sama Gilang?” tanya Zahra tanpa menghiraukan ucapan Restu barusan. Terdengar kekehan Restu.
“Jadi lo ngajakin gue ketemuan di sini untuk bahas Gilang?” Restu berdecak kesal mendengar ucapan Zahra tadi. Lagi-lagi Zahra menghela nafasnya berat.
“Jawab Res, kenapa kamu ngajuin permintaan bayaran sepuluh kali lipat itu? Kamu gila ya?” sungut Zahra, Zahra menatap Restu datar. Ia tidak habis pikir pada Restu. Berbeda dengan Zahra, Restu justru tersenyum menatap Zahra.
“Ya! Gue emang gila. Dan itu karena lo Ra! Kenapa sih? Lo ngga mau jadi cewek gue? Gue bisa aja ngajakin lo jadi artis terkenal Ra. Bahkan jadi artis internasional kayak gue. Kita bakalan jadi trending topik, pasangan terromantis dan terserasi Ra, bahkan kita,-“
“Udah cukup Res, aku udah pernah bilang kan sama kamu? Aku cuma sayang sama Gilang, dan sampai kapan pun aku ngga akan mau jadi pacar kamu. Aku minta maaf.” Potong Zahra, sebelum Restu melanjutkan pidatonya.
__ADS_1
Restu menghela nafasnya kasar. Ia menatap Zahra datar.
“Gue bakalan batalin perjanjian gue dengan Gilang. Asalkan lo mau nerima gue dan tinggalin Gilang selamanya.” Tawar Restu, Zahra tersentak.
Apa ini alasan Gilang menyetujui perjanjian gila itu? Jadi karena aku? batin Zahra.
“Gimana Ra?” tanya Restu saat Zahra tidak menjawabnya. Zahra tampak berpikir, ia teringat ucapan Fanya.
“Aku mohon Ra, bantu aku bujuk Gilang untuk menghentikan perjanjian gila itu, aku ngga tau gimana jadinya kalo Pak Prima sampai tau.”
Zahra menatap Restu dengan lesu.
Maafin aku Lang, ini demi perusahaan kamu. Batin Zahra.
***
Fanya tersenyum senang memeluk Zahra. Zahra membalas pelukan itu dan tersenyum hangat pada Fanya. Fanya melepaskan pelukannya.
“Eits, tunggu deh, tapi gimana kamu bisa bujuk Restu untuk membatalkan perjanjian itu?” tanya Fanya penasaran, Zahra mengedikkan bahunya.
“Kan aku udah bilang sama kamu Nya, kamu tenang aja, kamu terima beres. Biar ini jadi rahasiaku sama Restu. Oke!” pinta Zahra. Fanyapun mengangguk, ia kembali ke ruangannya.
Zahra melirik jam tangannya, sudah waktunya dia pulang. Zahra membereskan barang-barangnya dan melenggang keluar dari kantor.
“Yuk Ra!”
Zahra menoleh mendapati Gilang di sampingnya menggenggam tangannya. Dengan cepat ia menepisnya. Gilang menatap Zahra bingung.
“Kamu kenapa?” tanya Gilang, Zahra tidak menatap Gilang.
“Aku bisa pulang sendiri.” Ujar Zahra datar meninggalkan Gilang, dengan cepat Gilang mencekal lengan Zahra membuat Zahra menoleh.
“Lepasin aku Lang, aku mau pulang!” Seru Zahra, ia menatap Gilang dingin.
“Aku ngga akan lepasin kamu, sebelum kamu jelasin sama aku. Kamu kenapa? Apa karena aku presdir di sini? Dan kamu bawahan aku. Apa karena aku ngga pernah bilang siapa aku? Apa kamu masih marah karena cokelat itu?” Ujar Gilang, Gilang menatap Zahra, ia menghadapkan Zahra padanya. Zahra terdiam.
__ADS_1
“Jawab aku Ra! Kenapa kamu ngehindar dari aku?” tanya Gilang lagi, namun Zahra masih terdiam.
“Lupain aku Lang.” Ujar Zahra lalu melepaskan dirinya dari Gilang dan menjauh darinya.
Zahra menghentikan taxi yang kebetulan lewat di depannya. Dengan cepat ia memasuki taxi itu. Ia menatap Gilang yang berdiri terpaku di tempatnya. Air matanya meluruh menatap Gilang seperti itu. Ia merasa bersalah mengacuhkan Gilang seperti ini.
“Maafin aku Lang.” Gumam Zahra lirih.
***
Zahra menatap dirinya di cermin, ia merasa puas dengan tampilannya malam ini. Dia mengambil tas selempangnya dan turun menemui mamanya dan juga Reza,tidak hanya itu, di sana juga ada Bu Rahma.
“Lama banget dandannya Ra! Kamu mau sekalian tunangan ya sama Gilang?” ledek Reza saat melihat Zahra turun dari kamarnya. Sedangkan Bu Rahma dan Maya justru memuji penampilan Zahra malam ini.
Zahra mendengus mendengar ledekan Reza. Baru beberapa jam yang lalu Zahra meminta Gilang untuk melupakannya, dan dia akan menjauhi Gilang. Zahra yang juga berusaha mencoba menenangkan hatinya yang tampak merasa bersalah pada Gilang karena telah mengungkapkan hal bodoh itu, Reza justru mengingatkannya kembali.
“Apaan sih? Udah yuk, kasian keluarga Keina udah nunggu.” Tepis Zahra mengalihkan pembicaraan mereka. Malam ini adalah hari yang ditunggu oleh Reza karena akan melamar Keina.
Mereka menaiki mobil dan menuju rumah Keina. Seperti janji orangtuanya waktu itu, papa Reza ikut menemani dalam acara pertunangan Reza dan Keina.
Acara pertunangan Reza dan Keina berjalan lancar, setelah bertukar cincin, para tamu undangan di minta untuk menikmati hidangan yang ada.
Tiba-tiba semua lampu mati, membuat para tamu panik. Suara gaduh mulai berhenti saat sebuah nada mulai terdengar. Sorot lampu di atas panggung kecil membuat semua mata tertuju pada seseorang yang tengah memainkan gitar di atas kursi.
Acara pertunangan ini di adakan di taman belakang rumah Keina, dengan diberi panggung kecil untuk mengisi acara setelahnya.
Zahra yang melihat itu pun tidak berkedip sama sekali. Ia menatap takjub pada orang yang tengah melantunkan lagu itu.
“Lagu ini aku tujukan untuk seseorang di sana.” Ujarnya setelah selesai menyanyikan lagu itu, lalu menunjukkan tangannya pada Zahra.
Zahra tersenyum senang saat Gilang menunjuknya. Ya, Gilang yang baru saja menyanyikan lagu itu untuk Zahra. Terdengar riuh tepuk tangan para tamu. Gilang turun dari panggung dan mendekat pada Zahra.
“Ra, kamu mau kan jadi pacar aku?” tanya Gilang memohon pada Zahra, Zahra tampak kalut dengan apa yang terjadi barusan. Zahra tersenyum.
“Aku,-“
__ADS_1
“Gilang? Ya ampun gue ngga nyangka bakal ketemu lo di sini.” Potong seseorang menyapa Gilang, Zahra terdiam sesaat saat seorang gadis menyapa Gilang dan memeluknya. Zahra menatap datar pada gadis itu. Gilang tampak tersenyum pada gadis itu saat melepaskan pelukannya.
“Nesya?”