Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
40. Last


__ADS_3

“Maafin aku Lang. Aku mengungkapkan semuanya sama kamu. Maafin aku udah khianati kamu. Maaf kalo aku membuka hatiku untuk Galang. Aku ngga tau, Galang selalu muncul di dalam pikiranku. Aku ngga bisa mengelak lagi. Aku sayang sama Galang. Tapi aku janji, ngga akan pernah lupain kamu. Kamu selalu ada di hati aku. Jika kamu merestui hubungan aku sama Galang, izinkan aku bertemu lagi sama dia. Bawa dia kembali sama aku. Aku sangat merindukan dia. Aku.. aku sayang sama Galang.” Suaranya lirih. Ia mengusap lembut batu nisan itu.


Deg.. jantungnya berdetak kencang saat mendengar ungkapan itu. Galang hendak meraih Zahra dalam pelukannya. Namun ia tidak sanggup. Bukan sekarang, dia masih ingin meyakinkan Zahra bawa ia benar-benar menyayanginya.


“Gilang. Maaf aku udah jujur soal ini. Aku sayang sama kamu. Sampai kapanpun kamu ngga akan pernah hilang dari hati aku. Aku pulang ya. Aku harap kamu selalu bahagia di sana. Aku bahagia, jika kamu bahagia.” Ujar Zahra mengakhirinya, ia berdiri. Mata sembapnya masih terpampang jelas. Ia berjalan menjauh dari makam itu dengan menunduk.


“Maaf ngga sengaja.” Ujar Zahra meminta maaf saat tidak sengaja menabrak seseorang yang tak lain adalah Galang. Zahra langsung pergi tanpa menatap orang itu.


Galang tersenyum lega saat Zahra mulai menjauh tanpa mengenalinya. Ia melihat pipi Zahra yang masih basah. Dan mata Zahra yang bengkak karena menangis. Galang berjalan mendekati makam Gilang.


“Hai Lang. Lo beruntung memiliki wanita tangguh seperti dia. Lo beruntung, lo berhasil merebut perhatian dia. Sampai kapanpun, Zahra akan jadi milik lo. Gue ngga bisa gantiin lo di hati dia. Gue hanya bisa berada di sisinya, bukan hatinya.” Galang tersenyum menatap nisan itu. Tatapannya sedu, dalam hatinya ia merapalkan kalimat “Lo kuat, lo kuat, lo kuat!!” saat menghadapi kenyataan bahwa adiknya telah meninggalkannya jauh, dan tak akan kembali.


“Kita sama-sama menyukainya Lang, gue sadar gue salah. Lo nyuruh gue jagain dia untuk lo. Tapi gue tertarik sama dia. Gue sadar gue ngga bisa tanpa dia di sisi gue. Gue ngerasa ada yang berubah, seperti ada yang hilang. Maaf gue lancang mencintai kekasih adik gue sendiri. Entah lo ngerencanain apa, apakah ini yang lo sebut gue harus jagain Zahra?” gumam Galang. Ia menyentuh bunga di atas makam Gilang, bunga yang masih segar. Bunga yang Zahra taburi beberapa menit lalu. Tak hanya itu, ada satu buket bunga mawar yang indah.


“Makasih udah memberiku kesempatan untuk kenal dan deket sama Zahra. Gue janji, gue ngga akan kecewain lo. Gue akan selalu membuat dia bahagia. Gue balik Lang. Semoga lo selalu bahagia di sana.” Galang mengecup batu nisan itu, memandangnya membuat hatinya sakit. Namun ia tidak boleh terus menerus sedih di sana. Galang berjalan meninggalkan makam itu.


***


“Jadi waktu itu kamu yang aku tabrak di deket makam Gilang? Koq jahat sih ngga negur aku? Kenapa kamu ngga nemuin aku.” Zahra mengerucutkan bibirnya. Galang mengusap lembut puncak kepala Zahra.


“Hei, tapi sekarang aku udah di sini kan? Waktu itu belum tepat aku nemuin kamu.” Ujar Galang tersenyum. Zahra hanya menghela nafas, tidak butuh waktu lama, Galang meraih Zahra ke dalam pelukannya.


Dalam waktu dekat ini, Zahra dan Galang akan melangsungkan pernikahannya. Setelah fitting baju, Galang membawa Zahra ke pantai. Menikmati sunset yang indah. Zahra duduk di samping Galang yang setia merengkuhnya. Galang terus menggenggam tangan Zahra sesekali mengecup lembut tangan itu.


“Ra, aku seneng banget, akhirnya aku bisa milikin kamu sekarang.” Ucap Galang. Zahra melepaskan diri dari rengkuhan Galang. Galang menoleh, menatap Zahra dengan kening berkerut.


“Kamu belum milikin aku sepenuhnya sekarang. Wleee...” Zahra menjulurkan lidahnya, lalu berdiri dan lari meninggalkan Galang. Galang tersenyum dan langsung mengejar Zahra. Galang berhasil menangkap Zahra namun kakinya tersandung oleh kaki Zahra, membuat mereka terjatuh di atas pasir. Mereka tertawa bersama. Lelah becanda dan bermain di sana, akhirnya mereka pulang.

__ADS_1


Satu minggu sebelum Zahra dan Galang menikah. Galang mengajak Zahra ke suatu tempat. Zahra menggenggam tangan Galang erat, hatinya memanas. Entah karena cemas atau apa. Zahra menatap Galang dengan sedu.


“Lang kita...?”


Galang tersenyum menatap Zahra. Ia mengecup puncak kepala Zahra sebelum ia mengajak Zahra untuk berlutut di sana. Galang meletakkan satu buket bunga mawar putih di sana.


“Lang, gue balik lagi. Dan kali ini..” Galang menoleh menatap Zahra yang terus menunduk, matanya telah memanas. Galang kembali menatap makam Gilang. Ya, sekarang mereka sedang berada di makam Gilang.


“Gue bawa Zahra. Gue minta izin sama lo. Minggu depan, gue akan nikahin Zahra. Sekali lagi gue ucapin terimakasih, karena lo udah ijinkan gue untuk jagain Zahra. Kali ini, gue bener-bener akan jagain Zahra. Gue sayang sama lo. Sampai kapanpun lo adik terhebat gue.” Galang menoleh pada Zahra sebelum ia berdiri. Ia memberi ruang untuk Zahra mengungkapkan apa yang ingin dia utarakan pada Gilang. Zahra menatap Galang yang mengangguk padanya.


“Gilang, apa kabar? Dengerin aku. Sampai kapanpun, aku bakal selalu sayang sama kamu. Ngga peduli kamu di sisi aku atau ngga, aku akan tetap sayang sama kamu.” Zahra meneteskan air matanya lagi. Ia tidak sanggup menatap makam Gilang. Dia benar-benar menduakan Gilang.


“Gilang, aku minta maaf udah ngecewain kamu. Aku dan Galang akan menikah. Restui hubungan aku sama Galang ya. Maafin aku. Aku sayang sama kamu Lang. Sampai kapanpun.” Zahra menunduk, hingga sebuah tangan lembut membelai kepalanya. Zahra mendongak.


“Tante? “ Zahra terkejut saat melihat Leona berada di sampingnya. Leona tersenyum lembut pada Zahra. Zahrapun berdiri dan Galang menyambutnya. Zahra memberikan ruang untuk Leona mengunjungi anaknya.


“Gilang, ayah harap kamu ditempatkan di tempat orang-orang yang sholeh. Ayah harap kamu juga bisa ikhlas melihat Zahra menikah dengan Galang. Restui mereka. Ayah sangat sayang sama kamu. Kamu yang selalu ada di dekat ayah saat ayah sedih dan merasa ayah akan menyerah, kamu selalu mendukung ayah. Ayah juga sangat rindu sama kamu. Kami pulang ya, ayah sayang sama kamu.”


Mereka beranjak dari sana. Rasa kehilangan orang yang amat mereka sayangi masih ada bahkan selalu ada. Gilang, seorang cowok jail di mata Zahra kecil. Sekarang menjadi pria yang amat Zahra cintai. Kejailan-kejailan yang Gilang perbuat membuat Zahra selalu mengingatnya. Membuat Zahra kesal sekaligus senang saat mengingat bahwa Gilanglah yang selama ini ia pikirkan. Namun sekarang hanya tinggal kenangan. Yang tidak akan pernah ia ulangi lagi.


“Ara, ini buat kamu. Selamat ulang tahun ya.” Ujar Gilang memberikan Zahra hadiah.


“Waahh, jepit rambut. Makasih Gilang.” Ucap Zahra kala itu. Meskipun setiap kali mereka bertengkar, Zahra tidak pernah menolak jika Gilang memberinya hadiah kecil yang membuatnya senang.


“Aku pasangin ya.” Zahrapun mengangguk.


“Oh iya ada lagi.” Ujar Gilang, ia menunjuk dengan dagunya agar Zahra menoleh ke belakang.

__ADS_1


Zahrapun memutar tubuhnya dan mendapati teman-temannya membawa sebuah pizza dengan namanya di sana.



Tidak lupa sebuah lilin dengan angka sepuluh di sana. Zahra tersenyum dan menutup matanya. Belum sempat ia membuka mata untuk meniup lilin, Gilang mengoleskan mayonaise di pipi Zahra. Begitu juga teman-temannya.


“Gilaang..!!!” Teriak Zahra. Gilang hanya menjulurkan lidahnya dan tertawa meninggalkan Zahra yang terus mengejarnya. Semua teman-temannya menyoraki Zahra dan Gilang yang tengah kejar-kejaran.


Zahra tersenyum menatap jepit rambut yang kini telah usang. Ia menatap dirinya di cermin, matanya berkaca, sebuah gaun pengantin telah melekat di tubuhnya. Dengan riasan yang begitu cantik.


“Saya terima nikah dan kawinnya, Nayratuz Zahra binti Jordy Dwi Anggoro untuk diri saya dengan maskawin tersebut tunai.” Suara lantang Galang di depan penghulu.


“Bagaimana saksi? Sah?” tanya sang penghulu.


“Sah..” Riuh saksi dan para undangan.


Air mata bahagia tidak mampu ia bendung lagi. Zahra tersenyum bahagia. Maya datang ke kamar Zahra untuk menjemputnya menuju altar.


Galang menatap terpana pada kecantikan Zahra. Zahra mencium tangan Galang. Galang mencium puncak kepala Zahra. Semua orang bertepuk tangan. Menatap pasangan serasi itu. Menjadi saksi kebahagiaan mereka.


Satu minggu setelah pernikahan mereka, Zahra dan Galang berkunjung ke makan Gilang. Dengan berbekal bunga mawar putih, Zahra meletakkannya di atas makam itu.


“Gilang, aku kembali. Maaf baru mengunjungi kamu lagi. Aku janji aku akan selalu datang ke sini setiap minggu. Aku harap, kamu bahagia melihat hubungan kami sekarang. Terimakasih, kamu udah ngenalin aku sama orang yang tulus sayang sama aku.” Zahra mengusap lembut batu nisan itu.


“Gilang, jarak yang telah membuatmu jauh dari jangkauanku, tak akan mampu membuatku melupakanmu. Percayalah, kehadiranmu tak akan pernah aku lupakan, meski kini hanya ada kepingan rindu di antara kita. Aku tetap menyayangimu. Tunggu aku, hingga kita bertemu lagi di dunia yang sama.”


TAMMAT...

__ADS_1


__ADS_2