
***
Zahra baru saja menyelesaikan kerjaannya lalu menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Capek banget dah hari ini." Ujarnya lirih.
"Ra aku duluan ya." Ucap Nella. Zahra mengangguk lalu tersenyum.
Seperti kemarin. Dia meletakkan secarik kertas di mejanya. Baru ia tersadar ada sebuah amplop merah muda terselip di tengah-tengah berkas di sampingnya.
Jika kamu beneran penasaran sama aku, temui aku jam 20.00 di cafe Holland. Terlambat satu detik kamu ngga akan tau siapa aku.
Apa ini saatnya ketemu dia? batin Zahra.
Sekarang pukul 19.30, untuk ke cafe Holland dibutuhkan waktu limabelas menit, masih ada waktu. Dan aku ngga akan telat. Gumamnya lirih. Zahra bergegas menuju mobilnya.
Di jalan lumayan macet. Sepuluh menit lagi tepat pukul 20.00, gimana ini? Bisa ngga ya? racau Zahra.
Akhirnya Zahra sampai di cafe Holland. Pukul 20.01 dia telat satu menit. Ya ampun.
"Permisi mbak, saya mau ketemu seseorang disini." Zahra bingung harus tanya apa. Sedangkan dia pun tidak tahu siapa yang akan ia temui.
"Dengan mbak Zahra ya?" Tanya seorang waitres.
"Iya betul." Syukurlah sang waitres mengerti maksudnya.
"Baru aja keluar mbak orangnya. Mungkin satu menit yang lalu." Ujar sang waiters, Zahra langsung keluar dari cafe itu.
"Padahal cuma satu menit ya ampuun." Racaunya.
Sementara Zahra frustasi, Zahra melihat seseorang memasuki mobil. Apa mungkin dia? Batin Zahra, dengan tergesa Zahra menghampiri lelaki itu.
"Tunggu." Zahra menghentikan orang itu, dia pun menoleh.
***
Dengan sabar Gilang menunggu Zahra, sebenarnya bukan saatnya dia menemui Zahra. Tapi karena bujukan Reza dan Keina, diapun mengiyakan. Seperti yang tertulis di amplop itu, jika Zahra telat walaupun sedetik, Gilang akan pulang.
Gilang menatap jam tangannya.
"Lima.. empat.. tiga.. dua.. satu." Gilang mengitung mundur detikan terakhir sebelum pukul 20.00 tepat. Diapun berdiri meninggalkan cafe Holland. Zahra tidak datang.
"Mbak kalo cewek yang bernama Ar.. Zahra datang bilang saya sudah pergi." ucap Gilang, Waiters itupun mengangguk dan tersenyum ramah.
"Baik." Ujar sang waitres.
Gilang pun keluar dari cafe itu.
"Tunggu."
Gilang yang hendak menuju mobilnya itu mendengar seseorang menegur. Seperti suara Ara, batin Gilang, dia menoleh.
Dan benar saja itu suara Zahra.
"Maaf siapa ya?" Ujar seseorang yang Zahra tegur.
__ADS_1
"Mas yang ngasih surat ini kan?" Ujar Zahra menunjukkan amplop tadi.
"Maaf saya ngga kenal sama kamu. Permisi saya buru-buru." ujar orang itu lalu pergi.
"Eh mas, tunggu." Zahra mengerucutkan bibirnya, fruatasi. Kalo bukan dia siapa donk, batinnya.
Dari jauh Gilang menatap Zahra yang frustasi, terkekeh geli. Entah Zahra menegur siapa barusan. Gilang memasuki mobilnya. Namun ia tidak langsung pulang ia menunggu Zahra pulang ke rumah.
Zahra memasuki mobilnya. Nihil, gara-gara macet dia gagal bertemu cowok cokelat itu. Zahra mengemudikan mobilnya entah kemana, hingga ia berhenti di minimarket. Dia turun dari mobil dan bersandar di mobilnya.
"Ngapain sih aku kesini? Ngarep ketemu sama Gilang lagi disini?" gumam Zahra bermonolog.
Zahra berjalan ke minimarket, membeli minuman dingin lalu keluar. Duduk di depan minimarket itu. Tanpa sadar seseorang duduk disampingnya.
"Nungguin aku ya?"
Zahra menoleh. "Gilang? Kamu,- kamu ngapain di sini?" ujar Zahra. Terkejut? Iya! Seseorang yang sedang ia pikirkan tiba-tiba muncul di sini.
"Koq kaget sih Ra? Kayak liat setan aja." Ujar Gilang cengengesan.
"Ih tuh kan rese. Kamu ngga berubah ya." Sungut Zahra.
"Cie ngga bisa lupain aku." ujar Gilang terkekeh. Wajah Zahra seketika memanas menahan malu.
"Dih apaan sih Lang. Tau ah aku mau pulang." Zahra berdiri namun Gilang mencekal tangannya. Zahra mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Apa sih, lepasin ngga?" tepis Zahra.
"Kamu mau kabur lagi dari aku? Oke lah, kemaren kamu bisa kabur tapi kali ini kamu ngga bisa kabur dari aku." Gilang menampilkan senyumnya.
"Kamu mau apa?"ujar Zahra jengah.
"Aku pengen ngajakin kamu jalan." Ujar Gilang spontan.
"Jalan? Aduh Lang, ini udah malem banget loh." Tolak Zahra.
"Ya ngga sekarang juga Ra, besok?." Ujar Gilang bersemangat.
"Ngga bisa, besok aku lembur."
"Yaudah pulang lembur?"
"Pulang lembur terlalu malem Lang."
"Segitunya kamu ngga ada waktu buat aku Ra. Yaudah deh iya." Ujar Gilang, Zahra tersenyum melihat Gilang yang merajuk seperti anak kecil. Gilang merogoh sakunya, namun sedikit panik.
"Duh Ra! Ponselku?" Ujar Gilang panik.
"Kenapa?" Zahra ikutan panik.
"Ponselku ilang! Duh kemana ya." Gilang mencoba mencari di sekitarnya.
"Jatuh kali di dalem." Zahra ikut mencari di sekitarannya.
"Coba pinjem ponsel kamu donk, siapa tau ada yang angkat." Ujar Gilang.
__ADS_1
Zahra merogoh tasnya lalu memberikan ponselnya pada Gilang. Gilang tampak memencet nomor lalu menelfon nomor itu.
Terdengar dering di saku celana Gilang. Zahra yang menyadari itupun menatap Gilang curiga.
"Lang? Itu?" Zahra melirik ke sumber suara. Gilang terkekeh lalu memberikan ponsel Zahra.
"Kamu ngerjain aku?" Zahra menatap Gilang tidak percaya.
"Kalo ngga gini, aku ngga bisa dapet nomer kamu Ra." Gilang meringis menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.
"Iiihh reseee." Bukan marah tapi terkekeh sambil memukuli Gilang.
"Sinii ngga!!" perintah Zahra, Gilang justru berdiri dan berlari menghindari pukulan Zahra membuat mereka kejar-kejaran seperti anak kecil.
"Iya iya ampuun Ra! Udah udah aku capek." Mereka ngos-ngosan lalu bersandar pada tembok di dekatnya. Gilang memandang Zahra tersenyum. Menepuk kepala Zahra.
"Kamu beneran udah maafin aku?" Tanya Gilang setelah nafasnya kembali teratur.
Zahra mengangguk tersenyum. Nafasnya masih terengah-engah.
"Tunggu sebentar." Gilang menuju minimarket sebentar lalu keluar lagi.
"Nih." Gilang memberikan coklat untuk Zahra. Zahra menatap coklat itu lama.
"Kenapa? Bosen makan coklat terus?" Ujar Gilang lalu duduk di samping Zahra. Zahra menatap Gilang tidak percaya.
"Kamu,-? Jadi kamu yang nglakuin ini semua? Pizza tadi pagi?" Zahra menuntut jawaban dari mata Gilang.
"Iya." Gilang tersenyum lalu memberikan coklat itu. Zahra tampak menahan umpatannya.
"Kamu tuh ya bener-bener! Suka banget ngerjain aku! Udah dibikin penasaran, ngajakin ketemuan. Padahal aku cuma telat satu menit, kamu udah ngga ada! Sampai-sampai aku salah negur orang, Kamu ngga tau seberapa malunya aku? Ya Ampun Lang!" Zahra melancarkan omelannya, Gilang terkekeh mendengar Zahra yang cerewet.
"Kan udah tertulis dalam amplop itu, kalo kamu telat walaupun satu detik, kamu ngga akan tau siapa yang ngirim coklat-coklat itu." Gilang masih setia dengan kekehannya.
"Ya, siapa tau bisa negosiasi waktu gitu Lang." Zahra membela dirinya.
"Emang apaan harus negosiasi segala Ra Ra." ujar Gilang menggelengkan kepalanya, Zahra terkekeh malu.
"Terus kenapa ini kamu nunjukin jati diri kamu sekarang?" Lanjut Zahra.
"Sebenernya sih aku masih pengen main-main dulu sama kamu, ngerjain kamu gitu kan seru Ra, tapi aku ngga tega sama kamu." Ujar Gilang.
"Sejak kapan seorang Gilang ngga tega sama Zahra?" Ujar Zahra mengejek. Gilang tampak merasa bersalah. Bayangan akan kejailannya saat masih sekolah melintas dalam pikirannya.
"Ngga gitu juga Ra, aku cuma becanda koq, maaf. Aku udah berubah beneran, aku ngga ada tuh jail-jail lagi sama kamu." Gilang mengangkat kelingkingnya.
"Janji." Lanjutnya. Zahra mengaitkan kelingkingnya pada Gilang. Mereka sama-sama melempar senyum.
"Tunggu. Koq kamu bisa tau, kalo aku kerja disitu?" Tanya Zahra penasaran. Gilang menghela nafas berat.
"Segitu ngga kenalnya kamu sama aku Ra?" Gilang pura-pura cemberut.
"Lah kenapa?" Zahra bingung
"Udahlah lupain, pulang yuk." Zahra mengangguk lalu masuk ke mobilnya. Begitu juga Gilang. Gilang dan Zahra sama-sama pulang ke rumah.
__ADS_1