Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
27. Eps 26


__ADS_3

Seperti biasa Zahra menunggu Gilang menjemputnya. Setelah menolak berulangkali akhirnya Zahra jengah dan menyerah pada Gilang, tiap hari Gilang datang menjemputnya. Bahkan dua hari ini ia ambil cuti untuk pergi bersama Gilang. Ia tersenyum saat sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Gilang turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Zahra, Zahra tersenyum senang menatap Gilang yang tersenyum padanya.


Mobil itu melaju meninggalkan rumah Zahra.


“Ra, ada sesuatu ngga yang mungkin spesial buat kita?” Tanya Gilang. Zahra tampak berpikir.


Ia mengingat saat Gilang mengungkapkan perasaannya dan meminta Zahra untuk menjadi kekasihnya. Zahra menoleh, ia tidak yakin akan mengatakannya.


“Sesuatu ?” ulang Zahra, Gilang mengangguk sesekali menoleh pada Zahra.


“Pantai.” Gumam Zahra, Zahra tidak yakin Gilang akan mengingat lagi hari dimana dia nembak Zahra. Namun Zahra akan mencobanya. Ia berjanji akan membantu Gilang mengingat semuanya.


“Pantai? Apa yang spesial dari pantai?” tanya Gilang. Zahra mengernyit, dia memahami keadaan Gilang sekarang. Ia mengedikkan bahunya. Gilang menatapnya heran, namun mengajak Zahra ke pantai yang dimaksudnya tadi.


Sampai di pantai, Zahra menarik lengan Gilang untuk mengikutinya. Ia membawa Gilang ke tempat dimana Gilang memberinya cincin waktu itu. Ia menoleh menatap manik mata Gilang.


“Lang. Di sini, waktu itu kamu ngungkapin semuanya sama aku. Di sini kamu ngelamar aku.” Entah mengapa Zahra tidak yakin mengungkapkannya. Gilang tampak sedikit terkejut.


“Oh ya?” ujar Gilang terkejut, ia mengangkat kedua tangan Zahra lalu mengernyit.


“Koq kamu ngga pake cincin?” lanjutnya. Zahra terkekeh mendengarnya.


“Ya! Kamu bener, aku ngga pake cincin, karena emang aku nolak kamu.” Ujar Zahra masih terkekeh. Gilang semakin heran. Akhirnya Zahra menceritakan kejadian itu. Saat di mana Zahra marah-marah tidak jelas karena kecemburuannya pada Nesya. Gilang hanya mengangguk.


“Aku buang cincin itu, ngga tau deh kamu ambil lagi apa engga, karena setelah pertengkaran kita, aku lari ninggalin kamu di sini.” Ungkap Zahra. Zahra menatap ke lain arah.


“Maafin aku Lang, aku ngga percaya sama kamu.” Ujar Zahra menunduk. Gilang menghadapkan Zahra padanya.


“Hey, Zahra, aku nggapapa koq, aku paham posisi kamu. Kamu mau kan ngulang lagi dari awal?” ujar Gilang tersenyum.


Zahra mengangguk tersenyum. Ia memeluk Gilang. Ia sangat merindukan sosok Gilang. Satu minggu ia tidak mendapat kabar baik, satu minggu ia terus memikirkan keadaan Gilang, rasanya terbayar sudah saat Gilang kembali di hadapannya. Zahra melepaskan pelukannya.


“Gilang ngga panggil Zahra, tapi Ara.” Ujar Zahra tersenyum.

__ADS_1


“Ara?” tanya Gilang, ia tampak berpikir.


“Oke, aku akan panggil kamu Ara lagi.” Ujarnya.


***


“Gilang masih hidup? Dan dia amnesia?” tanya Keina terkejut saat Reza memberitahukan keadaan Gilang. Reza hanya mengangguk lemah.


“Kamu udah ketemu sama Gilang?” tanya Keina. Reza hanya menggeleng.


“Tapi aku udah liat tadi pagi dia jemput Zahra.” Ujar Reza. Keina mengangguk. Keina penasaran dengan keadaan Gilang.


Apa benar Gilang amnesia. pikirnya. Ia meminum jus alpukat di depannya.


“Pulang yuk.” Ajak Reza, Keinapun mengangguk.


Mereka bergegas menuju parkiran. Keina melihat ke arah seberang, ia menatap sosok yang ia kenal.


“Kita temuin yuk.” Ajak Keina. Reza menoleh pada Keina.


“Udah, biarin mereka, kita jangan ganggu mereka sekarang. Kita kasih mereka waktu untuk bersama. Aku kasian liat Zahra terpukul akhir-akhir ini karena denger kabar kecelakaan Gilang.” Ujar Reza. Keina menghela nafas, benar saja. Ia juga tidak tega jika harus terus menerus melihat Zahra sedih. Reza menarik dagu Keina agar Keina menatapnya.


“Lagipula aku cuma pengen berduaan sama kamu sayang.” Ujar Reza tersenyum menggoda Keina. Keina terkekeh mendengarnya.


“Modus banget kamu ih.” Timpal Keina. Reza hanya tersenyum manis menatap Keina yang bersemu merah.


Dari sejak awal Reza mengenal Keina, ia sudah tidak pernah memikirkan wanita lain. Keina mampu menarik perhatiannya, bahkan Reza diam-diam menuliskan beberapa bait puisi yang kemudian ia ubah menjadi sebuah lagu. Dari dulu perasaannya selalu ia pendam karena ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.


Namun kemudian pertemuan antara keluarganya dan keluarga Keina, seakan membuka kesempatan untuk Reza mengungkapkannya pada Keina. Ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Keina menerima cintanya. Reza berjanji akan melamar Keina setelah wisuda dan segera menikahinya. Selangkah lagi, hanya tinggal satu langkah lagi untuk mereka bersama selamanya.


***


Gilang mengajak Zahra ke sebuah cafe setelah menghabiskan waktu di pantai. Zahra melirik daftar menu kopi, ia ingin menenangkan pikirannya dengan secangkir cappucino

__ADS_1


“ Apa yang kamu suka?” tanya Zahra tanpa menoleh pada Gilang, namun hening tidak ada jawaban dari Gilang, Zahra pun menoleh, Gilang menatapnya dengan senyum di wajahnya.


“Lang? Kamu mau apa?” tanya Zahra.


“Kamu.” balasnya singkat lalu tersenyum pada Zahra membuat Zahra salah tingkah. Zahra menoleh pada pelayan cafe itu yang tersenyum malu-malu menatap sepasang kekasih di depannya.


“Gilang aku serius.” Ujar Zahra, tanpa diduga Gilang justru meraih tangan Zahra dan menciumnya.


“Aku juga serius Ra. Aku mau kamu.” Ujar Gilang dengan serius. Zahra merasakan desir hangat di dadanya. Sejenak ia tersipu mendengarnya. Gilang berdeham.


“Aku mau frappuccino. Kamu apa Ra?” tanya Gilang. Zahra menghela nafasnya sejenak.


“Cappucinno.” Balasnya.


“Oke Cappucino sama Frappuccino spesial ya mbak.” Ujar Gilang pada pelayan itu.


“Oke, ditunggu ya mbak, mas.” Ujar pelayan itu sebelum pergi.


Mereka tampak asyik membahas hal konyol bahkan Zahra juga sesekali mengingatkan kenakalan Gilang saat kecil dulu. Ia berharap Gilang segera mengingat semuanya. Beberapa saat kemudian pesanan merekapun sampai.


“Oh iya Ra, ngomong-ngomong kamu suka cappucino?” tanya Gilang setelah menyesap frappuccinonya. Zahra mengangguk dan meletakkan Cappucinonya.


“Yah, aku suka banget. Apalagi cappucino di depan kantor. Itu enak banget dan kamu harus coba!” ujar Zahra berbinar membayangkan cappucino yang pernah ia pesan bersama Fanya waktu itu.


“Boleh tuh, besok kita coba pulang kantor. Kamu juga harus coba frappuccino ini Ra. Ini enak loh.” Ujar Gilang tersenyum. Zahra pun mencicipinya, frappuccino ini juga sangat enak menurutnya, apa ia harus pindah haluan jadi suka frappuccino? Pikirnya, Zahra mengangguk.


“Frappuccino ini enak juga ya ternyata.” Ujar Zahra.


“Makanya, kamu kalo suka sesuatu jangan selalu itu terus yang kamu mau, sesekali kamu coba juga yang lain mana tau yang lain lebih menarik daripada apa yang kamu suka. Sama aja kayak cinta, kalo kamu suka sama seseorang, kamu jangan selalu tertuju hanya dengan satu orang itu, ada masanya kamu harus membuka kesempatan orang lain yang ingin dekat sama kamu, ya mana tau dia lebih sayang sama kamu lebih dari orang yang kamu sayang?” ujar Gilang menyesap kembali frappuccinonya. Gilang melihat Zahra yang tampak terdiam.


“Eh aku koq jadi bikin quotes ya?” ujar Gilang mencairkan suasana, membuyarkan lamunan Zahra. Entah apa yang Zahra pikirkan. Ia takut membebani pikiran Zahra.


***

__ADS_1


__ADS_2