
“Nih minum buat kalian.” Ujar Galang menyodorkan botol itu. Nesya dan Zahra melepaskan pelukan mereka dan menatap Galang kikuk. Mereka meraih botol itu. Canggung? Mungkin itu yang menggambarkan suasana sekarang.
“Ah aku mungkin mengganggu kalian.” Ujar galang hendak melangkah pergi. Namun Nesya mencekalnya.
“Ah ngga koq, kamu ngga ganggu. Kamu duduk di sini temenin Zahra ya. Aku mau ke toilet sebentar.” Ujar Nesya tersenyum pada Galang lalu melangkah pergi.
“Boleh aku duduk di sebelah kamu?” ujar Galang meminta izin. Zahra mengangguk dan mulai meminum minumannya. Di merasa sangat canggung dengan Galang. Mengingat kebersamaannya dengan Galang satu minggu terakhir ini. Dia sudah salah sangka dengan Galang.
“Maaf soal..”
“Ngga usah minta maaf. Aku juga salah. Aku langsung anggep kamu Gilang.” Ujar Zahra datar. Ia menyandarkan kepalanya pada dinding.
“Sepertinya kamu sangat lelah Ra. Kamu pulang aja ya. Biar aku antar kamu.” Ujar Galang menawarkan diri.
“Ngga. Aku mau nunggu operasi Gilang sampai selesai.” Ujar Zahra datar. Galang tidak lagi bicara. Zahra menoleh sekilas menatap Galang yang menunduk. Bukan maksud Zahra untuk bersikap acuh dengan Galang. Hanya saja situasi sekarang membuatnya merasa canggung. Canggung karena Zahra pernah dengan sesuka hati memeluk Galang. Tapi ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Zahra, karena memang dari awal Zahra mengira bahwa dia adalah Gilang.
Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu belum ada tanda-tanda dokter keluar dari ruang operasi.
***
Nesya menatap dirinya di depan cermin. Ia memang merasa bersalah dengan Galang. Tapi biar bagaimanapun Galang berkorban banyak untuknya. Galang bahkan telah melamarnya di depan banyak orang. Meski itu bukan resmi karena tidak ada keluarganya. Namun kemudian dia mengatakan bahwa secepatnya ia akan menikahinya
Nesya menatap cincin yang melingkar di jari manisnya itu. Ia tersenyum sedu, pandangannya memudar dari cincin itu, terhalang oleh air mata yang menggenang di matanya.
“Haruskah aku beri tahu semuanya sama kamu Lang? Tapi apa yang terjadi setelah kamu tau semuanya? Apa kamu akan benci sama aku karena aku mempermainkan perasaan kamu?” gumam Nesya mengusap cincin itu. Air matanya lolos mengalir di kedua pipinya.
“Maaf, maaf Lang. Maafin aku.” Gumam Nesya. Nesya buru-buru menghapus air matanya itu.
Nesya kembali menemui Zahra dan Galang. Belum sampai ke mana ada Galang dan Zahra. Ia menghentikan langkahnya saat melihat Zahra yeng tampak tenang tertidur di bahu Galang. Mata Zahra masih terlihat sedikit bengkak setelah sebelumnya menangis. Bukan itu yang menjadi perhatian Nesya saat ini, melainkan sikap Galang pada Zahra. Galang merapikan rambut Zahra yang terjatuh menutupi wajahnya.
__ADS_1
Nesya tersenyum tipis menatap Galang dan Zahra di sana. Nesya mengurungkan niatnya untuk menemui mereka. Ia berjalan keluar rumah sakit. Ia duduk di taman rumah sakit. Ia menatap kembali cincin pemberian Galang kala itu.
“Sa? Mungkin ini terlalu cepat. Bahkan belum genap satu bulan kita saling mengenal. Tapi, bersediakah kamu jadi istriku?” Nesya menatap Galang yang berlutut di depannya dengan sebuah kotak berisi cincin berlian yang cukup mewah. Ia menatap sekelilingnya yang begitu ramai orang. Ia membantu Galang untuk berdiri.
“Aku akan berdiri kalo kamu jawab pertanyaan aku.” Ujar Galang. Nesya yang kala itu tengah malu karena ditatap oleh beberapa pasang mata pun bingung sendiri.
“Iya iya aku akan jawab, tapi kamu berdiri dulu.” Kali ini usahanya membuat Galang berdiri berhasil.
“So? Will You Marry Me Vanesya Rose Adelina?” ulang Galang tersenyum hangat pada Nesya. Nesya tampak tersenyum dan mengangguk.
“Yes i will” Galang tersenyum senang dan memasangkan cincin itu di jari manis Nesya. Riuh tepuk tangan pengunjung kafe kala itu menambah suasana bahagianya.
Nesya mengusap cincin itu kembali merasakan air matanya yang akan menetes, namun ia menahannya agar tidak terjatuh lagi. Ia menatap langit malam kota Australia, bintang bertabur indah malam ini.
“Ah gue sudah berjalan sejauh ini? Haruskah gue masih menatap ke belakang? Menoleh pada Restu lagi? Sedangkan ada Galang yang begitu menyayangi gue. Bahkan dia tau sejak awal gue jadiin dia pelindung gue dan pelarian gue dari Restu. Tapi dia masih aja mau di samping gue.” Gumam Nesya menutup kedua matanya. Ia teringat beberapa menit yang lalu, Galang yang tidak keberatan saat Zahra tertidur di bahunya.
“Tapi kedekatannya dengan Zahra? Ah gue berpikir terlalu jauh.” Pikir Nesya. Ia tidak ingin berpikir negatif sekarang. Ia memutuskan untuk kembali menemui Galang dan Zahra.
***
“Ah maaf aku ketiduran di bahu kamu.” Ujar Zahra masih canggung.
“Ah nggapapa, aku yang harusnya minta maaf mengusik tidur kamu. Kamu belum makan, kita makan dulu yuk.” Ajak Galang. Zahra menggeleng cepat.
“Ngga, aku ngga laper. Kamu duluan aja.” tolak Zahra datar tanpa mematap Galang.
“Tapi Ra, kamu belum makan, nanti kamu..”
“Aku ngga laper. Aku udah bilang kan sama kamu? Aku ngga laper. Kalo kamu mau makan, kamu duluan aja.” Potong Zahra. Tanpa ia sadari telah membuat Galang terdiam. Sekarang Zahra justru merasa bersalah pada Galang yang terdiam karenanya.
__ADS_1
“Ah maaf, aku..”
“Ngga koq Ra, kamu ngga salah. Maaf harusnya aku bawa kamu sejak awal.” Ujar Galang memotong ucapan Zahra. Zahra menggeleng.
“Jangan salahkan diri kamu sendiri Lang. Lagipula aku juga salah. Sejak awal aku ngga bisa kenali wajah kamu kalo kamu bukan Gilang.” Ujar Zahra lalu tersenyum. Galang melihat Zahra tersenyum pun ikut tersenyum.
“Oh iya soal oma. Maaf aku juga bohong sama kamu.” Ujar Galang lirih.
“Eh?” Zahra mengernyit heran. Ada apa sama oma?
“Oma sudah meninggal saat Gilang kecelakaan dulu. Saat ayah mengangkat panggilan bahwa Gilang kecelakaan, Oma denger semuanya dan terkena serangan jantung.”Ujar Galang mengingat waktu itu. Zahra terkejut mendengarnya.
“Maaf. Aku ngga tau soal itu.” Uhar Zahra merasa bersalah. Galang menggeleng.
“Bukan salah kamu koq.” Balasnya tersenyum. Zahra dan Galang menoleh pada seseorang yang baru saja datang.
“Nesya? Koq kamu baru kembali? Dari mana?” tanya Zahra khawatir.
“Ah aku cari udara segar tadi.” Ucapnya tersenyum. Zahra mempersilahkan Nesya untuk duduk. Zahra menggeser tempatnya agar Nesya dapat duduk di sebelah Galang. Namun Nesya justru duduk lebih jauh dari Galang. Zahra mengernyit heran.
“Sa? Ka..”
“Gimana operasinya Gilang sayang?” ujar seseorang yang baru saja datang. Kali ini Nesya diselamatkan olehnya. Ia tahu Zahra akan menanyakan sesuatu soal Galang padanya.
Belum sempat pertanyaan itu terjawab, seorang dokter keluar dari ruang operasi itu. Mereka buru-buru berdiri menghampiri dokter itu.
“Gimana operasinya dok? Lancar kan?” tanya Leona penasaran pada operasi anak bungsunya begitu juga suaminya, Prima.
“Gimana dok? Berhasil kan?” tanya Zahra cemas saat dokter itu terus diam. Nesya merengkuh Zahra yang tampak lemah itu.
__ADS_1
“Maaf, saya sudah berusaha semampu saya. Tapi, operasi itu gagal. Pasien Gilang tidak dapat di selamatkan.” Ujar dokter itu menunduk.
“Apa!!"