Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
6. Eps 5


__ADS_3

Hari yang ditunggu tiba. Hari ini Zahra mulai masuk kuliah. Zahra duduk di salah satu bangku di taman kampus. Ia membuka tasnya menemukan buku berwarna biru di sana.


"Ini kan buku Reza? Ya ampun aku lupa mau ngembaliin." gumam Zahra.


Zahra berdiri dari bangku itu hendak mengelilingi kampus. Namun tiba-tiba seseorang menepuk bahunya, membuat Zahra menoleh.


"Reza?" tegur Zahra sedikit terkejut.


"Hai Ra, kamu kuliah di sini?" tanya Reza, Zahra mengangguk.


"Jurusan apa?" tanya Reza lagi.


"Komunikasi Za, kamu?" Zahra berbalik tanya pada Reza. Reza mengangguk.


"Sama. Eh mau keliling kampus sama aku ngga?" ajak Reza. Zahra dengan senang hati mengangguk tersenyum pada Reza.


Mereka mengelilingi kampus itu bersama, bahkan sesekali mereka bergurau dan bercerita tentang masa lalu mereka.


"Oh iya Za, ini buku kamu kan?" Zahra mengeluarkan buku berwarna biru itu dan menyodorkannya pada Reza. Reza mengangguk lalu mengambilnya.


"Oh iya Ra, aku lupa, buku kita ketuker waktu itu. Nih punya kamu." Reza membuka tasnya dan mengambil buku Zahra.


"Maaf ya aku lancang baca puisi kamu." gumam Zahra. Reza tersenyum.


"Ah apaan sih Ra, ngga papa koq. Aku juga buka buku harian kamu koq, maaf ya." ujar Reza sedikit terkekeh. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Oh iya Ra, kamu mau ngga? Keliling tempat yang ada di wishlist buku harian kamu itu?" ajak Reza. Zahra menoleh mengernyit.


"Mau ngga?" ajak Reza sekali lagi. Zahra tersenyum mengangguk.


"Kalo ngga ngerepotin kamu, aku mau deh." ujar Zahra masih tersenyum. Reza mengelus puncak kepala Zahra, seperti melakukan kepada adiknya.


Zahra merasakan desir aneh yang menjalari tubuhnya. Ia menatap Reza tanpa ekspresi, sedangkan Reza kembali menatap ke arah lain.


"Kenapa sih Za, kamu suka banget bikin aku nyaman saat sama kamu." gumam Zahra dalam hati.


Setelah pertemuan Reza dan Zahra waktu itu, ternyata mereka satu kampus, bahkan mereka juga pulang pergi bersama, mereka akrab lagi seperti dulu. Ya meski begitu, Reza dan Zahra tak tau apa mereka ada kesamaan soal perasaan? Mereka tak pernah mengungkit soal itu.


Hari demi hari berlalu dengan cepat tanpa mereka sadari. Hari ini Reza dan Zahra sedang menikmati indahnya sore hari di jalan Malioboro.


"Ra, duduk di situ yuk." pinta Reza, Zahra mengangguk menyeruput minuman yang ada di tangannya.


Tak diketahui oleh Zahra, Reza mengambil beberapa pose Zahra yang entah menoleh ke arah mana. Zahr menoleh.


"Za, kamu ngapain?" ujar Zahra lalu menutupi sebelah wajahnya yang justru terlihat bagus di kamera.


Reza mengamati beberapa potret Zahra di kameranya. Ia mendekati Zahra dan duduk di sebelahnya.


"Bagus kan Ra?" ujar Reza menunjukkan beberapa foto yang dia ambil tadi. Zahra mengangguk, ia menatap Reza tanpa Reza ketahui.

__ADS_1


Reza yang selama ini selalu ada untuk Zahra, membuat Zahra selalu ingin di dekatnya. Zahra mengalihkan tatapannya dari Reza ke kamera milik Reza. Zahra mengambil kamera itu dan mulai menggeser layarnya.


Zahra terkejut melihat foto dua orang yang sedang duduk tanpa menatap kamera, satu orang menatap layar ponsel dan satunya memegang gitar di tangannya.


"Za? ini?" gumam Zahra menyodorkan kamera Reza. Reza dengan gugup menatap Zahra dan kamera itu bergantian.


"Gilang?" gumam Zahra. Dengan satu kali anggukan Reza menatap Zahra tanpa ekspresi.


Reza dan Gilang sahabat sejak kecil bahkan orang tua merekapun bersahabat. Sebelum Reza pindah ke Jogja, Reza sempat masuk SMA yang sama dengan Gilang. Sebenarnya Reza pindah ke Jogja setelah lulus SMA.


Flashback on


Gilang duduk di kantin menyantap siomay yang ada di depannya. Ia tersentak saat seseorang menepuk bahunya. Masih dengan mulut mengunyah, Gilang menoleh. Dengan susah payah ia menelan siomaynya.


"Reza?" tegur Gilang setelah menelan siomay itu. Reza duduk di sebelah Gilang.


"Lo sekolah di sini?" tanya Reza, Gilang mengangguk.


"Jadi lo pindah ke daerah sini Za? Gue kira lo pulang ke Jogja." ujar Gilang lalu melanjutkan makan siomay.


"Ngga, nanti kalo gue lulus SMA baru gue pindah ke Jogja." ujar Reza.


"Lo banyak berubah ya Lang." tambah Reza membuat Gilang mengernyit.


"Berubah?" tanya Gilang bingung.


"Yah, ngga belagu kayak dulu." timpal Reza lalu tertawa renyah, Gilang menoyor kepala Reza.


"Eh, gimana Zahra?" tanya Reza tiba-tiba. Gilang menoleh.


"Ara?" tanya Gilang. Gilang memang mempunyai nama sendiri untuk Zahra.


"Yah siapa lagi?" tanya Reza, ia meminum teh manis yang ada di depannya.


"Woy itu minuman gue." timpal Gilang, Reza hanya meringis tidak merasa bersalah.


"Bagi sedikit elahh." ujar Reza.


"Gue belum sempet minta maaf sama dia. Gue ngerasa selama ini gue jailin dia karena gue suka sama dia." ujar Gilang berandai-andai, membayangkan wajah Zahra.


"Tapi gue yakin, Ara ngga mungkin ngelupain gue." ujar Gilang mantap lalu tersenyum simpul.


"Yakin banget lo." ujar Reza.


Mereka berdua menceritakan masa kecilnya yang penuh dengan kejailan Gilang.


Akhir tahun kelulusan Gilang melanjutkan kuliah di Australia, karena mamanya menjemputnya dan juga menjemput papanya.


Yah, orangtua Reza dan Gilang sama-sama telah bercerai, namun orangtua Gilang terpisah karena omanya tak merestui hubungan kedua orangtuanya.

__ADS_1


Mama Gilang asal Australia sedangkan papanya asal Indonesia. Omanya sedang sakit keras dan meminta maaf soal kesalahannya pada papanya Gilang, dan menginginkan Gilang sekolah di Australia. Orangtuanyapun kembali bersatu.


"Baru juga ketemu tiga tahun, kita harus pisah lagi." Ujar Reza saat perpisahan kelulusan.


"Gue juga sebenernya ngga mau Za, gue pengen balik ke Jakarta ketemu Ara. Gue kangen banget sama dia, gue pengen bilang kalo gue sayang sama dia." Ujar Gilang sedikit frustasi.


"Iya gue tau, tapi lo bakal balik kesini lagi kan Lang?" Tanya Reza.


"Gue pasti balik koq, ohya, gue punya saudara kembar." Ucap Gilang, lalu mengeluarkan foto kembarannya dari sakunya, lalu memberikannya pada Reza.


Reza mengambilnya, dan menatap bergantian pada Gilang.


"Gilaak, mirip banget," seru Reza.


"Tapi lo ngga boleh kasih tau siapapun, apalagi sama Ara, biar gue aja yang ngasih tau dia."


Reza mengangguk, lalu mengembalikan foto itu pada Gilang.


"Za, kalo suatu saat lo ketemu Ara, jagain dia ya buat gue, jangan sampe ada yang nyakitin dia." pinta Gilang.


"Yaelah tenang aja Lang, dia itu cewek kuat, ngga mungkin ada yang bisa nyakitin dia, dia bisa jaga dirinya sendiri." Reza menepuk pundak Gilang.


"Serius Za, inget, jangan sampe lo suka juga sama dia, apalagi jadian." Ujar Gilang mengancam.


"Yee, engga lah, masa iya gue makan temen gue sendiri." ujar Reza terkekeh.


Flashback off


Reza mengenang masa SMAnya bersama Gilang. Ia menatap Zahra, menepuk pundak Zahra.


"Ra, maaf ya, aku ngga jujur kalo selama ini aku sama Gilang deket banget." ujar Reza. Zahra tersenyum kikuk.


"E,-emang kenapa? Ngga ada hubungannya kali sama aku Za." ujar Zahra sedikit gugup.


Reza menatap ke arah lain. Ia tersenyum menanggapi kegugupan Zahra.


"Kamu kangen kan sama Gilang?" Tanya Reza sekali lagi menoleh pada Zahra. Zahra hanya terdiam.


"Aku janji sama Gilang bakal jagain kamu selama dia ngga ada." Ujar Reza tanpa menunggu tanggapan Zahra.


"Jagain aku buat dia? Apa hak dia nyuruh kamu jagain aku? Dan kamu? kamu mau nurutin Gilang." Zahra menoleh tidak habis pikir pada ucapan Reza barusan.


"Ra, bukan gitu, Gilang itu suka sama kamu." Zahra tersentak sesaat, namun menghela nafas panjang seakan akan mengatakan hal yang berat.


"Tapi aku enggak!" ucap Zahra lirih tanpa menatap Reza. Reza menoleh.


"Bohong!" tepis Reza. Reza kembali menatap ke arah lain.


"Aku tau kamu itu suka kan sama Gilang." ujar Reza lirih. Zahra menoleh, ia menatap Reza yang tampak lesu itu.

__ADS_1


Reza menoleh. Tanpa menunggu jawaban Zahra lagi, Reza kembali membuka suara.


"Udah cukup Ra, kamu nyembunyiin perasaan kamu." ujar Reza yang seketika membuat Zahra tersentak di tempatnya.


__ADS_2