
"Sekali lagi aku tanya sama kamu. Kenapa kamu ngga ngasih tau aja sama Zahra, kalo kita udah saling kenal. Bahkan hampir tunangan."
***
Keina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pertemuannya dengan Reza hari itu membuatnya bingung. Dia senang akhirnya bertemu lagi dengan Reza setelah tiga tahun tidak bertemu, karena Reza harus melanjutkan kuliahnya di Jogja sebelum dia benar-benar bertunangan dengan Keina.
Namun di sisi lain, Reza inilah, alasan Zahra semangat belajar hingga dia bisa kuliah di Jogja dan berharap bisa bertemu lagi dengan Reza.
Keina merenung sendiri di dalam kamarnya. Keina tidak tahu, bagaimana jika Zahra mengetahui bahwa Reza yang selalu ada untuk dia ternyata akan bertunangan dengan sahabatnya sendiri.
Keina juga sudah terlanjur berbohong bahwa Keina baru mengenal Reza hari itu. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya. Entah air mata bersalahnya pada Zahra atau air mata takut kehilangan Reza.
Dering ponsel membuat Keina mendengus. Ia melirik sejenak ponsel itu, namun ia segera mengangkatnya saat melihat nama yang tertera di sana.
"Hallo Ra? Sekarang? Oke aku ke sana sekarang." ujar Keina menutup telfonnya.
Keina membersihkan sisa air matanya. Ia menambahkan sedikit bedak untuk menutupi wajahnya yang sembap.
Keina turun dari kamarnya.
"Kei, mau kemana?" tegur mamanya yang sedang membawa nampan dari arah dapur.
"Aku mau ke rumah Zahra ma. Hari ini Zahra mau balik ke Jogja." ujar Keina berjalan berdampingan dengan mamanya.
"Ooh gitu. Tapi masih ada waktu kan?" tanya mamanya. Keina berhenti dan menoleh pada mamanya.
"Emang kenapa ma?" tanya Keina, mamanya mengedikkan bahu tersenyum, beliau hanya memberikan kode agar Keina menoleh ke arah sofa. Keina pun menoleh.
"Reza? Kamu ngapain di sini?" tanya Keina, Reza hanya tersenyum.
"Kamu temenin Reza ngobrol dulu gih, nanti baru ke tempat Zahra. Katanya ada sesuatu yang mau diomongin sama kamu." ujar mamanya, beliau memberikan nampan yang dibawanya pada Keina.
Keina membawa nampan itu dan berjalan mendekati Reza. Ia meletakkan nampan itu di atas meja dan duduk di samping Reza.
"Kei,-"
"Kalo kamu mau bahas soal Zahra, aku pergi sekarang." potong Keina sebelum Reza melanjutkan ucapannya. Reza menghela nafas beratnya.
"Oke oke, aku ngga akan bahas soal Zahra. Tapi sampai kapan Kei?" tanya Reza. Keina hanya menggelengkan kepalanya. Dan lagi-lagi Reza menghela nafas berat.
***
__ADS_1
Keina turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah Zahra.
Reza bersikeras memberitahu Zahra hari ini dengan mengantar Keina ke rumah Zahra, namun Keina justru membantah dan memilih untuk pergi sendiri.
Akhirnya Reza pulang dan akan ke bandara dengan diantar mamanya.
Sampai di rumah Zahra, Keina melihat Zahra telah rapi , dan akan segera berangkat.
"Duh Ra, maaf ya aku telat ke sininya tadi ada urusan di rumah." Ujar Keina lirih, ya dia telat ke rumah Zahra karena harus menemui Reza terlebih dahulu.
"Iya Kei, nggapapa koq." ujar Zahra tersenyum.
"Jadi ketemu kamu cuma sebentar deh, gara-gara aku telat ke sini." ujar Keina sedih, Zahra tersenyum dan memeluk Keina.
"Tunggu aku beberapa minggu lagi ya" ujar Zahra tersenyum. Keina mengangguk, tiga minggu lagi memang kelulusannya dan juga Keina.
"Kamu udah siap? aku anter ya?" tawar Keina.
"Ngga usah Kei, nanti Reza juga jemput koq." ujar Zahra.
"Reza udah ke bandara duluan Ra, kamu sama aku aja." ujar Keina. Zahra mengernyit mendengar ucapan Keina.
"Eum, ya,- ya mungkin udah di sana? Kalo belum pasti jam segini udah di sini kan?" ucap Keina beralasan. Zahra hanya berooh, dan berpikir demikian. Tidak lama kemudian Reza memberikan pesan bahwa dia sudah ada di bandara.
Akhirnya Zahra berangkat ke bandara diantar oleh Keina. Setelah berpamitan pada Bu Rahma, merekapun berangkat ke bandara.
***
Sampai di bandara, Zahra mencari sosok Reza di sana. kemudian ia menangkap sosoknya sedang duduk dengan wanita paruh baya yang ia yakin bahwa dia Bu Maya.
Zahra mendekatinya bersama Keina. Keina tampak gugup saat berjalan mendekat ke arah Reza. Zahra bersalaman dan memeluk Bu Maya. Begitu juga Keina.
"Hati-hati ya sayang. Maaf ibu ngga bisa anter kamu, sebagai gantinya, Reza yang akan jagain kamu." ujar Bu Maya. Zahra tersenyum dan mengangguk. Keina yang mendengar itu tampak sedih.
Tante Maya sayang banget sama Zahra, pasti Zahra yang akan dijadiin menantunya nanti, Zahra baik, dia juga kelihatannya cocok sama Reza, -batin Keina
Reza yang melihat perubahan wajah Keina pun mengalihkan perhatian mereka.
"Eum, Ra." tegur Reza membuat Zahra melepaskan pelukannya dan menoleh pada Reza.
"Kenapa Za?"
__ADS_1
"Boleh pinjem teman kamu sebentar ngga?" pinta Reza, membuat Keina melotot terkejut. Zahra menoleh pada Keina, tersenyum lalu menatap Reza lagi.
"Boleh donk. Mau pedekate ya?" ledek Zahra, membuatnya di hadiahi pelototan oleh Keina. Sedangkan Reza mengangguk.
"Yuk Kei." ajak Reza, Keina dengan gugup mengikuti Reza dari belakang.
"Mereka kelihatannya cocok ya bu?" tanya Zahra pada Bu Maya, beliau menoleh tersenyum dan mengusap kepala Zahra.
Andai kamu tahu Ra, maafin ibu, ibu ngga bisa ngasih tahu kamu karena Reza yang melarang ibu ngasih tahu kamu,-batin Maya.
***
Reza mengajak Keina sedikit menjauh dari Zahra. Dengan posisi yang menutupi Keina dari Zahra, Reza menatap Keina dalam. Reza menggenggam tangan Keina, Keina hendak menolak namun Reza menggenggamnya erat.
"Kei, aku ngga tau apa alasan kamu nyembunyiin hubungan kita dari Zahra. Tapi aku yakin ini demi kebaikan kamu juga." Ujar Reza lirih. Mata Keina berkaca, ia merasa bersalah karena harus backstreet dengan Reza.
Keina tidak tahu sampai kapan ia harus bersembunyi dari Zahra. Sebenarnya dia ingin memberitahu Zahra, namun orang yang dia sayang ternyata sama dengan orang yang sahabatnya sayang. Hatinya sakit, apalagi melihat kedekatan Zahra dengan Reza dan juga Tante Maya.
"Kei, apapun alasan kamu sekarang, setelah kita lulus nanti, aku mohon berhenti bersembunyi dari Zahra. Karena aku akan langsung lamar kamu. Tunggu aku Kei." ujar Reza tulus, tangan kirinya menggenggam tangan Keina, sedangkan tangan kanannya mengelus puncak kepala Keina.
Bulir air matanya perlahan meluruh, membasahi pipinya, Reza menghapus air mata itu.
"Jangan sedih Kei, kamu yang minta ini semua." gumam Reza masih menghapus air mata Keina.
"Aku takut kehilangan kamu Za. Kamu sama Zahra udah kenal lama. Bahkan tiada hari tanpa Zahra mengagumi sosok Reza dalam hidupnya. Aku,-" ucapan Keina terpotong.
"Jadi itu alasan kamu?" potong Reza, Reza tersenyum dan mengelus kepala Keina.
"Kei, aku sama Zahra cuma sahabatan, ngga lebih dari itu. Kamu bahkan tau ada Gilang yang sayang sama Zahra. Lagipula Gilang itu sahabat aku, dan aku ngga mungkin khianati sahabat aku sendiri." ujar Reza. Keina terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
"Ah jangan buat aku merindukan pelukan kamu Kei." gumam Reza, Keina menatap Reza dengan kerutan di dahinya. Namun kemudian ia tersadar ada Zahra yang memperhatikan mereka. Keina terkekeh dan mencubit perut Reza. Reza meringis.
"Aku rela ngga meluk kamu sekarang. Senyum kamu udah cukup untukku Kei." ujar Reza tersenyum lalu mengelus kepala Keina. Keina tersenyum tulus menatap Reza.
"Tapi tunggu nanti saat aku pulang , aku ngga akan biarin kamu lepas dari pelukanku Kei." ujar Reza tersenyum jail yang kemudian dihadiahi cubitan di lengannya.
Reza menatap jam tangannya lalu menatap Keina.
"Aku akan pulang secepatnya. Janji sama aku untuk memberitahu semuanya pada Zahra sepulangku nanti." pinta Reza mengulurkan kelingkingnya, Keina mengangguk tersenyum. Keina mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Reza.
"Janji.."
__ADS_1