Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
35. Eps 34


__ADS_3

“Apa!! Ngga ngga mungkin dok!! Jangan becanda!!” teriak Leona mengguncangkan tubuh dokter itu. Prima memegangi kedua bahu istrinya itu dan mencoba untuk menariknya agar tidak terus mengguncang-guncang dokter itu. Tak lama kemudian ia terjatuh pingsan.


“Ma!! Mama!!” teriak Prima dan Galang. Mereka membawa Leona ke kamar pasien. Tinggallah Zahra dan Nesya di sana.


Air mata yang tertahan itu perlahan turun di kedua pipi Zahra. Suaranya tercekat, ia tidak dapat mengatakan apapun. Seluruh tubuhnya seakan kehilangan tulang. Rasanya sangat lemas. Zahra terhuyung jatuh terduduk di lantai. Nesya yang merasakan Zahra terjatuh pun ikut duduk di lantai. Air matanya pun telah mengalir deras sekarang.


“Kenapa!!! Kenapa kamu ninggalin aku Lang!!! Mana janji kamu!!” teriak Zahra histeris air mata yang mengalir deras tak ia pedulikan.


“Sya? Cubit aku!! Kalo perlu tampar aku!!” serunya menatap Nesya. Nesya menatapnya heran dan menggeleng.


“Ayo tampar aku Sya!! Aku yakin ngga akan nyakitin aku, karena ini mimpi!!” ujar Zahra meraih tangan Nesya dan mengarahkannya pada pipi Zahra. Nesya buru buru menariknya.


“Ra!! Jangan kayak gitu. Lo harus bisa ikhlas.” Ujar Nesya mencoba membuat Zahra mengerti bahwa ini nyata. Zahra menggeleng.


“Ngga!! Ini mimpi!! Ayo Sya tampar aku!! Dokter itu bohong!! Ini cuma mimpi!! Tam...”


Plakkk..... Tamparan keras di pipi Zahra membuat Zahra terdiam. Zahra menyentuh pipinya yang ditampar Nesya barusan. Tatapannya kosong. Air matanya semakin deras mengalir. Bukan karena sakit atas tamparan itu. Tapi karena kenyataan ini. Ini benar benar terjadi. Bukan mimpi belaka. Dengan cepat Nesya memeluk Zahra.


“Maaf Ra!! Maaf!!” ujar Nesya terus meminta maaf karena telah menampar Zahra. Zahra membalas pelukan Nesya.


“Gilang bener bener pergi? Dia ninggalin aku?” Zahra terus mengucapkan hal yang sama dan jawabannya pun akan tetap sama.


“Kamu ingkari janji kamu Lang!! Kenapa?? Kenapa Kamu ninggalin aku!!” racau Zahra dalam pelukan Nesya. Nesya merasa iba melihat keadaan Zahra sekarang. Air matanya pun hanya ikut mengalir deras menatap saudara tirinya yang tampak begitu kehilangan kekasihnya itu. Ia juga merasa sangat kehilangan Gilang. Bagaimanapun juga, Gilang pernah sekilas singgah di hatinya. Dia sahabat terbaiknya. Dia yang selalu mendengarkan curhatannya, sekarang harus pergi untuk selamanya. Ke tempat yang tidak bisa ia gapai.


“Ra!! Zahra!! “ Seru Nesya saat tangisan Zahra tak lagi ia dengar dan merasakan tubuh Zahra yang melemas di pelukannya.


“Ra bangun Ra!!” seru Nesya saat mengetahui Zahra pingsan di pangkuan Nesya. Tidak berapa lama Galang kembali dari ruangan mamanya dan berlari ke arah Zahra dan Nesya.


“Lang bawa Zahra ke ruang pasien!” Seru Nesya pada Galang. Dengan sigap Galang menggendong Zahra ke salah satu ruang pasien.


“Ra! Bangun Ra!!” seru Galang mencoba membuat Zahra sadar. Namun Zahra tak kunjung sadar.


Nesya menatap Galang yang tampak cemas itu. Apa karena kedekatan Galang selama ini dengan Zahra yang membuat Galang begitu akrab dengan Zahra? Galang sangat cemas dengan keadaan Zahra saat ini? Pikir Nesya. Ia terus berpikir


“Biarkan nona Zahra istirahat sebentar. Dia kelihatan sangat syok.” Ujar dokter yang entah sejak kapan ada di sana.

__ADS_1


“Sa,- Galang benar kata dokter, sebaiknya kita keluar biarkan Zahra istirahat.” Ujar Nesya menyentuh bahu Galang.


Galang menoleh. Ia melupakan Nesya yang dari tadi di sisinya. Sikap kecemasannya pada Zahra apa terlalu berlebihan di depan Nesya? Galang menggeleng, ia menepis jauh-jauh perasaannya pada Zahra. Galang tidak ingin wanitanya sedih karena ia begitu mengkhawatirkan wanita lain. Mereka duduk di ruang tunggu.


“Sayang maaf, soal Zahra. Aku sama dia,--“


“Lang. Aku tau koq. Kamu ngga usah jelasin apapun.” Ujar Nesya tersenyum memotong pembicaraan Galang. Galang terkejut mendengarnya. Galang meraih kedua bahu Nesya dan memeluknya.


“Maaf Sa!! Maafin aku!!


***


“Apa!!” Reza terduduk di sofa ruang tamunya. Ia baru saja mendengar kabar dari Galang. Ia menjatuhkan ponselnya. Maya dan Keina yang kebetulan ada di sampingnya heran menatap Reza yang tampak kacau.


“Za? Ada apa?” Tanya Maya. Reza menatap mamanya dan Keina bergantian.


“Gilang ma, Kei.” Gumamnya.


“Ada apa sama Gilang?” Tanya Keina cemas saat melihat ekspresi menyedihkan Reza.


“Zahra? Gimana Zahra? Apa dia ,--“


“Zahra masih pingsan ma. Dia syok berat.” Ujar Reza lemah.


“Ya ampun Zahra. Za!! Kita harus susul Zahra sekarang.” Pinta Maya. Reza hendak menolak namun Maya tetap ngotot ingin menyusul Zahra. Lagipula ia juga harus hadir di sana.


Upacara pemakaman Gilangpun di laksanakan di Australia di mana omanya juga dimakamkan.


***


“Ra? Ara?”


Zahra terbangun saat seseorang mengusap lembut pipinya. Zahra mengerjapkan matanya berkali-kali.


“Gilang?” sapa Zahra. Air matanya kembali menetes. Gilang tersenyum padanya dan menghapus air mata yang menetes di pipi Zahra.

__ADS_1


“Ini beneran kamu kan Lang?” ujar Zahra tersenyum dalam tangisnya. Gilang mengangguk masih dengan senyum manisnya.


“Aku mohon sama kamu jangan menangis lagi. Aku ngga mau liat kamu sedih.” Ujar Gilang sambil menghapus air mata Zahra.


“Aku ngga akan nangis lagi karena kamu ada di sini.” Ujar Zahra tersenyum. Mata sembapnya masih terlihat jelas. Ia menarik tangan Gilang yang berada di pipinya lalu menggenggamnya.


“Kamu janji ya sama aku. Ngga akan pergi lagi.” Pinta Zahra. Gilang tersenyum lembut pada Zahra.


“Aku selalu ada di dekat kamu Ra. Kalo kamu rindu sama aku. Pejamkan mata kamu. Maka aku akan datang.” Ujar Gilang. Zahra memejamkan matanya dengan tersenyum. Sesaat kemudian ia membuka matanya perlahan. Ia menatap sekelilingnya tidak ada seorangpun.


“Lang? Gilang?” Zahra terus mencari sosok Gilang. Namun nihil tidak ada siapapun. Hanya ada Zahra di ruangan ini.


“Lang!!! Gilang!!!!” Keringat dingin membasahi wajahnya. Zahra terbangun dari tidurnya.


Ceklek... Suara pintu terbuka beberapa orang tergesa menghampiri Zahra.


“Zahra! Kenapa sayang??” Maya mencoba menenangkan Zahra. Ia memberikan air putih padanya.


“Tenang ya.” Pinta Maya. Zahra menoleh.


“Gilang mana ma?” ucap Zahra pertama kali. Zahra juga menatap sekelilingnya.


“Aku di mana ma? Koq aku bisa tidur di sini.”


“Kamu pingsan sayang.” Ujar Maya. Menghiraukan pertanyaan awal Zahra.


“Gilang? Gilang mana ma?” Zahra kembali menanyakannya.


Maya menatap Reza dan Keina yang berdiri di hadapannya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.


“Ra. Lebih baik kamu istirahat dulu ya.” Ujar Keina lembut.


“Ngga. Aku harus ketemu Gilang sekarang.” Zahra mencoba turun dari ranjang rumah sakit itu. Ia berjalan tanpa menghiraukan panggilan mamanya.


“Zahraa!!!”

__ADS_1


__ADS_2