Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
37. Eps 36


__ADS_3

“Ada yang bisa saya bantu mbak?” tanya salah satu pelayan butik itu.


“Ah, engga mbak, Cuma mau liat-liat aja.” Ujar Zahra tersenyum. Zahra masih memandangi gaun cantik itu.


“Kebetulan di sini lagi ada diskon 50% loh mbak. Gaun itu cantik banget buat mbak.” ujar pelayan itu saat Zahra terus memandangi gaun itu.


“Oh ya?” pelayan itu mengangguk tersenyum. Akhirnya Zahra pun memilih gaun itu. Tidak hanya gaun, Zahra juga membungkus sepasang heels dan sebuah tas lengan dengan warna senada. Beberapa saat kemudian Keina kembali.


“Kamu belanja apa Ra?” tanya Keina saat melihat tiga papperbag di tangan Zahra.


“Aku tadi liat gaun cantik banget Kei.” Ujar Zahra berbinar. Keina pun tampak berbinar melihat warna gaun itu.


“Cantik banget Ra.” ujar Keina memujinya.


“Kamu tau ngga? Aku dapetin ini semua hanya setengah harga loh.” Ujar Zahra.


“Oh ya? Beruntung banget kamu Ra.” Balas Keina. Zahra tampak mengangguk, benar saja hari ini dia sangat beruntung.


Setelah mengantar Keina ke butik, Zahra pulang ke rumahnya. Di rumah, Maya menyuguhinya dengan makanan kesukaannya. Udang saus tiram. Satu menu yang membuatnya terkejut, Cappucinno dengan rasa yang sangat familiar. Satu cup Cappucino kesukaannya yang sering ia minum saat jalan bersama Galang. Sesaat terbesit kenangan singkatnya dengan Galang. Zahra buru-buru menepis pikirannya itu.


“Ma?” Zahra menoleh pada mamanya yang tengah mengupas apel.


“Ya? Kenapa sayang?” balas Maya tanpa menoleh.


“Mama beli Cappucinno ini di mana?” tunjuk Zahra pada Cappucinonya.


“Reza yang beli tadi.” Ujar Maya tanpa menatap Zahra.


“Terus Bang Rezanya kemana?” tanya Zahra menatap sekelilingnya.


“Ada tuh di kamar, abis mandi kayaknya.” Ujar Maya. Zahra membawa cup Cappucino itu ke kamar Reza.


“Kamu dapetin Cappucino ini di mana?” tanya Zahra saat melihat Reza baru akan turun dari kamarnya.


“Apa sih Ra?” ujar Reza bingung menatap adiknya itu.


“Bang? Beli di mana?” tanya Zahra sekali lagi.


“Tadi beli di jalan.” Ujar Reza santai.


“Jalan mana?” tanya Zahra. Reza mengerutkan keningnya.


“Kenapa sih? Koq gitu nanyanya?” Tanya Reza heran. Zahra mendengus, ia menunduk.

__ADS_1


“Rasanya mirip Cappucinno yang sering aku beli sama Galang” gumam Zahra lirih. Tanpa diketahui Zahra, Reza tengah tersenyum padanya.


“Ra, Ra. Di mana-mana Cappucinno tuh rasanya kayak gitu” ujar Reza terkekeh. Zahra mendongak, mendengus. Ia meninggalkan Reza yang masih berdiri di sana. Reza menggeleng menatap kepergian Zahra.


***


“Cantik banget sahabatku” puji Zahra saat menemui Keina yang baru selesai make up. Hari ini hari pernikahan Keina dan Reza.


“Kamu bisa aja deh Ra. Kamu juga cantik pake gaun itu.” Ujar Keina seraya memuji Zahra. Mereka duduk bersisian di tepi ranjang Keina.


“Saya terima nikah dan kawinnya Keina Rose Mahendra binti Mahendra dengan maskawin tersebut tunai.” Ucap Reza lantang di dalam microphone.


“Bagaimana saksi? Sah?” ucap penghulu. “Sah” suara para tamu terdengar bersamaan.


Di dalam kamar Keina dan Zahra saling berpelukan. Keina menitikkan air mata bahagianya. Seorang wanita cantik yang tak lain mamanya Keina datang menjemput Keina untuk di antar ke altar.


Beberapa saat setelah kepergian Keina. Zahra turun dan memberi selamat pada kedua mempelai. Sesi foto-foto pun berlangsung. Zahra kembali ke tempat duduknya.


“Andai kamu masih di sini Lang. Nemenin aku, menyaksikan kedua sahabat kita menikah. Atau mungkin kita yang ada di sana sekarang? Kita pasti sebahagia mereka sekarang.” Batin Zahra. Ia menatap Reza dan Keina yang tengah berdansa. Air matanya hampir saja menetes. Ia berdiri dari sana hendak ke kamar kecil takut orang lain akan melihatnya menangis.


“Ah maaf” ujar Zahra saat menabrak seseorang karena ia terus menunduk. Tidak di sangka orang itu justru mengulurkan tangannya.


“Mau berdansa sama saya?” ajak orang itu. Zahra mendongak, menatapnya terkejut.


“Galang?” Sapa Zahra masih terkejut.


Galang kembali mengulurkan tangannya pada Zahra mengajaknya untuk berdansa. Zahra menerima uluran tangan itu dan mulai berdansa dengan Galang.


Semua mata tertuju pada Zahra dan Galang yang tengah berdansa itu. Tanpa Zahra ketahui, warna gaun yang ia kenakan senada dengan setelan kemeja Galang.


Zahra menikmati alunan musik itu. Ia menatap Galang yang juga menatapnya. Mata mereka beradu. Zahra tersadar lalu memalingkan matanya dari Galang.


“Nesya?” Zahra menghentikan dansanya saat melihat Nesya yang berdiri tidak jauh darinya. Zahra menatap Galang sekilas lalu pergi menemui Nesya.


Galang hanya menatap kepergian Zahra. Ia berjalan menuju Reza dan Keina untuk memberi mereka selamat.


***


“Maafin aku Sya. Aku ngga bermaksud untuk..”


“Lupain aja Ra.” Ujar Nesya memotong ucapan Zahra. Zahra menatapnya heran saat melihat Nesya yang tersenyum padanya.


Zahra menghela nafasnya berat. Bahkan sampai saat ini Zahra masih memikirkan Galang yang jelas-jelas sudah menikah dengan adik tirinya itu. Zahra menepis pikirannya itu.

__ADS_1


Lagi-lagi Nesya tersenyum. Nesya meraih tangan Zahra dan menggenggamnya. Zahra melihatnya heran.


“Ada sesuatu yang harus lo tau Ra.” ucap Nesya serius.


Zahra tidak menjawab apapun, ia hanya menunggu Nesya melanjutkan ucapannya.


“Gue... Gue ngga jadi nikah sama Galang.” Ujar Nesya masih dengan serius. Zahra tersentak, ia melepaskan tangannya dari Nesya.


“Jangan becanda Sya. Apa karena Galang itu suka bikin kamu marah jadi kamu ngomong gitu? Ngelawak deh” Zahra menggeleng dan terkekeh.


“Gue serius Ra. Gue ngga jadi nikah sama Galang.” Ujar Nesya datar. Ia menatap meja kosong di depannya. Zahra menatap Nesya, tatapannya kosong, mungkin Nesya memang serius.


“Jangan bilang ini karena aku?” batin Zahra. Nesya kembali menatap Zahra.


“Jangan berpikir ini salah lo Ra. Gue ngga jadi nikah sama Galang karena..”


***


“Aku ngga yakin. Apa urusan aku sama dia bisa berakhir? Aku selalu merasa bersalah sama dia” ujar Galang datar. Nesya menggenggam tangan Galang dengan tersenyum.


“Aku tau koq.” Ujarnya. Galang menatap Nesya dengan kerutan di keningnya.


“Tau?” Nesya mengangguk. Ia berjalan meninggalkan Galang yang masih diam di tempatnya.


“Aku tau, kamu sayang kan sama Zahra. Makanya kamu terus-terusan merasa bersalah sama dia.” Ujar Nesya tersenyum. Galang mendekati Nesya yang akan masuk ke dalam mobil.


“Gimana bisa kamu ngomong gitu. Aku cuma sayang sama kamu Sa.” Ujar Galang mengelak. Nesya menggeleng.


“Ngga usah nyembunyiin perasaan kamu sendiri. Aku tau koq, dari cara kamu mandang dia. Cara kamu menenangkan dia. Aku rela kamu sama Zahra. Aku cuma sadar aja kalo perasaan aku tetap sama, aku masih sayang sama Restu. Dan aku ngga mau jadiin kamu pelarianku lagi.” Ujar Nesya menepuk ringan bahu Galang. Ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi sebelah kemudi.


Galang masih menatap kosong pada pintu mobil yang telah tertutup oleh Nesya. Nesya menurunkan kaca mobilnya.


“Ayo! Sebagai gantinya, aku mau kita jalan-jalan untuk terakhir kalinya.” ujar Nesya tersenyum lalu menutup kembali kaca mobil itu. Terlihat Galang memutari mobil itu dan masuk ke dalam mobil.


Nesya dan Galang menuju tempat pertama kali mereka menjalin hubungan. Rasa itu kembali hadir. Rasa nyaman yang selama ini Galang berikan padanya kembali menghampirinya. Nesya menatap Galang.


“Di sini kita memulai, dan di sini kita harus mengakhirinya.” Ujar Nesya tersenyum, matanya berkaca-kaca. Galang meraih Nesya ke dalam pelukannya. Haruskah ia meninggalkan wanita yang selama ini ada bersamanya. Namun hatinya tidak pernah bohong, ia merasa selama ini Nesya tidak pernah sepenuhnya mencintainya.


“Terima kasih Lang. Kamu udah pernah hadir dalam hidup aku.” Ujar Nesya. Air matanya tidak mampu ia bendung lagi. Ia menangis dalam pelukan Galang.


“Harusnya aku yang bilang makasih sama kamu, udah mau bersamaku, walau cuma sebentar.” Ujar Galang. Galang melepaskan pelukannya.


“Haruskah sesakit ini nglepasin kamu Lang?” batin Nesya disela tangisnya. Nesya tersenyum.

__ADS_1


Beberapa saat mereka hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Kini mereka sama-sama merasa lega, perasaan yang seharusnya adalah yang sekarang. Ini keputusan yang tepat.


***


__ADS_2