
Gilang bergegas pulang. Sebelum itu, dia mampir di meja Zahra, dia mengangkat sebelah alisnya saat menemukan secarik kertas disana. Gilang pun mengambilnya dan mulai membacanya.
Mau sampe kapan si aku dibikin penasaran sama kamu? Ohya satu lagi, siapapun kamu, aku minta tolong donk jangan kasih aku coklat mulu, bisa bisa aku gemuk makan coklat tiap hari. Sekali-sekali pizza kek, atau apa gitu biar temen-temen aku juga ikut makan. Aku tantangin kamu.
Ttd
Zahra
Gilang membacanya dengan tersenyum.
"Oke kalo gitu." gumam Gilang, lalu melangkah meninggalkan kantornya .
Sepulang dari kantor Gilang menuju gym untuk menemui sahabatnya.
"Oy, udah lama ya nungguinnya?" Ucap Gilang.
"Lumayan, sibuk banget deh sang Presdir muda." Cibir Reza menyambut tangan Gilang. Yah Reza teman kecilnya.
"Kenapa sih lo ngajakin ketemuan di gym, ngga epic banget." Ujar Gilang menatap sekelilingnya.
"Lo mau ketemuan di cafe, trus Zahra liat lo?" timpal Reza.
"Engga juga sih, eh gimana kabar lo?" tanya Gilang. Maklum sudah beberapa tahun Gilang dan Reza tidak bertemu.
"Gue baik, lo juga kan?" Tanya Reza balik.
"Baik, baik banget malah, tiap hari bisa mandang Ara." ujar Gilang terkekeh. Reza mengerutkan keningnya bingung.
"Koq bisa?" tanya Reza penasaran.
"Ara kerja di kantor bokap gue. Dan lo tau, selama beberapa minggu ini gue kasih surprize buat dia." Ujarnya terkekeh sendiri.
"Gue berasa kayak ABG baru ngenal cinta tau ngga." Ujar Gilang mengejek dirinya sendiri. Reza makin bingung dengan ucapan Gilang.
"Kenapa?" Reza makin bingung.
"Gue jadi stalker dia." ujar Gilang, Reza terkekeh dibuatnya.
"Sampe kapan? Zahra tuh ngga suka dibikin penasaran terlalu lama tau ngga?" Ujar Reza
"Lo bener Za, liat nih." Gilang menyodorkan secarik kertas yang ia bawa dari meja Zahra.
Reza tertawa membaca tulisan itu.
"Tuhkan gue bilang juga apa. Satu lagi, sebenernya tuh Zahra ngga suka sama pizza, mungkin cuma ngetes aja si. Saking geramnya dia sama lo." cibir Reza.
__ADS_1
"Emang Ara sukanya apa?" Gilang mulai tertarik membahas Zahra.
Ara, panggilan itu yang ia buat dulu sejak Gilang masih sekolah bersama Zahra. Dan mungkin itu jadi panggilan kesayangan untuknya.
"Zahra itu suka coklat, tapi kalo kebanyakan makan coklat dia takut gemuk, terus dia suka minuman greentea. Dia suka kopi asalkan kopinya itu capuccinno. Dia suka nonton oppa oppa korea. Entah lah, kenapa sih cewek-cewek suka banget nonton drakor." ujar Reza mengedikkan bahunya.
"Terus dia suka jalan-jalan, dia suka banyak hal, dan lo harus cari tau sendiri." Sambung Reza panjang lebar.
"Lo tau banyak soal Ara, jangan-jangan lo,-" Gilang menyipitkan matanya menatap sinis pada sahabatnya itu.
"Kan lo yang nyuruh gue jagain Zahra, jangan salahin gue kalo gue tuh deket sama dia." Reza memancing emosi Gilang. Dan benar saja, Gilang menatapnya dingin, sedingin es.
"Wah lo bener-bener." Gilang mulai melayangkan kepalan tangannya.
"Weeh bentar, Zahra itu adek gue. Lagipula gue udah mau tunangan koq." ujar Reza mengangkat kedua tangannya takut sebuah pukulan Gilang akan menghancurkan wajahnya.
"Serius?" Gilang tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.
"Serius. Minggu depan gue tunangan. Dan mumpung lo disini, gue undang lo sekalian. Harus dateng jangan sampe engga." Paksa Reza.
"Oke gue dateng, soal Ara? Koq bisa dia adek lo?" tanya Gilang penasaran.
Reza menceritakan semuanya sama Gilang.
"Ooh gitu, oh ya, gue minta ya sama lo, lo jangan ngasih tau apapun sama Ara soal kejutan gue, belum tepat rasanya untuk ketemu dia, bukan belum tepat, tapi gue belum siap." Ujar Gilang.
Gilang menuju sebuah minimarket sebelum dia pulang. Dia mengambil beberapa minuman kaleng, roti tawar beberapa camilan juga. Setelah itu membayarnya ke kasir.
"Ngga ada tambahan coklat lagi mas?" Tanya sang kasir yang sudah hafal pada Gilang, meski Gilang baru beberapa minggu belanja disini namun sang kasir sudah mengenalnya. Yah karena Gilang selalu berlangganan coklat.
Gilang tersenyum lalu menggeleng. "Engga mbak."
Setelah membayar Gilang langsung keluar dari minimarket itu.
"Duh senyumnya itu bikin meleleh hati adek baangg." Ujar sang kasir pada teman disampingnya. Membuat orang yang akan membayar menggeleng heran sambil tersenyum.
"Udah ngga usah lebay, tuh ada yang mau bayar, mari mbak," ujar kasir yang lain sopan.
***
"Mas, dompetnya." Terdengar seseorang berlari di belakang Gilang yang akan membuka pintu mobil.
Gilang sedikit terkejut dan hampir menjatuhkan belanjaannya.
"Ara" ucapnya lirih.
__ADS_1
"Gilang?" Zahrapun tak kalah terkejut.
Zahra terdiam menatap Gilang di depannya. Wajah itu, wajah yang selalu hadir dalam mimpinya beberapa hari belakangan ini.
Namun sekarang ada disini, bukan dalam mimpinya. Apa ini arti dari mimpinya? Wajahnya tidak berubah sama sekali. Hanya saja sekarang dia terlihat lebih... Oh tidak Ra, sadar sadar . Batin Zahra menyadarkannya.
"Ra?" panggil Gilang.
"Ya? Eh ini dompetnya jatuh." Gilang mengambilnya dari tangan Zahra, Zahra terdiam sejenak. Ia masih syok bertemu dengan Gilang. Dia gugup sekarang.
Gilang mencoba menetralkan suasananya. Dia juga gugup. Bukan ini yang dia mau, dia belum siap bertemu Zahra sekarang.
"Kamu,- mau pulang? Aku anterin ya?" Tawar Gilang.
"Aku,- bawa mobil sendiri Lang, iya." ucap Zahra masih gugup dan canggung.
"Oh gitu, eum, boleh ngobrol sebentar ngga?" pinta Gilang, berharap Zahra mau duduk bersamanya.
"Boleh." Ucap Zahra lalu mereka duduk di depan minimarket.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Gilang memulai pembicaraannya
"Aku baik, kamu gimana?" Tanya Zahra balik.
"Aku juga baik."
Mereka terdiam cukup lama.
"Aku minta maaf ya sama kamu soal,-" ucapannya terpotong.
"Udah Lang, aku ngga mempermasalahkan soal itu lagi koq, aki udah maafin kamu." potong Zahra tersenyum, Gilangpun tersenyum, pasalnya dari dulu dia tidak pernah melihat Zahra tersenyum manis untuknya. Dan ini karena ulahnya.
"Aku.. aku kangen sama kamu Ra." Gilang tidak bisa membendung rasa rindunya itu.
"Hah?" Bukan tuli, tapi Zahra terkejut.
"Aku kangen sama kamu Ra." Ujar Gilang sekali lagi.
"Aku,- eumm, udah malem Lang, aku mau pulang, takut mama nyariin." Ucap Zahra gugup lalu berpamitan pergi.
Salah tingkah, itu yang sedang Zahra alami sekarang. Zahra memasuki mobilnya. Memandang sejenak ke arah dimana Gilang duduk. Dia masih disana memandangnya. Zahrapun kembali memfokuskan pikirannya lalu melajukan mobilnya meninggalkan minimarket.
Gilang tersenyum melihat tingkah Zahra. Terlihat Gilang menelfon seseorang.
"Ya, untuk jam tujuh pagi, iya, nanti saya kirim lokasinya."
__ADS_1
Gilang mengakhiri telfonnya. Ia pun bergegas pulang.