
Sabtu ini Zahra pulang lebih awal, namun Zahra tidak langsung pulang, dia menemui Keina di MaraCafe. Ia menunggu Keina yang tak kunjung datang sambil menyesap cappucinnonya.
"Aduh maaf Ra, aku telat ya? Mana tante Maya?" tanya Keina lalu duduk di hadapan Zahra.
"Itu di dalem, iya iya yang sibuk ngurusin acara tunangan." Cibir Zahra mengerucutkan bibirnya. Keinapun terkekeh.
"Ngga gitu juga koq Ra, kan masih satu minggu lagi, tadi mobil aku mogok, dan abang kamu tadi lagi di gym katanya. Lagian kamu sih dadakan banget minta ketemu." Ujar Keina pura-pura ngambek.
Zahra terkekeh, merasa bersalah.
"Eh katanya ada yang mau diomongin? Mau ngomongin apa? Gilang ya?" seru Keina.
"Naah kan? Koq Gilang lagi sih! Bukan Gilang ih" bantah Zahra mendengus. Namun Keina tertawa melihat Zahra yang suka ngambek saat bahas Gilang.
"Ada yang stalking aku di kantor." Lanjut Zahra.
"Siapa?" tanya Keina penasaran.
Zahra memutar bola matanya jengah.
"Mana aku tau Kei! Gini loh,-" Zahra menceritakan kejutan-kejutan yang ia dapatkan selama beberapa hari terakhir ini.
"Berarti dia orang kantor donk." Tebak Keina.
"Bisa jadi Kei." Ujar Zahra menimbang-nimbang juga.
"Eh Kei, koq aku sering mimpiin Gilang akhir-akhir ini ya?" Ujar Zahra lemah. Namun Keina justru terkekeh mendengarnya.
"Cie yang kangen Gilang." goda Keina pada Zahra, membuat Zahra menimpuknya dengan bantal di sebelahnya.
"Iih, serius Kei."
"Iya iyaa, jujur deh sama aku." Keina mengganti intonasinya.
"Jujur apa? Jangan gitu donk Kei." Zahra gugup dibuat Keina.
"Jangan gitu gimana? Aku kan belum tanya apapun Ra," Keina terkekeh.
"Jujur sama aku, kamu kangen kan sama Gilang? Kamu sayang kan sama dia." sambungnya.
"Aku.. aku ngga tau Kei." Ujar Zahra gugup.
"Ada apa nih, serius amat." Suara Reza membuyarkan lamunan Zahra.
"Ngagetin aja sih Bang." Cetus Zahra. Ya, sekarang Zahra lebih nyaman memanggil Reza dengan sebutan bang.
"Iya ih." Keina ikut-ikutan menegur Reza.
__ADS_1
"Ih koq ikut ikut sih sayang." Ujar Reza mengacak rambut Keina. Lalu duduk di sampingnya.
"Cie yang dapet coklat dari stalker." Reza meledek Zahra. Lalu memungut minuman di meja yang telah disiapkan tiga cup.
Baik Zahra maupun Keina sama-sama terkejut. Dari mana Reza tahu soal cokelat itu?
"Koq kamu tau?" Tanya Zahra penasaran. Reza tersedak minumannya sendiri. Ia bingung harus menjawab apa pada Zahra.
"Hayoh, ngaku." Cercah Zahra. Reza bingung harus jawab apa.
"Eum,- Aku.."
"Kamu nguping pembicaraan kita ya." Tebak Zahra, Reza menghela nafas lega lalu tersenyum jail pada Zahra.
"Iya, kenapa? Lagian kamu ngga ngajak-ngajak aku sih." timpal Reza beralasan.
"Ih gitu kamu ya." ujar Zahra, ia melirik jam tangannya.
"Eh aku pulang dulu deh, ntar bilangin mama ya bang kalo aku pulang dulu, ada urusan bentar." Ujar Zahra lalu mencipika cipiki Keina.
Zahra menuju minimarket untuk membeli camilan, rasanya lelah banget dan ingin rasanya sepuasnya nonton drakor malam ini, karena besok weekend.
Melihat coklat di bagian kasir, ia teringat kembali kejutan-kejutan yang ia dapat beberapa hari ini. Ia pun mengambil coklat yang sama. Setelah membayar Zahrapun pulang. Diparkiran dia menemukan dompet seseorang yang terjatuh.
"Eh mas, ini dompetnya jatuh." Ujar Zahra sedikit berlari. Orang itu menoleh.
***
"Permisi pak." Ucap seorang asisten pada Presdir muda di ruangannya.
"Masuk" ucapnya masih menghadap laptopnya.
"Ini berkas-berkas yang harus bapak tanda tangani." Fanya meletakkan berkas-berkas di samping laptop sang Presdir.
"Kalo begitu saya permisi."
Belum sampai di depan pintu, sang Presdir menegurnya , hingga ia pun berhenti lalu berbalik menghadap atasannya.
"Ya pak? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Fanya.
"Apa dia udah pulang?" Dengan canggung sang Presdir bertanya pada Fanya.
"Sepertinya udah." Ujar Fanya menimbang-nimbang.
"Ya udah. Kamu boleh pergi sekarang." Fanya pun langsung keluar dari ruangan itu.
Flashback on
__ADS_1
Seperti biasa, dijam yang sama seorang pengagum rahasia melancarkan aksinya. Dengan tersenyum ia meletakkan coklat, bunga dan surat dengan amplop merah di sebuah meja. Meja siapa lagi kalo bukan meja Zahra.
"Pak? Apa yang,-"
Takkk... coklat itu jatuh dari tangannya.
"Jadi selama ini,-" ucapan Fanya tercekat.
"Sssttttt" ucapan Fanya terpotong lagi karena isyarat itu.
"Temui saya di ruangan." Ucapnya datar lalu menuju ruangan diikuti Fanya.
Aduhhh, kandas nih, ini mah namanya layu sebelum berkembang,. Sakit hati adekk baang. Batin Fanya.
Fanya mengikuti atasannya ke ruangan.
Gilang Dwiputra Suryawijaya. Sang Presdir muda di Surya Group, ia mengurus perusahaan milik ayahnya, menggantikan posisi ayahnya sejak satu bulan yang lalu.
Fanya Rembulan. Asisten dari Gilang. Bukan hanya Asisten, Fanya juga sangat menyukai Gilang, bukan hanya seorang Presdir, dia juga tampan menurut Fanya, baik, jika memang kerjaan Fanya bagus, dia selalu mendapat bonus.
Namun tampang sang atasan muda ini yang terkesan dingin membuat Fanya takut jika harus dihadapkan dengan dia, dulu, koreksi.. itu dulu. Kemarin semenjak Fanya mengetahui bahwa atasannya diam-diam memberi kejutan kecil untuk rekan kerjanya yaitu Zahra, atasannya itu jarang menampakkan wajah dingin untuknya.
"Tumben berangkat awal, biasanya kamu berangkat jam Tujuh. Bahkan ini masih jam setengah tujuh kurang. Ada perkembangan." Ucap Gilang.
"Anu, itu Pak, ada kerjaan yang belum selese jadi,-"
"Oh gitu." Gilang menghela nafas.
"Soal tadi, saya mohon sama kamu jangan kasih tau apapun pada siapapun termasuk Zahra." Ia melanjutkan.
"Okey, tapi dengan satu syarat." Ucap Fanya ragu-ragu, takutnya malah bentakan yang dia dapat.
"Apa?"
"Jangan galak-galak sama saya pak, biar saya tuh betah disini."ujar Fanya meringis. Membuat Gilang terkekeh, Gilang pikir Fanya akan mengajukan syarat seperti uang, mobil, atau apapun. Ternyata tidak.
"Oke deal. Panggil aja saya Gilang di luar jam kantor" Ujarnya. Bisa di bilang umur Gilang masih dua tahun di bawah Fanya. Namun Fanya begitu menyegani atasannya itu.
Flashback off
Sebelum Fanya benar-benar keluar dari ruangan Gilang, Fanya berhenti sejenak.
"Sampe kapan jadi stalkernya si Zahra, kasihan tau dia mikirin siapa yang kasih tuh coklat." Ujar Fanya lalu melanjutkan jalannya.
Gilang terkekeh lalu merenungi ucapan Fanya barusan. Gilang mengedikkan bahunya lalu menandatangani berkas yang Fanya bawa tadi.
Gilang bergegas pulang. Sebelum itu, dia mampir di meja Zahra, dia mengangkat sebelah alisnya saat menemukan secarik kertas disana. Gilang pun mengambilnya dan mulai membacanya. Gilang tersenyum geli membaca tulisan tangan Zahra. Ia pun bergegas meninggalkan meja Zahra dan pulang.
__ADS_1