
Gilang menuju kamarnya yang dulu, dia berjalan menuju tempat belajarnya. Ia membuka laci nya. Ada beberapa surat, ia membaca ulang surat-surat yang ia buat dulu. Di balik sikap jailnya, dia selalu menulis surat untuk Zahra, meski tidak ada satupun surat itu dia berikan pada Zahra.
Gilang terlalu gengsi mengungkapkannya pada Zahra. Tidak hanya surat, buku diary juga banyak tentang Zahra. Dia tersenyum ada foto Zahra kecil di sana, sebenarnya foto itu bareng anak-anak yang lain, lalu ia gunting. Se bucin itukah Gilang? Entahlah.
Gilang membereskannya kembali karena ia harus menemui Zahra hari ini. Dia tersenyum membayangkannya.
Bayangan kamu aja udah bikin seneng Ra, apalagi kamu yang asli, batin Gilang. Gilang turun menemui omanya.
"Opah, udah pulang?" Sapa Gilang pada opahnya yang duduk di ruang keluarga bersama omanya.
"Iya nih nungguin kamu dari tadi." Gilang mengangkat alisnya bingung.
"Opah tuh pengen kamu tinggal disini. Kenapa sih milih tinggal di apartemen sendirian? Ngga ada yang ngurusin kamu di sana. Mending disini nemenin oma sama opah." Lanjut opah.
"Gilang kan udah bilang pengen mandiri opah, yaudah Gilang pamit. Oma mana?" Tanya Gilang.
"Oma di belakang lagi bantuin bibi masakin masakan kesukaan kamu." Ujar Opahnya.
"Aduh Gilang ada janji sama temen Gilang." tolak Gilang. Gilang melangkahkan kakinya.
"Gilang mau kemana?" Sekarang tinggal omanya yang datang.
"Ada janji oma, sama temen. Pergi dulu ya oma." pamit Gilang saat menyalami omanya.
"Ngga bisa." Ujar omanya.
"Lah kenapa sih oma?" Gilang mengernyit bingung.
"Oma udah masakin masakan kesukaan kamu, kalo kamu ngga mau makan di sini, oma ngga mau makan." Ujar omanya lalu menuju kamarnya.
Aduh masalah.
***
Setelah Zahra dan Keina selesai. Mereka menuju MaraCafe. MaraCafe dibentuk karena Maya dulu sangat kehilangan Rara anak bungsunya. Maya Reza Rara, seperti itu kira-kira Maya menyebutnya.
"Bang? Kemaren kamu bilang hari ini sibuk. Gimana sih?" dengus Zahra saat mengetahui kakaknya ada di cafe mamanya.
"Sibuk bantuin mama sayang." Ujar Maya dari belakang. Maya meletakkan minuman yang ia bawa dan duduk di sebelah Zahra.
"Dasar! Kamu ngerjain aku?" Zahra menatap datar kakaknya itu. Terdengar kekehan mereka termasuk Keina. Membuat Zahra menoleh.
"Jangan bilang kamu ikutan ngerjain aku Kei?" selidik Zahra.
"Ya maaf Ra. Kalo ngga gini aku ngga bisa donk, jalan bareng sama kamu." Ujar Keina masih dengan senyumnya.
__ADS_1
Aduh aku dikerjain. Ada apa nih. Perasaan aku ngga ulangtahun hari ini. Pikirnya.
Sebuah pesan singkat masuk, Zahra tersenyum membacanya. Keina, Reza dan Maya saling lempar pandang.
"Kenapa senyun-senyum? Kesambet?" Ujar Keina.
"Gilang ngajakin ketemuan" ujar Zahra lirih pada Keina, Keina tersenyum menanggapinya.
"Kemana?" Tanya Keina penasaran.
"Ada deh."Zahra melenggang setelah berpamitan pada mamanya.
"Kemana tuh anak?"tanya Reza pada Keina.
"Katanya sih mau ketemuan sama Gilang. Tau tuh kemana." Keina mengedikkan bahunya lalu mengambil VanillaLate buatan Maya tadi.
"Kita dikerjain nih sama Gilang. Katanya mau ketemu di sini aja." Ujar Reza, mamanya tersenyum menepuk bahu Reza.
"Mungkin pengin berduaan aja kali sama Rara."
Mereka pun mulai membicarakan tentang persiapan pertunangan Keina dan Reza. Reza mendapat pesan yang menbuatnya melotot terkejut.
Gilang
Sorry Za, kayaknya gue telat dateng ke situ, oma ngga mau makan kalo gue tinggal. Kalian makan siang duluan aja.
"Zahra!!!"
***
Sesuai petunjuk dari pesan singkat tadi, Zahra menemui Gilang di suatu tempat yang akan mengingatkannya pada kenangan mereka.
"Lang, kamu dimana?" seru Zahra saat sampai di tempat yang dijanjikan Gilang.
Zahra mencari sosok Gilang. Zahra mulai celingukan, namun seseorang menutupi kedua mata Zahra dengan tangannya. Zahra terkejut namun tersenyum dan membalikkan tubuhnya.
Bukan Gilang yang ada di depan Zahra. Zahra terkejut melihat orang itu. Cowok berparas tampan, namun arogan, tubuh jangkungnya, wajah putih mulus dengan mata berwarna coklat menatap Zahra dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Restu?" Ujar Zahra terkejut.
"Hai Zahra. Apa kabar?" Sapa orang yang bernama Restu itu.
Restu, orang yang pernah mencoba mendekati Zahra saat masih SMP dulu, namun selalu dilarang oleh Gilang. Dan saat SMA dia juga sempat menyatakan cintanya pada Zahra, dia beruntung saat SMA tidak ada lagi Gilang yang menghalanginya untuk mendekati Zahra, namun Zahra menolaknya.
"Aku,- aku baik, kamu gimana?" tanya Zahra gugup, antara senang bertemu teman lamanya dan takut. Entah apa yang Zahra takuti sekarang. Ia takut hal buruk akan terjadi padanya.
__ADS_1
"Gue juga baik." Ujar Restu dan menggenggam tangan Zahra.
"Akhirnya gue ketemu lo lagi Ra, gue kangen sama lo." Zahra tersenyum dan melepaskan tangannya dari Restu. Restu tampak kecewa tatapannya berubah memohon.
"Kenapa Ra? Apa lo belum bisa nerima gue?" Zahra memalingkan wajahnya.
"Maafin aku Res." Zahra menunduk.
"Kita udah lulus Ra, udah ngga mikirin ujian lagi. Jadi apa alasan lo sekarang?" Ujar Restu lirih lalu mencoba memegang tangan Zahra lagi. Dan untuk kedua kalinya Zahra melepaskannya.
Ya, itu alasan Zahra, tidak menerima cinta Restu karena ingin fokus belajar untuk ujian.
"Maaf Res, aku ngga bisa." Ujar Zahra, membuat tatapan Restu berubah menjadi menakutkan menurut Zahra, Restu tampak tersenyum getir.
"Gilang?" Entah pertanyaan atau pernyataan yang Restu katakan. Ia berjalan selangkah ke belakang Zahra, lalu berbalik memandang punggung Zahra.
"Karena Gilang kan Ra?" cibir Restu, Zahra terdiam di tempatnya.
"Kenapa lo ngga pernah mandang gue Ra? Apa kurangnya gue di mata lo?" Tanya Restu dan menghadapkan Zahra padanya.
"Restu, kamu ngga ada kurangnya menurut aku, aku yakin, kamu bisa koq, dapetin cewek manapun. Tapi bukan aku." ujar Zahra lirih menatap mata Restu yang berubah sayu.
"Engga! Gue ngga mau sama cewek lain, gue cuma mau lo Ra." ujar Restu memohon.
"Tapi Res,-" tepis Zahra, belum sempat Zahra melanjutkan ucapannya,
Restu memukul dinding di samping Zahra.
Zahra sangat takut. Zahra menggeser tubuhnya mencoba menjauh. Restu yang mengetahui gerak gerik Zahra langsung menarik Zahra dalam dekapannya.
"Gue ngga akan lepasin lo Ra. Lo milik gue!" Ujar Restu lirih, namun menyeramkan ditelinga Zahra.
***
Sementara di MaraCafe, tiga orang sedang mencemaskan keadaan Zahra. Reza menelpon Gilang, Gilang mengatakan bahwa dia sama sekali belum mengirim pesan pada Zahra dari kemarin. Dengan pandangan datar, Reza menatap mamanya dan Keina bergantian.
"Gilang ngga ngajak Zahra ketemuan." ujar Reza lirih, Reza meraih kunci mobilnya lalu bergegas pergi.
"Aku ikut!" seru Keina namun Maya dan Reza melarangnya. Akhirnya Keina menurut dan menunggu kabar baik dari Reza.
Reza mengendarai mobil menuju rumah oma Gilang dan menjemputnya. Gilangpun tergesa memasuki mobil Reza, mereka panik akan keadaan Zahra. Gilang memikirkan satu nama.
"Restu." Gumam Gilang lirih.
"Ini pasti ulah Restu." Ujar Gilang tanpa menoleh ke arah Reza, tangannya mengepal.
__ADS_1
"Restu? Siapa dia?" tanya Reza menoleh Gilang sejenak. Gilang menatapnya datar.