
Zahra terduduk di samping ranjang kamar kostnya. Ia memikirkan ucapan Reza tadi. Ucapan itu terus terngiang di kepalanya.
"Apa bener kalo aku suka sama Gilang?" pikirnya.
Zahra menghela nafas kasar dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia memejamkan matanya, mengusir pikiran-pikiran yang mencoba mengganggunya. Tak lama kemudian iapun tertidur.
Tak terasa sudah hampir wisuda. Weekend kali ini Zahra memilih untuk pulang ke Jakarta.
Pulang kuliah seperti biasa Zahra selalu pulang bersama Reza. Sebelum pulang Zahra mampir di minimarket yang tidak jauh dari kostnya, Setelah membayar belanjaannya Zahra duduk di depan minimarket itu mengikuti Reza yang telah duduk dari tadi.
"Za, besok aku pulang ke Jakarta, kamu mau ikut ngga? Ntar aku kenalin ke sahabatku." Ujar Zahra.
"Ooh yang kata kamu, dia pengganti aku." Ujar Reza mengingat ucapan Zahra bahwa selama Reza tidak ada, ada seorang cewek yang menggantikan posisi Reza di samping Zahra.
"Nah iya itu. Mau ngga?" ajak Zahra.
"Ya udah deh ntar aku tanya papa. Kalo papa ada acara pasti aku ikut. Yaudah aku balik duluan ya." pamit Reza, karena rumahnya beda jalur dengan kost Zahra.
"Oke. Hati-hati Za." ujar Zahra. Zahrapun ikut meninggalkan tempat itu dan berjalan ke kostnya.
Setelah sampai di kost, Zahra membereskan pakaiannya dan segera mandi, Zahra sudah rindu, halaman rumahnya, ibunya, dan juga sahabatnya, Keina. Zahra tertidur agar cepat bertemu pagi, agar dia cepat pulang ke Jakarta. Ah Zahra sudah tidak sabar bertemu ibunya.
Pagipun menyambutnya, Zahra bangun dan bersiap-siap. Memoles tipis bibirnya dengan lipstick berwarna peach.
Suara ketukan pintu mengagetkannya. Zahrapun membuka pintu kostnya.
"Reza." Ujar Zahra saat melihat Reza duduk di kursi depan kost Zahra.
Kost-kostan Zahra bukan khusus kost putri, dan juga tidak sesepi kost-kost lainnya, memang peraturan di kostnya tidak boleh menerima sembarang tamu, makanya setiap kost disediakan kursi di depan kost untuk tamu apalagi tamu seorang laki-laki.
"Hai Ra, udah siap?" Tanya Reza menoleh ke arah Zahra yang berdiri di depan pintu.
"Kamu beneran ikut Za?" Tanya Zahra sedikit terkejut melihat Reza di depan kostnya sudah rapi.
"Loh, bukannya kemarin kamu ngajakin aku? Kamu cuma becanda yaa ngajakin aku?" Ujar Reza berpura-pura cemberut membuat Zahra terkekeh.
"Hahaha ngga, beneran koq. Kamu pengen banget ketemu sama sahabat aku yaa, aah ngakuu" Zahra mencolek lengan Reza.
"Iih apaan sih, yaudah aku ngga jadi ikut." Rajuk Reza hendak meninggalkan Zahra. Lalu Zahra menarik lengan Reza.
"Ehh tunggu tunggu, aku becanda aku becanda. Bentar aku ambil koper dulu." Zahra masuk ke dalam kostnya mengambil koper dan slingbagnya. Lalu mengunci kostnya. Sebelum pergi, Zahra menitipkan kunci kostnya pada Ibu Tina.
"Bu, Zahra pamit pulang dulu ya," pamit Zahra pada Bu Tina.
"Iya hati-hati dijalan ya Zahra." Ujar Bu Tina.
Setelah berpamitan Zahrapun menuju ke taksi dimana Reza menunggunya.
Mereka naik taksi menuju bandara. Hanya membutuhkan waktu beberapa jam mereka sampai di Jakarta.
Mudik kali ini Zahra tidak memberitahu siapapun, tidak seperti biasanya, biasanya Bu Maya menjemput Zahra, namun kali ini Zahra akan memberi kejutan pada mereka semua.
"Ra, aku ngga ikut ke rumah kamu ya, aku ada urusan. Salam sama ibu kamu ya." pamit Reza.
"Okeh, makasih ya Za. Hati-hati." ujar Zahra melambaikan tangannya, Reza tersenyum lalu pergi. Zahra mengetuk pintu rumahnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum bu, ibuu." Salam Zahra di depan pintu. Tidak lama kemudian pintupun terbuka.
"Wa'alaikumsalam,- Zahraa, ya ampun kamu pulang ngga ngabarin ibu." Ujar Bu Rahma lalu memeluk putri kesayangannya.
"Surprizee ibuu, ibu gimana kabarnya?" Mereka saling melepaskan pelukan lalu masuk ke dalam rumah.
"Baik koq sayang, aduh tangan kamu ada tepungnya deh kena tangan ibu." sesal Bu Rahma melihat lengan Zahra berisi sedikit tepung. Zahra melirik lengannya dan lengan ibunya.
"Loh ibu lagi bikin kue? Zahra minta maaf ya bu, Zahra jadi ngga pernah bantuin ibu deh." Sesal Zahra.
"Duh, ngga usah mikirin ibu, Zahra. Yang penting kamu belajar dan lulus, raih cita-cita kamu. Lagipula ibu juga udah punya asisten koq." Ujar Bu Rahma tersenyum dan berkacak pinggang.
"Wah? Siapa bu?" Ujar Zahra penasaran.
"Bentar lagi juga dateng orangnya, tunggu aja." Ujar Bu Rahma melanjutkan aktifitasnya, membuat Zahra mengerucutkan bibirnya.
"Assalamualaikum bu." Suara dari depan rumah mengalihkan pembicaraan mereka.
"Nah tuh dia asisten ibu dateng, masuk nak." Teriak Bu Rahma setelah menjawab pertanyaan Zahra. Zahra seperti mengenali suara itu.
"Itu kan suara,- " ucapannya terhenti saat sosok itu masuk kerumah nya.
"Zahra.."
"Keina.."
Teriak mereka bersamaan. Mereka saling berbaur memeluk seakan tak ada hari esok. Bu Rahma tersenyum simpul melihat keduanya.
"Bentar-bentar, koq bisa sih? Kamu jadi asisten ibu?" Ucap Zahra memandang bergantian ke arah ibu dan Keina.
"Eh sini deh sini, aku punya sesuatu buat kamu." Zahra mengajak Keina ke kamarnya.
"Waah bagus baangeet, padahal aku ngga minta ginian loh, tapi makasih juga si. Hehe" ujar Keina terkekeh menerima bingkisan dari Zahra.
Zahra hanya menggeleng-geleng, Keina memang tidak meminta sesuatu dari Zahra, tapi dia juga tidak menolak gratisan.
"Kenapa sih ngga kuliah di Jakarta aja." Keina mengerucutkan bibirnya.
"Kamu tau kan aku pengen banget ke Jogja." Ujar Zahra membongkar pakaiannya.
"Nih ibu bawain kue kesukaan kalian, pasti kamu kangen kan sama kue bikinan ibu." Bu Rahma membawa nampan berisi beberapa potong brownies.
"Tau aja nih bu," ujar Zahra.
"Yaudah ini ibu bawa ke depan ya." Setelah mengucapkan itu Bu Rahma membawa nampan itu ke ruang tamu. Diikuti Zahra dan Keina di belakangnya.
Merekapun duduk di ruang tamu.
"Kei, aku ada kejutan buat kamu." Ujar Zahra pada Keina.
"Ohya? Apaan tuh?" Ujar Keina penasaran.
"Aku ketemu sama Reza disana"
"Hah? Di Jogja? Waah, trus trus?" Keina bersemangat mendengar curhatan Zahra.
__ADS_1
"Nah rencananya, aku mau ngenalin kalian." ujar Zahra, membuat Keina membulatkan matanya semangat.
"Boleh, kapan?" Ujar Kiara antusias.
"Semangat banget kamu Kei, ngga sabar ketemu Reza yang ganteng yaa? Aku jamin kamu suka sama Reza, aku aja suka" Goda Zahra.
"Ah bete deh, kamu kan udah punya Gilang." Cercah Keina.
"Gilang yang songong itu? Kamu tau sendiri aku sama dia udah kayak Tom and Jerry kan?" Zahra memasang muka sebete betenya saat mendengar nama Gilang.
"Seenggaknya dia pernah nolongin kamu waktu kamu pingsan pas upacara, wlee.."ledek Keina menjulurkan lidahnya, lalu memungut brownies di nampan begitu juga Zahra.
"Itu.,- ah ngapain sih bahas Gilang, udah ah nih aku mau chat Reza." Ujar Zahra mengalihkan pembicaraan. Mungkin saja pipinya sudah seperti udang rebus.
"Ngeles aja terus kalo bahas Gilang." Ujar Keina menghabiskan brownies ditangannya. Zahra terkekeh mendengarnya.
"Udah ah, ngga penting juga kan bahas dia.
Eh kita nunggu di cafenya Bu Maya yuk."
"Ide bagus. Yuk" ujar Keina. Merekapun bergegas ke 'MaraBakery' yang sekarang telah berubah nama menjadi 'MaraCafe'.
***
Sampai di 'MaraCafe' . Zahra celingukan mencari sosok Bu Maya yang tidak terlihat di dalam Cafe itu. Setelah bertanya pada salah seorang karyawan, ternyata Bu Maya sedang ada di rumahnya.
Zahra dan Keina memutuskan duduk di meja yang ada di dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke jalanan.
"Ra, aku juga mau kasih surprize sama kamu." ucap Keina memulai percakapan.
"Apaan Kei? " tanya Zahra penasaran.
"Jadii, soal aku jadi asisten ibu itu,-" Keina menghentikan ucapannya, sengaja membuat Zahra penasaran.
"Yaa??" Zahra memperhatikan Keina, namun Keina justru tersenyum jail, tanpa melanjutkan kata-katanya.
"Apa Kei? Jangan bikin penasaran donk." Zahra mendengus.
"Cie Zahra kepoo." Ledek Keina
"Ah ngga asik kamu tuh, cuma ngerjain aku." Zahra mengerucutkan bibirnya dan bersedekap. Sedangkan Keina tertawa melihat tingkah Zahra.
"Hehe iya iya maaf, jadii, ibu bikin kue untuk aku jualin ke Tante Maya, Tante Maya suka banget sama brownies buatan ibu kamu Ra." ucap Keina berbinar.
"Hah? Seriusan? Koq bisa Kei?" Zahra mulai tertarik dengan kejutan ini.
"Jadi waktu itu aku sama mama ke rumah Tante Maya, nah aku tuh bawain brownies ibu kamu, dan kata Tante Maya tuh enak, nah Tante Maya minta diorderin ke cafenya eh ada yang minat, akhirnya Tante Maya ngajakin bisnis deh sama ibu kamu. Nah aku yang nganterin ke sini." Ucap Kiara panjang lebar.
"Wah makasih ya Kei, kamu udah bantuin ibu selama aku ngga ada."ujar Zahra tulus.
"Apa sih yang ngga buat sahabat aku," ujar Keina. Zahra menghambur ke pelukan Keina.
Mata Zahra menangkap seseorang di pintu masuk. Zahra melepaskan pelukannya.
"Nah itu dia Reza." ucap Zahra membuat Keina menoleh. Senyum yang tadinya mengembang di wajah Keina secara perlahan memudar bersamaan dengan langkah kaki Reza yang semakin mendekat.
__ADS_1